Wanita Pekerja

Dilema wanita pekerja
aku hanya ingin menuliskan curahan hati & keluh kesah-ku sebagai wanita pekerja. secara fitrah wanita memang seharusnya berada di rumah, save dari segala macam kontanimasi kegiatan di luar rumah. untuk itulah suami diberi derajad yang sangat tinggi di atas istrinya. karena kodrat suami adalah mempertaruhkan segenap jiwa raga untuk menghidupi anak & istrinya.. namun fakta yg terjadi sering kali berbalik 180 derajad dari kondisi yang seharusnya. masih dijumpai begitu banyak wanita yg akhirnya menjadi tulang punggung keluarga. salah satunya adalah aku. jika sudah begini bagaimana hukum adat, agama, hukum negara tentang hak & kewajiban aku sebagai istri.apa aku masih perlu patuh pada suami? sedang kondisi yang sebenar2nya akulah yang berjuang mempertaruhkan segenap jiwa & raga untuk menghidupi suami & anakku. secara hukum negara ternyata keberadaan aku sebagai tulang punggung juga tidak diakui. seperti soal PAJAK, aku masih membayar pajak atas nama suamiku di Nomor Pokok Wajib Pajak tertulis atas nama suamiku, & aku kehilangan hak atas tunjangan tanggungan, aku adalah wajib pajak dengan tanggungan 0, padahal secara kenyataan sebenarnya tanggunganku 2, yaitu suami & anakku karena sungguh2 suamiku Jobless, gak bekerja & gak menghasilkan apa2, bahkan karena kodratnya sebagai kepala rumah tangga dia juga tidak mau menggantikan tugas merawat anak kami, so tentu ada budjet Extra untuk bayar pengasuh..

Dan aku yakin yg seperti aku ini gak cuma aku, ada puluhan, ratusan, bahkan ribuan pekerja wanita yg punya nasib sama denganku, jadi tulang punggung keluarga, membayar pajak atas nama suami dg tanggungan 0, karena semua pekerja wanita dianggap single untuk urusan tunjangan.. Yaaaah mau ga mau harus mau, terima nasib karena kami berjanis kelamin wanita.
ternyata wanita jauh lebih…lebih..lebih kuat dari kaum pria. Jika suami bekerja istri di rumah, tugas suami hanya nyari duwit thok…. nyel..titik…. urusan rumah ga ada kewajiban sama sekali atasnya mengurus rumah bahkan 100 % tugas rumah itu adalah kewajiban istri, jika dia membantu itu adalah nilai plus buatnya. Dia juga berhak dilayani dalam segala hal, termasuk urusan tempat tidur. Jika kondisi dibalik? Dosa buat istri jika suami mengerjakan Pe Er itu semua, bahkan dosa buat istri yg tidak melayani di tempat tidur, kadang aku bingung sebenarnya itu nafkah batin, kewajiban, atau beban? yg aku rasakan aku sungguh2 tidak menginginkanya bahkan rasanya beban, sakit luar-dalam jika suami ingin dilayani untuk yg satu itu, untuk yg lain It’s okay, mencuci bajunya, nyetrika, bersihin rumah, masak untuknya, nyiapin makan bahkan bila perlu nyuapin juga ikhlas..tapi sumpah untuk melayani di tempat tidur sungguh2 ill feel. Dosa? jelas .. tidur membelakangi suami dg sengaja aja dilaknat malaikat, secara hukum adat, sungguh tidak pantas jika ada istri berani sama suami. secara hukum negara? haaalaah

Dilematis memang, mau di rumah terima kodrat ? dengan kondisi suami Jobless, ga ada income anak2 gimana? mau terus pergi jauh dari rumah kaya sekarang, yg jadi korban anak2 juga, kurang kasih sayang.. kadang si kecil protes : ya wes mama kerja o aja ga usah pulang, aku juga pengen dianter sekolah sama mama, mama juga pengen sayang… tapi mama ini bekerja pada orang lain, mama punya boss ga bisa seenaknya ga masuk kerja.

klo udah gini sing salah sopo? Nasib???? jangan nyalahin nasib lah..
so tetep berangkat, meski dengan perasaan sakiit seperti disayat2 pisau berkarat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: