Batik Pura Pakualaman

PURA Pakualaman BATIK
Tanah Pakualaman awalnya bagian dari kesultanan Yogyakarta. Tahun 1813, kesultanan dibagi menjadi Kasultanan Ngayogyakarta dan Pakualaman Kadipaten, sebagai akibat dari permusuhan antara Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Letnan Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles. Oleh karena itu, budaya dari dua istana memiliki banyak kesamaan. Kain batik dan desain yang ada pengecualian untuk ini. Pakualaman pengadilan batik desain dan gaya mulai berubah setelah Kasunanan dan Pakualaman yang bergabung dengan darah melalui pernikahan Sri Paku Alam VII untuk putri Sri Susuhunan Paku Buwana X.

putri Surakartan ini yang memberi warna dan nuansa Surakartan ke Pakualaman batik, sehingga batik Pakualaman datang untuk menyajikan perpaduan batik Yogyakarta desain pengadilan dan pengadilan Surakarta batik warna. The Pakualaman putri juga mengagumi batik dari pengadilan Surakarta, yang masih fashion saat ini. Dua tokoh Pakualaman batik desain adalah Pola Candi Baruna, terkenal sejak sebelum tahun 1920, dan Peksi Manyura, Parang Gapit seling Ceplok, Parang Rusak seling Huk, dan

Motif Sawat Manak:

Motif Peksi Manyura:

Motif paranggapit-seling-ceplok:

Motif parangbarong-seling-sisik:

Motif parangbarong-seling-huk:

Motif Candi Baruna:

Motif Baon angrem :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: