John Grisham

BROKER 1
John Grisham

Pada jam-jam terakhir masa kepresidenan yang sudah ditakdirkan tak akan menarik perhatian para ahli sejarah, mungkin semenjak William Henry Harrison (hanya 31 hari dari inaugurasi hingga kematiannya), Arthur Morgan meringkuk di Oval Office bersama seorang temannya yang tersisa dan menimbang-nimbang keputusan-keputusan terakhir yang akan dibuatnya. Saat itu ia merasa telah melakukan pengambilan keputusan dengan buruk selama empat tahun terakhir, dan tidak terlalu yakin apakah ia, pada detik-detik terakhir permainan, dapat memulihkan keadaan. Temannya pun tidak terlalu yakin, walaupun, seperti biasa, ia tidak banyak bicara dan apa pun yang dikatakannya adalah apa yang ingin didengar sang Presiden. Keputusan-keputusan itu menyangkut pengam-

punan hukuman—permohonan putus asa dari para pencuri, penggelap uang, dan penipu, beberapa masih berada di penjara dan yang lain belum pernah membayar kejahatannya namun tetap saja ingin nama baik mereka dipulihkan. Mereka semua mengaku sebagai teman, atau temannya teman, atau pendukung setia, sekalipun hanya sedikit yang sempat memproklamasikan dukungannya sebelum saat-saat terakhir itu. Betapa menyedihkan setelah empat tahun penuh gejolak dalam memimpin dunia bebas, semua hanya berakhir dengan tumpukan permohonan mengenaskan dari segerombolan bajingan. Pencuri mana yang sebaiknya diizinkan untuk mencuri lagi? Itulah pertanyaan penting yang dihadapi Presiden sementara jam-jam terus merayap.

Temannya yang tersisa itu adalah Critz, teman saru kelompok persaudaraan dari masa kuliah di Cornell, ketika Morgan memimpin senat mahasiswa dan Critz memenuhi kotak-kotak suara. Selama empat tahun terakhir, Critz telah bertindak selaku sekretaris pers, kepala staf, penasihat keamanan nasional, dan bahkan menteri luar negeri, meskipun penunjukan tersebut hanya bertahan selama tiga bulan dan buru-buru dicabut ketika terbukti gaya diplomatis Critz yang unik nyaris memicu Perang Dunia Ketiga. Penunjukan Critz yang terakhir terjadi bulan Oktober sebelumnya, pada

minggu-minggu terakhir masa pemilihan presiden yang menegangkan. Sewaktu jajak pendapat memperlihatkan peringkat ‘Presiden Morgan menyurut drastis setidaknya di empat puluh negara bagian, Critz mengambil alih kampanye dan berhasil mengucilkan negara-negara bagian yang lain, kecuali Alaska, dan itu pun masih terbuka untuk diperdebatkan.

Sungguh pemilihan yang bersejarah; belum pernah terjadi seorang presiden yang masih menjabat mendapat begitu sedikit suara. Tepatnya tiga suara, semua dari Alaska, satu-satunya negara bagian yang belum pernah dikunjungi Morgan, sesuai anjuran Critz. Limaratus tiga puluh lima suara untuk penantang, tiga untuk Presiden Morgan. Istilah tanah longsor belum.cukup untuk menggambarkan kekalahan tersebut.

Begitu dilakukan penghitungan suara, sang penantang, menuruti nasihat yang buruk, memutuskan untuk mempertanyakan penghitungan suara di Alaska. Kenapa tidak sekaligus merebut 538 suara? begitu ia beralasan. Tak akan ada lagi calon presiden yang menyapu bersih angka kemenangan atas lawannya, tanpa memberinya kesempatan untuk merebut satu angka pun. Selama enam minggu, Presiden semakin menderita lagi sementara berbagai tuntutan hukum dilayangkan di Alaska. Ketika Mahkamah Agung akhirnya

menghadiahi Presiden tiga suara kemenangan, ia dan Critz merayakannya diam-diam dengan sebotol sampanye.

Presiden Morgan pun jatuh cinta pada Alaska, walaupun hasil yang disahkan hanya memberinya selisih tujuh belas angka yang tak berarti.

Semestinya ada lebih banyak negara bagian yang dihindarinya.

Ia bahkan tidak menang di Delaware, daerah asalnya, tempat para pemilih yang dulu sempat menerima pencerahan telah mengizinkannya mengabdi selama delapan tahun yang menyenangkan sebagai gubernur. Seperti Morgan tak pernah sempat mengunjungiAlaska, penantangnya pun mengabaikan Delaware sepenuhnya—tidak ada pidato di organisasi mana pun, tidak ada iklan televisi, tak sekali pun dikunjungi pada masa kampanye. Meski demikian, lawannya masih memperoleh 52 suara!

Critz duduk di kursi kulit besar sambil memegang catatan berisi daftar seratus hal yang harus diselesaikan segera. Ia mengamati presidennya bergerak lambat-lambat dari satu jendela ke jendela yang lain, menyipitkan mata ke kegelapan, membayangkan apa yang seharusnya bisa terjadi. Pria itu tertekan dan telah dipermalukan. Pada usia 58 tahun hidupnya telah berakhir, kariernya hancur berantakan, pernikahannya kocar-kacir. Mrs.

Morgan telah kembali ke Wilmington dan terang-terangan menertawakan gagasan tinggal di pondok di Alaska. Diam-diam Critz juga meragukan kemampuan temannya untuk berburu dan memancing sepanjang sisa hidupnya, tapi hidup tiga ribu kilometer jauhnya dari Mrs. Morgan tampak seperti gagasan yang sangat menarik. Mereka mungkin bisa memenangkan Nebraska kalau First Lady yang sok ningrat itu tidak menyebut kelompok futbol mereka sebagai tim “Sooners”. The Nebraska Sooners!

Dalam semalam, peringkat Morgan menukik tajam dalam jajak pendapat di Nebraska dan Oklahoma, tanpa bisa dipulihkan kembali.

Dan di Texas, First Lady menyuap hidangan chili yang memenangkan penghargaan dan langsung muntah-muntah. Sewaktu ia dilarikan ke rumah sakit, mikrofon menangkap kata-katanya yang terkenal: “Bagaimana orang-orang terbelakang seperti kalian ini bisa makan sampah bau itu?”

Di Nebraska, mereka mendapatkan lima suara. Texas 34 suara. Menghina tim futbol setempat adalah kesalahan yang sanggup mereka lampaui. Namun penghinaan terhadap chili Texas benar-benar tak bisa ditandingi kandidat mana pun.

Kampanye yang luar biasa! Critz tergoda untuk menulis buku. Harus ada orang yang mendokumentasikan bencana itu.

Kemitraan mereka yang telah berlangsung selama hampir empat puluh tahun pun berakhir. Critz telah mendapatkan pekerjaan bersama kontraktor pertahanan dengan upah 200.000 dolar per tahun, dan ia akan memasuki arena seminar dengan honor 50.000 dolar per ceramah, kalau ada orang yang cukup kepepet sehingga mau membayarnya. Setelah melewatkan hidupnya dengan mengabdi negara, ia sekarang nyaris bangkrut, menua dengan cepat, dan tak sabar untuk segera menangguk uang.

Presiden telah menjual rumahnya yang indah di Georgetown dan mendapatkan keuntungan besar. Ia membeli rumah peternakan kecil di Alaska, dengan penduduk yang tampaknya memujanya. Ia merencanakan menghabiskan sisa hari-harinya di sana, berburu, memancing, mungkin menulis memoar. Apa pun yang dilakukannya di Alaska, tak akan ada hubungannya dengan politik dan Washington. Ia tidak akan menjadi ahli politik ternama, tidak akan menjadi tokoh yang dituakan dalam pesta-pesta, tidak akan -menjadi empu bijak yang berpengalaman. Tidak akan ada tur perpisahan, pidato-pidato, kursi kehormatan dalam bidang ilmu politik. Tidak ada perpustakaan kepresidenan. Rakyat telah berbicara dengan suara jelas dan keras. Mereka tidak menginginkan Presiden Morgan, maka Presiden Morgan pun tak bisa tinggal bersama mereka.

“Kita perlu mengambil keputusan menyangkut Cuccinello,” ujar Critz.

Presiden masih berdiri di dekat jendela, tak memandang apa pun dalam kegelapan, masih merenungkan Delaware. “Siapa?”

“Figgy Cuccinello, sutradara film yang divonis atas tuduhan melakukan hubungan seks dengan bintang yang masih muda.”

“Semuda apa?”

“Lima belas tahun, kurasa.”

“Cukup muda.”

“Memang. Ia kabur ke Argentina, tempatnya bersarang selama sepuluh tahun terakhir. Sekarang ia rindu kampung halaman, ingin pulang dan mulai membuat film-film jelek lagi. Ia bilang, seni telah memanggilnya kembali.”

“Mungkin perempuan-perempuan muda telah memanggilnya pulang.”

“Itu juga.”

“Kalau usianya tujuh belas tahun, aku tidak keberatan. Lima belas terlalu muda.”

“Penawarannya sampai lima juta.”

Presiden berpaling dan menatap Critz. “Ia menawarkan lima juta dolar untuk pengampunan?”

“Ya, dan ia perlu bergerak cepat. Uangnya harus ditransfer keluar dari Swiss. Sekarang pukul tiga dini hari di sana.”

“Uang itu akan mendarat di mana?”

“Kita punya rekening-rekening di luar negeri. Tidak sulit.”
“Apa yang akan dilakukan pihak media?”
“Pasti mengerikan.”
“Memang selalu mengerikan.”
“Kali ini akan amat sangat mengerikan.”
“Sebenarnya aku tak terlalu peduli pada media,” kata Morgan.
Kalau begitu, mengapa kau tanya? Critz ingin mendamprat begitu.

“Uangnya bisa dilacak?” tanya Presiden dan kembali menghadap ke jendela.

“Tidak”

Dengan tangan kanan, Presiden mulai menggaruk tengkuknya, kebiasaan yang selalu ia lakukan bila sedang bergumul dengan keputusan sulit. Sepuluh menit sebelumnya ia hampir meluncurkan nuklir ke Korea Utara, dan ia menggaruk-garuk tengkuk sampai kulitnya lecet dan darah mengalir ke kerah kemejanya yang putih. “Jawabannya tidak,” kata Presiden. “Lima belas tahun terlalu muda.”

Tanpa bunyi ketukan, pintu tiba-tiba terbuka dan Artie Morgan, putra presiden, menyelonong masuk sambil membawa kaleng Heineken di sebelah tangan dan beberapa lembar kertas di tangan yang lain, “Baru saja bicara dengan CIA,” ujarnya ringan. Ia mengenakan jins pudar dan tanpa kaus kaki. “Maynard sedang dalam perjalanan kemari.”

Ia melempar berkas-berkas tersebut di meja dan meninggalkan ruangan, membanting pintu di belakangnya.

Artie pasti mau menerima lima juta dolar itu tanpa pikir panjang, batin Critz, tak peduli berapa pun umur si gadis. Lima belas tahun jelas tidak terlalu muda bagi Artie. Mereka mungkin bisa memenangkan Kansas kalau saja Artie tidak ke-pergok sedang berada di kamar motel bersama tiga cheerleader, yang paling tua berusia tujuh belas tahun. Jaksa penuntut utama akhirnya membatalkan tuduhan—dua hari menjelang pemilihan—sesudah ketiga gadis itu menandatangani affidavit yang menyatakan mereka tidak berhubungan seks dengan Artie. Sebenarnya mereka hampir melakukannya, hanya beberapa detik sebelum melakukan hal-hal tidak senonoh, ketika ibu salah seorang dari mereka mengetuk pintu kamar motel dan mencegah terjadinya orgy.

Presiden duduk di kursi goyang kulit dan pura-pura sibuk dengan kertas-kertas yang tak berguna. “Apa kabar terbaru menyangkut Backman?” ia bertanya.

Selama delapan belas tahun pengabdiannya sebagai direktur CIA, Teddy Maynard tak sampai sepuluh kali. menginjakkan kaki di White House. Tidak

juga untuk menghadiri undangan makan malam (ia selalu menolak dengan alasan kesehatan), dan tak pernah sekali pun datang untuk menyapa tokoh jagoan dari luar negeri (alasannya hanya karena ia tidak peduli). Sewaktu masih bisa berjalan, sesekali ia mampir untuk berbicara dengan siapa pun yang kebetulan menjabat sebagai presiden, dan barangkali satu-dua orang pengambil keputusan. Sekarang, sejak ia terpaksa terikat di kursi roda, pembicaraannya dengan White House hanya melalui telepon. Dua kali, wakil presiden diantar ke Langley untuk bertemu Mr. Maynard.

Satu-satunya keuntungan menggunakan kursi roda adalah hal itu memberinya alasan untuk pergi atau tinggal atau melakukan apa pun yang diingin-i kannya. Tidak ada orang yang ingin mendorong i pria tua cacat ke mana-mana.

Setelah hampir lima puluh tahun menjadi mata-mata, ia sekarang mendapatkan kemewahan menatap langsung ke belakang punggungnya ke mana I pun ia pergi, tak seperti mata-mata. Ia bepergian menggunakan mobil van putih tak bertanda—kaca j antipeluru, bodi timah, dua pengawal bersenjata berat. di belakang sopir yang juga bersenjata berat—dengan kursi rodanya dipantek ke lantai kabin belakang mobil dan menghadap ke belakang, supaya Teddy bisa mengamati lalu lintas yang tak bisa melihatnya. Dua van lain mengikuti .dari

kejauhan, dan upaya bodoh apa pun untuk mendekati Direktur akan dimatikan seketika itu juga. Kesempatan itu tak boleh terjadi. Hampir seluruh dunia mengira Teddy Maynard sudah mati atau tidak melakukan-apa-apa pada hari-hari terakhirnya di rumah perawatan tempat mata-mata yang sudah uzur dikirim untuk menyambut ajal.

Teddy memang menghendaki orang berspekulasi begitu.

Tubuhnya terbungkus rapat dalam balutan quilt kelabu tebal, didampingi Hoby, ajudannya yang setia. Sementara van itu meluncur di sepanjang Beltway dengan kecepatan konstan seratus kilometer per jam, Teddy menyesap teh hijau yang dituang dari termos oleh Hoby, dan mengamati mobil-mobil di belakang mereka. Hoby duduk di samping kursi roda, di bangku kulit yang khusus dibuat untuknya.

Setelah menyesap tehnya, Teddy bertanya, “Di mana Backman sekarang?”

“Di selnya,” sahut Hoby.

“Dan orang-orang kita sudah bersama kepala penjara?”

“Mereka sedang berada di kantornya, menunggu-”

Satu tegukan lagi dari cangkir kertas, yang dipegang hati-hati menggunakan dua tangan. Tangan-tangan itu rapuh, dengan pembuluh darah

yang menonjol, warnanya seperti susu rendah lemak, seolah sudah mari dan dengan sabar menunggu anggota-anggota tubuh lainnya menyusul. “Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkannya dari negara ini?” –

“Sekitar empat jam.”

“Dan rencananya sudah matang?”

“Semua sudah siaga. Kita tinggal menunggu lampu hijau.”

“Mudah-mudahan si goblok itu bisa memahami maksudku.”

Critz dan si goblok sedang memandangi dinding-dinding Oval Office, keheningan yang pekat sesekali dipecahkan komentar mengenai Joel Backman. Mereka harus bicara tentang sesuatu, karena tak satu pun mengungkapkan apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya.

Bisakah itu terjadi?

Inikah akhir segalanya?

Empat puluh tahun. Dari Cornell ke Oval Office. Akhir ini begitu mendadak sehingga mereka tak sempat mempersiapkannya dengan semestinya. Mereka berharap bisa mendapatkan waktu empat tahun lagi. Empat tahun penuh kehormatan sementara mereka merajut warisan dengan hati-hati, lalu berderap dengan gagah menuju matahari terbenam.

Walaupun malam sudah larut, di luar sepertinya bertambah gelap. Jendela-jendela yang menghadap Rose Garden hitam pekat. Detak jarum jam yang dipajang di atas perapian hampir bisa terdengar, tanpa henti menuju penghitungan mundur.

“Bagaimana reaksi media jika aku memberikan pengampunan kepada Backman?” tanya Presiden, bukan untuk pertama kalinya.

“Mengamuk.”

“Mungkin asyik juga.”

“Kau tidak akan ada di sini untuk menyaksikannya.”

“Tidak, memang tidak.” Setelah penyerahan kekuasaan pada tengah hari esok, pelariannya dari Washington akan dimulai dengan jet pribadi (rnilik sebuah perusahaan minyak) yang terbang menuju vila seorang teman lama di Pulau Barbados. Atas instruksi Morgan, semua televisi diangkut keluar dari vila, tak ada surat kabar maupun majalah yang dikirim ke sana, dan semua telepon dicabut dari colokannya. Ia tidak akan mengadakan kontak dengan siapa pun, bahkan dengan Critz, dan terutama tidak dengan Mrs. Morgan, selama paling sedikit satu bulan. Ia tidak akan ambil pusing bahkan jika Washington terbakar habis. Bahkan, dalam hati ia berharap begitu.

Setelah dari Barbados, ia akan pindah diam-diam ke kabinnya di Alaska, di sana ia akan terus meng-

abaikan dunia sementara musim dingin berlangsung dan ia menunggu datangnya musim semi.

“Apakah sebaiknya kita memberikan pengampunan padanya?” tanya Presiden.

“Mungkin,” jawab Critz.

Presiden telah mengucapkan kata “kita”, yang kadang-kadang digunakannya kalau hendak mengambil keputusan yang tak menyenangkan. Untuk keputusan-keputusan yang mudah, ia selalu menggunakan kata “aku”. Bila membutuhkan dukungan, dan terutama jika membutuhkan orang yang bisa disalahkan, ia akan membuka proses pengambilan keputusan dan melibatkan Critz.

ICritz telah mengambil alih kesalahan-kesalahan selama empat puluh tahun. Walaupun sudah terbiasa, .tetap saja ia bosan. Katanya, “Besar kemungkinan kita tidak akan sampai di sini kalau bukan karena Joel Backman.”

“Kau mungkin benar soal itu,” ujar Presiden. Ia selalu berkata ia terpilih karena kampanyenya yang brilian, kepribadiannya yang berkarisma, ketajamannya dalam memahami masalah, dan visinya yang jelas terhadap Amerika. Mengejutkan juga mendengar ia akhirnya mengakui bahwa ia berutang sepenuhnya pada Joel Backman.

Namun Critz terlalu kebas, dan terlalu capek, untuk terkejut. Enam tahun yang lalu, skandal Backman me-

landa hampir seluruh Washington dan akhirnya menodai White House. Ada awan yang muncul menaungi presiden yang populer, memberikan jalan kepada Arthur Morgan untuk terseok-seok menuju White House.

Sekarang ia terseok-seok keluar, dan senang membayangkan dapat memberikan satu tamparan tak beralasan kepada otoritas Washington yang telah mengucilkannya selama empat tahun. Pengampunan terhadap Joel Backman akan menggetarkan dinding-dinding semua bangunan di D.C. dan mengguncang pers untuk memulai kegilaan yang riuh rendah. Morgan menyukai gagasan tersebut. Sementara ia bermandi matahari di Barbados, kota ini akan mandek sekali lagi ketika para anggota Kongres menuntut diadakannya sidang dengar pendapat, para jaksa penuntut beraksi di depan kamera, dan kepala-kepala yang banyak omong mengoceh tanpa henti di siaran-siaran berita TV

Presiden tersenyum ke arah kegelapan.

Di Jembatan Arlington Memorial, di atas Sungai Potomac, Hoby mengisi kembali cangkir kertas Direktur dengan teh hijau. “Terima kasih,” kata Teddy pelan. “Apa yang akan dilakukan orang itu sesudah meninggalkan kantornya besok?” ia bertanya. “Kabur dari negara ini.”

“Seharusnya sejak dulu ia pergi.”

“Ia berencana melewatkan satu bulan di Karibia, memulihkan luka-lukanya, mengabaikan seluruh dunia, merajuk, menunggu ada orang yang memperlihatkan minat terhadapnya.”

“Dan Mrs. Morgan?”

“Ia sudah pulang ke Delaware bermain bridge.”

“Mereka akan berpisah?”

“Kalau Presiden pintar. Tapi siapa tahu?”

Teddy menghirup tehnya dengan hati-hati. “Jadi bagaimana kalau Morgan menolak?”

“Menurutku ia tidak akan menolak. Pembicaraan-pembicaraan awal berlangsung lancar. Critz sepertinya setuju. Ia sekarang lebih sensitif daripada Morgan. Critz tahu mereka tidak akan pernah melihat Oval Qffice jika bukan karena skandal Backman.”

“Seperti yang kukatakan tadi, bagaimana kalau ia menolak?”

“Tidak akan ada apa-apa. Ia memang tolol, tapi bersih.”

Mereka berbelok dari Constitution Avenue ke arah 18th Street dan tak lama kemudian memasuki gerbang timur White House. Pria-pria bersenapan mesin muncul riba-riba dari kegelapan, lalu agen-agen Secret Service yang mengenakan mantel hitam menghentikan van tersebut. Kata-kata sandi disebutkan, radio-radio berkaok-kaok, dan dalam

beberapa menit Teddy diturunkan dari van. Di dalam, pemindaian formalitas atas kursi roda tak menghasilkan apa pun kecuali pria cacat yang terbungkus rapat dalam selimut.

Artie, kali ini tanpa kaleng Heineken dan juga tanpa mengetuk pintu, melongokkan kepala di pintu dan mengumumkan, “Maynard datang.” “Jadi dia masih hidup,” komentar Presiden. “Nyaris tidak lagi.” “Gelindingkan dia masuk.” Hoby dan agen bernama Priddy mengikuti kursi roda itu memasuki Oval Office. Presiden dan Critz menyambut tamu-tamu mereka dan menggiring mereka ke area duduk di depan perapian. Walaupun Maynard berupaya keras menghindari White House, Priddy nyaris bisa dibilang tinggal di sana, memberikan taklimat pada Presiden setiap pagi mengenai masalah-masalah intelijen.

Sementara mereka menempatkan diri, Teddy melayangkan pandangan ke sekeliling ruangan, seolah mencari alat penyadap. Ia hampir yakin tak ada alat semacam itu; praktik tersebut dihentikan setelah skandal Watergate. Nixon menempatkan begitu banyak kabel di White House sehingga dapat menerangi sebuah kota kecil, namun, tentu saja, ia telah membayar akibatnya. Tapi Teddy sen-

diri menggunakan alat penyadap. Tersembunyi di atas as kursi rodanya, hanya beberapa sentimeter di bawah tempat duduknya, terdapat alat perekam sensitif yang akan menangkap semua suara di ruangan ini selama tiga puluh menit mendatang.

Ia mencoba tersenyum pada Presiden Morgan, walau sebenarnya ingin mengatakan sesuatu seperti: Tak diragukan lagi, kau adalah politisi dengan wawasan paling sempit yang pernah kukenal. Hanya di Amerika orang tolol seperti kau bisa mencapai kursi puncak.

Presiden Morgan tersenyum pada Teddy Maynard, padahal ia ingin mengucapkan sesuatu seperti: Seharusnya aku memecatmu empat tahun yang lalu. Lembagamu itu tak henti-hentinya menjadi sumber Faib negara ini.

Teddy: Aku terkejut kau bisa memenangkan satu negara bagian, meski hanya dengan tujuh belas suara

Morgan: Kau tidak akan bisa menemukan satu teroris pun, bahkan jika ia mengiklankan dirinya di papan reklame.

Teddy: Selamat memancing. Ikan trout yang i kaudapatkan bahkan akan lebih sedikit daripada jumlah suara yang katiraih.

Morgan: Mengapa kau tidak mati saja, seperti yang dijanjikan semua orang padaku?

Teddy: Presiden datang dan pergi, tapi aku tak pernah pergi.

Morgan: Critz-lah yang ingin mempertahankan-mu. Berterima kasihlah padanya atas pekerjaanmu itu. Aku sudah gatal ingin mendepakmu dua ming-gu setelah inaugurasi.

Critz berkata lantang, “Kopi, Saudara-saudara?”

Teddy berkata, “Tidak,” dan sesudah hal itu ditegaskan, Hoby dan Priddy pun menolak. Karena CIA tidak mau minum kopi, Presiden Morgan berkata, “Ya, tanpa susu, dengan dua gula.” Critz mengangguk ke arah sekretaris yang sedang menunggu di pintu samping yang terkuak.

Ia berbalik menghadapi kelompok itu dan berujar, “Kita tidak punya banyak waktu.”

Dengan cepat Teddy berkata, “Aku datang untuk membicarakan Joel Backman.”

‘Ya, untuk itulah Anda datang kemari,” kata Presiden.

“Seperti yang Anda semua ketahui,” lanjut Teddy tanpa menghiraukan Presiden, “Mr. Backman masuk ke penjara tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia masih menyimpan rahasia yang, sejujurnya, dapat membahayakan keselamatan nasional.”

“Anda tidak bisa membunuhnya,” sembur Critz.

“Kami tidak bisa mengincar warga negara Amerika, Mr. Critz. Itu melanggar hukum. Kami lebih suka jika orang lain yang melakukannya.”

“Aku tidak mengerti,” kata Presiden.

“Begini rencananya. Kalau Anda memberikan pengampunan pada Mr. Backman, dan kalau ia menerima pengampunan itu, kami akan membawanya keluar dari negeri ini dalam beberapa jam. la harus setuju untuk menghabiskan sisa hidupnya dalam persembunyian. Hal ini tidak akan jadi masalah karena ada beberapa pihak yang ingin memastikan ia mati, dan ia mengetahuinya. Kami akan merelokasinya ke luar negeri, mungkin di Eropa, di sana ia akan lebih mudah diawasi. Ia akan mendapat identitas baru. Ia akan menjadi manusia bebas, dan seiring waktu orang akan me-. lupakan Joel Backman.” 1. “Tapi bukan itu akhir kisahnya,” sela Critz. “Bukan. Kami akan menunggu, mungkin sekitar satu tahun, lalu akan kami bocorkan informasi itu di tempat-tempat yang tepat. Mereka akan menemukan Mr. Backman, lalu membunuhnya, dan sesudah itu, banyak pertanyaan kita akan terjawab dengan sendirinya.”

Suasana hening cukup lama sementara Teddy menatap Critz, lalu Presiden. Sesudah ia yakin mereka benar-benar bingung, ia melanjutkan, “Ini rencana yang sangat sederhana, gentlemen. Kita akan tahu pihak mana yang membunuhnya.” “Jadi kalian akan mengawasinya?” tanya Critz. “Dengan saksama.”

“Siapa saja yang mengejarnya?” tanya Presiden.

Teddy melepaskan kedua tangannya yang terjalin dan sedikit mengernyit, lalu menatap lurus-lurus seperti guru yang berbicara kepada murid kelas tiga. “Barangkali Rusia, atau Cina, mungkin juga Israel. Ada pihak-pihak lain juga.”

Tentu saja ada pihak-pihak lain, tapi tak seorang pun berharap Teddy akan mengungkapkan semua yang ia ketahui. Ia tak pernah melakukannya; dan tidak akasi pernah, tak peduli siapa presiden yang berkuasa dan berapa lama lagi orang itu akan berada di Oval Office. Orang-orang itu datang dan pergi, beberapa bertahan selama empat tahun, yang lain delapan tahun. Sebagian menyukai spionase, sebagian lagi hanya peduli pada jajak pendapat terakhir. Morgan tidak menguasai masalah-masalah luar negeri, dan dengan pemerintahannya yang tinggal beberapa jam lagi, Teddy tentu saja tidak akan mengungkapkan informasi lebih banyak daripada yang diperlukan untuk mendapatkan pengampunan tersebut.

“Mengapa Backman harus menerima kesepakatan itu?” tanya Critz.

“Tidak tertutup kemungkinan ia akan menolak,” sahut Teddy. “Tapi sudah enam tahun ia mendekam di sel soliter. Itu berarti dua puluh tiga jam sehari terkurung di dalam sel yang amat sempit. Sam jam mendapat sinar matahari. Mandi tiga kali seminggu. Makanannya buruk—mereka bilang be-

rat badannya turun sekitar tiga puluh kilogram Kudengar kondisinya’ tidak begitu bagus.”

Dua bulan yang lalu, setelah kejadian tanah longsor itu, ketika Teddy Maynard memunculkan skenario pengampunan ini, ia telah menggerakkan banyak kontaknya dan pengucilan Backman menjadi semakin parah. Temperatur selnya diturunkan dan selama sebulan terakhir ia menderita batuk yang parah- Makanannya yang selama ini hambar, diproses dengan blender sekali lagi sehingga lebih cair, dan dihidangkan dingin. Pengguyur toiletnya sering kali tidak berfungsi. Para penjaga membangunkannya berkali-kali pada waktu malam. Jatah teleponnya dikurangi. Perpustakaan hukum yang ia gunakan dua kali seminggu tiba-tiba menjadi area terlarang. Backman, sebagai ahli hukum, mengetahui hak-haknya, dan ia melancarkan berbagai ancaman litigasi terhadap penjara dan pemerintah, namun hingga sekarang belum mengajukan gugatan. Perlawanan itu membuatnya lelah. Ia sudah menuntut diberi pil-pil tidur dan Prozac.

“Anda ingin aku mengampuni Joel Backman supaya kalian bisa mengatur agar ia dibunuh?” tanya Presiden.

“Ya,” sahut Teddy terus terang. “Tapi bukan kami yang mengaturnya.”

“Tapi tetap saja itu akan terjadi.” “Ya.”

natiannya akan menguntungkan ke-

nnal?”

onal? aya demikian.”

2

Sayap isolasi di Lembaga Pemasyarakatan Federal Rudley memiliki empat puluh sel yang identik, masing-masing luasnya tak lebih dari 1,5 meter persegi, tanpa jendela, tanpa terali besi, lantainya beton yang dicat hijau dengan dinding dari blok batu bara, dan pintunya terbuat dari logam pejal yang memiliki lubang tipis di bagian bawah untuk menyusupkan nampan makanan dan lubang pengintip kecil untuk para penjaga. Sayap itu dihuni para informan pemerintah, informan pedagang obat terlarang, bajingan Mafia, beberapa mata-mata^—orang-orang yang perlu dikunci rapat-rapat karena banyak orang di kampung halaman yang ingin menggorok leher mereka. Sebagian besar dari empat puluh tahanan dalam tempat terlindung itu memang meminta ditempatkan di sayap isolasi.

Joel Backman sedang berusaha tidur ketika dua penjaga membuka pintunya dengan bunyi berdentang keras dan menyalakan lampu. “Kepala Penjara ingin bertemu denganmu,” kata salah seorang di antaranya, tanpa penjelasan lebih lanjut. Dalam diam mereka mengendarai van penjara menyeberangi padang rumput Oklahoma yang dingin menggigit, melewati bangunan-bangunan lain yang dihuni kaum kriminal yang tak membutuhkan pengamanan terlalu ketat, sampai mereka tiba di gedung administrasi. Backman, yang diborgol tanpa alasan jelas, digiring masuk dengan cepat, menaiki dua baris tangga, lalu menyusuri lorong panjang menuju kantor besar dengan lampu-lampu menyala, yang jelas sedang disibukkan suatu hal penting. Ia melirik jam di dinding; sudah hampir pukul sebelas malam.

Joel Backman belum pernah bertemu Kepala Penjara, dan hal itu bukan tidak biasa. Untuk alasan-alasan yang bagus, Kepala Penjara tidak mondar-mandir. Ia tidak perlu berkampanye untuk menduduki jabatan tertentu, juga tidak perlu memotivasi pasukannya. Selain Kepala Penjara, di sana terdapat tiga pria lain yang mengenakan jas, orang-orang yang tampak serius dan sudah bercakap-cakap selama beberapa waktu. Walaupun merokok dilarang keras di gedung perkantoran milik pemerintah AS, tampak sebuah asbak penuh

29

abu dan asap tebal menggantung di dekat langit-langit.

Tanpa perkenalan sama sekali, Kepala Penjara I berkata, “Duduklah di sana, Mr. Backman.”

“Senang bertemu dengan kalian,” kata Backman sambil menatap orang-orang lain yang berada di ruangan. “Mengapa aku ada di sini?” “Kita akan membicarakannya.” “Bisakah borgol ini dibuka? Aku berjanji tidak akan membunuh siapa pun.” Kepala Penjara memberi isyarat singkat kepada i penjaga terdekat, yang dengan cepat mengeluarkan kunci dan membebaskan tangan Backman. Penjaga itu lalu bergegas keluar dari ruangan, membanting pintu, membuat tidak senang sang kepala penjara yang penggugup.

Kepala Penjara menuding dan berkata, “Ini Agen Khusus Adair dari FBI. Ini Mr. Knabe dari Departemen Kehakiman. Dan ini Mr. Sizemore, juga dari Washington.”

Dari ketiga orang itu, tak satu pun bergerak mendekati Mr. Backman, yang masih berdiri dan tampak kebingungan. Ia mengangguk saja pada mereka, dalam upaya setengah hati untuk bersikap sopan. Upayanya tidak berbalas.

“Silakan duduk,” kata Kepala Penjara, dan Backman akhirnya duduk. “Terima kasih. Seperti yang Anda ketahui, Mr. Backman, presiden yang

baru akan segera disumpah. Presiden Morgan akan segera keluar. Sekarang ini beliau berada di Oval Office, bergumul dengan keputusan apakah akan memberikan pengampunan penuh kepada Anda.”

Tiba-tiba Backman didera batuk-batuk hebat, sebagian akibat temperatur mendekati titik beku di selnya, dan sebagian lagi karena kekagetan mendengar kata “pengampunan”.

Mr. Knabe dari Kehakiman mengangsurkan sebotol ain padanya, yang ditenggaknya dan diciprat-kannya ke dagu, dan akhirnya ia berhasil menahan batuk-batuknya. “Pengampunan?” gumamnya.

“Pengampunan penuh, dengan beberapa persyaratan.”

“Tapi kenapa?”

“Aku tidak- tahu sebabnya, Mr. Backman, dan bukan urusanku untuk memahami apa yang sedang terjadi. Aku hanya menyampaikan pesan.”

Mr. Sizemore, yang hanya diperkenalkan “dari Washington”, tanpa jabatan maupun afiliasi, berkata, “Ini kesepakatan, Mr. Backman. Sebagai ganti pengampunan penuh, Anda harus meninggalkan negara ini, tanpa pernah kembali, dan hidup dengan identitas baru di tempat orang tak bisa menemukan Anda.”

Tidak ada masalah dengan itu, pikir Backman. Ia memang tidak ingin ditemukan.

“Tapi kenapa?” ia bergumam lagi. Botol air di tangan kirinya tampak gemetar.

Sementara Mr. Sizemore dari Washington memerhatikan botol itu bergetar, ia mengamati Joel Backman dengan saksama, dari rambut kelabunya yang dipotong cepak hingga sepatu lari yang dibeli dari toko satu-harga, dengan kaus kaki hitam penjara, dan mau tak mau teringat gambaran orang ini di kehidupan sebelumnya. Gambar di suatu sampul majalah terbayang di benaknya. Foto keren Joel Backman dalam setelan hitam buatan Italia, dengan potongan dan dandanan tanpa cela, menatap kamera dengan sikap puas diri sebesar yang bisa dikerahkan manusia. Rambutnya lebih panjang dan lebih gelap, wajahnya yang tampan lebih berisi dan tanpa kerut, pinggangnya cukup tebal dan membuktikan frekuensi makan siangnya dengan banyak orang penting dan makan malam yang berlangsung selama empat jam. Ia menyukai anggur, wanita, dan mobil sport. Ia memiliki jet, kapal yacht, rumah di Vail, dan semua itu ia umbar tanpa ragu-ragu. Tulisan besar di atas kepalanya menyatakan: SANG BROKER—INIKAH ORANG PALING BERKUASA NOMOR DUA DI WASHINGTON?

Majalah tersebut tersimpan di dalam tas kerja Mr. Sizemore, bersama arsip tebal mengenai Joel Backman. Ia mengambilnya di pesawat dalam perjalanan dari Washington ke Tulsa. Menurut artikel majalah tersebut, penghasilan

sang broker saat itu dilaporkan lebih dari sepuluh juta dolar per tahun, walaupun ia agak malu-malu mengaku pada wartawan yang mewawancarainya. Biro hukum yang didirikannya mempekerjakan dua ratus pengacara, kecil menurut standar Washington, namun tak diragukan lagi yang paling berpengaruh dalam percaturan politik. Biro hukum itu merupakan mesin lobi, bukan tempat pengacara sungguhan mempraktikkan keahlian mereka. Lebih mirip rumah bordil untuk perusahaan-perusahaan kaya dan pemerintah-pemerintah luar negeri.

Oh, yang mahakuasa telah jatuh, batin Mr. Sizemore sambil mengamati botol yang bergetar.

“Aku tidak mengerti,” Backman berhasil mengeluarkan bisikan.

“Dan kami tak punya waktu untuk menjelaskan,” ujar Mr. Sizemore. “Ini kesepakatan cepat, Mr. Backman. Sayangnya Anda tidak punya waktu untuk memikirkannya. Kami perlu keputusan cepat. Ya atau tidak. Anda ingin tetap tinggal di sini, atau Anda ingin hidup dengan nama lain di ujung dunia?”

“Di mana?” »

“Kami tidak tahu di mana, tapi nanti kami pikirkan.”

“Apakah aku akan aman?” “Hanya Anda yang dapat menjawab pertanyaan itu, Mr. Backman.”

Sementara Mr. Backman memikirkan pertanyaan-pertanyaannya sendiri, tangannya bergetar semakin hebat.

“Kapan aku bisa pergi?” ia bertanya lirih. Suaranya agak kuat sekarang ini, tapi serangan batuk hebat akan selalu menanti.

“Segera,” sahut Mr. Sizemore, yang telah mengambil alih pertemuan ini dan merendahkan Kepala Penjara, orang FBI, serta orang Departemen Kehakiman itu dengan menjadikan mereka sekadar penonton. “Maksudmu, sekarang juga?” “Anda tidak akan kembali ke sel Anda.” “Oh, sial,” umpat Backman, dan yang lain-lain mau tak mau tersenyum.

“Ada penjaga yang menunggu di sel Anda,” kata Kepala Penjara “Ia akan membawakan apa pun yang Anda inginkan.”

“Selalu ada penjaga yang menunggu di selku,” tukas Backman pada Kepala Penjara. “Kalau itu si sadis bernama Sloan, suruh dia mengambil pisau cukurku dan mengiris pergelangan tangannya sendiri”

f Semua orang menelan ludah dan menunggu kata-kata tersembur dari lubang panas itu. Mereka menyela udara yang berpolusi pekat dan menyibukkan diri selama beberapa saat.

Mr. Sizemore berdeham, mengalihkan berat tubuhnya dari pantat kanan ke pantat kiri, dan

berkata, “Ada beberapa orang yang sedang menunggu di Oval Office, Mr. Backman. Apakah Anda menerima penawaran ini?”

“Presiden sedang menunggu keputusanku?”

“Anda bisa bilang begitu.”

“Ia berutang budi padaku. Aku yang menempatkannya di sana.”

“Ini bukan saat yang tepat untuk memperdebatkan masalah\ itu, Mr. Backman,” ujar Mr. Sizemore tenang.

“Apakah ia bermaksud membalas budi?” “Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Presiden.” “Kau berasumsi ia punya kemampuan berpikir.” “Aku akan menelepon mereka dan memberitahu bahwa Anda menolak.” “Tunggu.”

Backman mengosongkan botol air dan meminta satu lagi. Disekanya mulutnya dengan lengan baju, lalu ia berkata, “Apakah ini seperti program perlindungan saksi, semacam itu?”

“Bukan program resmi, Mr. Backman. Tapi, dari waktu ke waktu, kami memang perlu menyembunyikan orang.”

“Sesering apa kalian kehilangan orang-orang itu?”

“Tidak terlalu sering.”

“Tidak terlalu sering? Jadi tidak ada jaminan aku akan aman.”

“Tidak ada yang bisa menjamin apa pun. Tapi pertaruhan Anda cukup baik.”

Backman menatap Kepala Penjara dan berkata, “Berapa lama lagi masa tahananku di sini, Lester?”

Lester ditarik kembali ke dalam percakapan. Tidak ada yang memanggilnya Lester, ia benci nama itu dan menghindari nama itu disebut. Papan nama yang terpampang di mejanya menyatakan ia bernama L Howard Cass. “Empat belas tahun, dan kau bisa memanggilku Kepala Penjara Cass.”

“Cass gundulmu. Kemungkinan besar aku akan mati dalam tiga tahun. Kombinasi kekurangan nutrisi, hipotermia, dan perawatan kesehatan yang buruk akan membunuhku. Lester ini agak keras juga, boys!”

“Dapatkah kita. melanjutkan pembicaraan?” ujar Mr. Sizemore.

“Tentu saja aku mau menerima kesepakatan ini,” I kata Backman. “Orang goblok juga pasti mau.”

Mr. Knabe dari Kehakiman akhirnya beringsut. Ia membuka tas kerjanya dan berkata, “Ini dokumen-dokumennya.”

“Kau bekerja untuk siapa?” tanya Backman pada Mr. Sizemore. “Presiden Amerika Serikat.” “Well, bilang padanya aku tidak memilih dia J karena aku dipenjara. Tapi aku pasti akan melaku-

kannya, kalau punya kesempatan. Dan sampaikan terima kasihku padanya, pke?” “Tentu.”

Hoby menuangkan secangkir teh hijau lagi, kali ini tidak mengandung kafein, karena sudah hampir tengah malam. Ia mengangsurkannya pada Teddy, yang terbungkus selimut dan memandangi lalu lintas di belakang mereka. Mereka berada di Constitution Avenue, meninggalkan pusat kota, hampir sampai di Roosevelt Bridge. Laki-laki tua itu menghirupnya, lalu berkata, “Morgan terlalu goblok untuk menjual pengampunan hukuman. Tapi Critz membuatku khawatir.”

“Ada rekening baru di Pulau Nevis,” kata Hoby. “Muncul dua minggu yang lalu, dibuka oleh perusahaan tak jelas yang dimiliki Floyd Dunlap.” “Siapa dia?”

“Salah seorang penggalang dana Morgan.” “Kenapa di Nevis?”

“Tempat panas paling baru untuk aktivitas luar

negeri.”

“Dan kita sudah menguasainya?”

“Seluruhnya. Transfer apa pun yang berlangsung selama empat puluh delapan jam ke depan.”

Teddy mengangguk kecil dan menoleh sedikit ke kiri untuk melihat Kennedy Center. “Di mana

“Sedang meninggalkan penjara.”

Teddy tersenyum dan menyesap tehnya. Mereka melewati jembatan dalam keheningan, dan sewaktu Potomac sudah di belakang mereka, ia akhirnya berkata, “Siapa yang akan menghabisi dia?”

“Apakah itu penting?”

“Tidak, tidak penting. Tapi asyik juga bisa menikmati kontes ini.”

Joel Backman mengenakan seragam militer warna khaki yang sudah lawas namun dikanji hingga kaku dan disetrika rapi, semua emblem dan tanda dilepas, juga sepasang bot tempur hitam mengilap dan jaket parka biru tua dengan tudung yang dikenakannya rapat-rapat di sekeliling kepalanya. Ia berjalan penuh percaya diri keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Federal Rudley, lima menit selewat tengah malam, empat belas tahun lebih cepat daripada yang seharusnya. Ia telah berada di sana, di penjara isolasi, selama enam tahun, dan ketika meninggalkannya ia hanya membawa tas kanvas kecil berisi beberapa buku dan foto. Ia tidak menoleh ke belakang.

Usianya 52 tahun, ia sudah bercerai, bangkrut, dijauhi dua dari tiga anaknya, dan sama sekali terlupakan oleh semua teman lamanya. Tak seorang pun mau repot-repot berkorespondensi dengannya

sesudah satu tahun ia dikurung. Pacarnya, salah satu dari banyak sekretaris yang diuber-ubernya keliling kantornya yang mewah, terus menulis surat selama sepuluh bulan, sampai ada laporan di The Washington Post di mana FBI menyatakan bahwa Joel Backman tidak mungkin menjarah perusahaannya dan menggelapkan jutaan dolar dari para kliennya, seperti yang digosipkan semula. Siapa yang mau menjadi sahabat pena pengacara bangkrut yang meringkuk di penjara? Kalau pengacara itu kaya, mungkin saja.

Ibunya menulis surat sesekali, tapi usianya sudah 91 tahun dan ia tinggal di rumah perawatan jompo murah di dekat Oakland, dan dalam setiap suratnya Backman mendapat kesan itulah surat terakhir dari ibunya. Backman menulis surat untuk ibunya setiap minggu, tapi meragukan ibunya masih bisa membaca, dan ia hampir yakin tak ada staf yang memiliki waktu atau minat membacakan surat-surat itu untuknya. Ibunya selalu menulis, “Terima kasih untuk suratmu,” tapi tak pernah menyinggung-nyinggung apa pun yang ditulis Backman. Ia juga mengirimi ibunya kartu-kartu pada hari-hari istimewa. Dalam salah satu suratnya, ibunya pernah mengaku tidak ada yang ingat hari ulang tahunnya.

Sepatu bot itu sangat berat. Ketika berjalan di trotoar, ia menyadari bahwa hampir selama enam

tahun terakhir ini ia hanya memakai kaus kaki, tanpa sepatu. Aneh benar hal-hal yang kauingat ketika kau mendadak dibebaskan tanpa persiapan. Kapan terakhir kali ia mengenakan bot? Dan berapa lama lagi sebelum ia bisa membuang benda sialan ini?

Ia berhenti sesaat dan mendongak ke langit. Selama satu jam setiap hari, ia diizinkan berjalan-jalan di sepetak kecil halaman rumput di luar sayap penjaranya. Selalu sendirian, selalu diawasi penjaga, | seolah ia, Joel Backman, mantan pengacara yang j tak pernah menembakkan pistol dalam keadaan | marah, bisa saja mendadak berubah berbahaya dan [ melukai seseorang. “Taman” itu dikelilingi pagar f kawat setinggi tiga meter, dan di atasnya dipasang kawat duri setajam silet. Di baliknya terdapat kanal i kering, dan selebihnya hanya ada padang rumput j luas tanpa pepohonan yang membentang sampai I Texas, begitu perkiraannya.

Mr. Sizemore dan Agen Adair mengawalnya. | Mereka menggiringnya menuju mobil SUV warna | hijau tua yang, meskipun tidak bertanda, jelas- t jelas menyatakan “mobil pemerintah”. Joel naik | ke kabin belakang, sendiri, dan mulai berdoa. Ia | memejamkan mata rapat-rapat, mengatupkan ra- i hang, dan meminta pada Tuhan agar mesin mobil j segera menyala, roda segera berputar, gerbang segera i terbuka, dokumen-dokumen tak bercela; kumohon,

Tuhan, jangan ada lelucon. Ini bukan mimpi, Tuhan, kumohon!

Dua puluh menit kemudian, Sizemore yang pertama kali membuka mulut. “Omong-omong, Mr. Backman, apakah Anda lapar?”

Mr. Backman sudah selesai berdoa dan mulai menangis. Mobil itu melaju mulus, walaupun ia tidak membuka matanya. Ia berbaring di kursi belakang, mencoba mengendalikan emosinya, dan gagal total.

“Tentu,” ia berhasil menjawab. Ia duduk tegak dan melihat ke luar. Mereka berada di jalan bebas hambatan antar negara bagian, papan penunjuk jalan besar berwarna hijau berkelebat cepat—Perry Exit. Mereka berhenti di area parkir restoran pancake, tak sampai empat ratus meter dari jalan raya. Terlihat truk-truk besar di kejauhan, mesin dieselnya bekerja keras. Joel mengamatinya sesaat, dan mendengarkan. Ia mendongak lagi dan melihat bulan separo.

“Apakah kita terburu-buru?” ia bertanya pada Sizemore ketika memasuki restoran.

“Masih dalam jadwal,” begitu jawabannya.

Mereka mengambil tempat di meja dekat jendela depan, Joel memandang ke luar. Ia memesan jrench toast dan buah, tidak memesan makanan yang berat karena khawatir sistem pencernaannya sudah terlalu terbiasa dengan makanan cair yang selama ini di-

telannya. Percakapan mereka terasa kaku; kedua pegawai pemerintah itu telah diprogram untuk tidak banyak bicara dan sama sekali tak mampu berbasa-basi. Bukan berarti Joel ingin mendengar apa yang ingin mereka katakan.

Ia berusaha tidak tersenyum. Belakangan Sizemore akan melaporkan bahwa Backman sesekali melirik ke pintu dan sepertinya mengamati pelanggan-pelanggan lain dengan cermat. Ia tidak tampak takut; malah sebaliknya. Sementara menit-menit berlalu dan guncangan itu mereda, kelihatannya ia menyesuaikan diri dengan cepat dan menjadi [bersemangat. Ia melahap dua porsi french toast dan minum empat cangkir kopi.

Beberapa menit lewat dari pukul empat pagi, mereka memasuki gerbang Fort Summit, dekat Brinkley, Texas. Backman dibawa ke rumah sakit pangkalan dan diperiksa dua dokter. Selain flu dan batuk-batuk biasa, serta tubuh yang kurus dan tirus, kondisinya lumayan baik. Sesudah itu ia dibawa ke hanggar tempat ia bertemu Kolonel Gantner, yang seketika itu juga menjadi teman baiknya. Atas instruksi Gantner dan di bawah pengawasan ketatnya, Joel mengganti pakaiannya dengan jumpsuit hijau tentara dengan nama HERZOG tertera di atas saku dada kanan. “Itu namaku?” tanya Joel sambil mengamati nama itu.

“Selama empat puluh delapan jam yang akan

datang,” sahut Gantner. “Pangkatku?” “Mayor.” “Lumayan.”

Pada suatu saat selama brifing singkat itu, Mr. Sizemore dari Washington dan Agen Adair menyelinap pergi, tak pernah terlihat lagi oleh Joel Backman. Sewaktu sinar matahari mulai menampakkan semburatnya, Joel naik ke bukaan belakang pesawat kargo C-130 dan mengikuti Gantner ke tingkat atas, menuju kabin kecil tempat enam serdadu lain sedang menyiapkan diri untuk perjalanan yang panjang.

“Kauambil ranjang itu,” kata Gantner sambil menuding ranjang lipat yang paling bawah.

“Boleh kutanya ke mana kita pergi?” bisik Joel.

“Kau boleh bertanya, tapi aku tidak bisa menjawab.”

“Cuma ingin tahu.”

“Aku akan memberimu brifing lagi sebelum kita

mendarat.” “Kapan itu?”

“Sekitar empat belas jam lagi.”

Tanpa jendela yang dapat mengalihkan perhatiannya, Joel menempatkan diri di ranjang lipat, menarik selimut menyelubungi kepalanya, dan sudah mendengkur ketika pesawat lepas landas.

3

Critz tidur selama beberapa jam, lalu meninggalkan rumah jauh sebelum kekacauan inaugurasi dimulai. Tak lama setelah matahari terbit, ia dan istrinya sudah diterbangkan ke London dengan salah satu dari sekian banyak pesawat jet pribadi milik majikannya yang baru. Ia akan melewatkan dua minggu di sana, lalu kembali ke kesibukan Beltway sebagai pelobi baru yang memainkan permainan lama. Ia tidak menyukai gagasan itu. Selama bertahun-tahun ia mengamati para pecundang menyeberang jalan dan memulai karier baru memuntir lengan kolega-kolega lama, menjual jiwa mereka kepada siapa pun yang punya cukup banyak uang untuk membeli pengaruh apa pun yang mereka jual. Benar-benar bisnis busuk. Ia bosan

dengan kehidupan politik, tapi, sayangnya, hanya itu yang diketahuinya.

Ia akan menyusun pidato-pidato, mungkin menulis buku, bertahan selama beberapa tahun sambil’ berharap ada orang yang akan mengingatnya. Tapi Critz tahu betapa cepat terlupakannya orang-orang yang pernah berkuasa di Washington.

Presiden Morgan dan Direktur Maynard telah sepakat untuk menyembunyikan cerita tentang Backman selama 24 jam, sampai inaugurasi selesai. Morgan sebenarnya tidak peduli; ia akan berada di Barbados pada saat itu. Namun Critz tidak terikat kesepakatan apa pun, terutama kesepakatan yang dibuat dengan orang semacam Teddy Maynard. Setelah makan malam yang panjang sambil menikmati anggur dalam jumlah banyak, sekitar pukul dua dini hari waktu London, la menelepon koresponden White House yang bekerja untuk CBS dan membisikkan garis besar pengampunan hukuman Backman. Seperti yang telah diprediksinya, CBS menayangkan kisah itu pada jam gosip pagi, dan sebelum pukul delapan berita itu sudah bergemuruh keras di D.C.

Joel Backman mendapat pengampunan penuh dan tanpa syarat pada detik-detik terakhir!

Tidak ada detail-detail apa pun mengenai pembebasannya. Terakhir kali terdengar kabarnya, ia tersembunyi rapat di penjara dengan keamanan maksimum di Oklahoma.

Di kota yang sangat tegang itu, hari dimulai dengan pengampunan hukuman yang melejit ke panggung utama dan bersaing ketat dengan presiden baru serta hari kerja pertamanya.

Biro hukum Pratt & Boiling yang bangkrut kini berkantor di Massachusetts Avenue, empat blok sebelah utara Dupont Circle,” bukan lokasi yang buruk, namun jelas tidak sehebat kantor lama mereka di New York Avenue. Beberapa tahun sebelumnya,

Iketika Joel Backman masih berkuasa—nama biro itu dulunya Backman, Pratt & Boiling—ia berkeras memilih tempat» dengan harga sewa paling mahal di kota itu supaya dapat berdiri di depan jendela besar di kantornya yang luas di lantai delapan dan memandang ke bawah ke arah White House.

Sekarang White House tak lagi terlihat; tidak ada kantor hebat dengan pemandangan menakjubkan; gedung ini hanya terdiri atas tiga lantai, bukan delapan. Biro itu juga telah menciut dari dua ratus pengacara dengan upah tinggi menjadi tiga puluh pengacara yang bekerja setengah mati. Kebangkrutan yang pertama—di kantor itu biasa disebut Backman I—sudah cukup menggerogoti kekuatan biro tersebut, tapi ajaibnya juga telah menghindarkan para partnernya dari penjara. Backman II disebabkan oleh tiga tahun pertem-

puran internal dan saling tuntut yang sengit di antara para anggota yang selamat. Pesaing-pesaing biro itu senang mengatakan bahwa Pratt & Boiling menghabiskan lebih banyak waktu menuntut bironya sendiri daripada menuntut lawan para kliennya.

Namun pada pagi hari itu, para pesaing tak bersuara. Joel Backman bebas. Sang broker dilepaskan. Apakah ia akan kembali berjaya? Apakah ia akan kembali ke Washington? Apakah berita itu benar? Pasti tidak.

Kim Boiling saat itu menjalani rehabilitasi kecanduan alkohol, dan dari sana ia akan langsung dikirim ke fasilitas kesehatan mental selama bertahun-tahun. Tekanan yang tak tertahankan selama enam tahun terakhir telah mendorongnya ke tepi jurang kewarasan, hingga tak dapat kembali lagi. Tugas menghadapi mimpi buruk dari Joel Backman ini jatuh ke pangkuan Carl Pratt yang lebar.

Pratt-lah yang pertama kali melontarkan jawaban “Ya, aku bersedia” 22 tahun sebelumnya, ketika Backman menawarkan penggabungan dua biro hukum kecil mereka. Pratt-lah yang bekerja mati-matian selama enam belas tahun membersihkan kotoran apa pun yang ditinggalkan Backman sementara biro itu berkembang, upah membanjir masuk, dan batas-batas etis menjadi kabur hingga tak dapat dikenali lagi. Pratt-lah yang bertengkar setiap

minggu dengan partnernya, yang setelah beberapa lama ikut menikmati buah keberhasilan mereka yang luar biasa.

Dan Carl Pratt jugalah yang nyaris diajukan ke pengadilan federal, tepat sebelum Joel Backman secara heroik menerima hukuman itu demi orang-orang lain. Pengakuan bersalah Backman, pengakuan yang telah membebaskan partner-partner lain dari tuduhan, mewajibkan mereka membayar denda sebesar sepuluh juta dolar, yang langsung mengakibatkan kebangkrutan pertama—Backman I.

Kebangkrutan itu lebih baik daripada penjara, Pratt mengingatkan diri sendiri setiap hari. Pagi itu ia tersaruk-saruk berkeliling kantornya yang nyaris tak berperabot, bergumam sendiri, dan berusaha keras meyakini berita itu tidak benar. Ia berdiri di depan jendelanya yang kecil dan memandangi gedung batu kelabu di sebelah, serta bertanya-tanya dalam hati bagaimana semua itu dapat terjadi. Bagaimana mantan pengacara/pelobi yang telah bangkrut, dipermalukan, dan dicabut haknya sebagai pengacara, bisa meyakinkan presiden yang payah agar memberinya pengampunan pada detik-detik terakhir?

Ketika Joel Backman masuk penjara, boleh dibilang ia penjahat kerah putih paling terkenal di Amerika. Semua orang ingin melihatnya digantung di cabang pohon.

Namun, Pratt mengakui pada diri sendiri, jika-ada manusia di dunia ini yang sanggup mencintakan keajaiban tersebut, orang itu adalah Joel Backman.

Pratt menelepon selama beberapa menit, menyimak desas-desus dalam jaringannya yang luas, yang terdiri atas para penggosip Washington dan orang-orang yang serbatahu. Seorang teman lama yang entah bagaimana dapat bertahan di Departemen Eksekutif di bawah empat presiden—dua dari masing-masing partai—akhirnya mengonfirmasi kebenaran itu.

“Di mana dia sekarang?” desak Pratt, seolah Backman akan muncul di D.C. sewaktu-waktu.

“Tidak ada yang tahu,” begitu jawabannya.

Pratt mengunci pintunya dan melawan dorongan untuk membuka botol vodka. Usianya 49 tahun ketika partnernya divonis penjara dua puluh tahun tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat, dan ia sering bertanya-tanya apa yang akan ia lakukan pada usia 69 tahun ketika Backman dibebaskan.

Pada saat ini, Pratt merasa telah kecolongan empat belas tahun.

Ruang sidang itu begitu padat sehingga hakim menunda sidang pendahuluan selama dua jam sampai permintaan tempat duduk dapat diatur dan diberi

prioritas. Semua lembaga pemberitaan penting di negara itu menjerit meminta tempat untuk duduk maupun berdiri. Tokoh-tokoh dari Departemen Kehakiman, FBI, Pentagon, CIA, NSA, White House, dan Capitol Hill mendesak mendapat tempat duduk, semua mengatakan kepentingan mereka akan ditegakkan bila mereka bisa hadir untuk menyaksikan eksekusi Joel Backman. Ketika terdakwa akhirnya muncul di ruang sidang yang gelisah itu, penonton mendadak terdiam dan satu-satunya suara yang terdengar berasal dari no tulis pengadilan yang menyiapkan mesin stenonya.

Backman dibawa ke meja terdakwa, tempat sepasukan kecil pengacara mengerumuninya dengan rapat seolah sebutir peluru sewaktu-waktu dapat melesat dari kerumunan di area penonton. •Kalaupun ada suara tembakan, hal itu tidak mengherankan, walaupun pengamanan di sana menyamai pengamanan kunjungan kepresidenan. Di baris paling depan, tepat di belakang meja terdakwa, duduklah Carl Pratt dan beberapa partner—atau yang-sebentar-lagi-akan-menjadi-mantan-partner— Mr. Backman. Merekalah yang telah digeledah paling teliti, untuk alasan yang paling jelas. Walaupun mereka mendidih penuh kemurkaan terhadap Backman, mereka jugalah yang paling mendukungnya. Kalau permohonan pernyataan bersalah itu gagal karena ada masalah atau ketidak-

sepakatan pada saat terakhir, posisi mereka akan di ujung tanduk, dan akan ada sidang-sidang sengit tak lama lagi.

Masih untung mereka duduk di baris paling depan, bersama para penonton, bukan di meja terdakwa tempat para penjahat seharusnya berada. Paling tidak mereka masih hidup. Delapan hari sebelumnya, Jacy Hubbard, salah seorang partner mereka yang berharga, ditemukan tewas di Arlingron National Cemetery, dengan skenario bunuh diri yang tak dipercaya oleh nyaris semua orang. Hubbard pernah menjadi senator dari Texas yang lengser dari kursi yang didudukinya selama 25 tahun, demi satu tujuan—walau tak disebutkan— yaitu menawarkan kekuatan pengaruhnya kepada siapa pun yang menawar dengan harga paling tinggi. Tentu saja Joel Backman tidak akan membiarkan ikan yang demikian besar lolos dari jaring-jaringnya, maka ia dan seluruh jajaran Backman, Pratt & Boiling menyewa jasa Hubbard dengan bayaran satu juta dolar setahun karena Jacy bisa keluar-masuk Oval Office kapan pun ia mau.

Kematian Hubbard adalah cara yang” efetaif untuk memperlihatkan pada Joel Backman sudut pandang pemerintah. Keruwetan yang selama ini telah memperlambat negosiasi kesepakatan tiba-tiba saja terurai. Bukan saja Backman menerima vonis dua puluh tahun penjara, ia juga ingin melaku-

kannya secepat mungkin. Ia tak sabar ingin segera I masuk ke tempat terlindung!

Pengacara pihak pemerintah hari itu adalah jaksa penuntut karier dari jajaran tinggi Departemen Kehakiman, dan dengan besarnya liputan dan prestisiusnya penonton yang datang, ia tak tahan untuk tidak berlagak pamer. Ia menggunakan tiga kata padahal satu kata sudah cukup; terlalu banyak orang yang menontonnya di luar sana. Ia menguasai panggung—momen langka dalam kariernya yang panjang dan membosankan—dan seluruh negeri menyaksikan. Dengan gaya teramat kering ia berlagak membacakan tuntutan, dan segera terlihat jelas bahwa ia tidak memiliki setetes pun bakat teatrikal, sama sekali tak memiliki pembawaan dramatis, walaupun ia sudah berusaha sekuat renaga. Setelah delapan menit monolog yang menjemukan, sang hakim, yang menyipitkan mata dengan mengantuk dari balik kacamatanya, berkata, “Maukah Anda mempercepat pembacaan tuntutan, Sir, dan tolong rendahkan suara Anda.”

Keseluruhannya ada delapan belas butir tuntutan, menyatakan tindak kejahatan dari spionase hingga pengkhianatan terhadap negara. Setelah semua itu dibacakan, Joel Backman tampak begitu jahat sehingga bisa disetarakan dengan Hitler. Pengacara Backman dengan cepat mengingatkan sidang pengadilan, dan semua orang yang hadir, bahwa

tak satu pun tuntutan itu sudah dibuktikan, bahwa itu hanya penggambaran satu sisi dalam kasus ini, sudut pandang pemerintah yang berat sebelah. Ia menjelaskan bahwa kliennya hanya bersedia mengaku bersalah atas empat dari delapan belas tuntutan—kepemililikan atas dokumen-dokumen militer yang belum diotorisasi. Hakim kemudian membaca permohonan bersalah yang lumayan panjang, dan selama dua puluh menit tidak ada yang bersuara. Para seniman di baris depan membuat sketsa kejadian dengan bersemangat, gambar-gambar mereka sama sekali tidak mirip aslinya.

Neal Backman, putra sulung Joel, bersembunyi di baris belakang, duduk di antara orang-orang tak dikenal. Pada saat itu ia masih berstatus sebagai associate di biro hukum Backman, Pratt & Boiling, tapi tak lama lagi keadaan itu akan berubah. Diamatinya jalannya seluruh persidangan dengan perasaan terguncang. Ia tak mampu memercayai ayahnya yang dulu begitu berkuasa sekarang mengaku bersalah dan akan tenggelam dalam sistem penghukuman federal.

Terdakwa akhirnya digiring ke kursi saksi, di sana ia mendongak angkuh sebisa mungkin dan menghadapi para juri. Bersama para pengacara yang berbisik-bisik di kedua telinganya, ia mengaku bersalah atas empat tuntutan, lalu dibawa kembali ke tempat duduknya. Ia berhasil menghindari kontak mata dengan semua orang.

Tanggal vonis ditetapkan bulan berikutnya. Sementara Backman diborgol dan dibawa pergi, jelaslah bagi semua yang hadir bahwa ia tidak akan dipaksa membongkar rahasia-rahasianya, bahwa ia benar-benar akan dikurung untuk waktu yang lama sementara kasus persekongkolannya mereda dan sedikit demi sedikit terlupakan. Kerumunan pun pelan-pelan berpencar. Para wartawan mendapatkan setengah berita yang mereka inginkan. Pejabat-pejabat penting lembaga pemerintah pergi tanpa banyak bicara—beberapa senang karena rahasia-rahasia itu terjaga rapat, sebagian lagi marah karena tindakan kriminalitas itu disembunyikan. Carl Pratt dan para partner lain yang tadinya berada di ujung tanduk langsung beranjak menuju bar rerdekat.

Wartawan pertama menelepon kantor tak lama sebelum pukul sembilan pagi. Pratt telah memperingatkan sekretarisnya bahwa akan ada telepon-telepon semacam itu. Si sekretaris disuruh mengatakan pada semuanya bahwa Pratt terlalu sibuk bersidang untuk urusan yang berkepanjangan dan tidak akan kembali ke kantor selama berbulan-bulan. Tak lama kemudian saluran telepon macet dan hari kerja yang tampak produktif pun langsung berantakan. Semua pengacara dan karyawan lain meninggalkan pekerjaan mereka dan saling kasak-

kusuk mengenai satu topik: berita pembebasan Backman. Beberapa orang mengawasi pintu depan, setengah berharap hantu itu akan datang untuk mencari mereka.

Seorang diri dan di balik pintu yang terkunci, Prarr menyesap Bloody Mary sambil menyaksikan berita tanpa henti di TV kabel. Untungnya, sebuah bus berisi turis Denmark telah diculik di Filipina, kalau tidak, Joel Backman akan menjadi berita utama di mana-mana. Tapi polularitasnya berada di nomor dua, sementara para komentator ahli digiring ke stasiun TV, didandani, dan ditempatkan di studio, di bawah cahaya lampu-lampu, tempat mereka berceloteh panjang-lebar mengenai dosa Backman yang legendaris itu.

Mantan kepala Pentagon menyebut pengampunan itu “berpotensi membahayakan keamanan nasional”. Seorang pensiunan hakim federal, tampak setua usianya yang lebih dari sembilan puluh tahun, menyebutnya “keguguran keadilan”—sudah bisa diduga. Seorang senator keroco dari Vermont mengakui ia tidak tahu banyak tentang skandal Backman, namun tetap saja bersemangat tampil di TV kabel dalam siaran langsung dan berkata ia berencana mengusulkan diadakannya penyelidikan besar-besaran. Pejabat White House yang tak disebut namanya menyatakan bahwa presiden yang baru “merasa terganggu” oleh pengampunan itu

dan bermaksud mengkaji ulang keputusan tersebut, apa pun itu artinya.

Begitu terus tanpa henti. Pratt mencampur gelas Bloody Mary kedua.

Untuk mendapatkan pemberitaan yang lebih berdarah, seorang “koresponden”—bukan sekadar “wartawan”—menggali kembali kasus Senator Jacy Hubbard, dan Pratt pun meraih remote control. Di-keraskannya volume TV ketika foto besar wajah Hubbard terpampang di layar kaca. Mantan senator itu ditemukan tewas dengan sebutir peluru di kepalanya, seminggu sebelum Backman mengaju-I kan permohonan bersalah. Yang semula kelihatan ¦ sebagai tindakan bunuh diri, belakangan diragukan, walaupun belum ada tersangka yang dapat diidentifikasi Pistol yang digunakan tak bertanda, dan bisa jadi barang curian. Hubbard dulunya pemburu yang aktif, tapi tak pernah menggunakan senjata genggam. Residu bubuk mesiu di tangan kanannya sangat mencurigakan. Autopsi menyatakan adanya konsentrasi besar alkohol dan barbiturat dalam tubuhnya Alkohol memang bisa diterima, tapi Hubbard sepertinya tak pernah menggunakan narkoba. Beberapa jam sebelumnya ia terlihat bersama seorang wanita muda yang menarik di bar di Georgetown, dan itu pun bukan sesuatu yang janggal.

Teori yang paling populer adalah wanita itu diam-diam memberinya cukup banyak obat ter-

larang untuk membuatnya tak sadarkan diri, lalu mengoperkannya kepada para pembunuh profesional. Diduga Hubbard dibawa ke area tetpencil di Arlington National Cemetery dan ditembak sekali di kepala. Tubuhnya jatuh di atas kubur kakak lelakinya, pahlawan perang Vietnam yang mendapat tanda jasa. Sentuhan yang manis, namun orang-orang yang mengenal Hubbard akan bersaksi bahwa ia nyaris tak pernah membicarakan keluarganya dan banyak yang tak tahu tentang kakak yang sudah meninggal.

Teori yang tak terkatakan adalah Hubbard telah dibunuh oleh orang-orang yang juga ingin menghabisi Joel Backman. Dan selama beberapa tahun sesudahnya, Carl Pratt dan Kim Boiling mengeluarkan banyak uang untuk menggaji pengawal pribadi profesional, kalau-kalau nama mereka pun ada di dalam daftar. Hal itu terbukti tidak benar. Detail-detail kesepakatan penting yang telah menggiring Backman ke penjara dan merenggut nyawa Hubbard ditangani langsung oleh kedua orang itu, dan seiring berjalannya waktu, Pratt mengendurkan keamanan di sekeliling dirinya, walaupun ia tetap membawa sepucuk Ruger ke mana-mana.

Akan tetapi Backman sudah jauh, dengan jarak yang semakin lebar setiap menirnya. Anehnya, ia

pun sedang memikirkan Jacy Hubbard dan orang-orang yang mungkin relah membunuhnya. Dia punya banyak waktu untuk berpikir—empat belas jam di ranjang lipat di dalam pesawat kargo yang berguncang-guncang sanggup mematikan ketajaman saraf siapa pun, paling tidak saraf manusia normal. Namun bagi narapidana yang baru saja dibebaskan, yang baru keluar setelah enam tahun-mendekam dalam penjara soliter, penerbangan tersebut cukup menggugah semangat.

Siapa pun yang telah membunuh Jacy Hubbard dapat dipastikan ingin menghabisi Joel Backman juga, dan sementara tubuhnya terguncang-guncang di atas ketinggian 24.000 kaki, Backman merenungkan beberapa pertanyaan serius. Siapa yang melobi i untuk pembebasannya? Di mana mereka bermaksud ‘menyembunyikan dirinya? Siapa sebenarnya “mereka” itu?

Pertanyaan-pertanyaan yang sangat menyenangkan. Kurang dari 24 jam lalu pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya adalah: Apakah mereka berusaha membuatku mati kelaparan? Membuatku mati kedinginan? Apakah aku akan kehilangan akal sehat secara penahan di dalam sel sempit ini? Atau secara cepat? Apakah aku akan pernah melihat cucu-cucuku? Apakah aku memang ingin bertemu mereka?

Ia lebih menyukai pertanyaan-pertanyaan yang

baru ini, walaupun menggelisahkan. Paling tidak ia dapat menyusuri jalan di suatu tempat dan menghirup udara segar serta menikmati sinar matahari, mungkin mampir di kafe dan menyesap secangkir kopi kental.

Dulu ia pernah punya klien, importir kokain kaya raya yang terjerat perangkap DEA. Klien tersebut merupakan tangkapan yang berharga sehingga FBI menawarkan padanya kehidupan baru dengan nama dan wajah baru, kalau ia mau buka mulut tentang jaringan Kolombia. Maka dibukalah mulutnya, dan setelah menjalani operasi ia dilahirkan kembali di sebelah utara Chicago, tempat ia mengelola toko buku kecil. Joel pernah mampir pada suatu hari beberapa tahun kemudian dan mendapati kliennya itu telah memelihara jenggot, merokok dengan pipa, tampak intelek dan sederhana. Ia memiliki istri baru dan tiga anak tiri, dan orang-orang Kolombia itu tak pernah tahu.

Di luar sana dunia tak selebar daun kelor. Bersembunyi tentunya tidak sesulit itu.

Joel memejamkan mata, bergeming, mendengarkan dengung statis keempat mesin pesawat, dan berusaha memberitahu dirinya bahwa ke mana pun ia dibawa, ia tidak akan hidup dalam pelarian. Ia akan beradaptasi, ia akan bertahan hidup, ia tidak akan hidup dalam cengkeraman ketakutan.

Terdengar percakapan teredam di ranjang lipat

sebelah sana, dua serdadu yang bertukar cerita tentang gadis-gadis mereka. Joel teringat Mo si informan Mafia yang selama empat tahun terakhir menempati sel di sebelah sel Joel dan sekirar 22 jam dalam sehari menjadi satu-satunya manusia yang bisa diajaknya bicara. Joel tidak bisa melihat Mo, namun mereka bisa saling mendengarkan suara masing-masing melalui lubang ventilasi. Mo tidak merindukan keluarganya, teman-temannya, tetangga-tetangganya, atau makanan, minuman, dan sinar matahari. Mo hanya bicara tentang seks. Ia mengisahkan cerita-cerita panjang dan mendetail tentang petualangannya. Ia menyampaikan lelucon-lelucon, beberapa termasuk yang paling jorok yang pernah didengar Joel. Ia bahkan menulis puisi tentang pacar-pacar lama, orgy, dan fantasi.

Joel tidak akan merindukan Mo dan imajinasinya.

Di luar kehendaknya, Joel tertidur lagi.

Kolonel Gantner mengguncang-guncang tubuhnya, berbisik keras, “Mayor Herzog, Mayor Herzog. Kita perlu bicara” Backman merunduk keluar dari ranjang lipatnya, mengikuti si kolonel sepanjang gang sempit yang gelap di antara ranjang-ranjang, lalu masuk ke ruangan kecil, yang kira-kira dekat dengan kokpit. “Duduklah,” kata Gantner. Mereka berdesakan di sekeliling meja logam kecil. Gantner membawa map. “Begini lsesepakatannya,”

ia mulai. “Kita akan mendarat sekitar satu jam lagi. Rencananya kau akan jatuh sakit, sangat sakit sehingga ada ambulans dari rumah sakit pangkalan yang akan menunggu di tempat pendaratan. Pihak berwenang Italia akan melakukan inspeksi dokumen singkat seperti biasa, dan mereka akan memeriksamu juga. Barangkali juga tidak Kita akan berada di pangkalan militer AS, dan akan ada banyak tentara mondar-mandir. Aku punya paspor untukmu. Aku yang akan bicara pada orang-orang Italia itu, lalu kau akan diangkut dengan ambulans ke rumah sakit.” “Italia?”

“Ya. Pernah dengar Pangkalan Udara Aviano?” “Belum.”

“Sudah kuduga. Tempat ini dikuasai AS sejak kita mengusir Jerman pada tahun 1945. Letaknya di ujung utara Italia, dekat Pegunungan Alpen.”

“Kedengarannya indah.”

“Lumayan, tapi itu cuma pangkalan.”

“Berapa lama aku akan berada di sana?”

“Bukan aku yang memutuskan. Tugasku hanyalah membawamu keluar dari pesawat ini sampai ke rumah sakit pangkalan. Di sana akan ada orang lain yang mengambil alih. Bacalah biografi Mayor Herzog ini, siapa tahu diperlukan.”

Joel melewatkan beberapa menit membaca sejarah imajiner Mayor Herzog dan menghafal detail-detail yang.ada di dalam paspor palsu.

“Ingat, kau sakit parah dan di bawah pen^ obat bius,” Gantner menjelaskan. Pura-pUra Saja kau sedang koma.”

“Aku sudah koma selama enam tahun. “Kau mau minum kopi?” “Tempat yang kita tuju ini, jam berapa di sana?”

Gantner melirik arlojinya dan menghitung dengan cepat. “Kita akan mendarat sekitar pukul satu malam.

“Aku mau minum kopi.”

Gantner memberinya cangkir kertas dan termos, lalu menghilang.

Setelah dua cangkir kopi, Joel merasakan putaran mesin pesawat berkurang. Ia kembali ke ranjang lipatnya dan berusaha memejamkan mata.

Sewaktu pesawat C-130 tersebut bergulir dan akhirnya berhenti, sebuah ambulans angkatan udara mundur ke pintu belakang. Para anggota pasukan terhuyung-huyung keluar, sebagian masih mengantuk. Ranjang beroda yang membawa Mayor Herzog didorong turun dan dengan hati-hati diangkat ke dalam ambulans. Petugas Italia yang terdekat berada di dalam iip militer AS, memerhatikan keadaan dengan setengah hati sambil berusaha menghangatkan tubuhnya. Ambulans

itu berangkat, tidak terburu-buru, dan lima menit kemudian Mayor Herzog pun didorong masuk ke rumah sakit pangkalan dan ditempatkan di ruangan kecil di lantai dua, dengan dua polisi militer menjaga pintunya.

4

Sekalipun Backman tidak tahu dan tidak punya alasan untuk peduli, untung baginya bahwa pada detik-detik terakhir Presiden Morgan juga memberikan pengampunan hukuman kepada miliarder tua yang kabur dari hukuman penjara dengan minggat ke luar negeri. Miliarder tersebut, imigran dari salah satu negara Slavia yang memiliki kesempatan untuk mengganti namanya saat tiba di Amerika beberapa dekade sebelumnya, pada masa mudanya telah memilih nama Duke Mongo. Duke menyumbangkan uang dalam jumlah banyak untuk kampanye kepresidenan Morgan. Ketika terbongkar berita bahwa ia telah menghabiskan masa berkarier-nya dengan menghindari pajak, terbongkar jugalah fakta bahwa ia pernah melewatkan beberapa malam di Lincoln Bedroom, dan di sana, sambil me-

nikmati minuman persahabatan, ia dan Presiden membicarakan penundaan hukuman. Menurut orang ketiga yang hadir pada acara minum-minum santai tersebut, pelacur muda yang saat itu menjadi istri kelima Duke, Presiden berjanji akan mengerahkan pengaruhnya kepada IRS dan membatalkan penyelidikan. Tidak pernah terjadi. Tuntutan hukuman tersebut 38 halaman panjangnya, dan sebelum seluruhnya sempat bergulung keluar dari mesin cetak, sang miliarder, tanpa istri nomor lima, pindah ke Uruguay tempat ia mendongakkan dagu tinggi-tinggi ke arah utara dan tinggal di istana bersama calon istri nomor enam.

Sekarang ia ingin pulang agar bisa mati dengan martabat tak tercela, mati sebagai patriot sejati, dan dimakamkan di tanah pertaniannya yang bernama Thoroughbred, di luar Lexington, Kentucky. Critz yang menangani kesepakatan itu, dan beberapa menit sesudah menandatangani surat pengampunan hukuman untuk Joel Backman, Presiden Morgan memberikan pengampunan penuh kepada Duke Mongo.

Makan waktu satu hari sebelum berita itu bocor—pengampunan-pengampunan tersebut, untuk alasan yang jelas, tidak dipublikasikan oleh White House—dan media pun langsung heboh. Orang ini telah menggelapkan uang pemerintah sejumlah lebih dari 600 juta dolar selama kurun

waktu dua puluh tahun, bajingan yang pantas dikurung di penjara selama-lamanya, dan sekarang ia akan pulang dengan pesawat jet sebesar gajah dan menghabiskan hari-harinya dalam kemewahan tak terkira. Kisah Backman, walaupun sensasional, sekarang memiliki pesaing berat, bukan hanya turis-turis Denmark yang diculik, tetapi juga penggelap pajak terbesar negara itu.

Namun Backman tetap menjadi topik paling panas. Sebagian besar surat kabar utama di sepanjang Pantai Timur memajang foto “Sang Broker” di suatu tempat di halaman depan. Kebanyakan memuat artikel panjang mengenai skandalnya, pengakuan bersalahnya, dan sekarang pengampunan hukumannya.

Carl Pratt membaca semuanya melalui Internet, di ruang kantor yang besar dan berantakan di atas garasi rumahnya, di barat laut Washington. Ia menggunakan tempat itu untuk bersembunyi, untuk menyingkir dari pertempuran-pertempuran yang berkobar di biro hukumnya, untuk menghindari partner-partner yang tak disukainya. Di sana ia bisa minum dan tak ada yang peduli. Ia bisa melemparkan barang-barang, menyumpahi dinding-dinding, dan melakukan apa pun yang diinginkannya, karena itu adalah tempat persemayamannya.

Arsip Backman berada di dalam kotak kardus besar, yang disimpannya rapat-rapat di lemari. Se-

karang arsip tersebut ada di atas meja kerjanya, dan Pratt menelitinya untuk pertama kali sesudah bertahun-tahun lamanya. Ia telah menyimpan segalanya—artikel-artikel, foto-foto, memo-memo internal kantor, catatan yang berisi keterangan sensitif, salinan dakwaan, laporan autopsi Jacy Hubbard. Benar-benar sejarah yang muram.

Pada bulan Januari 1996, tiga ilmuwan komputer muda asal Pakistan membuat penemuan yang menggemparkan. Mereka bekerja di flat yang sempit dan panas di lantai teratas gedung apartemen di pinggiran Karachi, dan berhasil menghubungkan serangkaian komputer Hewlett-Packard yang mereka beli lewat Internet dengan uang bantuan pemerintah. “Superkomputer” mereka yang baru itu kemudian dihubungkan ke telepon satelit militer canggih, yang juga disediakan oleh pemerintah. Seluruh operasi tersebut bersifat rahasia dan dibiayai pihak militer dengan anggaran yang tak pernah tercatat. Tujuan mereka sederhana saja: menemukan, dan kemudian berusaha mengakses, satelit pengintai India yang baru, yang berkeliling 5.000 kilometer di atas wilayah Pakistan. Bila berhasil menyadap satelit tersebut, mereka diharapkan memonitor hasil pengintaiannya. Harapan sekundernya adalah berusaha memanipulasi satelit itu.

Pada mulanya, data-data intelijen tersebut sangat menggairahkan, namun kemudian terbukti tak berguna. “Mata” India yang baru .itu pada dasarnya melakukan hal yang sama seperti yang telah mereka lakukan selama sepuluh tahun terakhir—mengambil ribuan foto instalasi militer yang itu-itu saja. Satelit-satelit Pakistan pun telah balas mengirimkan foto-foto pangkalan angkatan bersenjata India dan pergerakan pasukan yang sama selama sepuluh tahun. Kedua negara tersebut bisa terus bertukar foto tanpa mendapatkan informasi baru. Tapi kemudian tanpa sengaja ditemukan sa-[ telit lain, kemudian saru lagi, dan satu lagi. Satelit-satelit tersebut bukan milik India maupun Pakistan, dan semestinya tidak berada di tempat mereka ditemukan—masing-masing sekitar 500 kilometer di atas permukaan bumi, bergerak dari utara ke timur laut dalam kecepatan konstan 200 kilometer jam, dan masing-masing menjaga jarak 640 kilometer dari yang lain. Selama sepuluh hari, ketiga hacker yang sangat bersemangat itu memonitor pergerakan paling sedikit enam satelit, yang sepertinya merupakan bagian dari sistem yang sama, sementara masing-masing bergerak perlahan dari Semenanjung Arab, melintasi langit di atas Afghanistan dan Pakistan, dan terus menuju sebelah barat Cina.

Mereka tidak memberitahu seorang pun, namun

berhasil mendapatkan telepon satelit yang lebih canggih dari pihak militer, dengan alasan perlu menindaklanjuti beberapa pekerjaan yang belum selesai menyangkut satelit pengintai India. Setelah satu bulan melakukan pengamatan metodis selama 24 jam sehari, mereka berhasil mendapatkan bukti adanya rangkaian sembilan satelit identik yang bergerak secara global, semua saling terhubung dan dirancang dengan hati-hati agar tidak terlihat oleh siapa pun kecuali pihak yang meluncurkannya. –

Penemuan itu mereka beri nama Neptunus.

Ketiga pakar muda itu mendapatkan pendidikan di Amerika Serikat. Pentolannya adalah Safi Mirza, mantan asisten dosen pendidikan master di Stanford, yang pernah bekerja sebentar di Breedin Corp, kontraktor pertahanan AS yang membangkang dan bergerak di bidang sistem satelit. Fazal Sharif memperoleh gelar master di bidang ilmu komputer dari Georgia Tech University.

Anggota ketiga dan yang paling muda dalam geng Neptunus itu adalah Farooq Khan, dan Farooq-lah yang kemudian menyusun program yang berhasil menembus satelit Neptunus pertama. Begitu berada di dalam sistem komputer satelit, Farooq mulai mtn-download data-data intelijen yang sangat sensitif sehingga ia, Fazal, dan Sah yakin bahwa mereka telah memasuki wilayah tak bertuan. Mereka mendapatkan foto-foto jernih

yang memperlihatkan kamp-kamp pelatihan teroris di Afghanistan, dan limusin-limusin pemerintah di Beijing. Neptunus mampu mendengarkan pembicaraan pilot-pilot Cina yang mengobrol di atas ketinggian dua puluh ribu kaki, dan dapat pula melihat kapal nelayan mencurigakan yang berlabuh di Yaman. Neptunus mengikuti sebuah truk bersenjata, kemungkinan milik Castro, melalui jalan-jalan di Havana. Dan dalam rekaman video langsung yang mengejutkan mereka bertiga, terlihat jelas Arafat tengah berjalan di gang di dalam kompleks tempat tinggalnya di Gaza, menyulut tokok, kemudian buang air kecil. /

Selama dua hari penuh tanpa tidur, ketiganya mengintip ke dalam satelit-satelit itu ketika melintasi wilayah Pakistan. Programnya berbahasa Inggris, dan melihat konsentrasi pergerakannya di wilayah Timur Tengah, Asia, dan Cina, dengan mudah diasumsikan bahwa Neptunus adalah milik Amerika Serikat, dengan Inggris dan Israel di tempat kedua dan ketiga, meski kecil kemung-kinanannya. Bisa jadi Neptunus adalah program rahasia gabungan AS dan Israel.

Setelah dua hari menguping, mereka kabur dari apartemen tersebut dan menata ulang kelompok kecil mereka di tanah pertanian milik seorang teman, enam belas kilometer di luar kota Karachi. Penemuan itu memang menegangkan, namun mereka, terutama

Safi, ingin mengambil langkah lebih jauh. Ia cukup yakin dapat memanipulasi sistem tersebut.

Keberhasilannya yang pertama adalah mengamati Fazal Sharif membaca koran. Untuk melindungi identitas lokasi mereka, Fazal naik bus ke pusat kota Karachi, dan sambil mengenakan topi hijau serta kacamata hitam, ia membeli koran dan duduk di bangku taman dekat persimpangan tertentu. Sementara Farooq memasukkan perintah-perintah melalui telepon satelit yang telah direkayasa, salah satu satelit Neptunus menemukan Fazal, menggerakkan fokus kamera sehingga dapat dengan jelas menangkap judul-judul berita di koran Fazal, meneruskannya ke rumah pertanian, dan di sana hasilnya diamati dengan membisu dan rasa tidak percaya.

Citra elektro-optikal yang diteruskan ke Bumi itu merupakan salah satu citra dengan resolusi paling tinggi menurut teknologi saat itu, sekitar 120 sentimeter—setara dengan citra-citra tajam yang dihasilkan satelit pengintai milik militer AS dan kurang-lebih dua kali lebih tajam daripada satelit-satelit komersial Eropa dan Amerika.

Selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan, ketiga pemuda itu bekerja tanpa henti menyusun perangkat lunak untuk penemuan tersebut. Mereka membuang sebagian besar dari yang telah mereka susun, namun sambil menyempurnakan program-

program yang dapat berjalan, mereka semakin ter- I kagum-kagum pada kemampuan Neptunus.

Delapan belas bulan sesudah mereka pertama I kali menemukan Neptunus, ketiga pemuda itu I memiliki—dalam empat disk Jaz berkapasitas I 2-gigabyte—program piranti lunak yang bukan I hanya meningkatkan kecepatan Neptunus untuk I berkomunikasi dengan berbagai kontak di Bumi, I namun juga memampukan Neptunus mengacaukan j (jam) navigasi, komunikasi, dan satelit-satelit } pengintai yang telah ada di orbit. Karena tidak bisa I menemukan nama sandi yang lebih baik, program I tersebut mereka beri nama JAM. §3^\i

Sekalipun sistem yang mereka sebut Neptunus I itu milik orang lain, ketiga sekawan itu mampu I mengendalikannya, memanipulasinya sepenuh- I nya, dan bahkan membuatnya tak berfungsi. Per- E tengkaran yang pahit pun timbul. Sah” dan Fazal I menjadi serakah dan ingin menjual JAM pada I pihak yang mengajukan penawaran paling tinggi. I Farooq meramalkan mereka hanya akan mendapat f masalah dengan penemuan itu. Ia ingin meng- I hibahkannya pada pihak militer Pakistan dan cuci I tangan dari seluruh peristiwa itu.

Pada bulan September 1998, Safi dan Fazal [ pergi ke Washington dan menghabiskan sebulan I penuh rasa frustrasi karena tak berhasil menembus i jaringan intelijen militer melalui kontak-kontak I

Pakistan. Kemudian seorang teman memberitahu mereka tentang Joel Backman, orang yang dapat membuka semua pintu di Washington D.C.

Namun membuka pintu Joel Backman sendiri tidaklah mudah. Broker itu orang yang sangat penting yang memiliki klien-klien penting dan banyak orang berpengaruh yang menuntut sebagian kecil wakrunya. Bagi klien baru, upah untuk satu jam konsultasi besarnya lima ribu dolar, dan konsultasi itu pun hanya tersedia bagi mereka yang cukup mujur mendapat perhatian dari sang pria berkuasa. Safi meminjam dua ribu dolar dari paman yang tinggal di Chicago dan berjanji akan membayar Mr. Backman sisanya dalam sembilan puluh hari. Berkas-berkas pengadilan kemudian menyatakan bahwa pertemuan pertama itu berlangsung pada tanggal 24 Oktober 1998, di kantor Backman, Pratt & Boiling. Pertemuan tersebut pada akhirnya akan menghancurkan kehidupan semua orang yang terlibat di dalamnya.

Pada mulanya Backman skeptis pada JAM dan kemampuannya yang mengagumkan. Atau barangkali ia langsung memahami potensinya yang luar biasa dan memilih untuk bermain licik dengan klien-klien barunya. Safi dan Fazal bemimpi menjual JAM pada Pentagon dengan harga tinggi, apa pun pendapat Mr. Backman tentang produk itu.

Dan bila ada orang di Washington yang dapat menghasilkan harta karun dari menjual JAM, orang itu adalah Joel Backman.

Sejak awal, Backman mengikutsertakan Jacy Hubbard, corong suaranya yang berharga, yang masih bermain golf seminggu sekali dengan Presiden dan nongkrong di bar-bar bersama petinggi-petinggi Capitol Hill. Jacy Hubbard orang yang meriah, flamboyan, agresif, tiga kali bercerai, dan suka menikmati wiski mahal—terutama yang dibeli oleh para pelobi. Secara politis ia sanggup bertahan hanya karena ia dikenal sebagai ahli kampanye paling kotor dalam sejarah Senat AS; bukan upaya yang kecil. Ia dikenal sebagai anti Semit; dan sepanjang kariernya ia mengembangkan persahabatan dekat dengan Saudi. Sangat akrab. Salah saru penyelidikan etis menemukan sumbangan kampanye sebesar satu juta dolar dari seorang pangeran, yang bermain ski bersamanya di Austria.

Awalnya, Hubbard dan Backman berdebat tentang cara yang paling tepat untuk memasarkan JAM. Hubbard ingin menjualnya pada Saudi, yang, ia yakin, akan membelinya dengan harga satu miliar dolar. Backman memiliki pandangan yang lebih nasionalis dengan menyatakan bahwa produk semacam itu seharusnya menjadi milik negara mereka. Hubbard yakin ia dapat membuat

kesepakatan dengan Saudi yang isinya mereka berjanji tidak akan menggunakan program tersebut untuk melawan kepentingan Amerika Serikat, pihak yang boleh disebut sekutu mereka. Backman takut pada Israel—teman-teman mereka yang berkuasa di Amerika Serikat, militer mereka, dan, yang paling penting, dinas rahasia mereka.

Pada saat itu Backman, Pratt & Boiling mewakili banyak perusahaan dan pemerintah asing. Bahkan, biro mereka adalah satu-satunya alamat yang dituju oleh siapa pun yang menghendaki pengaruh politik instan di Washington. Bayarlah upah yang menakutkan itu, dan kau akan mendapatkan akses. Daftar kliennya yang panjang termasuk industri baja Jepang, Pemerintah Korea Selatan, Arab Saudi, sebagian besar konspirasi perbankan Karibia, rezim yang berkuasa di Panama, gabungan industri pertanian Bolivia yang tidak menanam apa pun selain kokain, dan seterusnya, dan seterusnya. Ada banyak klien legal, dan banyak pula yang tidak terlalu bersih.

Kabar burung mengenai JAM perlahan-lahan bocor di sekitar kantor mereka. Ini bisa menjelma menjadi upah paling besar yang pernah dihasilkan biro mereka, padahal sebelumnya pun sudah ada beberapa pihak yang membayarkan jumlah yang mengejutkan. Sementara minggu-minggu berlalu, partner-partner lain dalam biro tersebut

mengajukan berbagai skenario untuk memasarkan JAM. Alasan-alasan patriotisme dengan segera terlupakan—masalahnya ada terlalu banyak uang di luar sana! Biro itu mewakili perusahaan Belanda yang membuat instrumen eJekrronik untuk Angkatan Udara Cina, dan dengan hidangan utama seperti itu, mereka dapat mengatur kesepakatan yang menguntungkan dengan Pemerintah Beijing. Korea Selatan akan dapat tidur lebih nyenyak bila mereka mengetahui apa yang terjadi di utara. Siria pasti bersedia menyerahkan harta negaranya bila dapat menetralisir komunikasi militer Israel. Kartel narkoba tertentu bersedia membayar miliaran dolar demi kemampuan melacak upaya pencegatan yang dilakukan DEA

Hari demi hari, Backman dan gerombolan pengacaranya yang serakah menjadi semakin kaya. Di ruangan-ruangan yang paling besar dalam kantor itu, mereka tidak membicarakan hal-hal lain.

Sikap dokter itu agak ketus dan sepertinya ia tidak punya banyak waktu untuk pasiennya yang baru I Toh tempat itu merupakan rumah sakit militer. Tanpa banyak bicara ia memeriksa detak jantung, paru-paru, tekanan darah, kemampuan refleks, dan i sebagainya, lalu tiba-tiba saja ia mengatakan, “Ku- t rasa kau menderita dehidrasi.”

“Kok bisa?” tanya Backman.

“Sering terjadi kalau orang melakukan penerbangan jarak jauh. Kita akan mulai dengan memberikan cairan. Kau akan pulih kembali dalam dua puluh empat jam.”

“Maksudmu, dengan infus?”

“Benar.”

“Aku tidak pakai infus.” “Maaf?”

.”Aku tidak mau mengulang-ulang. Aku tidak mau disuntik.”

“Kami mengambil contoh darahmu.”

“Yeah, tapi kan darahnya yang keluar, bukannya ada sesuatu yang masuk. Lupakan, Dok, aku tidak mau diinfus.”

“Tapi kau dehidrasi.”

“Aku tidak merasa dehidrasi.”

“Aku dokter, dan aku menyatakan kau menderita dehidrasi.”

“Kalau begitu beri aku segelas air.”

Setengah jam kemudian, perawat masuk sambil menyunggingkan senyum lebar dan membawa banyak sekali obat-obatan. Joel menolak pil tidur, dan bertanya ketika perawat itu melambaikan alat suntik, “Apa itu?”

“Ryax.”

“Ryax itu apa?” “Pelemas otot.”

“Well, kebetulan sekali otot-ototku sedang cukup lemas sekarang ini. Aku tidak mengeluh otot-ototku perlu dilemaskan. Aku tidak didiagnosis otot-ototku menderita ketegangan. Tidak ada yang bertanya padaku apakah otot-ototku tegang atau santai. Jadi ambil saja Ryax itu dan masukkan ke lubang pantatmu dan kita akan sama-sama santai dan senang.”

Perawat itu nyaris menjatuhkan alat suntiknya. Setelah diam lama dalam keheningan yang panjang dan tidak enak, perawat itu berhasil mengatakan, “Aku akan bertanya pada dokter.”

“Silakan saja Oh ya, bagaimana kalau kaumasuk-kan saja ke lubang pantat dokter yang gendut itu? Dialah yang perlu sedikit lemas.” Tapi perawat itu sudah terbirit-birit keluar dari kamar.

Di sisi lain pangkalan itu, seseorang bernama Sersan McAuliffe mengetuk-ngetuk keyboard-nyi dan mengirim pesan ke Pentagon. Dari sana pesan j itu langsung dikirimkan ke Langley, yang kemudian I dibaca oleh Julia Javier, veteran yang dipilih oleh j Direktur Maynard sendiri untuk menangani kasus [ Backman. Kurang dari sepuluh menit setelah insiden I Ryax, Ms. Javier memelototi layar monitornya, menggumam “Bangsat”, lalu naik ke lantai atas.

Seperti biasa, Teddy Maynard duduk di ujung meja panjang, terbungkus selimut quilt, membaca j

salah satu ringkasan yang tak henti-hentinya mengalir ke mejanya setiap jam.

Ms. Javier berkata, “Baru dapat kabar dari Aviano. Teman kita menolak segala jenis obat-obatan. Tidak mau diinfus. Tidak mau pil.”

“Tidak dapatkah mereka memasukkan sesuatu ke dalam makanannya?” tanya Teddy dengan nada rendah.

“Dia tidak mau makan.”

“Apa yang dikatakannya?”

“Perutnya sakit.”

“Apakah itu mungkin?”

“Dia tidak menghabiskan banyak waktu di toilet. Sulit ditebak.” “Dia mau minum?”

“Mereka memberinya segelas air, tapi ditolaknya. Berkeras hanya mau minum air dari botol. Ketika akhirnya mendapatkan air dalam kemasan, ia memeriksa tutupnya untuk memastikan segelnya belum rusak.”

Teddy menyingkirkan jauh-jauh laporan yang -sedang dibacanya dan menggosok-gosok matanya dengan buku-buku jari. Rencana pertama adalah membius Backman di rumah sakit, dengan infus ataupun dengan suntikan, membuatnya tak sadarkan diri sepenuhnya, memberinya obat bius selama dua hari, lalu perlahan-lahan menyadarkannya dengan narkotik campuran mereka yang paling

mutakhir. Setelah beberapa hari dalam keadaajJ setengah sadar, mereka akan mulai memberjU sodium penrothal, atau yang disebut serum t benaran, yang, bila digunakan oleh ahli-ahli inter gasi veteran mereka, selalu menghasilkan apa yang mereka harapkan.

Rencana pertama itu gampang dan tak mungkm gagal. Rencana kedua akan makan waktu berbulan bulan dan keberhasilannya tak bisa dipastikan. “Ia punya rahasia besar, bukan?” tanya Teddy “Tak diragukan lagi.” “Dan kita mengetahui hal itu, bukan?” “Ya.”

5

Ketika skandal itu terbongkar, dua dari tiga anak Backman memang sudah sejak lama tak sudi berurusan lagi dengannya. Neal, si putra sulung, menulis surat pada ayahnya paling tidak dua kah* sebulan, walaupun pada awal jatuhnya vonis surat-surat itu tidak mudah ditulis.

Ketika ayahnya masuk penjara, Neal adalah associate junior berusia 25 tahun di biro hukum Backman. Walaupun ia tidak banyak tahu tentang JAM dan Neptunus, FBI tetap saja mengganggunya dan ia akhirnya diajukan ke pengadilan oleh jaksa penuntut federal.

Keputusan Joel untuk mengaku bersalah, yang diajukannya dalam waktu singkat, memang sebagian besar karena kejadian yang telah menimpa Jacy Hubbard, namun juga dimotivasi per-

lakuan semena-mena pihak berwenang terhadap putranya. Semua tuntutan aras Neal dibatalkan begitu Joel mengaku bersalah. Ketika ayahnya divonis penjara dua puluh tahun, Neal langsung dipecat oleh Carl Pratt dan digiring keluar dari kantor oleh petugas keamanan bersenjata. Nama Backman seolah dihinggapi kutukan, dan Neal tak bisa mendapatkan pekerjaan di mana pun di Washington. Seorang kawan dari fakultas hukum memiliki paman, hakim yang sudah pensiun, dan setelah menelepon ke sana kemari, Neal akhirnya menetap di kota kecil Culpeper, Virginia, bekerja di , biro hukum yang terdiri atas lima pengacara, dan i bersyukur karena masih diberi kesempatan ini. Ia menyukai status anonim itu. Ia sempat berpikir untuk mengganti namanya. Ia tidak mau membicarakan ayahnya. Ia membuat akta, surat wasiat, dan melakukan pekerjaan notaris. Ia beradaptasi dengan mulus ke dalam rutinitas kehidupan kota kecil. Pada akhirnya ia bertemu gadis setempat dan menikahinya, dan dalam waktu singkat mereka menghasilkan anak perempuan, cucu Joel yang kedua, satu-satunya cucu yang fotonya dimiliki Backman.

Neal membaca berita mengenai pembebasan ayahnya di koran Post. Ia membicarakan hal itu panjang-lebar dengan istrinya, dan secara singkat de-

ngan para partner biro hukum tempatnya bekerja. Berita itu bisa jadi telah menyebabkan kegegeran di Washington, namun getarannya tidak menjangkau Culpeper. Sepertinya tak ada orang yang tahu maupun peduli. Ia bukan putra sang broker; ia hanyalah Neal Backman, salah satu dari sekian banyak pengacara di kota kecil di daerah Selatan.

Seorang hakim menariknya ke pinggir setelah suatu sidang pendahuluan dan bertanya, “Di mana mereka menyembunyikan ayahmu?”

Atas pertanyaan tersebut, Neal menjawab dengan penuh hormat, “Bukan topik favorit saya, Yang Mulia.” Dan percakapan pun disudahi sampai di situ.

Di permukaan, tak ada yang berubah di Culpeper. Neal melakukan pekerjaannya seperti biasa, seolah pengampunan hukuman itu diberikan kepada orang yang tak ia kenal. Ia menunggu panggilan telepon; suatu saat nanti ayahnya pasti akan memberi kabar.

Setelah permintaan bertubi-tubi, perawat kepala akhirnya mengedarkan topi dan berhasil mengumpulkan uang hampir sebesar tiga dolar dalam bentuk uang receh. Uang itu diserahkan kepada pasien yang masih mereka sebut Mayor Herzog, pria yang semakin hari semakin pemarah,

yang kondisinya bertambah buruk karena kelaparan. Mayor Herzog menerima uang itu dan kemudian membawanya ke mesin otomatis yang ditemukannya di lantai dua. Dari sana ia membeli tiga kantong kecil keripik jagung Fritos, dan dua kaleng Dr. Peppers. Semua itu dihabiskannya dalam beberapa menit saja, dan satu jam kemudian ia masuk ke toilet karena diare parah.

Tapi sekurang-kurangnya ia ridak rerlalu lapar lagi, atau dibius, atau mengatakan sesuatu yang seharusnya tak dikatakannya.

Walaupun secara teknis ia manusia bebas, dengan pengampunan penuh dan segalanya, ia masih ^ terkurung dalam fasilitas milik Pemerintah AS, dan masih diam di dalam ruangan yang tak lebih luas ketimbang selnya di Rudley. Makanan di sana memang mengerikan, tapi ia bisa makan ranpa takut dibius diam-diam. Sekarang ia hanya makan keripik dan minum soda. Perawat-perawat di sini hanya sedikit lebih ramah dibandingkan dengan para penjaga yang suka menyiksanya. Para dokter hanya ingin membuatnya tak sadarkan diri, menuruti perintah dari atas, ia yakin. Tak jauh dari sini pasti ada ruang penyiksaan tempat mereka menunggu untuk menerkamnya setelah obat-obatan mereka menunjukkan hasilnya.

la merindukan dunia luar, udara segar dan sinar matahari, makanan, interaksi sekecil apa pun

dengan manusia yang tidak mengenakan seragam. Dan setelah dua hari yang panjang, ia pun mendapatkannya.

Seorang pria muda bernama Stennett yang memiliki wajah kaku seperti batu muncul di kamarnya pada hari ketiga dan mulai dengan sesuatu yang menyenangkan, “Oke, Backman, begini perjanjiannya. Namaku Stennett.”

Ia melemparkan map arsip ke atas selimut, di atas tungkai Joel, di dekat sejumlah majalah tua yang sudah dibaca untuk ketiga kalinya. Joel membuka map itu. “Marco Lazzeri?”

“Itulah namamu, pai, orang Italia sekatang. Di sana ada akte kelahiran dan kartu pengenal nasionalmu. Hafalkan semua info itu sesegera mungkin.”

“Hafalkan? Aku bahkan tak bisa membacanya.”

“Kalau begitu belajarlah. Kita akan pergi sekitar tiga jam lagi. Kau akan dibawa ke kota terdekat tempat kau akan bertemu sahabat barumu, yang akan menuntunmu selama beberapa hari.”

“Beberapa hari?”

“Mungkin sebulan, tergantung seberapa baik kau melakukan transisi.”

Joel meletakkan kembali map arsip itu dan menatap Stennett. “Kau bekerja untuk siapa?”

“Kalau aku memberitahumu, aku akan terpaksa membunuhmu.”

“Lucu sekali. CIA?”‘

USA Hanya ini yang bisa kukatakan dan hanya itu yang perlu kauketahui.”

Joel memandang jendela yang kusennya terbuat dari logam, lengkap dengan kuncinya, dan berkata, “Aku tidak melihat ada paspor di dalam sini.”

“Ya, well, itu karena kau tidak akan pergi ke mana-mana, Marco. Kau akan menjalani hidup renang. Tetangga-tetanggamu akan mengira kau dilahirkan di Milan namun besar di Kanada, karena irulah bahasa Iralia-mu buruk, dan itu sebabnya kau perlu belajar. Kalau kau merasa ingin bepergian, keadaan bisa sangat berbahaya bagimu.” “Berbahaya?”

“Ayolah, Marco. Jangan main-main denganku. Ada beberapa orang kejam di dunia ini yang pasti gembira kalau bisa menemukanmu. Lakukan apa yang kami perintahkan, dan mereka tidak akan da-“pat menemukanmu.”

“Aku tak mengenal satu kata pun dalam bahasa Italia.”

“Tentu saja kau tahu—-pizza, spaghetti, caffe latte, bravo, opera, mamma mia. Kau akan bisa mempelajarinya dengan cepat. Semakin cepat dan semakin baik kau mempelajarinya, kau pun akan semakin aman. Kau akan mendapat guru.”

“Aku tak punya uang sepeser pun.”

“Mereka juga bilang begitu. Paling tidak, mereka

(belum bisa menemukannya.” Stennett mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya dan meletakkannya di atas map tersebut. “Sewaktu kau mendekam di penjara, Italia menarik mata uang lira dan menggantinya dengan euro. Semua itu seratus euro. Satu euro nilainya hampir setara dengan satu |» dolar. Satu jam lagi aku akan kembali dengan beberapa pakaian. Di dalam map itu ada kamus kecil, dua ratus kata pertamamu dalam bahasa Italia. Kusarankan kau mulai mempersiapkan diri.”

Satu jam kemudian Stennett pun kembali dengan kemeja, celana panjang, jaket, sepatu, dan kaus kaki, semua bermerek Italia. “Buon giorno,” sapanya.

“Halo untukmu,” jawab Backman. “Mobil bahasa Italia-nya apa?”

“Macchina.”

“Bagus, Marco. Sudah saatnya kita naik macchina.”

Seorang pria pendiam duduk di balik kemudi mobil Fiat kecil yang tak bertanda. Joel merunduk masuk ke bangku belakang bersama tas kanvas yang berisi harta pribadinya. Stennet duduk di depan. Udara terasa dingin dan lembap, selapis salju tipis menutupi tanah. Ketika mereka melewati gerbang Pangkalan Udara Aviano, Joel Backman merasakan getaran pertama kebebasan, walaupun gelombang kecil kegairahan itu dibebani keragu-raguan.

Ia mengamati rambu-rambu lalu lintas dengan saksama; tak terdengar separah kata pun dari bangku depan. Mereka berada di Rute 251, jalan raya dua jalur, mengarah ke selatan, begitu perkiraannya. Lalu lintas semakin padat ketika mereka mendekati kota Pordenone.

“Berapa populasi Pordenone?” tanya Joel, memecah keheningan yang pekat.

“Lima puluh ribu,” sahut Stennett.

“Ini Italia utara, bukan?”

“Tunur laut.”

“Berapa jauh dari sini ke Alpen?” Stennett mengangguk ke sebelah kanannya dan menjawab, “Sekitar enam puluh lima kilometer ke sebelah sana. Pada hari cerah, kau bisa melihat pegunungan itu.”

“Bisakah kita berhenti sebentar untuk minum kopi?” pinta Joel. “Tidak, kita, eh, tidak diperbolehkan berhenti.” Sejauh ini si pengemudi tetap berlagak tuli. Mereka mengitari tepi utara Pordenone dan tak berapa lama melaju di atas A28, jalan empat jalur di mana semua orang tampak terburu-buru, kecuali para pengemudi truk. Mobil-mobil kecil melesat melewati mereka sementara mereka hanya merayap dengan kecepatan seratus kilometer per jam. Stennett membuka koran Italia, La Repubblica, dan menutupi separo kaca depan.

Joel senang-senang saja dengan suasana senyap itu dan memandangi pemandangan yang berkelebat lewat. Tanah di sana sepertinya sangat subur, walaupun saat itu akhir bulan Januari dan tak seorang pun berada di ladang-ladang tersebut. Sesekali tampak vila-vila kuno di punggung bukit berundak-undak.

Ia pernah menyewa vila semacam itu. Sekitar dua belas tahun sebelumnya, istri nomor dua mengancam akan pergi bila Backman tidak mengajaknya ke suatu tempat untuk berlibur panjang. Saat itu Joel bekerja delapan puluh jam per minggu, dengan waktu luang yang diisinya dengan bekerja lagi. Ia lebih suka tinggal di kantor, dan menilik keadaan di rumah, hidupnya akan lebih tenang di sana. Namun perceraian makan biaya terlalu besar, maka Joel mengumumkan pada semua orang bahwa ia dan istri tercintanya akan melewatkan liburan satu bulan penuh di Tuscany. Seolah semua itu adalah gagasannya—”sebulan penuh bertualang kuliner dan menikmati anggur di kawasan Chianti!”

Mereka menemukan biara dari abad keempat belas di dekat desa abad pertengahan bernama San Gimignano, lengkap dengan para pengurus rumah tangga dan tukang masak, bahkan sopir. Namun pada hari keempat petualangan, Joel menerima berita mencemaskan bahwa Komite Penilaian Senat sedang mempectimbangkan akan menghapus satu

klausul yang akan merenggut penghasilan dua miliar dolar yang bisa diperolehnya dari salah satu klien kontraktor bidang pertahanan. Joel terbang pulang menggunakan pesawat carteran dan bekerja keras mencambuki Senat agar kembali ke jalan yang benar. Istri nomor dua tetap tinggal di Tuscany, tempat ia—Joel belakangan mengetahui—tidur dengan si sopir yang masih belia. Selama seminggu berikutnya Joel menelepon setiap hari dan berjanji akan kembali ke vila untuk menuntaskan liburan mereka, namun sesudah minggu kedua, istrinya tidak mau lagi menerima telepon Joel.

I Undang-Undang Penilaian diluruskan dengan

fcaik

Sebulan kemudian istrinya menuntut perceraian, pertempuran yang ramai dan pada akhirnya harus dibayar seharga tiga juta dolar.

Padahal istri nomor dua inilah yang paling disukainya dari ketiga istrinya. Mereka semua sudah pergi sekarang, selamanya tercerai-berai. Istri yang pertama, ibu dari dua anaknya, telah menikah dua kali sejak bercerai dari Joel, dan suaminya yang sekarang menjadi kaya dengan menjual pupuk cair kepada negara-negara dunia ketiga. Istri pertama sempat menulis surat padanya ketika Joel di penjara, catatan singkat dan kejam yang menyatakan pujiannya pada sistem peradilan karena

akhirnya berhasil membekuk salah satu bajingan yang paling berkuasa.

Joel tidak menyalahkannya. Istrinya itu mengemasi barang-barangnya setelah menangkap basah Joel bersama si pirang seksi yang menjadi istri nomor dua.

Istri nomor tiga langsung terjun dari kapal begitu vonisnya diputuskan.

Hidup yang sungguh berantakan. Lima puluh dua tahun, dan apa yang bisa dipamerkan dari kariernya mencurangi klien, mengejar-ngejar sekretaris di kantor, menekan politisi-politisi kecil yang licik, bekerja tujuh hari seminggu, mengabaikan tiga anak yang entah bagaimana berhasil hidup stabil, membentuk citra publik, membangun ego tak terbendung, serta mengejar uang uang uang? Apakah upah dari pengejaran impian besar Amerika yang dilakukan dengan sembrono ini?

Enam tahun mendekam dalam penjara. Dan sekarang nama palsu karena namanya yang dulu tetlalu berbahaya. Dan uang sekitar seratus dolar dalam sakunya.

Marco? Bagaimana ia bisa menatap wajahnya di cermin setiap hari dan berkata, “Buon giorno, Marco”?

Tapi jelas jauh lebih baik daripada “Selamat pagi, Tuan Pesakitan”. Stennett lebih banyak bergumul dengan kertas-

kertas korannya daripada membacanya. Di bawal pengawasannya, kertas-kertas koran itu terlipat, tertarik, dan kusut, dan dari waktu ke waktu si pengemudi melirik frustrasi.

Sebuah papan penunjuk jalan menyatakan Venesia enam puluh kilometer jauhnya ke sebelah selatan, dan Joel memutuskan untuk memecahkan suasana monoton itu. “Aku ingin tinggal di Venesia, kalau White House memperbolehkan.”

Si pengemudi mengernyit dan koran Stennett jatuh lima belas sentimeter dari tangannya. Atmosfer j dalam mobil itu sesaat menjadi tegang sampai Stennett berhasil menggeram dan mengangkat bahu “Sori,” jawabnya.

“Aku benar-benar harus buang air,” ujar Joel. I “Bisakah kau mendapatkan izin untuk istirahat dan pipis sebentar?”

Mereka berhenti di sebelah utara kota Conegliano, di servizio (WC umum) modern di tepi jalan, Stennett membeli beberapa cangkir espresso. Joef membawa kopinya ke jendela depan toko dan mengamati lalu lintas sementara ia mendengarkan pasangan yang sedang saling membentak dalam bahasa Italia Tak sekali pun ia berhasil menangkap! salah satu dari dua ratus kata yang berusaha di-1 hafalkannya. Sepertinya itu tugas yang mustahil. I Stennett muncul di sebelahnya dan memandangi

lalu lintas. “Kau pernah cukup lama berada di Italia?” ia bertanya.

“Satu bulan, di Tuscany.”

“Benarkah? Satu bulan penuh? Pasti menyenangkan.”

“Empat hari sebenarnya, tapi istriku tinggal sebulan penuh. Ia bertemu beberapa temannya. Bagaimana denganmu? Apakah ini salah satu tempat nongkrongmu?”

“Aku sering pindah.” Ekspresi wajahnya tak menunjukkan apa-apa, sama seperti jawabannya Dihirupnya kopinya dan ia berkata, “Conegliano, terkenal karena Prosecco-nya.”

“Sampanye Italia,” timpal Joel.

“Benar. Kau suka minum?”

“Tak pernah minum setetes pun selama enam tahun.”

“Mereka tidak menyediakannya di penjara?”

“Tidak.”

“Dan sekarang?”

“Aku akan kembali menyesuaikan diri. Dulu pernah jadi kebiasaan.” “Sebaiknya kita berangkat sekarang.” “Berapa lama lagi?” “Tidak jauh.”

Stennett berjalan ke arah pintu, tapi Joel menghentikannya. “Hei, aku lapar sekali. Bolehkah aku mendapat bekal sandwich untuk perjalanan?”

Stennett mengamati rak penuh berisi paniri siap saji. Tentu.” “Dua boleh?” “Tidak masalah.”

Jalan raya A27 mengarah ke selatan menuju Treviso, dan ketika tak terlihat tanda-tanda mereka hanya akan melewati kota itu, Joel pun berasumsi perjalanan ini akan segera berakhir. Pengemudi memperlambat laju mobilnya, berbelok dua kali, dan tak lama kemudian mereka terbanting-banting di atas jalanan sempit kota itu.

“Berapa populasi Treviso?” tanya Joel.

“Delapan puluh lima ribu,” sahut Stennett.

“Apa yang kauketahui tentang kota ini?”

“Treviso kota kecil yang kaya, yang tidak banyak berubah selama lima ratus tahun. Dulunya bersekutu erat dengan Venesia, ketika kota-kota ini berseteru satu sama lain. Kita mengebom kota ini pada Perang Dunia Kedua. Tempat yang menyenangkan, tidak terlalu banyak turis.”

Tempat yang baik untuk bersembunyi, pikir Joel, “Aku turun di sini?”

“Bisa jadi”

Sesosok menara jam yang tinggi memanggil semua pengguna jalan menuju pusat kota yang mengelilingi Piazza del Signori. Skuter dan moped melejit di antara mobil-mobil, pengendaranya seperti tak kenal rasa takut. Joel menyerap peman-

dangan toko-toko tua yang kecil—tabaccheria yang memajang rak surat kabar yang menghalangi pintu toko, farmacia dengan lampu neon hijau membentuk tanda salib, kafe-kafe kecil pinggir jalan dengan meja-meja berisi orang-orang yang sepertinya sangat menikmati duduk, membaca, bergosip, atau menyesap espresso selama berjam-jam. Saat itu sudah hampir pukul sebelas siang. Apa pekerjaan orang-orang ini sehingga mereka bisa mengambil rehat minum kopi satu jam sebelum waktu makan siang? –

Ia tertantang untuk mencari tahu jawabnya, Joel memutuskan.

Pengemudi yang tak diketahui namanya itu mengarahkan mobil ke tempat parkir sementara. Stennett memencet tombol-tombol angka di ponsel-nya, menunggu, lalu berbicara cepat dalam bahasa Italia. Sesudahnya, ia menuding ke arah depan dan berkata, “Kaulihat kafe yang ada di sana, di bawah naungan garis-garis merah-purih itu? Caffe Donati?”

Joel menjulurkan kepala dari bangku belakang dan menjawab, “Yeah, aku lihat.”

“Jalanlah ke pintu depan, melewati bar di sebelah kananmu, menuju bagian belakang yang memuat delapan meja. Duduklah di sana, pesan kopi, lalu tunggu.”

“Tunggu apa?”

“Seorang pria akan mendekatimu setelah kurang, lebih sepuluh menit. Kau harus menuruti kata-katanya.”

“Dan kalau tidak?”

“Jangan main-main, Mr. Backman. Kami akan mengamati.” “Siapa pria ini?”

“Sahabat barumu Ikuti kata-katanya, dan kemungkinan kau akan selamat. Kalau kau melakukan sesuatu yang tolol, kau takkan bertahan hidup lebih dari enam bulan.” Stennett mengatakannya dengan puas hati, seolah dia memang senang memancing ketegangan Marco yang malang.

“Jadi kalau begitu kita adios sekarang?” tanya Joel sambil mengemasi tasnya.

“Arrivederci, Marco, bukan adios. Surat-suratmu sudah lengkap?” “Sudah.”

“Kalau begitu, arrivederci.”

Perlahan-lahan Joel turun dari mobil dan mulai berjalan menjauh. Dilawannya dorongan kuat untuk menoleh ke belakang dan memastikan Stennett, pelindungnya, masih mengawasinya dan ada di belakang sana, menjauhkannya dari sesuatu yang tak diketahui. Namun ia tidak berpaling. Sebaliknya, ia berlagak sebiasa mungkin sembari menyusuri jalan dan membawa tas kanvas, satu-satunya tas kanvas yang dilihatnya saat ini di pusat kota Treviso.

Tentu saja Stennett mengawasinya. Dan siapa lagi? Sahabat barunya pasti ada di suatu tempat, setengah bersembunyi di balik surat kabar, memberikan tanda pada Stennett dan gelombang statis lainnya. Joel berhenti sebentar di depan tabaccheria dan mengamati dengan cepat kepala-kepala berita di koran-koran Italia, walau ia tak tahu satu patah kata pun yang tertulis di sana. Ia berhenti berjalan karena ia bisa berhenti berjalan, karena ia manusia bebas yang memiliki kekuasaan dan hak untuk berhenti berjalan kapan pun ia mau, dan mulai bergerak lagi kapan pun ia menghendakinya.

Joel memasuki Caffe Donati dan mendapat sapaan pelan “Buon giorno” dari pemuda yang sedang mengelap meja bar.

“Buon giorno,” Joel berhasil menjawab, kata-kata pertamanya pada orang Italia. Untuk mencegah pembicaraan lebih lanjut, ia terus berjalan, melewati bar, melewati tangga melingkar dengan tanda yang menunjukkan ada kafe di atas, melewati etalase besar yang memamerkan berbagai macam kue pastri yang cantik. Ruang belakang gelap dan pengap, sumpek oleh kabut asap rokok yang mencekik udara. Ia duduk di salah satu dari dua meja kosong dan mengabaikan tatapan para pengunjung yang lain. Ia takut bila pelayan datang, takut bila harus memesan, takut penyamarannya terbongkar begitu cepat saat pelariannya baru dimulai. Jadi ia hanya

duduk sambil menunduk dan membaca surat-surat identitasnya yang baru.

“Buon giorno,” ujar seorang wanka di sebelah bahu kirinya.

“Buon giorno,” Joel berhasil menjawab. Dan sebelum wanita itu sempat mencerocos tentang daftar menu, ia berkata, “Espresso.” Wanira itu tersenyum, lalu mengatakan sesuatu yang tak dapat ia pahami, dan dijawabnya dengan, “No.”

Siasatnya berhasil, wanita itu pergi, dan bagi Joel itu merupakan kemenangan besar. Tak ada yang menatapnya seolah ia orang asing yang tidak tahu apa-apa. Ketika wanita itu membawakan espresso-nya, Joel mengucapkan, “Grazie,” dengan perlahan, dan wanita itu bahkan tersenyum padanya. Joel menghirupnya lambat-lambat, tidak tahu sampai berapa lama ia harus bertahan dengan kopi ini, tidak ingin kopinya segera habis dan ia terpaksa memesan sesuatu yang lain.

Percakapan dalam bahasa Italia berdengung di sekelilingnya, obrolan tak henti antarteman yang bergosip dengan kecepatan luar biasa. Apakah bahasa Inggris terdengar secepat ini? Mungkin juga. Gagasan untuk mempelajari suatu bahasa dengan cukup baik sehingga ia bisa memahami percakapan di sekitarnya terasa sangat mustahil baginya. Dipandanginya daftar menyedihkan berisi dua ratus

kata itu, lalu selama beberapa menit ia berusaha menangkap salah satu kata tersebut.

Pelayan kafe lewat dan menanyakan sesuatu. Joel menyahutnya dengan jawaban standar, “No,” dan sekali lagi itu berhasil.

Jadi Joel Backman menikmati espresso di bar kecil di Via Verde, di Piazza dei Signori, di tengah kota Treviso, di wilayah Veneto, di timur laut Italia, sementara di Lembaga Pemasyarakatan Rudley teman-teman lamanya masih dikurung di sayap isolasi, dengan makanan buruk dan kopi yang encer, dengan penjaga-penjaga sadis, peraturan-peraturan bodoh, serta beberapa tahun yang harus dilalui bahkan sebelum mereka mampu memimpikan kehidupan di luar penjara.

Berlawanan dengan rencana semula, Joel Backman tidak akan mati di balik jeruji besi di Rudley. Pikiran, tubuh, dan jiwanya tidak akan layu dan mengering. Ia relah merebut empat belas tahun hidupnya dari para penyiksahya, dan sekarang ia duduk tanpa borgol di kafe yang menarik, satu jam jauhnya dari Venesia.

Mengapa ia malah memikirkan penjara? Karena orang tak bisa melenggang pergi begitu saja tanpa mengalami guncangan, setelah enam tahun lamanya melewatkan sesuatu. Kau membawa sebagian masa lalu bersamamu, tak peduli sepahit apa kenangan itu. Kengerian penjara menjadikan kebebasannya

ini terasa sangat manis. Semua butuh waktu d ia berjanji pada diri sendiri untuk memu^ perhatiannya pada masa sekarang. Jangan berp-? tentang masa depan. ‘

Dengarkan suara-suara itu, obrolan cepat ant teman, suara tawa, lelaki di sebelah sana yang be bisik lewat ponselnya, pelayan wanita yang

bersem ke arah dapur. Nikmati baunya—i rokok, kopi yang kaya citarasa, kue pastri yan baru dipanggang, kehangatan ruangan kecil tempat

—…i^aj

penduduk setempat telah berkumpul selama berabad-abad.

Dan untuk kesekian ratus kalinya ia bertanya pada diri sendiri, Mengapa ia ada di sini? Mengapa ia dilarikan dengan cepat dari penjara, lalu ke luar negeri? k bisa memahami pengampunan hukuman, tapi mengapa harus disertai kabur ke luar negeri dengan rancangan yang begitu rumit? Mengapa mereka tidak memberikan surat-surat pembebasan padanya, membiarkannya mengucapkan selamat tinggal pada Rudley yang tersayang, dan membiar kannya menjalani hidup, seperti semua penjahai yang baru diampuni?

Ia punya firasat. Ia bisa memikirkan dugaan yang lumayan akurat. Dan dugaannya itu membuatnya takut. Kemudian Luigi muncul entah dari mana.

6

Luigi berusia awal tiga puluhan, dengan mata berwarna gelap yang tampak sedih, rambut gelap menutupi sebagian telinganya, serta jenggot yang belum dicukur selama paling tidak empat hari. Tubuhnya terbungkus semacam jaket berburu tebal yang, dikombinasikan dengan wajah yang tak bercukur, memberinya penampilan tampan ala petani pedesaan. Ia memesan espresso dan banyak tersenyum. Joel langsung memerhatikan tangan dan kukunya yang bersih, geliginya yang rapi. Jaket berburu dan jenggot pendek itu hanya Bagian dari peran yang dimainkannya. Bisa jadi Luigi ini lulusan Harvard.

Bahasa Inggris-nya yang sempurna dihiasi sedikit aksen’ cukup untuk meyakinkan orang bahwa ia *ungguh-8ungguh orang Italia. Katanya ia berasal Milan. Ayahnya diplomat Italia yang membawa

istrinya yang berasaJ dari Amerika beserta dua anaknya keliling dunia dalam rangka pengabdiannya pada negara. Joel berasumsi Luigi tahu banyak tentang dirinya, jadi ia terus menggali untuk mengetahui lebih banyak tentang pengawasnya.

Ia tidak mendapatkan banyak informasi. Menikah—tidak. Sarjana muda—Bologna. Kuliah di Amerika Serikat—ya, di suatu tempat di Midwest, Pekerjaan—di pemerintahan. Yang mana—tidak j bisa bilang. Senyumnya mudah terkembang dan ia gunakan untuk mengelak dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin dijawabnya. Joel berhadapan dengan profesional, dan ia tahu itu.

“Kuanggap kau mengetahui satu-dua hal tentang diriku,” kata Joel.

Senyum itu, deretan gigi yang sempurna. Mata yang tampak sedih itu nyaris tertutup ketika ia tersenyum. Pria ini pasti digila-gilai wanita. “Aku sudah melihat arsipnya”

“Arsip? Seluruh arsip mengenai diriku tidak akan muat masuk ke ruangan ini.” “Aku sudah melihat arsipnya.” “Oke, Berapa lama Jacy Hubbard duduk di Senat AS?”

“Terlalu lama, menurutku. Dengar, Marco, kita tidak akan mengingat-ingat masa lalu lagi. Teriak) banyak yang harus kita lakukan sekarang.”

“Bolehkah aku meminta nama lain? Aku tidak terlalu suka nama Marco.”

“Bukan aku yang memilihnya.”

” Well, siapa yang memilih nama Marco?”

“Entahlah. Yang jelas bukan aku. Kau banyak mengajukan pertanyaan yang tak berguna.”

“Aku jadi pengacara selama dua puluh lima tahun. Mengajukan pertanyaan adalah kebiasaan lama.”

Luigi menenggak habis apa yang tersisa di cangkir espresso-nya. dan meletakkan beberapa euro di meja. “Mari kita berjalan-jalan,” ajaknya, lalu berdiri. Joel mengangkat tasnya dan mengikuti pengawasnya keluar dari kafe, ke trotoar, dan berbelok ke jalan kecil yang lalu lintasnya lebih sedikit. Mereka baru berjalan beberapa langkah ketika Lugi berhenti di depan Albergo Campeol. “Ini perhentianmu yang pertama,” ujarnya.

“Apa ini?” tanya Joel. Itu bangunan empat lantai yang terjepit di antara dua bangunan sejenis. Bendera warna-warni tergantung di atas kanopi.

“Hotel kecil yang menyenangkan. ‘Albergo’ artinya hotel. Kau juga bisa menggunakan kata ‘hotel’ kalau mau, tapi di kota-kota kecil orang lebih suka menyebutnya albergo.”

“Jadi bahasa ini tidak sulit, ya?” Joel melayangkan pandangan ke kedua ujung jalan yang padat—inilah lingkungan tempat tinggalnya yang baru.

“Lebih mudah daripada bahasa Inggris.” “Kita lihat saja nanti. Berapa bahasa asing yang kaukuasai?” “Lima atau enam.”

Mereka masuk dan berjalan melalui selasar kecil. Luigi mengangguk, menunjukkan isyarat ia mengenal petugas di meja depan. Joel berhasil mengucapkan “Buon giorno” yang bisa diterima, namun terus berjalan, -berusaha menghindari percakapan lebih jauh. Mereka naik tiga lantai dan kemudian berjalan menuju ujung koridor yang sempit. Luigi memiliki kunci kamar nomor 30, suite yang sederhana namun diatur menarik, dengan jen-‘< dela-jendela di tiga sisi dan pemandangan ke arah kanal di bawah.

“Ini kamar yang paling bagus,” ujar Luigi. “Tidak mewah, tapi memadai.”

“Seharusnya kau melihat kamar yang terakhir ku-tempati” Joel melemparkan tasnya ke tempat tidur dan mulai menyibakkan tirai-tirai.

Luigi membuka pintu lemari kecil. “Lihat ini. Kau punya empat kemeja, empat celana panjang, dua jaket, dua pasang sepatu, semua sesuai dengan ukuranmu. Ada juga mantel wol tebal—cuaca bisa lumayan dingin di Treviso.” Joel memandangi pakaian-pakaiannya yang baru. Semua tergantung sempurna, sudah disetrika, dan siap dipakai. Warna-warnanya teduh, berselera, dan masing-masing

kemeja dapat dipadankan dengan setiap jaket maupun celana panjang. Akhirnya ia mengangkat bahu dan berkata, “Trims.”

“Di laci sana itu kau bisa menemukan ikat pinggang, kaus kaki, pakaian dalam, dan semua yang kaubutuhkan. Di kamar mandi ada perlengkapan mandi lengkap.”

“Apa mau dikata?”

“Dan di meja ada dua kacamata.” Luigi mengambil salah satunya dan mengarahkannya ke cahaya. Lensa persegi kecil yang berbingkai baja hitam tipis, sangat bergaya Eropa. “Armani,” ujar Luigi, dengan sedikit nada bangga.

“Kacamata baca?”

“Ya, dan tidak. Kusarankan kau mengenakan kacamata ini setiap kali kau keluar dari ruangan. Bagian dari penyamaranmu, Marco. Bagian dari dirimu yang baru.”

“Seharusnya kau bertemu diriku yang lama.”

“Tidak usah, terima kasih. Penampilan sangat penting bagi orang Italia, terutama kami yang tinggal di daerah utara. Pakaianmu, kacamatamu, potongan rambutmu, semua harus diatur dengan saksama, karena kalau tidak kau akan menarik perhatian.”

Joel mendadak merasa salah tingkah, tapi kemudian berpikir, persetan. Ia telah mengenakan baju penjara untuk waktu lama, lebih lama daripada

yang ingin diingamya. Pada masa-masa jayanya, secara teratur ia menghabiskan tiga ribu dolar untut setelan jas berkualitas tinggi.

Luigi masih menguliahinya. “Jangan pakai celana pendek, jangan pakai kaus kaki hitam dengan sepatu sport putih, jangan pakai celana poliester, jangan pakai kaus golf, dan tolong jangan bertambah gemuk.”

“Bagaimana cara mengatakan ‘Cium saja pantatku’ dalam bahasa Italia?”

“Suaru hari nanri kita akan sampai di sana. Kebiasaan sangat penting di sini. Mudah dipelajari dan cukup menyenangkan. Contdhnya, jangan sekali-kali memesan cappuccino setelah, pukul setengah sebelas pagi. Tapi espresso bisa dipesan sepanjang hari. Apakah kau tahu itu?” “Tidak”

“Hanya turis yang memesan cappuccino setelah makan siang atau makan malam. Sungguh memalukan. Minum minuman yang mengandung begitu banyak susu setelah perut penuh.” Sejenak Luigi mengernyit, seolah mau muntah sekalian.

Joel mengangkat tangan kanannya dan berkata, “Sumpah aku tak akan melakukannya.”

“Duduklah,” saran Luigi, melambai ke arah meja kedi dengan dua kursi. Mereka duduk dan berusaha menempatkan diri dengan nyaman. Luigi melanjutkan, “Pertama-tama, kamar ini. Kamar ini

dipesan atas namaku, tapi stafnya mengira seorang pengusaha Kanada akan tinggal di sini selama beberapa minggu.” “Beberapa minggu?”

“Ya, lalu kau akan pindah ke lokasi lain,” Luigi mengatakan hal ini dengan begitu menakutkan, seolah sepasukan pembunuh bayaran telah menjelajahi Treviso, mencari-cari Joel Backman. “Mulai saat ini, kau akan meninggalkan jejak. Ingatlah hal itu: segala hal yang kaulakukan, semua orang yang kautemui—mereka adalah- bagian dari jejakmu. Kunci keberhasilan bertahan hidup adalah meninggalkan sesedikit mungkin jejak. Jangan bicara pada banyak orang, termasuk petugas meja depan dan pelayan kamar. Pegawai hotel mengawasi tamu-tamu mereka, dan mereka memiliki ingatan yang panjang. Enam bulan dari sekarang seseorang mungkin akan datang ke hotel ini dan mulai bertanya-tanya tentang dirimu. Ia mungkin punya foto. Ia mungkin menawarkan uang sogokan. Dan petugas itu mendadak teringat padamu, juga fakta bahwa kau nyaris tak bisa berbahasa Italia.” “Aku punya satu pertanyaan.” “Aku hanya punya sedikit jawaban.” “Mengapa di sini? Mengapa aku dibawa ke negara yang bahasanya sama sekali tak kukuasai? Mengapa bukan Inggris atau Australia, di mana aku bisa membaur dengan lebih mudah?”

“Keputusan itu diambil oleh orang lain, Marco Bukan olehku.’5 “Sudah kuduga.” “Jadi mengapa kautanyakan?” “Entahlah. Bolehkah aku mengajukan permohonan pindah?”

“Pertanyaan yang juga tak berguna.” “Gurauan buruk, tapi bukan pertanyaan buruk.” “Bisakah kita lanjutkan?” “Ya”

“Selama beberapa hari pertama aku akan mengajakmu makan siang dan makan malam. Kita akan bergerak terus, selalu pergi ke tempat yang berbeda. Treviso kota yang menyenangkan dengan banyak kafe, dan kita akan mencoba semuanya Kau harus mulai berpikir kalau aku sudah tak ada di sini. Hati-hatilah dengan orang-orang yang kau-jumpai.”

“Aku punya pertanyaan lagi.” “Ya, Marco.”

“Mengenai uang. Aku sungguh-sungguh tak menyukai keadaan tak punya uang. Apakah kalian berencana memberiku uang saku atau apa? Aku bersedia mencuci mobilmu dan melakukan tugas-tugas lain.”

“Apa itu uang saku?”

“Uang tunai, oke? Uang yang tersedia di kantongku.”

“Jangan khawatir, tentang uang. Sementara ini, aku yang akan membayar tagihan-tagihan. Kau tidak akan kelaparan.”

“Baiklah.”

Luigi merogoh dalam-dalam saku jaket berburu itu dan mengeluarkan ponsel. “Ini untukmu.”

“Dan siapa, tepatnya, yang akan kutelepon?”

“Aku, kalau kau membutuhkan sesuatu. Nomorku ada di bagian belakang.”

Joel menerima ponsel itu dan meletakkannya di meja. “Aku lapar. Aku membayangkan menikmati makan siang yang panjang dengan pasta dan anggur serta hidangan pencuci mulut, dan tentu saja espresso—jelas bukan cappuccino pada jam-jam sekarang ini. Sudah empat hari aku berada di Italia, dan belum makan apa pun kecuali keripik jagung dan sandwich. Bagaimana?”

Luigi melirik jam tangannya. “Aku tahu tempat yang ideal, tapi sebelumnya urusan bisnis dulu. Kau tidak bisa bahasa Italia, bukan?”

Joel memutar matanya dan mengembuskan napas keras-keras karena frustrasi. Lalu ia berusaha tersenyum dan berkata, “Tidak, aku belum memperoleh kesempatan untuk mempelajari bahasa Italia, atau Prancis, atau Jerman, atau apa pun. Aku orang Amerika, oke, Luigi? Negaraku lebih luas daripada seluruh Eropa digabung jadi satu. Kau hanya perlu bicara bahasa Inggris di sana.”

“Kau orang Kanada, ingat?” “Oke, terserah, pokoknya kami sama-sama tet isolasi. Hanya ada kami orang-orang Kanada dai orang-orang Amerika.” “Tugasku adalah menjagamu retap hidup.” “Terima kasih.”

“Dan untuk membantu pencapaian tujuan itu, kau perlu belajar bahasa Italia secepat mungkin.” “Aku mengerti.”

“Kau akan mendapat guru, mahasiswa muda bernama Ermanno. Kau akan belajar dengannya pada pagi dan siang hari. Pekerjaan itu akan sulit.” “Untuk berapa lama?”

“Selama yang diperlukan. Tergantung padamu. Kalau kau mau bekerja keras, dalam tiga atau empat bulan kau akan mampu mandiri.”

“Buruh berapa lama kau mempelajari bahasa Inggris?”

“Ibuku orang Amerika. Kami bicara bahasa Inggris di rumah, bahasa Italia di tempat-tempat lain.”

“Curang. Kau bisa bahasa apa lagi?”

“Spanyol, Prancis, beberapa lagi yang lain. Ermanno guru yang baik. Ruang kelasnya tak jauh dari sini”

“Bukan di sini, di hotel?”

Tidak, tidak, Marco. Kau harus ingat jejak yang

dapat kautinggalkan. Apa yang akan dipikirkan bellboy dan pelayan kamar jika ada seorang pemuda yang menghabiskan empat jam sehari di dalam kamar ini bersamamu?” “Astaganaga.”

“Pelayan kamar akan menguping di pintu kamar dan mendengar kalian sedang belajar bahasa. Dia akan berbisik-bisik pada atasannya. Dalam satu-dua hari seluruh staf akan mengetahui bahwa pengusaha Kanada ini sedang belajar dengan intensif. Bayangkan, empat jam sehari!”

“Mengerti. Sekarang tentang makan siang.”

Ketika meninggalkan hotel, Joel tersenyum pada petugas meja depan, petugas kebersihan, dan beli captain tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka berjalan sejauh satu blok ke pusat kota Treviso, Piazza dei Signori, alun-alun utama yang dikelilingi deretan toko dan kafe. Saat itu tengah hari dan lalu lintas orang yang berjalan kaki cukup padat ketika penduduk setempat hendak makan siang. Udata bertambah dingin, walaupun Joel cukup nyaman tetbungkus mantel luarnya yang terbuat dari wol. Ia berusaha semampunya agar kelihatan seperti orang Italia.

“Di dalam atau di luar?” tanya Luigi.

“Di dalam,” sahut Joel, dan mereka pun masuk ke Caffe Beltrame, menghadap ke piazza. Oven batu bata yang ada di bagian depan kafe

menghangatkan tempat itu, dan aroma masaku sehari-hari menebar dari bagian belakang. Luig dan kepala pelayan berbicara bersamaan, lalu mereka rertawa, dan sebuah meja di dekat jendel; disediakan untuk mereka.

“Kita beruntung,” ujar Luigi sementara mereka menanggalkan mantel dan duduk. “Hidangan spesial hari ini adalah faraona con polenta? “Dan makanan apakah itu?” “Sejenis burung puyuh dengan polenta.” “Apa lagi?”

Luigi mempelajari salah satu papan tulis yang tergantung di balok kayu kasar yang melintang di atas. “Panzerotti di junghi al burro—pastri jamur yang ditumis dengan mentega. Conchkk cm cavalfiori—pasta kerang dengan kembang kol. j Spiedino di carne misto alia grigiia—kebab bermacam-macam daging yang dipanggang.” “Aku mau semuanya.” “Anggur mereka lumayan enak.” “Aku suka anggur merah.” Dalam beberapa menit kafe tersebut dipenuhi penduduk setempat, semua orang tampak mengenal satu sama lain. Seorang lelaki pendek yang periang dengan celemek putih kotor melesat menghampiri meja, melambat sejenak untuk berkontak mata dengan Joel, lalu hanya mendengar tanpa menulis apa-apa sementara Luigi menccrocos tentang ma-

kanan apa saja yang mereka inginkan. Seguci anggur merah setempat datang bersama semangkuk minyak zaitun hangat dan sepiring roti focaccia yang sudah diiris-iris, dan Joel pun mulai makan. Luigi sibuk menerangkan kompleksitas makan siang dan sarapan, kebiasaan dan tradisi serta kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan para turis yang berusaha meniru orang Italia sejati.

Bersama Luigi, segalanya bisa menjadi pengalaman belajar.

Walaupun Joel hanya menyesap sedikit-sedikit dan menikmati perlahan-lahan gelas anggurnya yang pertama, alkohol langsung menyerbu otaknya. Rasa hangat dan kebas menguasai tubuhnya. Ia bebas, bertahun-tahun lebih cepat daripada jadwal semula, duduk di kafe kecil yang menarik di sebuah kota di Italia yang tak pernah ia dengar namanya, minum anggur setempat yang nikmat, dan menghirup aroma masakan yang sedap. Ia tersenyum pada Luigi seraya penjelasan itu terus dilanjutkan, namun pada suatu titik Joel pun melayang ke dunia lain.

Ermanno mengaku berusia 23 tahun, tapi tampangnya tak lebih tua dari enam belas. Ia jangkung dan amat kurus, dan dengan rambut berwarna seperti pasir serta mata cokelat muda, ia lebih mirip orang

Jerman daripada Italia. Ia juga sangat pemalu dan penggugup, dan Joel tidak menyukai kesan pertama itu.

Mereka menemui Ermanno di apartemennya yang kecil, di lantai tiga suatu gedung tak tetawat, enam blok atau lebih dari hotel Joel. Ada tiga ruangan sempit—dapur, kamar tidur, ruang duduk—dengan perabotan seadanya, tapi toh Ermanno masih mahasiswa dan keadaan seperti itu tidak mengherankan. Masalahnya, Ermanno seperti baru pindah kemari dan mungkin akan pindah lagi sewaktu-waktu.

Mereka duduk mengelilingi meja kecil di tengah-tengah ruang duduk. Tidak ada televisi. Ruangan itu dingin dan penerangannya kurang, dan Joel merasa seperti ditempatkan di jalur bawah tanah tempat para pelarian dijaga tetap bernyawa dan dipindahkan ke tempat lain dengan diam-diam. Kehangatan acara makan siang yang berlangsung dua jam tadi pun pudar dalam waktu singkat. Kegugupan gurunya juga tidak membantu. Ketika Ermanno tidak mampu mengendalikan jalannya pertemuan, Luigi dengan segera mengambil alih dan memulainya. Ia menyarankan mereka belajar setiap pagi mulai pukul sembilan hingga pukul sebelas, istirahat dua jam, lalu mulai lagi pada pukul 13.30 dan belajar sampai mereka lelah. Pengaturan ini rupanya tidak menimbulkan masalah

baik bagi Ermanno maupun Joel, yang berpikir akan mengajukan pertanyaan yang paling jelas: Kalau guruku yang baru ini mahasiswa, bagaimana ia bisa punya waktu untuk mengajarku sepanjang hari? Tapi Joel membiarkan pertanyaan itu berlalu. Ia akan mengejarnya lagi lain kali.

Oh, betapa banyak pertanyaan yang menumpuk di kepalanya!

Ermanno akhirnya bisa santai dan menjelaskan materi pelajaran. Kalau ia berbicara lambat-lambat, aksennya tidak mengganggu. Namun bila ia terburu-buru, seperti yang cenderung ia lakukan, bahasa Inggris-nya itu boleh dibilang kedengaran sama seperti bahasa Italia. Sekali Luigi menyela dan berkata, “Ermanno, sebaiknya kau bicara dengan sangat lambat, paling tidak selama hari-hari pertama.”

“Tetima kasih,” ucap Joel, seperti penjilat kelas

satu.

Pipi Ermanno benar-benar merona merah dan dengan tersipu-sipu ia berkata, “Maaf.”

Ia memberikan bahan pelajarannya yang pertama—buku pegangan pertama, bersama tape kecil dan dua kaset. “Kaset ini sesuai dengan isi buku,” ujarnya, dengan sangat perlahan. “Malam ini kau harus mempelajari bab satu dan mendengarkan kedua kaset itu beberapa kali. Besok kita akan mulai dari sana.”

“Akan sangat berat,” Luigi menambahkan, mem. berikan lebih banyak tekanan, seolah masih diperlu-kan.

“Di mana kau belajar bahasa Inggris?” tanya Joel.

“Di universitas,” sahut Ermanno. “Di Bologna.” “Jadi kau tidak pernah sekolah di Amerika Serikat?”

“Pernah juga,” katanya, melirik cepat ke arah Luigi, seolah ia tidak membicarakan apa pun yang terjadi di Amerika. Tidak seperti Luigi, Ermanno mudah terbaca; jelas ia bukan profesional. “Di mana?” tanya Joel, mengorek-ngorek lagi, I ingin melihat seberapa dalam ia bisa menggali. “Furman,” jawab Ermanno, “sekolah kecil di South Carolina.” “Kapan kau pergi ke sana?” Luigi berdeham-deham, bertindak sebagai juru selamat. “Kalian akan punya banyak waktu untuk berbasa-basi nanti. Penting bagimu untuk melupakan bahasa Inggris, Marco. Mulai hari ini, kau akan hidup di dunia orang Italia. Semua benda yang kaupegang memiliki nama dalam bahasa Italia. Semua pikiran harus diterjemahkan, Dalam satu minggu kau harus bisa memesan makanan di restoran. Dalam dua minggu kau harus bisa bermimpi dalam bahasa Italia. Kau harus membenamkan diri secara mutlak dan total dalam

bahasa dan kebudayaan Italia, tidak ada jalan kembali lagi.”

“Kita bisa mulai pukul delapan pagi?” tanya joel.

Ermanno melirik dan beringsut gelisah, kemudian akhirnya berkata, “Mungkin jam setengah sembilan saja.”

“Bagus. Aku akan datang ke sini pukul setengah sembilan pagi.”

Mereka meninggalkan apartemen itu dan berjalan kembali ke Piazza dei Signori. Saat itu sore hari, lalu lintas terlihat lebih tenang, trotoar nyaris kosong. Luigi berhenti di depan Trattoria del Monte. Ia mengangguk ke arah pintu, dan berkata, “Aku akan menemuimu di sini pukul delapan untuk makan malam, oke?”

“Ya. Oke.”

“Kau tahu di mana letak hotelmu?”

“Ya, albergo itu.”

“Dan kau memiliki peta kota?”

“Ya.”

“Bagus. Sekarang kau sendirian, Marco.” Dan sesudah betkata demikian Luigi masuk ke gang kecil dan menghilang. Joel memandanginya sejenak, lalu kembali menyusuri alun-alun utama.

Ia merasa sangat kesepian. Empat hari setelah meninggalkan Rudley, akhirnya ia bebas, tanpa seorang pun mendampinginya, mungkin juga tidak diawasi,

walau ia meragukan dugaan iru. Seketika itu ¦ ia memutuskan untuk berjalan-jalan keliling k^ menularkan urusannya sendin, seakan tidak ^ yang sedang mengawasinya. Dan lebih lanjut I memutuskan, sementara berlagak meneliti bend, benda yang dipajang di eralase toko kecil yan menjual barang-barang dari kulit, bahwa ia tidak akan menghabiskan seluruh hidupnya menengok ke belakang. Mereka tidak akan menemukannya. Ia melangkah santai sampai mendapati dirinya berada di Piazza San Vito, alun-alun kecil dengan dua gereja yang sudah berdiri selama tujuh ratus tahun. Gereja Santa Lucia dan San Vito sama-sama rutup, tapi, menurut plakat kuningan kuno yang menempel di sana, kedua gereja itu akan buka kembali pada pukul 16.00 sampai 18.00. Tempat macam apa yang tutup dari tengah hari sampai pukul empar sore?

Tapi bar-bar yang ada di sekitarnya tidak tutup, hanya nyaris tak berpengunjung. Akhirnya Joel berhasil mengumpulkan keberanian untuk masuk ke salah satu bar tersebut. Ditariknya bangku tinggi sambil menahan napas, lalu diucapkannya kata “birra” ketika bartender mendekat.

Bartender itu balas melontarkan rentetan kata-kata, menunggu tanggapan, dan sesaat Joel nyaris tergoda untuk segera kabur dari sana. Tapi kemu-

a melihat keran bir, menudingnya seolah jelas !Jj^h yang ia inginkan, lalu si bartender meraih lelas bir kosong.

Bir pertamanya setelah enam tahun. Rasanya (jingin, berat, sedap, dan ia menikmati setiap tetesnya Opera sabun berceloteh di televisi, di suatu tempat di ujung bar. Sesekali ia mendengarkan, tidak memahami sepatah kata pun, dan berusaha keras meyakinkan diri bahwa ia akan mampu menguasai bahasa tersebut. Ketika sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan tempat itu dan berjalan santai kembali ke hotelnya, Joel menatap ke luar jendela.

Stennett berjalan lewat.

Joel memesan bir lagi.

7

Kasus Backman telah ^dokumentasikan dengan saksama oleh Dan Sandberg, wartawan veteran dari The Washington Post. Pada tahun 1988, ia yang telah mengungkap berita tentang dokumen-dokumen rahasia tertentu yang meninggalkan Pentagon tanpa izin. Penyelidikan FBI yang kemudian mengikuti membuatnya sibuk selama setengah tahun, dan selama itu ia telah menulis delapan belas berita, sebagian besar dimuat di halaman depan. Ia memiliki kontak-kontak yang dapat diandalkan di CIA dan FBI. Ia mengenal para parmer di Backman, Pratt and Boiling, dan pernah melewatkan waktu di dalam ruang-ruang kantor mereka. Ia mengejar-ngejar Departemen Kehakiman untuk mencari informasi. Ia ada di ruang sidang

., gackman tergesa-gesa menyatakan dirinya

bersalah dan kemudian menghilang. Setahun kemudian ia telah menulis dua buku ntang skandal tersebut. Ia berhasil menjual edisi

^ard cover sebanyak 24.000 eksemplar, jumlah yang

lumayan, dan sekitar separo jumlah itu dalam edisi

paperback.

Selama proses itu, Sandberg berhasil membina beberapa relasi yang penting. Salah satunya berkembang menjadi sumber yang berharga, selain juga tak disangka-sangka. Sebulan sebelum kematian Jacy Hubbard, Carl Pratt, yang pada saat itu masih menjadi tersangka utama, seperti juga sebagian besar partner lain di biro hukum itu, menghubungi Sandberg dan mengatur pertemuan. Akhirnya mereka bertemu belasan kali,, selama skandal itu berlangsung, dan selama tahun-tahun berikutnya mereka menjadi teman minum bir. Mereka menyisihkan waktu untuk bertemu diam-diam paling tidak dua kali setahun untuk bertukar gosip.

Tiga hari setelah berita pengampunan hukuman mi tersiar, Sandberg menelepon Pratt dan mengatur pertemuan di tempat favorit mereka, sebuah bar mahasiswa di dekat Georgetown University.

Pratt tampak kacau-balau, sepertinya ia banyak minum selama berhari-hari terakhir. Ia memesan vodka; Sandberg memesan bir seperti biasa.

“Jadi, di mana kawan kita berada?” tanya Sandb sambil menyeringai.

“Ia tidak lagi di penjara, itu jelas.” Pratt mene gak vodkanya dengan tegukan yang mematilt lalu mendecakkan bibir. “Tidak ada kabar dari dia?” “Tidak. Aku tidak dapat kabar, orang-orang 1 di biro juga tidak.”

“Apakah kau akan terkejut kalau ia menelep atau mampir?”

“Ya dan tidak. Kalau menyangkut Backrna rak ada yang membuatku terkejut.” Segelas vodl lagi. “Kalau ia tidak akan menginjakkan kaki i D.C. lagi, aku tidak akan terkejut. Kalau besok; muncul dan mengumumkan akan membuka biro hukum baru, aku tidak akan terkejut.”

“Tapi pengampunan hukuman itu membuatmu kaget.”

“Ya, tapi karena itu tidak termasuk dalam kesepakatan Backman.”

“Aku tidak yakin.” Seorang mahasiswi berjalan masuk dan Sandberg mengamatinya. Sebagai duda yang sudah dua kali cerai, ia mencari mangsa setiap saat Dihirupnya birnya, lalu berkata, “Ia tidak bisa berpraktik hukum lagi, bukan? Kupikir mereka telah mencabut izinnya.”

“Hal itu tidak akan menghalangi Backman Ia bisa menyebutnya ‘koneksi pemerintah’ atau

‘konsultasi’ atau apalah. Tetap saja itu pekerjaan melobi, di situlah letak keahliannya, dan kau tidak perlu izin untuk melakukan pekerjaan itu. Persetan, pengacara-pengacara yang ada di kota ini separonya bahkan tidak bisa menemukan gedung pengadilan terdekar. Tapi tenru saja mereka tahu persis di mana letak Capitol Hill.”

“Bagaimana dengan para klien?”

“Tidak mungkin terjadi. Backman tidak akan kembali ke D.C. Kecuali kau mendengar berita lain?”

“Aku tidak dengar apa-apa. Ia menghilang begitu saja. Di penjara tak ada orang yang mau buka mulut. Aku tidak mendapatkan apa pun dari para pemgas


“Apa teorimu?” tanya Pratt, lalu menghabiskan isi gelasnya dan sepertinya bersiap untuk memesan lagi.

“Hari ini aku mendapat kabar bahwa Teddy Maynard pergi ke White House pada larut malam tanggal sembilan belas. Hanya orang seperti Teddy yang mampu memaksa Morgan melakukan hal itu. Backman keluar dari penjara, mungkin dengan pengawalan, lalu lenyap.”

“Program perlindungan saksi?”

“Semacam itulah. CIA sudah sering menyembunyikan orang sebelumnya. Harus begitu. Tidak ada catatan resmi, namun mereka mempunyai sumber daya untuk itu.”

“Mengapa mereka menyembunyikan Backman?” “Balas dendam. Ingat Aldrich Ames, mata-mata paling berbahaya yang pernah menyusupi CIA?” “Tentu.”

“Sekarang dikurung dengan aman di penjara J federal Tahukah kau bahwa CIA akan senang sekali kalau bisa menghabisinya? Mereka tidak bisa melakukannya karena itu melanggar hukum—mereka tidak boleh membunuh warga negara Amerika Serikat, baik di dalam maupun di luar negeri.”

“Backman bukan mara-mata CIA. Ia membenci Teddy Maynard, dan perasaan Maynard padanya juga sama.”

“Maynard tidak akan membunuhnya. Ia hanya mengatur agar orang lain yang memperoleh kesenangan itu.”

Pratt sudah berdiri lagi. “Kau mau minum lagi?” ia bertanya, sambil menuding gelas bir Sandberg.

“Mungkin nanti.” Sandberg mengangkat gelasnya untuk kedua kalinya, dan minum.

Sewaktu Pratt kembali sambil membawa vodka dobel, ia duduk dan berkata, “Jadi menurutmu Backman tinggal menunggu waktu?”

“Kau tadi menanyakan teoriku. Aku mau dengar teorimu.”

Sam tegukan besar vodka, lalu, “Kesimpulan yang sama, tapi dari sudut pandang yang sedikit berbeda.” Pratt memasukkan telunjuknya ke dalam

minuman tersebut, mengaduknya, lalu menjilat jarinya sambil berpikir beberapa jenak. “Off the

record, oke?”

“Tentu saja.” Begitu banyak yang mereka bicarakan selama tahun-tahun yang telah lewat sehingga semuanya masuk kategori off the record.

“Ada selang delapan hari antara kematian Hubbard dan pernyataan bersalah Backman. Itu saat-saat yang sangat menakutkan. Kim Boiling dan aku berada di bawah perlindungan FBI, dua puluh empat jam sehari, di mana pun, ke mana pun. Aneh juga sebenarnya. Sejak lama FBI berupaya sekuat tenaga untuk memenjarakan kami, namun pada saat yang sama terpaksa harus melindungi kami.” Sambil menyesap minuman, ia melirik ke sekelilingnya untuk memeriksa kalau-kalau ada mahasiswa college yang mencuri dengar. Tidak ada. “Ada banyak ancaman serius dari orang-orang yang membunuh Jacy Hubbard. FBI menginterogasi kami sesudah itu, berbulan-bulan setelah Backman dipenjara dan situasi mulai reda. Kami merasa sedikit aman, tapi Boiling dan aku menyewa petugas keamanan bersenjata selama dua tahun sesudahnya. Sampai sekarang aku masih sering melirik ke kaca spion. Kim yang malang kehilangan kewarasannya.”

“Siapa yang mengancam kalian?”

“Orang-orang yang akan gembira kalau bisa menemukan Joel Backman.”

“Siapa?”

“Backman dan Hubbard membuat kesepakatan untuk menjual produk mereka itu pada pikat Saudi dengan imbalan banyak uang. Sangat mahal, tapi jauh lebih murah ketimbang harus membangun sistem satelit yang benar-benar baru, Hubbard terbunuh. Backman buru-buru masuk ke penjara, dan pihak Saudi sama sekali tidak senang. Begitu juga Israel, karena mereka juga menginginkan kesepakatan itu. Ditambah lagi, mereka marah karena Hubbard dan Backman mau berunding dengan Saudi.” Ia terdiam dan menyesap minumannya, seolah membutuhkan keteguhan hati untuk menyelesaikan kisahnya. “Selain itu, ada orang-orang yang membuat sistem itu pertama kali.” “Rusia?”

“Barangkali bukan mereka. Jacy Hubbard menyukai cewek-cewek Asia. Terakhir kali ia terlihat sedang bersama wanita cantik bertungkai jenjang, dengan rambut hitam panjang dan wajah bulat, yang berasal dari bagian dunia yang lain. Cina Merah menggunakan ribuan orang mereka untuk mengumpulkan informasi. Semua mahasiswa, pengusaha, diplomat mereka yang ada di Amerika. Tempat ini penuh orang-orang Cina yang mengendus-endus. Tambahan lagi, dinas intelijen mereka memiliki banyak agen yang efektii. Untuk masalah

semacam ini, mereka tidak akan ragu-ragu mem-; buru Hubbard dan Backman.”

“Kau yakin Cina Merah yang bertanggung ja-

I wab?”

“Tidak ada yang bisa yakin, oke? Mungkin Backman tahu persis, tapi ia tidak pernah memberitahu siapa pun. Asal kau tahu, CIA bahkan tidak tahu tentang sistem itu. Mereka kecolongan dan sampai kini Teddy masih berusaha menebusnya.” “Teddy pasti bersenang-senang, ya?” “Jelas. Ia mencekoki Morgan dengan alasan keamanan nasional. Tak perlu heran, Morgan langsung percaya. Backman bebas. Teddy menyelundupkannya ke luar negeri, lalu mengamati siapa yang muncul sambil membawa senapan. Bagaimana pun hasil permainan ini, Teddy tidak rugi apa-apa.”

“Rencana brilian.”

“Jauh melampaui itu, Dan. Pikirkan saja. Ketika Joel Backman menghadap penciptanya, tidak akan ada orang yang mengetahuinya. Sekarang ini tak ada orang yang tahu di mana ia berada. Tak ada ada orang yang tahu siapa dia sesungguhnya ketika mayatnya ditemukan.”

“Kalau mayatnya bisa ditemukan.”

“Tepat sekali.”

“Apakah Backman menyadari hal ini?”

Pratt menghabiskan gelas keduanya dan mengu. sap mulurnya dengan lengan baju. Keningnya berkerut dalam. “Backman bukan orang bodoh. Tapi banyak hal yang kita ketahui sekarang baru ketahuan setelah ia dipenjara. Ia berhasil bertahan hidup selama enam tahun dalam kurungan, jadi ia mungkin beranggapan dapat bertahan hidup dalam situasi apa pun.”

Critz masuk ke pub yang tak jauh dari Hotel Connaught di London. Gerimis tipis menjadi semakin deras dan ia perlu tempat berteduh. Mrs, Critz berada di apartemen kecil yang dipinjamkan oleh majikan mereka yang baru, jadi Critz memiliki kemewahan untuk duduk di pub yang ramai, tanpa ada orang yang mengenalinya, dan menenggak beberapa gelas minuman. Seminggu di London telah berlalu, dengan satu minggu lagi sebelum ia harus memaksa diri menyeberangi Atlantik, kembali ke D.C., tempat ia akan me mulai pekerjaan melobi yang mengenaskan bagi perusahaan yang memproduksi rudal rongsokan, di samping perangkat keras lainnya, yang diberid Pentagon namun bagaimanapun terpaksa diterima karena perusahaan tersebut memiliki pelobi-pelobi yang tepat.

Ia menemukan bilik kosong, yang masih terlihat

di balik kabut asap cerutu, lalu menyusup ke sana dan mencari posisi yang nyaman di balik gelas birnya. Sungguh mengasyikkan bisa minum sendiri tanpa khawatir akan dipergoki seseorang yang menghampirinya dan berkata, “Hei, Critz, apa yang dipikirkan kalian kaum idiot ketika menjatuhkan veto Berman?” Bla bla bla.

Ia menyerap suara-suara Inggris yang riang, orang-orang setempat yang datang dan pergi. Ia bahkan tidak keberatan dengan asapnya. Ia seorang diri dan tak seorang pun mengenalnya, dan diam-diam ia menikmati saat-saat pribadi itu.

Namun status anonim itu tidak bisa ia nikmati sepenuhnya. Dari belakangnya, seorang pria kecil yang mengenakan topi pelaut muncul dan menyusup ke biliknya di seberang meja, membuat Critz terkejut.

“Keberatan bila aku duduk di sini, Mr. Critz?” tanya si pelaut sambil tersenyum dan memperlihatkan gigi-gigi besar yang kuning. Kelak Critz akan selalu mengingat gigi jelek itu.

“Duduklah,” ujar Critz dengan waspada. “Kau punya nama?”

“Ben.” Lelaki itu bukan orang Inggris, dan bahasa ibunya jelas bukan bahasa Inggris. Ben berumur sekitar tiga puluh, rambut gelap, mata cokelat tua, dan hidung panjang runcing membuatnya mirip orang Yunani.

Tak ada nama keluarga, ya?” Critz menyesap ^ gelasnya dan bertanya, “Bagaimana persisnya ^ bisa tahu namaku?” “Aku tahu segala hal tentang curimu.” “Aku tak menyadari aku setenar itu.” “Aku tidak akan menyebutnya tenar, Mr. Cri^ Biar kupersingkat saja. Aku bekerja untuk beberap, orang yang sangat ingin menemukan Joel Backman Mereka bersedia membayar mahal, tunai. Tunai dalam peti uang, atau tunai dalam rekening bank! Swiss, terserah. Semua bisa dilakukan dengan cepat, dalam beberapa jam. Beritahu saja di mana di berada, dan kau akan mendapat.jutaan dolar, tanpa ada orang yang tahu.” “Bagaimana kau bisa menemukanku?” “Mudah saja, Mr. Critz. Kami ini, katakan saja, profesional.” “Mata-mata?”

“Itu tidak penting. Kami adalah kami, dan kami akan menemukan Mr. Backman. Pertanyaannya, apakah kau menginginkan jutaan dolar itu?”

“Aku tidak tahu di mana dia berada.”

Tapi kau bisa mencari tahu.”

“Mungkin.”

“Apakah kau bersedia melakukan transaksi?” “Tidak dengan bayaran jutaan dolar.” “Kalau begitu, berapa?” “Aku harus memikirkannya dulu.”

“Berpikirlah dengan cepat.”

“Dan kalau aku tidak bisa menemukan informasi

itu?”

“Kami tidak akan mencarimu lagi. Pertemuan ini tidak pernah terjadi. Sesederhana itu.”

Critz meneguk birnya lambat-lambat dan merenungkannya. “Oke, katakanlah aku bisa mendapatkan informasi itu—aku tidak terlalu optimistis;—tapi bagaimana kalau aku beruntung? Lalu bagaimana?”

“Ambil penerbangan Lufthansa dari Dulles ke Amsterdam, kelas satu. Mendaftarlah ke Hotel Amstel di Biddenham Street. Kami akan menemukanmu, seperti kami telah menemukanmu di

sini.”

Critz terdiam dan menghafal detail-detail itu. “Kapan?” tanya Critz.

“Secepat mungkin, Mr. Critz. Ada pihak-pihak lain yang juga sedang mencarinya.”

Ben pun menghilang secepat kemunculannya, meninggalkan Critz yang menajamkan pandangan di tengah kabut asap dan bertanya-tanya sendiri apakah ia baru saja bermimpi. Ia meninggalkan pub itu satu jam kemudian, dengan wajah tersembunyi di bawah payung, yakin bahwa ia tengah diawasi.

Apakah mereka juga mengawasinya di Washington? Ia mendapat perasaan tak enak bahwa mereka melakukannya juga di sana.

8

Siesta itu tidak berhasil. Anggur saat makan siang dan dua gelas bir di sore harinya juga tidak men,, bantu. Terlalu banyak yang harus dipikirkan.

Lagi pula ia sudah cukup banyak beristirahat; | dalam sistem mbuhnya sudah banyak menumpul walau tidur. Enam tahun di penjara soliter mampu merendahkan kondisi tubuh manusia menjadi begitu pasif sehingga tidur menjadi aktivitas yang utama. Setelah beberapa bulan di Rudley, Joel tidur delapan jam di malam hari dan tidur siang cukup lama setelah makan siang, namun itu dapat dipahami karena ia sangat kurang tidur selama dua pnhih tahun sebelumnya, ketika harus menjaga keutuhan republik pada siang hari dan mengejar ngejar perempuan sampai pagi. Setelah satu tahun ia bisa mengandalkan sembilan, bahkan sepul”1

jam metn

tidur. Tidak banyak yang bisa dilakukan selain baca dan menonton TV. Hanya karena bosan,

ia pern

ah mengadakan survei, salah satu dari sekian banyak survei rahasianya, dengan mengedarkan i „Uar kertas dari satu sel ke sel yang lain, semen-tara para penjaga menikmati tidur siang mereka sendiri Dari 37 responden dalam bloknya, rata-rata tidur sebelas jam sehari. Mo, si informan Mafia, menyatakan ia bisa tidur enam belas jam dan sering -kali dengkurannya terdengar pada tengah hari. Mad Cow Miller yang paling rendah angkanya dengan hanya tiga jam tidur, namun pria malang itu sudah kehilangan kewarasan beberapa tahun sebelumnya, sehingga Joel terpaksa tidak menyertakan pria itu dalam surveinya.

Ada juga serangan-serangan insomnia, periode-periode panjang memandangi kegelapan dan memikirkan kesalahan-kesalahan, anak-cucu, rasa malu di masa lalu, dan rasa takut akan masa depan. Dan ada juga minggu-minggu ketika pil-pil tidur dikirim ke selnya, satu demi satu, tanpa memberikan hasil. Joel selalu curiga pil-pil itu hanya obat penenang.

Tetapi enam tahun di sana adalah masa tidur yang panjang. Tubuhnya sudah cukup beristirahat. Sekarang otaknya bekerja lembur.

Perlahan-lahan ia beranjak dari tempatnya berbaring selama satu jam tanpa mampu memejamkan mata, dan berjalan ke meja kecil, mengambil ponsel

ia*

yang dmerikan Luigi padanya. Dibawanya pon» itu ke jendela, ditekannya nomor yang direkatkai di bagian belakang, dan setelah empat deringan i mendengar suara yang familier. “Ciao, Marco. Come stat? “Hanya ingin mengecek apakah benda ini berfungsi,” ujar Joel.

“Kaupikir aku mau memberimu barang rusak?” tanya Luigi. Tidak, tentu saja tidak.” “Bagaimana tidur siangmu?” “Uh, lumayan, lumayan. Sampai jumpa saat makan malam nanti.” “Ciao.”

Di manakah Luigi berada? Mengendap-endap di sekitar sini dengan ponsel di saku, hanya menunggu Joel menelepon? Mengawasi hotel? Kalau Stennett dan sopirnya masih ada di Treviso, bersama Luigi dan Ermanno, berarti ada empat “kawan” dari berbagai variasi yang ditugaskan untuk mengawasi setiap gerak-gerik Joel Backman.

Digenggamnya erat-erat ponsel itu dan ia bertanya-tanya siapa saja di luar sana yang tahu tentang panggilan telepon tadi. StApiL lagi yang mendengarkan? la melirik jalanan di bawah dan penasaran siapa lagi yang ada di bawah sana. Hanya Luigi? ‘

Ditepiskannya }t . ,

u oan ia pun duduk di

meja. Ia ingin minum kopi, mungkin espresso dobel untuk menyiagakan saraf-sarafnya, yang jelas bukan cappuccino karena ini sudah sore. Tapi ia belum siap mengangkat telepon dan memesan. Ia bisa sejauh “halo” dan “kopi”, tapi pasti akan ada banjir kata-kata yang tidak dipahaminya.

Bagaimana orang bisa bertahan tanpa kopi yang kental? Sekretaris favoritnya dulu selalu menyediakan secangkir kopi Turki kentalnya yang pertama tepat pada pukul 06.30 setiap pagi, enam hari seminggu. Ia nyaris menikahi wanita itu. Pada pukul sepuluh saraf sang broker begitu tegang dan ia mulai melempar barang-barang, membentak-bentak bawahannya, dan menerima tiga telepon sekaligus sementara para senator disuruhnya menunggu.

Kenangan itu tidak membuatnya gembira. Memang tidak pernah menyenangkan. Ada banyak saat-saat seperti itu, dan selama enam tahun dalam pengasingan, ia mencanangkan perang mental hebat untuk membersihkan masa lalunya.

Kembali ke masalah kopi, yang takut dipesannya karena kendala bahasa. Joel Backman tidak pernah takut pada apa pun, dan kalau ia bisa mengendalikan tiga ratus rancangan undang-undang bergerak di antara labirin Kongres, dan bila ia bisa melakukan seratus panggilan telepon dalam sehari nyaris tanpa melirik Rolodex maupun daftar telepon, ia pasti dapat mempelajari bahasa Italia

yang sederhana untuk memesan kopi. Diaturnya bahan-bahan peJajaran Ermanno dengan rapi
Beberapa halaman kemudian ada dapur, lalu kamar tidur, dan kamar mandi. Setelah satu jam, masih tanpa kopi, Joel mulai berjalan pelan mengelilingi kamarnya, menuding dan membisikkan nama-nama semua benda yang dilihatnya: ranja letto; lampu, lampoda; jam dinding, orobgio; sapone. Ada beberapa kata kerja yang ditambahkannya demi kewaspadaan: berbicara, porldre; joa-kan, mangiare, minum, here, berpikir, pensare. h berdiri di depan cermin (specchio) kecil di kamu mandi (bagno), dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa ia adalah Marco. “Sono Marco, sono Marco,” begitu ucapnya berulang-ulang. Aku Marco. Aku Marco. Pada mulanya terasa kc tapi perasaan itu harus disingkirkan. Taruhanr

(rlalu mahal kalau ia ingin bertahan dengan nama ma yang bisa membuatnya terbunuh. Kalau men-li Marco dapat menyelamatkan nyawanya, jadilah Marco. Marco. Marco. Marco. Ia mulai mencari kata-kata yang tidak ada di lam gambar. Di kamusnya yang baru, ia menemu-a carta igienica untuk tisu toilet, guanciale untuk ratal, soffitto yang berarti langit-langit. Semua ida mempunyai nama baru, semua objek di da-\ kamar tidurnya, dalam dunianya yang kecil, f semua yang bisa ia lihat pada saat itu menjadi I sesuatu yang baru. Berulang-ulang, sementara matanya berpindah dari satu benda ke benda lain, ia ; menggumamkan namanya dalam bahasa Italia. Bagaimana dengan dirinya sendiri? Ia punya otak, cervelb. Ia menyentuh tangannya, mono; lengan, braccio; tungkai, gamba. Ia harus bernapas, respirare; melihat, vederc, menyentuh, mcart, mendengar, sentire; tidur, dormire, bwmimpi, sognare. Ia mulai meracau, dan ia berhenti. Besok Ermanno akan mulai dengan pelajaran pertama, serangan pertama kosa kata dengan penekanan pada hal-hal mendasar: perkenalan, salam, basa-basi, angka satu sampai seratus, nama-nama hari, nama-nama bulan, bahkan alfabet. Kata kerja to be (essere) dan to have (avere), keduanya dikonjugasikan ke bentuk kini, lampau, dan yang akan dat

Ketika riba saat makan malam, Marco menghafal seluruh pelajaran pertama dan men dengarkan kaset itu belasan kali. Ia melangkah ke udara malam yang sangat sejuk dan berjalan riang ke arah Trattoria del Monte, tempat ia tahu Luigi akan menunggu dengan meja pilihan dan saran-saran terbaik dari daftar menu. Di jalan, pikirannya masih-berputar kencang setelah berjam-jam menghafal. Ia melihat skuter, sepeda, anjing, sepasang gadis kembar, dan seperti ditempeleng kenyataan bahwa ia tidak mengetahui kata-Hua itu dalam bahasanya yang baru. Semuanya (h’tinggalkan di kamar hotelnya. Namun dengan harapan akan datangnya makanan, ia maju terus, tidak khawatir, dan masih yakin bahwa ia, Marco, entah bagaimana akan bisa dipercaya sebagai orang Italia. Di meja sudut, ia menyapa Luigi dengan penuh gaya. “Buona sera, Signore, come sta?”

“Sto bene, grazie, e tu?” Luigi menjawab dengan senyum senang. Baik, terima kasih, dan kau sendiri?

“Molto bene, grazie,9 sahut Marco. Baik sekali, terima kasih. “Jadi kau sudah belajar, ya?” tanya Luigi. “Ya, tidak ada kegiatan lain.” Sebelum Marco membuka lipatan serbetnya, seorang pramusaji berhenti di meja mereka sambil

membawa sebotol anggur merah setempat yang

dibungkus anyaman jerami. Dengan cekatan ia menuangkan dua gelas, lalu menghilang. “Ermanno

guru yang baik,” ujar Luigi.

“Kau pernah menggunakannya sebelum ini?” tanya Marco dengan lagak biasa-biasa saja.

“Ya”

“Seberapa sering kau membawa orang seperti aku

dan mengubahnya menjadi orang Italia?” Luigi tersenyum dan menjawab, “Dari waktu ke

waktu.” “Sulit dipercaya.”

“Percayalah apa yang ingin kaupercayai, Marco.

Semua itu fiksi belaka.” “Cara bicaramu seperti mata-mata.” ‘-^fm Kedikan bahu, tanpa tanggapan yang jelas. “Kau bekerja untuk siapa, Luigi?” “Menurutmu siapa?”

“Kau bagian dari alfabet itu—CIA, FBI, NSA. Mungkin suatu cabang rahasia intelijen militer.”

“Kau senang bertemu denganku di restoran-restoran Italia yang kecil dan menarik seperti ini?” Luigi bertanya.

“Memangnya aku punya pilihan?”

“Ya. Kalau kau terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, pertemuan kita akan dihentikan. Dan bila kita tidak lagi bertemu, hidupmu yang sudah rentan itu akan semakin rapuh.”

“Kupikir tugasmu adalah untuk menjagaku teta

hidup.”

“Memang benar. Jadi berhentilah bertanya-tam/, tentang diriku. Aku yakin jawabannya tidak tersedia.”

Pramusaji muncul pada saat yang tepat, seolah ia bagian dari semua ini, dan menjatuhkan dua daftar menu besar di antara mereka, dengan efektif mengalihkan topik apa pun yang sedang mereka bicarakan. Marco mengernyit melihat daftar makanan itu dan sekali lagi diingatkan betapa masih banyak bahasa Italia yang harus dipelajarinya. Di bagian bawah ia mengenali kata-kata cafe, vino, dan bina.

“Apa yang kelihatan enak?” ia bertanya. “Kokinya berasal dari Siena, jadi ia menyukai hidangan Tuscany. Risotto dengan jamur porcini enak juga sebagai hidangan pertama. Aku pernah mencicipi steak florentine-nyz, luar biasa.”

Marco menutup menunya dan menghirup aroma yang datang dari arah dapur. “Aku mau dua-duanya”

Luigi juga menutup menunya dan melambai memanggil pramusaji. Setelah ia memesan, mereka menyesap anggur selama beberapa menit tanpa suara. “Beberapa tahun lalu,” Luigi memulai, “pada suatu pagi aku terjaga di kamar hotel kecil di Istambul. Seorang diri, dengan uang lima ratu*

I dolar dalam kantongku. Dan paspor palsu. Aku f tidak bisa bicara separah kata pun dalam bahasa ; Turki. Petugas yang menanganiku ada di kota itu, i tapi kalau aku mengontaknya, aku akan terpaksa f mencari pekerjaan baru. Dalam waktu tepat se-Ipuluh bulan lagi, aku harus kembali ke hotel yang sama untuk bertemu seorang teman yang akan f membawaku ke luar negeri.”

F”Kedengarannya seperti pelatihan dasar CIA.” “Alfabet yang keliru,” komentar Luigi, lalu terdiam, menyesap anggurnya, dan melanjutkan. . “Karena aku suka makan, aku belajar bertahan hidup. Aku menyerap bahasa, kebudayaan, dan ; semua yang ada di sekitarku. Aku cukup berhasil, [membaur dengan lingkungan, dan sepuluh bulan kemudian ketika aku bertemu temanku, uangku sudah berjumlah lebih dari sepuluh ribu dolar.”

“Bahasa Italia, Inggris, Prancis, Spanyol, Turki— apa lagi?”

“Rusia. Mereka melemparku ke Stalingrad selama

satu tahun.”

Marco nyaris saja bertanya siapa “mereka” itu, tapi ditepiskannya pertanyaan itu. Tidak akan ada jawaban; lagi pula, menurutnya ia sudah tahu.

“Jadi aku dilemparkan ke sini?” tanya Marco.

Pramusaji membanting sekeranjang roti dan mangkuk kecil berisi -l#nyak zaitun. Luigi mulai mencelupkan rotinya dan makan, dan pertanyaan

Marco pun Terlupakan atau diabaikan. Hidanga, lain mengikuti, senampan kecil ham dan salami, 1 sertai buah zaitun, dan percakapan pun menyurut. Luigi mungkin agen spionase, atau kontraspionase, atau operatif, atau agen dalam bentuk lain, atau sekadar pengawas atau kontak, atau mungkin juga agen lokal, tapi yang pertama dan terutama, ia orang Italia. Segala bentuk pelatihan tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari tantangan di hadapan ketika meja penuh dengan sajian. ‘

Sembari makan, ia mengubah topik pembicaraan. Ia menjelaskan aturan makan malam ala Italia. Pertama, antipasti—biasanya berupa sepiring daging dalam berbagai variasi, seperti yang baru saja merek rukmati. Lalu hidangan pertama, primi, yang umumnya berupa seporsi sedang pasta, nasi, sup, atau polenta, yang pada dasarnya merupakan pemanasan bagi perut untuk mempersiapkan diri menyambut hidangan utama, atau secondi—seporsi besar daging sapi, ikan, babi, ayam, atau kambing. Berhati-hatilah dengan hidangan pencuci mulut, ia memperingatkan dengan galak, sambil melirik kiri-kanan untuk memastikan si pramusaji tidak mendengar. Ia menggeleng-geleng sedih sambil menjelaskan bahwa banyak restoran bagus sekarang memesannya dari tempat lain, dan hidangan itu begitu banyak mengandung gula atau minuman keras murahan sehingga boleh dibilang membtJ gigimu busuk

Marco berhasil menampilkan ekspresi terguncang

ketika mendengar skandal nasional ini.

“Belajarlah mengucapkan kata gelato'” kata Luigi, matanya berbinar-binar lagi.

“Es krim,” timpal Marco.

“Bravo. Yang terbaik di dunia. Ada gelateria di ujung jalan ini. Kita akan ke sana setelah makan malam.”

Layanan kamar tutup pada tengah malam. Pada . pukul 23.55 Marco perlahan-lahan mengangkat telepon dan menekan angka empat dua kali. Ia menarik napas panjang-panjang dan menahannya. Ia telah melatih dialog itu selama setengah jam.

Setelah beberapa deringan malas, selama itu Marco nyaris meletakkan gagang telepon dua kali, suara yang mengantuk menjawab dan berkata, “Buona sera.”

Marco memejamkan mata dan terjun. “Buona sera. Vorrei un caffe, per favore. Un espresso doppio.”

“Si, latte e zucchero?” Susu dan gula?

“No, senza latte e zucchero.”

“Si, cinque minutt.” I

“Grazie.” Marco cepat-cepat menutup telepon sebelum terpaksa mengambil risiko terlibat dalam pembicaraan yang lebih jauh, walau menilik antusiasme orang yang di ujung sana ia amat me-

ragukan kemungkinan tersebut. Ia pun melompat, mengepalkan tinjunya di udara, dan memuji diri sendiri karena berhasil menuntaskan percakapan pertamanya dalam bahasa Italia. Tidak ada ganjalan sedikit pun. Kedua belah pihak saling memahami apa yang dikatakan pihak lain.

Pada pukul saru dini hari, ia masih menyesap espresso dobelnya, menikmatinya pelan-pelan meskipun minuman itu tak lagi hangat. Ia sedang mendalami pelajaran ketiga, kantuk sama sekali tak terlintas di benaknya. Pileknya, barangkali ia bisa melahap seluruh isi buku ini pada pelajaran pertamanya dengan Ermanno.

Ia mengetuk pintu apartemen itu sepuluh menit lebih awal. Ini masalah siapa yang pegang kendali Walaupun pada mulanya ia melawan dorongan itu, secara impulsif ia kembali ke kebiasaan lamanya. Ia lebih suka dirinyalah yang memutuskan pada pukul berapa pelajaran dimulai. Sepuluh menit lebih dini atau dua puluh menit lebih iambar, waktunya tidak Denting. Sementara menunggu di koridor yang suram itu, ia teringat suatu rapat penting yang pernah dipimpinnya di ruang rapatnya, yang luas. Ruangan itu dipenuhi eksekutif korporm dan pentolan beberapa biro federal, yang dipanpd menghadap oleh sang broker. Walaupur

Irapat itu hanya lima puluh langkah jauhnya dari

[ ruang kantornya, ia terlambat dua puluh menit, Imeminta maaf dan menjelaskan bahwa ia barusan

bertelepon dengajn kantor perdana menteri suatu

negara kecil.

t Remeh, remeh, remeh sekali permainan yang

dimainkannya.

I Ermanno sepertinya tidak terkesan. Ia menyuruh I muridnya menunggu paling tidak lima menit se-¦.belum membuka pintu sambil tersenyum malu-I malu dan mengucapkan, “Buon giorno, Signore

f Lazzeri.”

“Buon giorno, Ermanno. Come staif “Molto bene, grazie, e tu?” “Molto bene, grazie.” : Ermanno menguakkan daun pintu lebih lebar, dan sambil mengembangkan sebelah tangan ia berkata, “Prego.” Silakan.

Marco melangkah masuk dan sekali lagi tersentak melihat betapa kuat kesan kosong dan sementara di apartemen ini. Diletakkannya buku-bukunya di meja kecil di tengah-tengah ruang depan dan ia memutuskan untuk tetap mengenakan mantelnya. Suhu udara di luar sekitar empat derajat Celsius dan tidak lebih hangat di dalam sini. “Vorrebbe un caffe?” Anda mau minum kopi? “Si, grazie.”Ia tidur sekitar dua jam, dari pukul empat hingga pukul enam, lalu mandi, berpakaian,

lalu mondar-mandir di jalanan Treviso, dan menemukan bar yang buka pagi-pagi di mani para pria berumur berkumpul untuk menikmati espresso dan semua orang berbicara berbarengan. Ia ingin minum kopi lagi, tahu bahwa yang sebenarnya ia buruhkan adalah makanan. Croissant atau muffin atau yang sejenis itu, sesuatu yang belum ia pelajari namanya. Ia memuruskan bahwa ia sanggup menahan lapar sampai tengah hari, saat ia kembali akan bertemu Luigi untuk berrualang dalam kekayaan kuliner Italia.

“Kau mahasiswa, bukan?” tanya Marco ketika Ermanno kembali dari dapur sambil membawa dua cangkir kecil. “Non inglese, Marco, non inglese.” Dan itulah akhir riwayat bahasa Inggris. Akhir yang tiba-tiba; ucapan selamat tinggal yang dingin dan final pada bahasa ibu. Ermanno duduk di salah satu ujung meja, Marco di sisi yang lain, dan tepat I pada pukul 08.30, mereka, bersama-sama, membuka I pelajaran pertama. Marco membaca dialog pertama I dalam bahasa Italia, Ermanno sesekali mengoreksi I dengan halus, walaupun ia terkesan juga dengan I persiapan yang telah dilakukan muridnya. Kosa I kata telah dihafalkan dengan baik, tapi aksennya 1 perlu diperbaiki. Satu jam kemudian, Ermanno I mulai menuding benda-benda yang ada di sekitar I ruangan—karpet, buku, majalah, kursi, selimut I

I perca, gorden, radio, lantai, dinding, tas ransel—dan I Marco menimpalinya dengan mudah. Dengan aksen I yang semakin disempurnakan, ia menuntaskan de-[ ngan cepat seluruh isi daftar sapaan sopan—selamat f siang, apa kabar, baik terima kasih, tolong, sampai *

Whitaker, dan Backman be«a g

bawah dalam daftar prioritasnya. Backman terlibat dalam kegiatan intelijen, atau ke intelijen, padahal Whitaker sudah punya c banyak masalah dalam hal ini tanpa harus ke bahan beban seorang broker Washington disembunyikan di Italia. Namun dengan patuh menyiapkan laporan hariannya dan mengirimnya Langley. Di sana, laporan-laporan itu diterima diteliti oleh Julia Javier, orang lama yang pui akses langsung ke Mr. Maynard. Karena berada bawah pengawasan Ms. Javier-lah Whitaker beke begitu rajin di Milan. Bila tidak, laporan harian t sebut tidak akan secepat itu datangnya. Teddy-menginginkan taklimat lengkap. Ms. Javier dipanggil ke kantornya di lantai ni juh, ke “Sayap Teddy”, begitu istilah yang beredar di Langley. Ia memasuki “stasiun” Teddy, begit istilah yang disukai Teddy, dan lagi-lagi mendapai pria tua itu diparkir di ujung meja rapat j besar, duduk menjulang di kursi rodanya yang sudah ditinggutan, terbungkus selimut dari d ke bawah,- mengenakan setelan hitamnya yang biasa, mendiri setumpuk laporan, dengan Hoby berkeliaran di dekatnya, siap mengambilkan secangkir teh hijau menjijikkan yang diyakini Teddy mampu membuatnya bertahan hidup. – Sebenarnya ia nyaris sudah tidak hidup lagi, tapi Julta Jav«r sudah bertahun-tahun berpikir begitu

Karena Julia Javier tidak minum kopi dan tidak sudi menyentuh teh hijau itu, ia tidak ditawari apa-apa. Ia menempatkan diri di kursinya yang biasa, di sebelah kanan Teddy, semacam kursi saksi, dan diharapkan semua tamu mengambil tempat duduk tersebut—telinga kanan Teddy jauh lebih tajam daripada telinga kirinya—dan Teddy berhasil melontarkan sapaan lelah, “Halo, Julia.”

Hoby, seperti biasa, duduk di seberang Julia dan siap menulis notulen. Suara apa pun di dalam “stasiun” ini ditangkap salah satu alat perekam paling canggih yang pernah diciptakan dunia teknologi modern, tapi tetap saja Hoby pura-pura mencatat.

“Ceritakan tentang Backman,” perintah Teddy. Laporan verbal semacam ini diharapkan padat, langsung ke intinya, tanpa sepatah kata pun yang tak perlu.

Julia melirik catatannya, berdeham, dan mulai berbicara untuk perekam yang tersembunyi itu. “Ia ada di suatu tempat di Treviso, kota kecil yang menyenangkan di – Italia utara. Sudah tiga hari di sana dan sepertinya bisa menyesuaikan diri dengan baik. Agen kita bisa dikontak sewaktu-waktu dan guru bahasanya orang setempat yang melakukan pekerjaannya dengan baik. Backman tidak punya uang maupun paspor, dan sejauh ini masih bersedia menempel pada si agen. la tidak pernah menggunakan telepon di kamar hotelnya

dan ia tidak mencoba memanfaatkan ponseW,

selain untuk menghubungi agen kita. Ia tidak merrj.

perlihatkan keinginan untuk mondar-mandir dan

bereksplorasi. Sepertinya kebiasaan penjara sulit ^tinggalkan. Ia selalu berada dekat-dekat hotelnya. Kalau tidak sedang belajar bersama gurunya, atau makan, ia tinggal di dalam kamar dan mempelajari bahasa Italia.”

“Bagaimana perkembangan bahasanya?”

“Lumayan. Ia sudah lima puluh dua tahun, jadi tidak bisa cepat.”

“Aku belajar bahasa Arab pada usia enam puluh tahun,” ujar Teddy bangga, seolah umur enam puluh sudah berlalu seabad lalu.

“Ya, aku tahu,” timpal Julia. Semua orang di Langley tahu. “Ia belajar mati-matian dan sudah menunjukkan kemajuan, tapi sekarang kan baru tiga hari. Gurunya cukup terkesan.”

“Apa saja yang dibicarakannya?”

“Bukan masa lalu, teman-teman, maupun musuh-musuh lama. Tidak ada yang menarik untuk kita. Ia sudah menutup buku, paling tidak untuk sekarang ini. Percakapan ringan menyangkut tempatnya yang baru, kebudayaan, dan bahasanya.”

“Suasana hatinya?”

“Ia baru keluar dari penjara empat belas tahun lebih cepat dari jadwal, dan ia makan berlama-

lama serta menikmati anggur yang enak. Ia cukup I senang. Sepertinya tidak dilanda rindu rumah, tapi f tentu saja sebenarnya ia tidak punya rumah. Tidak

! pernah membicarakan keluarganya.” “Kesehatannya?”

“Sepertinya cukup baik. Batuk-batuknya sudah hilang. Kelihatan cukup tidur. Tidak ada keluhan.”

“Ia banyak minum?”

“Ia berhati-hati. Senang minum anggur pada waktu makan siang dan makan malam, dan minum bir : di bar, tapi tidak berlebihan.”

‘Kita coba tingkatkan konsumsi minuman kerasnya, oke? Kita lihat apakah dengan begitu ia bicara lebih banyak.” “Rencana kita memang begitu.” “Apakah ia cukup aman?” “Semuanya disadap—telepon, kamar, kursus bahasa, makan siang, makan malam. Bahkan sepatunya ditanami mikrofon. Keduanya. Di keiiman mantel luarnya tersemat Peak 30. Kita bisa melacak keberadaannya nyaris di mana saja.” “Jadi kau tidak mungkin kehilangan dia?” “Ia pengacara, bukan mata-mata. Sampai sejauh ini, ia sepertinya sangat puas menikmati kebebasannya dan melakukan apa pun yang diperintahkan padanya.” “Tapi ia bukan orang bodoh. Ingat itu, Julia.

1£n

t ATT

Backman tahu ada orang-orang jahat yang akan gembira kalau bisa menemukannya.”

“Memang benar, rapi sekarang ini ia seperti balita yang menggondeii ibunya.”

“Jadi ia merasa aman?”

“Mengingat situasinya, ya.”

“Kalau begitu, mari kita takut-takuti dia.”

“Sekarang?”

“Ya” Teddy mengucak-ngucak matanya dan menyesap tehnya. “Bagaimana dengan anaknya?”

“Pengintaian tingkat tiga, tidak banyak yang terjadi di Culpeper, Virginia. Bila Backman mencoba mengontak seseorang, ia pasti akan mengontak Neal Backman. Namun kita akan memergokinya di Italia, sebelum kita mengetahuinya di Culpeper.”

“Putranya satu-satunya orang yang ia percaya,” kata Teddy, mengutarakan apa yang telah dikatakan Julia berulang kali.

“Benar sekak’.”

Setelah jeda yang panjang, Teddy bertanya, “Ada yang lain, Julia?”

“Ia menulis surat untuk ibunya di Oakland.”

Teddy tersenyum singkat. “Manis sekali. Kita memiliki salinannya?”

“Ya, agen kita memotretnya kemarin, kita baru saja rnencrimarrya. Backman menyembunyikan surat I itu di antara halaman-halaman majalah pariwisata I lokal di kamar hotelnya.” I

I “Sepanjang apa surat itu?”

‘I “Dua paragraf panjang. Sepertinya belum se-

B lesai.”

“Bacakan untukku,” pinta Teddy sementara ia I menyandarkan kepala ke kursi rodanya dan me-I mejamkan mata.

Julia sibuk dengan kertas-kertasnya dan men-I dorong kacamatanya ke puncak hidung. “Tidak tercantum tanggal, ditulis dengan tangan, yang i memerlukan upaya keras karena tulisan tangan Backman buruk sekali. ‘Ibu sayang; aku tidak yakin f kapan atau apakah kau akan pernah menerima i surat ini. Aku tidak yakin apakah aku akan mengirimnya, yang tentu akan berdampak apakah kau akan menerimanya atau tidak. Pokoknya, aku sudah keluar dari penjara dan keadaanku lebih baik sekarang. Di suratku yang terakhir kukatakan bahwa keadaanku cukup lumayan di dataran Oklahoma. Waktu itu aku belum tahu bahwa aku akan diberi pengampunan hukuman oleh Presiden. Kejadiannya begitu cepat sehingga aku pun masih sulit memercayainya.’ Paragraf kedua. ‘Aku tinggal di belahan lain dunia, aku tidak bisa memberitahumu di mana tepatnya, karena beberapa orang bisa gusar jika itu kulakukan’. Aku tidak memiliki hak suara dalam hal ini. Bukan kehidupan yang sempurna, tapi jelas lebih baik daripada hidupku seminggu yang lalu. Aku sekarat

di dalam penjara, kendati apa pun yang kutulis , surat. Aku hanya tidak ingin membuatmu kh* Di sini aku bebas, dan itu yang paling periU|. di dunia. Aku bisa berjalan-jalan, makan di ^ datang dan pergi sesukaku, nyaris bisa melaku-apa pun yang Icuinginkan. Kebebasan, Ibu, adalah sesuatu yang kudambakan selama bertahun-tahun dan kupikir takkan pernah kuperoleh lagi.'”

Julia meletakkan kertas dan berkata, “Hanya sejauh itu yang ditulisnya.”

Teddy membuka mata dan berujar, “Apakah menurutmu ia cukup tolol untuk mengirim surat itu pada ibunya?”

“Tidak. Namun untuk beberapa waktu yang cukup lama ia menulis surat pada ibunya setiap dua minggu. Sudah jadi kebiasaan, dan mungkin memberinya ketenangan. Ia harus bicara pada seseorang.”

wta masih mengawasi surat-surat wanita itu?” jfe, dan sedikit kiriman yang diterimanya.” “Baiklah. Buat Backman ketakutan setengah lapor kembali padaku.” ^ Sir.” Julia membereskan berkas-berkasnya

TrJT^i lcUk “”«”«L bacanya. Hoby pergi ke dapm l^-ji , . 7

Pesawat Z^f-^J^ ^ di Oakland J^l ^ Backman di rumah jompo menghasilkan apa ^ dan sejauh ini tidak pa’ Pada hari pembebasan W

ican> dua teman lamanya menelepon de-^ium banyak pertanyaan dan ucapan selamat yang ar raP1 ^rs’ Bac^anan begitu kebingungan sehingga harus diberi obat penenang dan dibiarkan tidur selama beberapa jam. Cucu-cucunya—dari tiga anak Joel dengan berbagai istri—tidak pernah meneleponnya selama enam bulan belakangan.

Lydia Backman telah melewati dua serangan stroke dan sekarang duduk di kursi roda. Ketika putranya sedang jaya, ia hidup dalam kemewahan, di kondominium yang luas bersama perawat yang bekerja penuh waktu. Vonis yang dijatuhkan pada Joel memaksanya meninggalkan hidup yang nyaman dan tinggal di rumah perawatan jompo bersama ratusan orang lainnya.

Tak mungkin Backman akan mencoba menghubungi ibunya.

165

10

Setelah beberapa hari memimpikan uangnya, I Critz mulai membelanjakannya, paling tidak dalam J angan-angan. Dengan semua uang tunai itu, ia tidak perlu terpaksa bekerja untuk kontraktot pertahanan yang licik itu, ia juga tidak usah harus membujuk paksa para peserta ceramahnya. (Ia sendiri tidak yakin akan ada peserta yang berminat, kendati segala yang telah dijanjikan agennya.)

Critz sudah berpikir tentang pensiun! Jauh dari Washington dan semua musuh yang didapatnya di sana, di suatu tempat di pantai dengan per*^ layar rak jauh darinya. Atau mungkin ia ^ pmdah ke Swiss dan berada dekat dengan har* yang terkubur di bank barunya, bebas pajak bertumbuh terus setiap hari.

la menelepon dan ~__ , „

P “”V*** flat di London W

untuk beberapa hari lagi. Ia mendorong Mrs. Critz berbelanja lebih agresif. Istrinya pun sudah muak dengan Washington dan layak menikmati hidup yang lebih nyaman.

Sebagian karena antusiasmenya yang serakah, dan sebagian karena sifatnya yang memang kurang perhitungan, juga karena kurangnya kecanggihan inteligensianya, Critz melakukan kesalahan fatal sejak dari mula. Untuk ukuran pemain lama Washington, kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sungguh tak termaafkan.

Pertama-tama, ia menggunakan telepon di i flat sewaannya, mempermudah orang melacak lokasinya dengan tepat. Ia menelepon Jeb Priddy, penghubung CIA yang ditempatkan di White House selama empat tahun terakhir. Priddy masih menempati posnya, tapi diharapkan akan segera dipanggil kembali ke Langley. Presiden yang baru sudah mulai nyaman menempati posisinya, situasi jadi kacau-balau, dan sebagainya, begitu menurut Priddy, yang sepertinya agak jengkel mendapat panggilan telepon itu. Ia dan Critz tidak pernah t akrab, dan Priddy langsung tahu orang itu sedang memancing-mancing sesuatu. Critz akhirnya mengaku ia sedang mencari seorang teman lama, analis senior CIA yang dulu sering bermain golf bersamanya. Namanya Daly, Addison Daly, dan ia meninggalkan Washington untuk penugasan singkat

di Asia. Mungkin Priddy tahu di mana ia berad sekarang?

Addison Daly tersembunyi di LangJey dan Priddy mengenainya dengan baik. “Aku pernah dengar namanya,” jawab Priddy. “Mungkin aku bisa menemukannya. Di mana aku harus menghubungimu?*

Critz memberinya nomor telepon flat. Priddy menghubungi Addison Daly dan menyampaikan kecurigaannya, Daly mengaktifkan alat perekam dan menelepon London melalui saluran aman. Critz menjawabnya dan langsung menyatakan ia gembira sekali mendengar kabar dari kawan lama Ia berceloteh panjang-lebar tentang betapa menyenangkannya hidup seusai pengabdian di White House, setelah bertahun-tahun memainkan permainan politik, betapa nyamannya menjadi warga negara biasa. Ia ingin sekali memperbarui pertemanan lama dan mulai serius dengan permainan golfnya.

Daly ikut bermain saja. Ia menyatakan bahwa ia pun sedang mempertimbangkan hendak pensiun— hampir tiga puluh tahun mengabdi—dan ia sendiri ingin menjalani hidup yang lebih nyaman.

Bagaimana keadaan Teddy sekarang? Critz bertanya. Dan bagaimana presiden yang baru? Ba- ‘ gaimaaa atmosfer di Washington dengan adanya pemerintahan baru? |

Tidak banyak yang berubah, komentar Daly, ha-[ nya segerombolan orang tolol baru. Omong-omong, bagaimana kabar mantan presiden Morgan?

Critz tidak tahu,’ sudah lama tidak bertukar kabar dengannya, bahkan mungkin sudah berminggu-

II minggu lamanya. Sementara percakapan mulai [ dingin, Critz bertanya sambil tertawa canggung, • “Kurasa tidak ada yang melihat Joel Backman, ya?”

Daly juga ikut tertawa—semua ini cuma lelucon besar. “Tidak,” jawabnya, “kurasa orang itu disembunyikan rapat-rapat.”

“Memang sebaiknya begitu.”

Critz berjanji akan menelepon lagi begitu ia kembali ke D.C. Mereka harus bermain 18 hole di klub yang bagus, lalu minum-minum, sepati di masa lalui

Masa lalu apa? tanya Daly dalam hati setelah ia menutup telepon.

Satu jam kemudian, rekaman percakapan telepon tersebut diputar di hadapan Teddy Maynard.

Karena dua telepon pertama kelihatan menjanjikan, Critz melanjutkan usahanya. Ia yang selalu bertugas menelepon ke sana kemari seperti maniak. Ia penganut teori senapan tabur—hujani udara dengan panggilan telepon, maka sesuatu akan terjadi. Rencana kasar mulai terbentuk. Seorang reman lama yang lain dulu menjadi staf senior Ketua Komite

Intelijen Senat, dan sekalipun sekarang ia menjadi peJobi dengan koneksi luas, ia pun, kabarnya, menjaga hubungan dekat dengan CIA.

Mereka membicarakan politik dan golf, dan akhirnya, yang membuat Critz gembira, kawannya ini bertanya apa sebenarnya yang dipikirkan Presiden Morgan ketika ia memberikan pengampunan hukuman kepada Duke Mongo, penipu pajak terbesar dalam sejarah Amerika? Critz mengatakan ia sesungguhnya menentang keputusan tersebut, rapi berhasil menggiring percakapan ke arah topik pengampunan hukuman kin yang juga kontroversiaL “Dengar gosip tentang Backman?” ia bertanya

“Kau kan ada di sana waktu itu,” ujar temannya.

“Ya, tapi di mana Maynard menyembunyikannya? Itulah pertanyaan besarnya.”

“Jadi itu pekerjaan CIA?” tanya temannya.

Tentu saja,” sahut Critz dengan penuh wibawa. Siapa lagi yang bisa menyelundupkan Backman ke luar negeri pada tengah malam buta?

“Menarik juga,” kata temannya, yang kemudian menjadi sangat pendiam. Critz mendesak mereka harus makan riang bersama minggu berikutnya, dan di situlah percakapan mereka berakhir.

Sementara Critz sibuk menelepon, sekali lagi ia mengagumi daftar koneksinya yang tak terbatas. Kekuasaan ternyata ada imbalannya juga.

Joel, atau Marco, mengucapkan selamat berpisah pada Ermanno tepat pukul setengah enam petang, menyudahi sesi tiga jam yang berjalan tanpa henti. Keduanya sudah kecapekan.

Udara yang menggigit membantu menjenuhkan pikirannya ketika ia menyusuri jalan-jalan sempit di Treviso. Untuk kedua kalinya, ia mampir di bar kecil di sudut jalan dan memesan bir. Ia duduk di dekat jendela dan memandangi penduduk setempat berjalan cepat, beberapa bergegas pulang dari tempat kerja, yang lain berbelanja sebentar untuk makan malam. Bar itu hangat dan penuh asap, dan ingatan Marco sekali lagi kembali ke penjara. Ia tak bisa mencegahnya—perubahan ini begini drastis, kebebasan ini begitu mendadak. Masih ada rasa takut bahwa ia akan terbangun dan mendapati dirinya tersekap di sel sementara seorang pembuat lelucon yang tak terlihat tertawa histeris di suatu tempat di kejauhan.

Sehabis minum bir ia memesan espresso, dan sesudahnya ia melangkah kembali dalam kegelapan dan menjejalkan kedua tangannya dalam-dalam ke sakunya. Sewaktu berbelok dan melihat hotelnya, ia juga melihat Luigi mondar-mandir gelisah di trotoar, sambil merokok. Ketika Marco menyeberang jalan, Luigi menyongsongnya. “Kita harus pergi, segera,” ujarnya.

“Kenapa?” tanya Marco sambi) melirik ke sekelilingnya, mencari orang-orang jahat.

“Akan kujelaskan nanti. Sudah tersedia tas bepergian di tempat tidurmu. Kemasi barang-barangmu secepat mungkin. Aku akan menunggu di sini.”

“Bagaimana kalau aku tidak mau pergi?” tanya Marco.

Luigi mencengkeram pergelangan tangan kirinya, berpikir sejenak, lalu menyunggingkan senyum kaku. “Kalau begitu kau tidak akan bertahan hidup sampai dua puluh empat jam,” katanya sesangar mungkin. “Percayalah padaku.”

Marco berlari menaiki tangga dan sepanjang koridor, dan sudah hampir riba di kamarnya ketika ia menyadari rasa nyeri tajam di perutnya itu bukan karena ia kehabisan napas, tapi karena rasa takut.

Apa yang telah terjadi? Apa yang telah didengar atau dilihat Luigi, atau apa yang telah diberitahukan kepadanya? Siapa sebenarnya Luigi dan dari siapa ia mendapat perintah? Sembari Marco menyambar pakaian-pakaiannya dari lemari kecil dan melemparkannya ke ranjang, ia mengajukan semua pertanyaan itu, dan banyak lagi. Sewaktu semua barang sudah dikemasi, ia duduk sejenak dan berusaha menata pikirannya. Ditariknya napas dalam-dalam, dikeluarkannya perlahan-lahan, lalu ia meyakinkan diri sendiri bahwa -.

«.l. ill. wa aPa pun yang

terjadi hanyalah bagian permainan

Apakah ia akan selamanya melarikan diri? Selalu berkemas dalam ketergesaan, kabur dari satu ruangan untuk mencari ruangan lain? Memang masih jauh lebih baik daripada penjara, tapi pasti akan ada akibatnya juga.

Dan bagaimana mungkin ada orang yang bisa secepat ini menemukannya? Ia baru empat hari berada di Treviso.

Sewaktu akhirnya ia mulai bisa menenangkan diri, ia berjalan dengan langkah biasa di koridor, menuruni tangga, melalui lobi tempat ia mengangguk pada pegawai yang melongo tapi tidak berkata apa-apa, dan keluar melalui pintu. Luigi menyambar tasnya dan melemparkannya ke bagasi mobil Fiat kecil. Mereka sudah berada di luar kota Treviso sebelum sepatah kata pun terucap.

“Oke, Luigi, ada apa?” tanya Marco.

Ganti pemandangan.” “Ngerti. Kenapa?”

Ada alasan-alasan yang sangat bagus.” “Oh, well, jadi jelas semua kalau begitu.” < Luigi mengemudi dengan tangan kirinya, memindah gigi dengan panik menggunakan tangan kanan, dan menjejak pedal gas sedekat mungkin dengan lantai mobil sementara pedal rem sama sekali tak diacuhkannya. Marco benar-benar tak memahami ras manusia yang bisa melewatkan dua setengah jam berleha-leha menikmati makan

siang, lalu melompat ke dalam mobil untuk mcli secepat angin menyeberangi kota dalam waktu m puluh menit.

Mereka berkendara selama saru jam, secara umum menuju arah selatan, menghindari jalan raj dan tetap bertahan di jalan-jalan kecil. “Apakah ada yang membuntuti kita?” tanya Marco lebih dari se kali ketika mereka tidak mengurangi kecepatan di tikungan tajam, dua roda terangkat dari jalan.

Luigi hanya menggeleng. Matanya menyipit, alisnya berkerut menjadi saru, rahangnya terkatup rapat kalau rokok tidak terselip di sana. Entah bagaimana ia berhasil mengemudi seperti maniak sambil merokok dengan tenang dan tak sekali pun melirik ke belakang. Ia bertekad untuk diam seribu bahasa dan hal itu justru membulatkan tekad Marco untuk mengajaknya bicara.

“Kau hanya berusaha menakut-nakuti aku, kan, Luigi? Kita sedang bermain jadi mata-mata—kau masternya, aku keparat malang yang mengetahui rahasia. Membuatku ketakutan setengah mati supaya aku bergantung padamu dan tetap setia. Aku tahu niatmu.”

“Siapa yang membunuh Jacy Hubbard?” tanya Luigi, hampir tak menggerakkan bibir sama sekail

Mendadak Backman tak ingin membuka mulut. Nama Hubbard yang diSunggung-singgUflg mcnv

[ jjuatnya terpaku sedetik. Nama itu selalu membawa ‘ kenangan yang sama: foto polisi Jacy yang terpuruk di atas makam kakaknya, sebelah kiri kepalanya terburai, darah di mana-mana—di atas batu nisan, di kemeja putihnya. Di mana-mana.

“Kau punya arsipnya,” jawab Backman. “Ia bunuh diri”

“Oh, ya. Kalau kau memercayainya, kenapa kau memutuskan untuk mengaku bersalah dan meminta

sel terlindung di penjara?” “Aku takut. Bunuh diri bisa menular.”

“Benar sekali.”

Jadi maksudmu, orang-orang yang merekayasa bunuh dirinya Hubbard sekarang memburuku?” Luigi mengiyakan dengan mengangkat bahu. Dan entah bagaimana mereka mengetahui aku sembunyi di Treviso?”

Lebih baik tidak mengambil risiko apa pun.” Marco tidak akan mendapatkan detail-detailnya, kalau memang ada. Ia berusaha tidak melakukannya, tapi secara instingtif ia melirik ke belakang dan melihat jalanan yang gelap di belakang mereka. Luigi melirik kaca spion, dan menyunggingkan senyum puas, seolah berkata: Mereka ada di belakang sana, di suatu tempat.

Joel mengenyakkan diri beberapa senti lebih dalam di kursinya dan memejamkan mata. Kedua kliennya sudah mati lebih dulu. Safi Mim ditikam

di luar kelab malam di Georgetown tiga bulan setelah ia menjadi klien Backman dan menyerahkan salinan JAM satu-satunya. Luka tikaman itu cukup dalam, tapi ada racun yang diinjeksikan ke sana, barangkali bersamaan dengan tikaman pisau tersebut. Tidak ada saksi mata. Tidak ada petunjuk Kasus pembunuhan yang sama sekali tak terselesaikan, tapi hanya satu dari sekian banyak kasus serupa di D.C Sebulan kemudian Fazal Sharif lenyap di Karachi, dan dianggap sudah mati.

JAM memang berharga miliaran dolar, rapi tak seorang pun bisa menikmati uangnya.

Pada tahun 1998, Pratt & Boiling mempekerjakan Jacy Hubbard dengan bayaran satu juta dolar setahun. Pemasaran JAM merupakan tantangan besarnya yang pertama. Untuk membuktikan kelayakannya menerima imbalan sebesar itu, Hubbard mengancam dan menyogok agar bisa masuk ke Pentagon, dengan usaha yang canggung dan pasti gagal untuk mengonfirmasi keberadaan sistem satelit Neptunus. Beberapa dokumen—yang sudah diutak-atik tapi tetap saja rahasia—diselundupkan ke luar oleh antek-antek Hubbard yang melaporkan segalanya pada penyelianya. Dokumen-dokumen sangat sensitif itu dimaksudkan untuk menunjukkan eksistensi Gamma Net, sistem pengintaian fiktif ala

Star Wats dengan kemampuan-kemampuan yang tak pernah didengar sebelumnya. Begitu Hubbard mendapat “konfirmasi” bahwa ketiga pemuda Pakistan itu memang benar—proyek Neptunus mereka adalah proyek AS—dengan bangga ia me-, laporkan penemuannya pada Joel Backman dan mereka pun berbisnis.

Karena Gamma Net seharusnya milik militer AS, JAM pun menjadi lebih berharga lagi. Padahal sebenarnya, baik Pentagon maupun CIA tak pernah tahu tentang Neptunus.

Kemudian Pentagon membocorkan kisah fiksinya sendiri—kebocoran keamanan yang direkayasa, oleh antek yang bekerja untuk mantan .senator Jacy Hubbard dan bos barunya yang berkuasa, sang broker. Skandal pun meletus. FBI menggerebek kantor Backman, Pratt & Boiling pada tengah malam, menemukan dokumen-dokumen yang diyakini semua orang adalah autentik, dan dalam kurun waktu 48 jam seregu jaksa federal yang sangat termotivasi mengeluarkan dakwaan-dakwaan terhadap semua rekanan di biro hukum tersebut.

Tak lama kemudian pembunuhan-pembunuhan itu pun berlangsung, tanpa ada petunjuk siapa yang ada di baliknya. Pentagon dengan canggih melumpuhkan Hubbard dan Backman tanpa membocorkan apakah benar mereka yang memiliki dan menciptakan sistem satelit tersebut. Gamma Net

177

atau Neptunus, atau apa pun, dengan efektif t lindung di balik jaring-jaring “rahasia militer” ya^ tak tertembus.

Backman si pengacara menginginkan proses pet. adilan, terutama jika dokumen-dokumen Pentagon itu pamt dipertanyakan. Namun Backman si terdakwa ingin menghindari nasib yang menimpa Hubbard.

jikalau pelarian edan-edanan Luigi dari Treviso mi dimaksudkan untuk menaloit-nakutinya, rencana ini mendadak berhasil dengan sendirinya Untuk pertama kalinya sejak mendapat pengampunan, Joel merindukan keselamatan di dalam sel kecilnya di sayap keamanan maksimum.

Kota Padua berada di depan, lampu-lampu dan lalu lintas tampak semakin banyak. “Betapa populasi Padua?” tanya Marco, kalimatnya yang pertama sejak setengah jam lalu.

^ ratus ribu. Kenapa orang Amerika selalu «^tahu polulasi setiap kota dan desa?”

* kusangka pertanyaan im bikin masalah.” Kau lapar?”

t^tTl^”1 Ham perutnya berasal dari rasa “Tentu.” u».., pat’ taP* tetap saja ia be

. — merek mat ‘ LCtaP saja ia berkata,

wtut^^^rsetempattepat

MalL-m*a dan lalu dengan segera

—an.

&naP di penginapan desa 178

tereka

met

kecil—delapan kamar seukuran lemari—yang telah jjrniliki keluarga yang sama sejak zaman Romawi. Tidak ada tanda yang mengiklankan tempat itu; hanya salah satu tempat persinggahan Luigi. Jalan terdekat sangat sempit, terbengkalai, dan sama sekali tidak dilewati mobil yang diproduksi setelah tahun 1970. Bologna tak jauh dari sana.

Luigi berada di kamar sebelah, di balik tembok batu tebal yang sudah berabad-abad usianya. Ketika Joel Backman/Marco Lazzeri merangkak ke balik selimut dan akhirnya memperoleh kehangatan, ia tidak bisa melihat setitik pun cahaya sejauh mata memandang. Kegelapan total. Dan kesunyian total. Suasana begitu senyap sehingga ia tak bisa memejamkan mata untuk waktu yang lama.

179 Mi

11

Sesudah datang laporan kelima yang menyatakan Critz telah menelepon dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Joel Backman, Teddy Maynard mengamuk, sesuatu yang jarang terjadi. Si goblok itu ada di London, menelepon ke sana kemari, entah untuk alasan apa berusaha mencari seseorang, siapa saja, yang bisa membawanya pada informasi tentang Joel Backman.

Pasti ada yang menawarkan uang pada Critz,”

dTrTki^ Wigline’ SCOrang asisten depUtl

aitS* Cr bisa mensetahui di mana

octada, sahut Wieline Seharusnya ia tM,i, . T

hanya nwmperkcruK mencoba mencari tahu. I» Wigline b^uVhT^’ h hatus dinetralisir.”

oby’ y^g mendadak meng-

I8n

jijfan kegiatan mencatatnya. “Apa maksudmu,

Teddy?” . „

-Ia harus dinetralisir. “Ia warga negara Amerika Serikat.” “Aku tahu! Ia juga membahayakan operasi. Ada presedennya. Kita sudah pernah melakukannya.” Ia tidak repot-repot memberitahu mereka apa preseden itu, tapi mereka berasumsi, karena Teddy sering menciptakan preseden-presedennya sendiri, tak ada gunanya mendebat lebih jauh.

Hoby mengangguk seakan berkata: Ya, kita sudah pernah melakukannya.

Wigline mengenakkan rahang dan berkata, “Kuanggap kau ingin hal ini dilaksanakan sekarang juga.”

“Secepat mungkin,” jawab Teddy. “Tunjukkan rencananya padaku dalam dua jam mendatang.”

Mereka mengawasi Critz ketika ia meninggalkan apartemen sewaannya dan memulai acara jalan-jalan sore yang lama, yang biasanya disudahi dengan beberapa gelas bir. Setelah setengah jam berjalan dengan irama langkah yang santai, ia mengarah ke Leicester Square dan masuk ke Dog and Duck, pub yang sama seperti yang dikunjunginya kemarin.

Ia sudah menikmati gelas kedua di ujung belar kang bar, lantai satu, ketika bangku di sebelahnya akhirnya kosong dan seorang agen bernama Greenland menyusup ke sana dan berteriak meminta bir.

181

“Keberatan kalau aku merokok?” tanya G fand pada Critz, yang cuma mengangkat bahuX menjawab, “Ini bukan Amerika.”

“Yankee, ya?” tanya Greenland.

“Yep.”

Tinggal di sini?”

Tidak, cuma berkunjung.” Critz memusatkan perhatian penuh pada botol-botol yang berjajar di dinding bar, menghindari kontak mata, tidak ingin terlibat dalam percakapan. Dalam waktu singkat ia menjadi terbiasa menikmati’ kesendirian di dalam pub yang ramal Ia senang duduk saja sambil mendengarkan celoteh cepat orang-orang Inggris dan mengetahui bahwa tak seorang pun kenal siapa dia. Meski demikian, ia masih penasaran dengan pria bernama Ben im. Kalau benar mereka sedang mengawasinya, mereka melakukannya dengan baik, dengan tetap bersembunyi di dalam bayang-bayang.

Gteenland meneguk birnya dalam upaya menyamai Critz. Sangat penting untuk bisa memesan gelas kedua pada waktu yang bersamaan. Ia mengembuskan asap rokoknya, menambah pekatnya gumpalan awan asap di atas mereka. “Aku sudah tinggal di sini selama satu tahun,” katanya.

Critz mengangguk saja tanpa menoleh. Minggat sana.

“Aku tidak keberatan menyetir A; • i

«aiyeur di sul jalan yang

182

salah, atau cuacanya yang payah, tapi yang benar-benar bikin aku jengkel adalah acara olahraganya. Kau pernah nonton pertandingan kriket? Lamanya

empat hari.”

Critz memaksa diri menggeram dan berkata, “Olahraga tolol.”

“Kalau bukan kriket, ya sepak bola. Orang-orang ini tergila-gila pada kedua olahraga itu. Aku baru melewatkan musim dingin di sini tanpa NFL. Benar-benar sengsara.”

Critz adalah pemegang tiket musiman Redskins yang setia, dan hanya sedikit hal di dunia ini yang bisa membuatnya bersemangat selain tim kesayangannya. Greenland penggemar biasa, tapi telah melewatkan satu hari penuh menghafal statistik di rumah persembunyian CIA di utara London. Kalau skenario football tidak bisa membuat Critz senang, berikutnya baru politik. Kalau im juga tidak berhasil, ada wanita berpenampilan menarik yang sudah menunggu di luar, walau Critz tidak memiliki reputasi hidung belang.

Tiba-tiba saja Critz merasa rindu kampung halaman. Duduk di pub, jauh dari rumah, jauh dari kemeriahan Super Bowl—tinggal dua hari lagi dan pers Inggris sama sekali tidak peduli—seolah ia bisa mendengar sorak-sorai penonton dan merasakan kegairahannya. Kalau Redskins lolos babak ploy off, ia tidak akan minum-minum bir di London. Ia akan

all

berada di Super BowJ, di kursi 50-yard, dijamu oleh salah satu perusahaan yang bisa diandalkan bantuannya. ‘^n’A

Ia berpaling pada Greenland dan bertanya, “Patriots atau Packers?”

“Timku tidak lolos, tapi aku selalu menyukai NFC”

“Aku juga. Apa tim favoritmu?” Barangkah’, itu adalah pertanyaan paling fatal yang pernah diajukan Robert Critz. Sewaktu Greenland menjawab, “Redskins,” Critz sungguh-sungguh tersenyum dan ingin mengobrol. Merela melewatkan beberapa menit menentukan latar belakang kualitas—berapa lama masing-masing telah menjadi fans Redskins, pertandingan-pertandingan hebat yang pernah disaksikan, pemain-pemain hebat, kejuaraan-kejuaraan Super Bowl. Greenland memesan bir untuk mereka, dan keduanya tampak siap membahas pertandingan-pertandingan hingga berjam-jam lamanya. Critz tidak sering mengobrol dengan Yankee di London, dan orang ini jelas teman bicara yang menyenangkan.

Greenland minta diri dan pergi untuk mencari kamar kecil. Kamar kecil ada di atas, seukuran letnan sapu, dengan saw lubang pembuangan seperti kebanyakan WC di London. Ia menyeiot pintu untuk mendapatkan privasi beberapa detik dan dengan cekatan mencabut ponsel untuk me-

laporkan perkembangannya. Rencana sudah siap dilaksanakan. Tim sudah berada di jalan di bawah, menunggu. Tiga pria dan seorang wanita yang berpenampilan menarik.

Setengah jalan menikmati birnya yang keempat, dan sambil menyatakan ketidaksetujuan atas rasio touchdown-banding-pencega.tan Sonny Jurgensen, Critz akhirnya merasa perlu ke kamar kecil. Ia menanyakan arah dan menghilang. Dengan gesit Greenland mencemplungkan sebutir tablet putih kecil Rohypnol ke dalam gelas Critz—obat bius yang kuat namun tak berasa dan tak berbau. Ketika Mr. Redskins kembali, ia sudah segar lagi dan siap untuk minum. Mereka mengobrol tentang John Riggins dan Joe Gibbs, dan bersenang-senang sebelum kepala Critz mulai terangguk-angguk.

“Wow,” ucapnya, lidahnya mulai terasa tebal. “Sebaiknya aku pulang sekarang. Istri sudah menunggu.”

“Yeah, aku juga,” kata Greenland sambil mengangkat gelasnya. “Habiskan.”

Mereka mengosongkan gelas dan berdiri untuk pergi; Critz di depan, Greenland menunggu untuk menangkapnya. Mereka berhasil melewati kerumunan yang memadati pintu masuk dan menuju trotoar, di mana angin dingin menyegarkan Critz, walau hanya sesaat. Ia sudah melupakan teman barunya dan tak sampai dua puluh langkah ia pun

terhuyung-huyung di atas tungkai yang goyah, lalu -menyambar riang lampu. Greenland menangkapnya sewaku ia jatuh, dan demi kepentingan pasangan muda yang sedang melewatinya, ia berkata keras-keras, “Sialan, Fred, kau mabuk lagi.”

Fred sudah jauh melampaui taraf mabuk Sebuah mobil muncul entah dari *mana dan melambat di sisi trotoar. Pintu belakang terbuka, dan Greenland menyurukkan Critz yang sudah separo mati ke kursi belakang. Perhentian pertama adalah gudang delapan blok jauhnya. Di sana, Critz, yang sudah tak sadarkan diri sepenuhnya, dipindahkan ke van kecil tak bertanda dengan dua pintu di bagian belakang. Sementara Critz terbaring di lantai mobil, seorang agen menggunakan jarum hipodecmis dan menginjeknnya dengan heroin murni berdosis tinggi. Keberadaan heroin selalu berhasil membungkam hasil autopsi, yang rentu saja dilakukan atas paksaan pihak keluarga.

Dengan Critz yang nyaris tak bernapas, mobil itii meninggalkan gudang dan menuju Whitcomb Street, tak jauh dari apartemennya. Pembunuhan itu membutuhkan tiga mobil—van itu sendiri, diikuti Mercedes besar, dan mobil penguntit yang dikendarai orang Inggris asli, yang akan tetap di sana untuk mengoceh dengan polisi. Tujuan utama mobil penguntit itu adalah menjaga lalu lintas sejauh mungkin di belakang Mercedes.

Pada usaha ketiga, dengan ketiga pengemudi berkomunikasi satu sama kin, dan dua agen—termasuk wanita berpenampilan menarik im—bersembunyi di trotoar dan juga mendengarkan, pintu van didorong terbuka, Critz terguling ke jalan, Mercedes mengincar kepalanya dan berhasil melindasnya dengan bunyi menjijikkan, lalu semua orang pun menghilang, kecuali si orang Inggris yang berada di mobil penguntit. Orang im menjejak pedal rem dalam-dalam, melompat keluar, dan berlari menghampiri si pemabuk malang yang tersandung, jatuh ke jalan, dan terlindas mobil. Kemudian ia melihat berkeliling dengan cepat untuk mencari saksi.

Tidak ada saksi, tapi ada taksi yang sedang mendekat di sisi jalan yang lain. Ia melambaikan tangan memintanya berhenti, dan sejenak kemudian lalu lintas pun terhenti. Tak berapa lama, orang-orang mulai berkerumun dan polisi datang. Si orang Inggris di mobil penguntit mungkin orang pertama di tempat kejadian, tapi ia hampir tak melihat apa-apa. Ia hanya melihat pria tersandung di antara dua mobil yang diparkir di sana itu, jatuh ke jalan, dan ditabrak sebuah mobil besar berwarna hitam. Atau mungkin hijau tua. Tidak yakin apa merek dan modelnya. Tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk memerhatikan nomor polisi mobil itu. Tak bisa menggambarkan-rupa si pengemudi tabrak lari

itu. Ia terlalu kaget melihat pria mabuk yang men dadak muncul di tepi jalan.

Pada saat mayat Bob Critz dinaikkan ke ambulans untuk perjalanan ke kamar jenazah, Greenland, si wanita berpenampilan menarik, dan dua anggota nm yang lain, sudah berada di atas kereta yang meninggalkan London dan menuju Paris. Mereka akan berpencar selama beberapa minggu, lalu kembali ke Inggris, basis asal mereka.

Marco menginginkan sarapan terutama karena ia bisa mencium aromanya—ham dan sosis di atas panggangan, di suatu tempat jauh di dalam rumah utama—tapi Luigi sudah gelisah ingin segera angkat kaki. “Ada tamu-tamu lain dan semua orang makan di meja yang sama,” ia menjelaskan ketika mereka tergesa-gesa melemparkan tas-tas mereka ke dalam mobil “Ingat, kau meninggalkan jejak, dan signm itu tidak akan melupakan apa pun.”

Mereka melaju di jalan pedesaan, mencari jalan utama.

“Kita pergi ke mana?” tanya Marco. “Kita libat saja nanti.”

“Berhentilah mempermainkanku!” raung Marco dan Lmg, sampai berjengit. “Aku manusia bebas yang bisa turun dari mobil ini kan3n «. i mau!” *apan pun aku

“Ya, tapi—”

“Jangan sok mengancam! Setiap kali aku bertanya, kau memberiku ancaman samar bahwa aku tidak akan bertahan hidup sampai dua puluh empat jam kalau sendirian. Aku ingin tahu apa yang terjadi. Kita mau ke mana? Berapa lama kita akan berada di sana? Berapa lama lagi kau akan bersamaku? Beri aku jawaban, Luigi, atau aku akan menghilang.”

Luigi berbelok ke jalan empat jalur dan sebuah rambu jalan menyatakan Bologna berada tiga puluh kilometer jauhnya dari sana. Ia menunggu ketegangan mengendur sedikit, lalu berkata, “Kita akan ke Bologna selama beberapa hari. Ermanno akan menjumpai kita di sana. Kau akan melanjutkan pelajaranmu. Kau akan ditempatkan di rumah persembunyian selama beberapa bulan. Lalu aku akan menghilang dan kau sendirian.” “Terima kasih. Apa sulitnya menjelaskan itu?” “Rencana berubah.” “Aku tahu Ermanno bukan mahasiswa.” “Dia mahasiswa. Dia juga-bagian dari rencana.” “Kau tahu betapa konyolnya rencana itu? Pikirkanlah, Luigi. Seseorang menghabiskan waktu dan uang untuk mengajariku bahasa asing dan budaya asing. Kenapa aku tidak dinaikkan ke pesawat kargo lagi dan dibuang ke suatu tempat seperti Selandia Baru?”

HOME
HomeDaftar NovelBaca NovelBaca Novel Silat Thursday, September 8, 2011THE BROKER 2
Itu ide bagus, Marco, tapi bukan aku yang me nentukan.

“Marco dengkulmu. Setiap kali aku menatap cer-min dan mengucapkan Marco, aku ingin tertawa.”

“Ini bukan lelucon. Kau kenal Robert Critz?”

Marco terdiam sejenak. “Aku pernah bertemu dia beberapa kali selama tahun-tahun itu. Tidak pernah menggunakan dia. Cuma budak politik, seperti aku.”

“Sahabat dekat Presiden Morgan, kepala staf, direktur kampanye.”

1afcT

“Ia dibunuh semalam di London. Berarti ia orang kelima yang mari karena kau—Jacy Hubbard, tiga pemuda Pakistan itu, sekarang Critz. Pembunuhan-pembunuhan im belum berhenti, Marco, dan belum akan berhenti. Bersabarlah denganku. Aku hanya berusaha melindungimu-”

Marco mengenyakkan kepalanya di sandaran kepala dan memejamkan mata. Ia tidak bisa mengaitkan potongan-potongan teka-teki im.

Mereka keluar dan jalan raya dan berhenti untuk mengisi bahan bakar. Luigi kembali ke mobil sambil membawa dua cangkir kecil kopi kental. “Kopi untuk dibawa,” kata Marco senang. “Kusangka penghujatan semacam itu dilarang di Italia.”

“Makanan cepat saji sudah mulai menjalar masuk. Sungguh menyedihkan,”

“Salahkan saja Amerika. Semua orang juga melakukannya kok.”

Tak berapa lama kemudian, mereka sudah tersendat-sendat di antara lalu lintas jam padat di pinggiran kota Bologna. Luigi berkata, “Mobil-mobil terbaik kami dibuat di sekitar sini, kau tahu. Ferrari, Lamborghini, Maserati, mobil-mobil hebat itu.”

“Aku boleh dapat satu?” “Sori, tidak masuk dalam anggaran.” “Apa tepatnya yang masuk dalam anggaran?” “Kehidupan tenang yang bersahaja.” “Sudah kuduga.”

“Jauh lebih mendingan daripada yang terakhir

kaualami.”

Marco menyesap kopinya dan mengamati lalu ¦lintas. “Kau dulu kuliah di sini, bukan?”

“Ya. Universitas itu sudah seribu tahun usianya. Salah satu yang terbaik di dunia. Nanti akan kutunjukkan padamu.”

Mereka memisahkan diri dari keramaian dan membelok ke daerah pemukiman yang jalannya berbatu-batu. Jalanannya menjadi lebih pendek dan sempit, dan Luigi tampaknya mengenal tempat ini dengan baik. Mereka mengikuti rambu-rambu yang mengarahkan mereka ke pusar kota, dan universitas. Tiba-tiba Luigi membanting setir, melompat ke atas trotoar, dan menyusupkan Fiat itu di celah sempit

yang hampir rak cukup lebar untuk sepeda mot0t “Ayo kita makan sesuatu,” ajaknya, dan begitu berhasil menyusup keluar dari mobil, mereka pm, berjalan di trotoar dan bergegas menembus udara yang dingin.

Tempat persembunyian Marco berikutnya adalah hotel suram beberapa blok jauhnya dari tepi luar kota tua. “Sudah ada gejala pemotongan anggaran,” gumam Marco sambil membuntuti Luigi melalui lobi yang sumpek ke arah tangga.

“Untuk beberapa hari saja,” kata Luigi.

“Lalu apa?” Marco kerepotan menaikkan tas-tasnya di tangga yang sempit. Luigi tidak membawa apa-apa. Untung saja kamarnya ada di lantai dua, ruang kecil dengan ranjang mungil dan tirai yang’ sudah berhari-hari tidak dibuka.

“Aku lebih suka Treviso,” ujar Marco sambil memandangi dinding.

Luigi menyibakkan tirai. Sinar matahari tak banyak membantu. “Lumayan kok,” katanya, tanpa keyakinan.

“Se\ penjaraku masih lebih mendingan.” “Kau banyak mengeluh.” “Untuk alasan yang tepat.”

“Berbenahlah. Aku akan . …

i t,__Zv™1 men«nuimu di bawah

sepuluh menit lagi. Ermanno sudah m

suaan menunggu.

Ermanno kelihatan sama terguncangnya dengan Marco akibat perubahan lokasi yang amat mendadak. Ia bingung dan gugup, seolah telah berusaha menyusul mereka sepanjang malam dari Treviso. Mereka berjalan bersamanya beberapa blok menuju bangunan apartemen yang tak terpelihara. Tak terlihat tanda-tanda adanya lift, jadi mereka mendaki empat lantai dan memasuki flat kecil dua kamar, yang bahkan memiliki lebih sedikit perabot dibandingkan apartemen di Treviso. Ermanno jelas telah mengemasi barang-barangnya dengan terburu-buru, dan berbenah lebih cepat lagi.

“Tempat tinggalmu lebih buruk daripadaku tempatku,” komentar Marco sambil melihat berkeliling.

Di meja kecil tersebar bahan-bahan pelajaran yang mereka gunakan hari sebelumnya, sudah menunggu beraksi lagi.

“Aku akan kembali saat makan siang,” kata Luigi, dan seketika itu menghilang.

“Andiamo a studiare,” tandas Ermanno. Mari kita belajar.

“Aku sudah lupa semuanya.”

“Tapi kemajuan kita sudah bagus kemarin.”

“Tak bisakah kita pergi ke bar saja untuk cari minum? Aku benar-benar sedang tidak kepingin melakukan ini.” Namun Ermanno telah menempatkan diri di seberang meja dan membuka

buku manualnya. Dengan enggan Marco men bil tempat di kursi di depannya. ^

Makan siang dan makan malam berlangsung tarm, kesan. Mereka hanya makan seadanya di trattotk gadungan, versi Italia untuk rumah makan cepat saji. Suasana hari Luigi sangat buruk dan di, berkeras, beberapa kali dengan agak ngotot, agar mereka hanya bicara dalam bahasa Italia. Luigi bicara perlahan, dengan jelas, dan mengulang kata-katanya sampai empat kali supaya Marco benar-benar mengerti, lalu melanjutkannya dengan kalimat berikut. Mustahil bisa menikmati makanan dalam suasana yang begitu menekan.

Pada tengah malam, Marco berbaring di ranjangnya, di dalam kamarnya yang dingin, terbungkus rapat dalam selimut tipis, menyesap jus jeruk yang dipesannya sendiri, dan berusaha menghafal daftar demi daftar kata kerja dan kata sifat.

V gaangan yang telah dilakukan Robert Critz rj”» ia *b»nuh oleh orang-orang yang boleh itu SSedans mcncari Joel Backman? Pertanyaan ganjU untuk majukan. Ia tak

cS/f^f ‘awab*nnya. Ia beranggap hukuman itu dT* J?4* ^putusan pengampun»” memilua kernam m*1Uan presiden Morgan tak PUan unt”k mengambil keputu»»»

194

itu

sendiri. Namun, di lain pihak, sulit sekali membayangku! Critz terlibat pada aras yang lebih tinggi. Telah berpuluh-puluh tahun ia membuktikan ^jnya tak lebih dari sekadar pelaksana yang baik ft^ya sedikit orang yang percaya kepadanya.

Tetapi jika masih ada orang-orang yang bertumbangan, sangat penting bagi Marco untuk mempelajari kata kerja dan kata sifat yang berserakan di ranjangnya. Kemampuan bahasa berarti kemampuan untuk bertahan hidup, dan mobilitas. Luigi dan Ermanno tak lama lagi akan pergi, dan Marco Lazzeri harus bisa berjuang sendiri.

195

12

Marco membebaskan diri dari kamar—atau “apartemen” begitu sebutannya—yang menyaat kari, dan berjalan-jalan cukup jauh pada pagi han saat matahari baru saja terbit. Trotoar hamp sama Iembapnya dengan udara yang menggigil Berbekal peta saku yang diberikan Luigi padanya semua dalam bahasa Italia tentu saja, ia berjalan menuju kota tua, dan begitu melewati reruntuhan o^nding-dmding kuno Porta San Domto, ia pu mengarah ke batat di Via Irnerio, di tepi utara kawasan universitas di Bologna. Trotoar di sana sudah berabad-abad usianya dan dinaungi port® melengkung yang tampak bermil-mil panjangnya Terlihat jelas bahwa kehidupan di kawasan u1″‘ versitas itu dimulai agak siang. Hanya seseW ada mobil lewat, diikuti satu-dua sepeda, tapi lal”

lintas pejalan kaki masih terlelap. Luigi pernah f menerangkan bahwa dalam sejarah Bologna memiliki kecenderungan yang bersifat kiri, komunis. Sejarah yang amat kaya, dan Luigi berjanji akan menjelaskan lebih jauh kepadanya.

Di depan, Marco melihat tanda neon hijau kecil yang mengiklankan Bar Fontana, dan ketika berjalan ke sana ia langsung mencium aroma kopi yang kuat. Bar itu terjepit di sudut bangunan kuno—tapi kenyataannya semua bangunan di sana memang sudah kuno. Pintu terbuka dengan enggan, dan’begitu berada di dalam, Marco nyaris tersenyum mencium aromanya—kopi, rokok, pastri, sarapan yang sedang dipanggang di belakang. Lalu datanglah rasa takut, kebimbangan seperti biasa ketika hendak memesan sesuatu dalam bahasa asing.

Bar Fontana bukan tempat untuk mahasiswa, ataupun wanita. Pengunjung-pengunjungnya sebaya dengannya, lima puluh tahun ke atas, dengan dandanan yang sedikit nyentrik, serta cukup banyak pipa serta jenggot yang menandainya sebagai tempat bersantai para dosen dan pengajar. Satu-dua orang meliriknya, namun di tengah universitas dengan seratus ribu mahasiswa, sulir bagi siapa pun untuk menarik perhatian orang lain.

Marco mendapatkan meja kecil terakhir di belakang, dan ketika akhirnya ia sudah nyaman di

197

posisinya dengan punggung menghadap dindi, .boleh dibilang ia duduk berdempetan deng tetangga-tetangganya yang baru, keduanya jam sama tenggelam dalam koran pagi dan seperanj tak seorang pun memerhatikannya. Dalam sak satu ceramah Luigi tentang kebudayaan Italia, i menjelaskan konsep ruang di Eropa, dan bagai mana konsep tersebut sangat berbeda dengan pemahaman Amerika. Di Eropa, ruang tersebut dibagi dengan orang lain, tidak dilindungi dari orang lain. Orang-orang berbagi meja, dan berb; udara, karena jelas tak seorang pita keberatan dengan asap rokok Mobil, rumah, bus, apartemen kafe—begitu banyak aspek penting kehidupan yang terlalu sempit, sehingga berdesakan, dan oJeh sebab ku harus dibagi dengan rela. Percakapan h antarteman yang berlangsung dengan hidung nyaris bersentuhan tidak akan dianggap tak sopan, karena tidak ada ruang pribadi yang dilanggar. Berbicara dengan gerak rangan, pelukan, rangkulan, bahkan ciuman sesekali.

Bagi orang Amerika, bahkan untuk ukuran orang yang cukup ramah, kedekatan seperti itu sangat sulit dimengerti.

Marco pun belum siap menyerahkan banyak ruang untuk dibagi. Diambilnya menu yang sudah kusut di meja, dan dengan cepat ia memilih j makanan pertama yang dikenalnya. Ketika pe- j

198

layan berhenti dan menunduk meliriknya, ia berkata, dengan gaya sesantai mungkin yang bisa f dikerahkannya, “Espresso, e un panino al formaggio.” [ Sandwich keju kecil.

Pelayan mengangguk mengerti. Tak seorang [ pun melirik karena mendengar bahasa Italia-nya j yang beraksen. Tidak ada koran yang diturunkan [ untuk melihat siapa yang tadi berkata-kata. Tak [ ada yang peduli. Mereka biasa mendengar aksen : asing sepanjang waktu. Sewaktu meletakkan menu kembali ke meja, Marco Lazzeri memutuskan ia mungkin menyukai Bologna, bahkan bila terbukti tempat ini adalah sarang Komunis. Dengan begitu banyaknya mahasiswa dan pengajar datang dan pergi, dan berasal dari seluruh penjuru dunia, orang asing diterima sebagai bagian kebudayaan. Barangkali malah unik bila orang memiliki aksen dan cara berpakaian yang berbeda. Barangkali tidak masalah juga terang-terangan menyatakan diri sedang mempelajari bahasa.

Satu pertanda orang asing adalah ia mengamati segalanya, matanya jelalatan kian kemari seolah tahu ia telah melanggar garis kebudayaan lain dan tidak ingin ketahuan. Marco tidak akari tertangkap basah sedang mengamati keadaan di Bar Fbnrana. Ia mengeluarkan buklet daftar kosa kata dan dengan sekuat tenaga berusaha mengabaikan orang-orang dan pemandangan yang ingin diamatinya.

Kan kerja, kara kerja, kata kerja. Ermanno seJa|„ berkata bahwa untuk menguasai bahasa Italia, atau bahasa Romawi pada umumnya, orang harus mengetahui kara kerja. Daftar itu memuat seribu kata kena dasar, dan JErmanno menyatakan itu adalah titik berangkat yang baik.

Meski menghafal luar kepala amadah menjemukan, anehnya Marco senang melakukannya, h mendapatkan kepuasan dalam menghafal cepat empat halaman—seratus kata kerja, atau kata benda, atau apa pun juga—dan tak melewatkan satu pun. Kalau ia melakukan satu kesalahan, atau keliru mengucapkan, ia akan kembali dari awal dan menghukum dirinya dengan mengulang semuanya. Ia telah menaklukkan tiga ratus kata kerja ketib kopi dan sanduAch-nya datang, la menyesap kopinya, kembali bekerja seolah makanan itu kurang penting dibandingkan kosa katanya, dan sedang melewati angka empat ratus ketika Rudolph datang.

Kursi di seberang meja bundar Marco kosong, dan itu menarik perhatian seorang lelaki gemuk j pendek, yang mengenakan pakaian hitam pudar sekujur badan, dengan rambut kelabu ikal tebal yang mencuat dari seluruh bagian kepalanya, beberapa nyark tak bisa ditahan baret hitam yang entah bagaimana berha.il map bertengger di atii «m. ****** £ libera?” \a berunya sopan, me- i nun/uk kurs, kosong tersebut. Marco tidak terlalu

jtin dengan apa yang dikatakannya, tapi jelas mengerti apa yang ia inginkan. Lalu ia menangkap f fata “Hberu” dan berasumsi itu berarti “bebas” atau

! “kosong”.

“Si,” kata Marco, berhasil mengucapkannya tanpa aksen. Lalu pria itu melepas mantel hitamnya yang panjang, menyampirkanhya di kursi, dan beringsut mencari posisi. Ketika akhirnya orang itu duduk, jarak di antara mereka tak sampai semeter jauhnya. Konsep ruang memang berbeda di sini, f Marco terus-menerus mengingatkan diri. Pria itu meletakkan koran L’Unitk di meja, membuat mejanya bergoyang-goyang. Sejenak Marco mengkhawatirkan espresso-nya. Untuk menghindari percakapan, ia membenamkan wajah semakin jauh dalam daftar kosa kata Ermanno.

“Amerika?” tanya kawan barunya, dalam bahasa Inggris yang tidak beraksen asing.

Marco menurunkan bukletnya dan memandang mata yang berbinar tak jauh darinya. “Cukup dekat. Kanada. Bagaimana kau tahu?”

Orang itu mengangguk ke arah buklet itu dan berkata, “Kosa kata bahasa Inggris-Itatia. Kau tidak kelihatan seperti onne insoria /adi kupikir kau orang Amerika, mungkin bukan berasal dari Upper

seperti orang Inggris, /a

Menilai aksennya, orang itu Midwest. Bu-

Total .«u
New Orleans. Setelah hampir seluruh negara bagj^ disisihkan, Marco mulai menduga California. (W ta mulai merasa sangar trugup. Kebohongan in, akan segera dimulai, dan ia belum cukup banvafc berkali.

“Dan kau dui mana?” ia bertanya.

“ftrhenrian terakhir Austin, Texas. lapi itu sudah tiga puluh tahun yang lalu. Namaku Rudolph.”

“Selamat pagi, Rudolph, senang berkenalan de- ] aganmu. Aku Marco.” Mereka seperti murid taman | kanak-kanak yang tidak membutuhkan nama keluarga “Kau tidak kedengaran seperti orang Texas.”

“Syukurlah.” u/ar orang itu sambil tertawa menye- I nangkan, nyaris tak memperlihatkan mulurnya. 1 “Asli San Francisco.”

Pelayan darang dan Rudolph memesan kopi f hitam, lalu sesuaru yang lain dalam bahasa Italia j yang cepat Pelayan itu membalas, diikuti Rudolph f lagi, dan Marco cak memahami separah kara pun yang mereka ucapkan. J

^P* yang membawamu ke Bologna?” tanya f Rudolph. Sepertinya ia ingin sekali bercakap-cakap: mungkin tidak sering ia bisa menyudutkan sesama I °raMarcTrika ,Jta,a * daJam kafe iritnya.

lihat pemandang J*” Scli”na setah””‘ m menemukan kantormu, dan ingin me. W4 Mungkin kita akan bertemu lagi di Bot Fontana. Aku menikmati obrolan kita kemarin. Senang juga mendengar bahasa Inggris sesekali Teman Kanada-mu, Marco Lazzeri

Ia menyelipkan kertas itu di celah bawah pintu dan berjalan menuruni tangga di belakang segerombolan mahasiswa Di Via Zamboni, ia kembali terseret arus tanpa tujuan pasti. Ia berhenti untuk membeli gelato, lalu berjalan lambat-lambat kembali ke hotelnya. Ia ingin tidur siang, tapi kamarnya yang kecil dan gelap terlalu dingin. Pada dirinya sendiri ia berjanji tidak akan bersungut-sungut lagi pada pengawasnya. Makan siang tadi tiga kali lipat lebih mahal daripada ongkos menginap satu malam di kamar ini Tentu Luigi dan orang-orang yang ada di belakangnya bisa mengeluarkan tambahan biaya untuk tempat tinggal yang lebih layak.

Dengan enggan ia menyeret langkah ke apartemen Ermanno yang seukuran lemari, untuk sesi pelajaran sore.

Di Bologna Centrale, dengan sabar Luigi menung-gu kedatangan kereta Eurostar nonstop ke Milano. stasiun kereta itu tprka . .

‘tu te™ig sepi, jeda tenang se-

222

belum jam sibuk pukul lima sore. Pada pukul 15.35, tepat sesuai jadwal, kereta peluru mengilap itu menderu masuk untuk berhenti sejenak dan Whitaker pun melompat turun.

Karena Whitaker tak pernah tersenyum, mereka hampir tak saling menyapa. Setelah jabat tangan seperlunya, mereka berjalan menuju Fiat Luigi. “Bagaimana bocah kita?” tanya Whitaker begitu ia menutup pintu mobil dengan suara keras.

“Baik-baik saja,” jawab Luigi sambil menghidupkan mesin dan menjalankan mobil. “Ia belajar mati-matian. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya.” “Dan ia tidak pergi jauh-jauh?” “Benar. Ia suka jalan-jalan keliling kota, tapi takut berkeliaran terlalu jauh. Tambahan lagi, ia tidak punya uang.”

“Jaga agar kantongnya tetap kering. Bagaimana bahasa Italia-nya?”

“Ia cepat belajar.” Mereka sampai di Via dek” Indipendenza, jalan lebar yang membawa mereka langsung ke selatan, ke pusat kota. “Sangat termotivasi.”

“Apakah ia ketakutan?” “Kurasa begitu.”

“Ia pintar, juga ahli manipulasi, Luigi, jangan lupa. Dan karena pintar, ia juga sangar ketakutan. Ia tahu bahaya yang mengancamnya.”

“Aku memberitahunya tentang Cntz.

“Dan?”

Ia bingung setengah mati.” . “Apakah hal itu membuatnya takut?” Ya, kurasa begitu. Siapa yang menghabisi Critz?”

“Aku beranggapan kitalah yang melakukannya, tapi lata tidak pernah tahu. Rumah persembunyiannya sudah siap?”

Ta.”

“Bagus. Mari kita melihat apartemen Marco.”

Via Fondazza adalah daerah permukiman yang tenang di bagian tenggara kota lama, beberapa blok sebelah selatan kompleks universitas. Seperti di sebagian besar Bologna, trotoar di kedua sisi jalan , dinaungi portico. Pinru-pintu rumah dan apartemen j terbuka langsung ke jalan. Kebanyakan memiliki di- j rektori bangunan yang tertera di plakat kuningan yang ditempelkan di sebelah interkom, tapi Via Fondazza 122 tidak memiliki plakat semacam itu. Tempat itu tak bertanda dan selama tiga tahun terakhir disewakan pada seorang pengusaha misterius dari Milan yang membayar sewa tetapi jarang menempatinya. Sudah satu tahun Whitaker tidak melihat tempat itu; walau bukan berarti itu tempat yang menarik Apartemen tersebut sederhana, sekitar 55 meter persegi; memiliki empat ruangan berperabotan dasar, dengan sewa 1.200 euro sebulan. Ini adalah rumah persembunyian,

224

tak lebih, tak kurang; salah satu dari tiga tempat semacam itu di Italia utara yang berada di bawah kendalinya.

Ada dua kamar tidur, dapur kecil, dan ruang duduk dengan sofa, meja tulis, dua kursi kulit, tanpa TV Luigi menunjuk telepon dan, nyaris dengan bahasa sandi, mereka membicarakan alat penyadap yang telah dipasang dan tidak akan dapat dideteksi. Ada dua mikrofon tersembunyi di setiap ruangan, alat pengumpul data kecil yang kuat, yang tidak akan melewatkan bunyi apa pun yang ditimbulkan manusia. Ada pula dua kamera mikroskopis—satu tersembunyi di retakan ubin tua, jauh di atas ruang duduk, dan kamera itu menyajikan pemandangan i ke arah pintu depan. Yang lain tersembunyi di dudukan lampu murahan yang tergantung di dinding dapur, dengan pemandangan tak terhalang ke arah pintu belakang.

Mereka tidak akan mengamari kamar tidur, dan Luigi mengatakan ia lega karenanya. Kalau Marco berhasil menemukan wanita yang mau datang berkunjung, mereka akan melihat wanita iru datang dan pergi melalui kamera di ruang duduk, dan iru sudah cukup bagi Luigi. Jika ia sangat bosan, sebagai hiburan ia bisa menghidupkan mikrofon dan mendengarkan.

Rumah persembunyian itu sebelah selatannya dibatasi apartemen lain, dengan dinding batu

tebal memisahkan keduanya. Luigi tinggal di apartemen tersebut, bersembunyi di apartemen lima ruang yang sedikit lebih besar daripada apartemen Marco. Pintu belakangnya terbuka ke arah kebun kecil yang tidak bisa dilihat dari rumah persembunyian, sehingga gerakannya tidak akan ketahuan. Dapurnya telah dimodifikasi menjadi ruang pengintaian berteknologi canggih, tempat ia bisa menghidupkan kamera kapan pun ia mau dan melihat apa yang terjadi di apartemen sebelah.

“Apakah mereka akan belajar di sini?” tanya Whitaker.

“Ya. Kurasa tempat ini cukup aman. Lagi pula aku bisa memonitor segalanya.”

Whitaker masuk ke ruangan-ruangan itu lagi. Ketika sudah cukup puas melihat-lihat, ia berkata, “Semua sudah siap di sebelah?”

“Semuanya. Aku melewatkan dua malam terakhir j di sana. Kita sudah siap.”

“Seberapa cepat kau bisa memindahkannya?”

“Sore ini.”

“Bagus. Mari kita melihat bocah kita.”

Mereka berjalan ke utara hingga ke ujung Via j Fondazza, lalu ke barat laut di sepanjang jalan yang lebih besar, Strada Maggiore. Tempat pertemuan j itu adalah kafe kecil bernama Lesrre’s. Luigi me- j nemukan koran dan duduk sendiri di sebuah meja. j Whitaker menemukan koran lain dan duduk di

226

meja lain, masing-masing tak menghiraukan yang lainnya. Pada pukul 16.30 tepat, Ermanno dan muridnya mampir untuk minum espresso sebentar dengan Luigi.

Sesudah sapaan-sapaan diucapkan dan mantel-mantel ditanggalkan, Luigi bertanya, “Kau bosan dengan bahasa Italia, Marco?”

“Muak sekali,” jawab Marco sambil tersenyum.

“Bagus. Mari kita berbahasa Inggris.”

Tuhan memberkatimu,” ujar Marco.

Whitaker duduk satu setengah meter jauhnya, separo tersembunyi di balik koran, merokok, seolah tak menaruh minat pada siapa pun di sekelilingnya. Tentu saja ia mengenal Ermanno, walau belum pernah melihatnya. Marco lain lagi ceritanya.

Whitaker sedang berada di Washington untuk penugasan singkat di Langley, sekitar dua belas tahun yang lalu, tatkala semua orang mengenal sang broker. Ia mengingat Joel Backman sebagai kekuatan politik yang menghabiskan hampir seluruh waktunya membangun citranya, dan juga mewakili klien-kliennya yang penting. Ia adalah simbol uang dan kekuasaan, kucing gemuk sempurna yang bisa mengintimidasi, membujuk, dan menghambur-hamburkan cukup banyak uang untuk mendapatkan apa pun yang ia inginkan.

Alangkah menakjubkan perubahan yang terjadi setelah enam tahun di penjara. Backman sangat

kurus sekarang, dan penampilannya sangat Eropa -di balik kacamata Armani itu. Ada jenggot pendek i yang mulai kelabu di dagunya. Whitaker yakin tak ada orang Amerika yang dapat mengenali Joel Backman bila ia masuk ke Les tres saat ini.

Marco memerhatikan pria yang duduk satu setengah meter jauhnya itu terlalu sering melirik mereka, tapi tidak berpikir apa-apa. Mereka mengobrol dalam bahasa Inggris, dan mungkin tak banyak orang yang melakukannya, paling tidak di Lestres. Lebih dekat ke universitas, orang bisa mendengar beberapa bahasa sekaligus di setiap warung kopi.

Ermanno meminta diri setelah minum secangkir espresso. Beberapa menit kemudian Whitaket juga pergi. Ia berjalan beberapa blok dan menemukan kafe Internet, yang pernah digunakannya dulu. la mencolokkan laptop-nyz, online, dan mulai mengetik pesan untuk Julia Javier di Langley:

Flat Fondazza sudah siap, akan pindah ke sana malam ini. Melihat sasaran kita, minum kopi bersama teman-teman kita. Kalau tidak begitu, tidak akan dapat mengenalinya. Menyesuaikan diri dengan baik dengan kehidupan barunya. Semua sudah beres di ,inU tidak aJa masakh sama sekali.

228

Setelah hari gelap, mobil Fiat itu berhenti di tengah Via Fondazza dan penumpangnya keluar dengan segera. Marco tidak membawa banyak barang karena ia nyaris tidak memiliki apa-apa. Hanya dua tas pakaian dan bebetapa buku pelajaran bahasa Italia, dan ia siap pergi ke mana pun. Ketika ia masuk ke apartemen barunya, hal pertama yang ia perhatikan adalah tempat itu memiliki pemanas yang memadai. “Nah, begini lebih cocok,” katanya pada Luigi.

“Aku akan memarkir mobil. Lihat-lihat saja dulu.”

Marco berkeliling, menghitung ada empat ruangan dengan perabotan lumayan, tidak berlebihan tapi lompatan yang cukup jauh dari tempat tinggalnya yang terakhir. Hidup tampak lebih baik—sepuluh hari lalu ia mendekam di sel penjara.

Luigi kembali dengan cepat. “Bagaimana pen-dapatmu?” “Kuterima. Terima kasih.” “Kembali.”

“Dan sampaikan ucapan terima kasihku pada orang-orang di Washington juga.

“Kau sudah melihat dapurnya?” tanya Lmgi sambil menjentikkan tombol lampu-

229

“Ya, bagus sekali. Berapa lama aku tinggal di sini, Luigi?”

“Bukan aku yang mengambil keputusan. Kau tahu itu. “Aku tahu.”

Mereka kembali ke ruang duduk. “Beberapa hal yang perlu kusampaikan,” ujar Luigi. “Ermanno akan datang kemari setiap hari untuk belajar. Jam delapan sampai sebelas, lalu jam dua sampai jam lima, atau kapan pun kau ingin berhenti.”

“Bagus sekali. Tolong carikan apartemen baru untuk anak itu, oke? Tempat sampah itu memalukan bagi pembayar pajak Amerika.”

“Yang kedua, ini jalan yang sangat sepi, kebanyakan apartemen. Datang dan pergilah dengan cepat, jangan mengobrol dengan tetangga, jangan cari teman. Ingat, Marco, kau meninggalkan jejak Kalau Je)ak itu cukup besar, seseorang akan dapat menemukanmu.”

“Aku sudah menyimak pada sepuluh kali per-^kau mengatakannya”

j^u begitu simak lagi.” mehCl? |S ^-tetanggaku tidak akan ^UZS1’^ nienyukai tempat rtu. pada sel penjara.”

14

Upacara pemakaman Robert Critz dilangsungkan di mausoleum mirip country club di daerah permukiman mewah di tepi kota Philadelphia, kota kelahirannya tapi juga tempat yang dihindarinya selama paling sedikit tiga puluh tahun terakhir. Ia meninggal tanpa surat wasiat dan tanpa persiapan untuk saat terakhir hidupnya, meninggalkan Mrs. Critz yang malang menanggung beban sendirian, bukan hanya untuk membawanya pulang dati London, tapi juga memutuskan cara yang P^ing pantas untuk membuang jenazahnya. Se-0rang putranya mendesakkan gagasan kremasi da* kuburan rapi berupa lemari marmer yang ^dung dari cuaca. Pada saarJ. , sedia menyetujui rencana apa.p ¦ ^ bai>g tujuh jam menyeberangi Au«

ekonomi) dengan jasad suaminya di suatu tempat di bawahnya, dalam kotak transportasi udara yang dirancang khusus untuk membawa mayat, ia sudah hampir kehilangan kewarasan. Kemudian ditambah kekacauan di bandara ketika tak seorang pun ada di sana untuk menyambutnya dan mengambil alih situasi. Alangkah membingungkan!

Upacara itu hanya dihadiri undangan, syarat yang diajukan oleh mantan presiden Morgan, yang baru dua minggu di Barbados, sepertinya enggan kembali dan dilihat oleh siapa pun. Jika ia benar-benar sedih akibat kematian teman seumur hidupnya, ia tidak menunjukkannya. Ia tawar-menawar perihal detail-detail upacara itu dengan keluarga Critz sampai nyaris saja ia diminta tidak ikut campur. Tanggalnya pun digeser karena permintaan Morgan. Tata cara pemakaman itu tidak sesuai dengan kehendaknya Dengan enggan ia bersedia menyampaikan eulogi, tetapi yang singkat saja Kenyataannya, ia tidak pernah menyukai Mrs. Critz dan Mrs. Critz pun tidak menyukainya.

Bagi sedikit teman dan keluarga, sungguh sukar dipercaya Robert Critz bisa sedemikian mabuk di pub London sehingga terhuyung-huyung di jalan yang ramai dan jatuh di depan mobil yang melaju. Sewaktu autopsi menunjukkan kadar heroin yang cukup tinggi, Mrs. Critz menjadi sangat panik sehingga bersikeras laporan itu dipetieskan

232

dan dikubur dalam-dalam. Ia bahkan tidak mau memberitahu anak-anaknya tentang narkoba itu. Ia begitu yakin suaminya tidak pernah menyentuh obat terlarang—ia memang banyak minum, tapi hanya sedikit orang yang tahu—namun tetap saja ia bertekad untuk menjaga nama baik suaminya.

Polisi London segera menyetujui permintaan penyegelan hasil temuan autopsi itu dan menutup kasus tersebut. Mereka memiliki pertanyaan-pertanyaan sendiri, tapi masih ada banyak kasus yang membuat mereka sibuk, lagi pula ada seorang janda yang tak sabar ingin segera pulang dan melupakan semua itu.

Upacara dimulai pada pukul dua siang pada hari Kamis—Morgan juga yang menentukan waktunya agar pesawat jetnya dapat terbang nonstop dari Batbados ke Philly International—dan berlangsung satu jam. Delapan puluh dua orang yang diundang dan 51 yang datang, kebanyakan lebih penasaran ingin melihat Presiden Morgan daripada mengucapkan salam perpisahan pada Critz. Seorang pendeta semi Protestan yang memimpin. Sudah lebih dari empat puluh tahun Critz tidak melihat bagian dalam gedung gereja, kecuali saat pernikahan dan pemakaman. Pendeta itu menemui kesulitan menghidupkan kenangan akan seorang pria yang tak pernah ditemuinya, dan meskipun upayanya patut diacungi jempol, ia gagal total. Ia

membaca dari kitab Mazmur. Diangkatnya j umum yang bisa digunakan untuk rohaniwan ma” pun pembunuh berantai. Ia mengucapkan kata-J^ penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan, tapi sekali lagi, mereka orang-orang yang tak dikenal-nya.

Bukannya menjadi ucapan selamat jalan yang hangat, upacara tersebut sama dinginnya dengan dinding marmer kelabu kapel tiruan itu. Morgan, dengan kulit kecokelatan yang tampak konyol di bulan Februari, mencoba melontarkan lelucon tentang kawannya pada kerumunan kecil pelayat, tapi ‘u malah rampak tidak tulus dan sepertinya tak sabar ingin segera melompat naik ke jetnya.

Jam-jam yang dilewatkannya di bawah matahari Karibia telah meyakinkan Morgan bahwa kesalahan kampanye pemilihan ulang yang menjadi malapetaka itu sepenuhnya terletak di kaki Robert Critz. h tidak memberitahukan kesimpulan itu pada siapa pun; tidak ada lagi tempat ia mengadu sejak rumah pantai itu hanya dihuni Morgan dan beberapa staf lokal. Namun ia sudah mulai mengemban prasangka, mempertanyakan pertemanan mereka.

Ia tidak tinggal lama ketika upacara itu mulai kehabisan bahan bakar dan akhirnya usai juga. Dengan formalitas ia memeluk Mrs. Critz dan anak-anaknya, bercakap-cakap sebentar dengan beberapa teman lama, berjanji untuk bertemu

beberapa minggu lagi, lalu digiring pergi oleh

pendamping Secret Service-nya. Kamera-kamera berita ditempatkan di sepanjang pagar di luar area tersebut, tapi tidak berhasil menangkap gambar mantan presiden. Ia merunduk di belakang salah satu dari dua van hitam itu. Lima jam kemudian ia sudah berada di tepi kolam renang, menyaksikan matahari terbenam di Karibia.

Sekalipun pemakaman itu hanya menarik sedikit perhatian, tetap saja ada orang-orang yang mengawasinya dengan saksama. Ketika upacara itu berlangsung, Teddy Maynard sudah memiliki daftar ke-51 tamu yang hadir. Tidak ada yang bisa dicurigai. Tidak ada nama yang membuat alis terangkat.

Pembunuhan itu bersih. Hasil autopsinya sudah dikubur, sebagian berkat Mrs. Critz dan sebagian lagi berkat tali-tali yang digerakkan pada aras yang jauh lebih tinggi di atas kepolisian London. Mayat itu sekarang sudah menjadi abu dan dalam waktu singkat dunia akan melupakan Robert Critz. Petualangan coba-cobanya yang tolol dalam kasus hilangnya Backman dapat dihentikan tanpa kerusakan pada rencana.

FBI telah mencoba, dan gagal, menempatkan kamera tersembunyi di dalam kapel itu. Pemiliknya berubah pikiran, lalu menolak keras kendati didesak. Namun ia mengizinkan kamera tersem-

235

bunyi di luar, dan kamera itu menampilkan bar dekat para pelayat ketika mereka datang fo, pergi. Masukan langsung itu disunting, daftar 51 orang itu dengan segera dikumpulkan, dan satu jam sesudah upacara selesai Direktur mendapat penjelasan.

Sehari sebelum kematian Robert Critz, FBI menerima informasi yang sangat mencengangkan. Informasi itu sama sekali tak terduga, tak diharapkan, dan diberikan oleh bajingan korporasi yang sudah putus asa karena dihadapkan pada hukuman empat puluh tahun penjara. Ia adalah manajer dana bersama yang tertangkap basah menggelapkan uang jasa; hanya skandal Wall Street biasa yang melibatkan beberapa miliar dolar. Namun dana bersamanya dimiliki oleh kelompok perbankan internasional, dan selama bertahun-tahun bajingan itu berhasil masuk ke lingkaran dalam inti organisasi. Dana tersebut sangat menguntungkan, • berkat sumbangan bakatnya yang tidak kecil dalam hal penggelapan, sehingga jumlahnya tak bisa diabaikan be^tu saja. la diangkat menjadi salah satu anggota dewan direktur dan diberi kondominium mewah di Bermuda, markas besar perusahaannya yang rahasia.

Dalam keputusasaan untuk mengelak dari hu-

kuman seumur hidup di penjara, ia menjadi murah hati membagikan rahasia. Rahasia perbankan. Uang kotor di luar negeri. Ia menyatakan bisa membuktikan bahwa mantan presiden Morgan, pada hari terakhirnya di Oval Office, telah menjual paling tidak satu pengampunan hukuman dengan imbalan tiga juta dolar. Uang itu dikawatkan dari bank di Grand Cayman ke bank di Singapura, keduanya diam-diam dikendalikan oleh kelompok bank rahasia yang baru ditmggalkannya. Uang itu masih tersembunyi di Singapura, di dalam rekening yang dibuka korporasi fiktif yang sesungguhnya dimiliki oleh kroni lama Morgan. Uang ku, menurut si informan, diperuntukkan bagi Morgan.

Ketika transfer kawat dan rekening-rekening itu sudah dikonfirmasi oleh FBI, tiba-tiba kesepakatan ditawarkan kepadanya. Bajingan itu kini hanya dihadapkan pada dua tahun tahanan rumah yang ringan. Imbalan uang atas grasi presiden merupakan kejahatan yang sensasional sehingga kasus itu menjadi prioritas di Hoover Building.

Informan tersebut tidak berhasil mengidentifikasi uang siapa yang ditransfer keluar dari Grand Cayman, tapi jelas bagi FBI hanya ada dua penerima grasi Morgan yang berpotensi memiliki kemampuan memberikan sogokan sebesar itu. Yang pertama dan paling mungkin adalah Duke Mongo,

f

miliarder uzur yang memegang rekor paling banyak menggelapkan uang dari IRS, setidaknya pada tingkat individual. Dalam kategori korporasi, pemenangnya masih bisa diperdebatkan. Namun demikian, si informan yakin benar bahwa Mongo tidak terlibat dalam hal ini karena ia memiliki sejarah panjang dan buruk dengan bank-bank yang bersangkutan. Ia lebih menyukai perbankan Swiss, dan hal itu dibenarkan oleh FBI.

.Tersangka kedua, tentu saja, adalah Joel Backman Sogokan sekaliber itu tidak mengherankan datang dari operator seperti Backman. Walaupun FBI selama bertahun-tahun yakin Backman tidak menyembunyikan kekayaan, selalu saja ada keragu-raguan. Sewaktu masih menjadi broker ia menjalin hubungan dengan bank-bank di Swiss dan di Karibia Ia menriliki jaringan koneksi rahasia, kontak-kontak yang menduduki jabatan tinggi. Sogokan, upah, kontribusi kampanye, uang jasa melobi—semua itu permainan yang biasa bagi sang broker.

Direktur FBI adalah sosok tahan banting bernama Anthony Price. Tiga tahun sebelumnya ia telah ditunjuk oleh Presiden Morgan, yang lalu berusaha memecatnya enam bulan kemudian. Price meminta waktu tambahan dan mendapatkannya, namun kedua orang itu tak pernah akur. Untuk alasan yang tak pernah bisa diingatnya, Price juga

membuktikan kehebatannya melalui adu pedang dengan Teddy Maynard. Teddy tidak sering kalah dalam perang rahasia melawan FBI, dan ia jelas tidak takut pada Anthony Price, bebek payah terakhir dalam barisan..

Namun Teddy tidak mengetahui konspirasi imbalan pengampunan hukuman yang sekarang menyita seluruh perhatian Direktur FBI. Presiden yang baru telah bersumpah akan menyingkirkan Anthony Price dan memperbarui bironya Ia juga sudah berjanji akan memensiunkan Maynard, rapi ancaman semacam itu sudah sering terdengar di Washington.

Mendadak Price memperoleh kesempatan bagus untuk menyelamatkan pekerjaannya, dan kemungkinan sekaligus juga melenyapkan Maynard. Ia pergi ke White House dan memberikan penjelasan pada Penasihat Keamanan Nasional, yang sudah diberitahu sehari sebelumnya, tentang rekening mencurigakan di Singapura itu. Ia memiliki implikasi kuat bahwa mantan presiden Morgan terlibat dalam konspirasi ini. Ia menyarankan dengan tegas agar Joel Backman ditemukan dan dibawa kembali ke Amerika Serikat untuk ditanyai dan mungkin dikenai tuduhan. Kalau terbukti benar, ini akan menjadi skandal yang mengguncang, unik, dan amat bersejarah. Penasihat Keamanan Nasional mendengarkan

238

239

dengan saksama. Setelah taklimat selesai, ia langsung menuju kantor Wakil Presiden, memerintahkan seluruh staf keluar, mengunci pintu, dan menumpahkan segala hal yang baru saja didengarnya. Bersama-sama, mereka memberitahu Presiden.

Seperti biasa, tak ada belas kasihan di antara orang yang kini berkantor di Oval Office dengan pendahulunya. Kampanye mereka sama-sama dibanjiri niat tak baik dan trik-trik kotor yang telah menjadi standar tingkah laku dalam politik Amerika. Bahkan setelah terjadinya kekalahan bak tanah longsoi hebat dan kegembiraan setelah berbasil menduduki White House, presiden yang baru pun masih belum bersedia mengangkat dirinya dari lumpur Ia menyukai gagasan untuk sekali lagi mempermalukan Arthur Morgan. Ia membayangkan dirinya sendiri, setelah adanya pengadilan dan vonis sensasional turun tangan pada detik tetakhir dengan memberikan pengampunan untuk menyelamatkan citra kepresidenan.

Sungguh momen yang luar biasa! Pada pukul enam keesokan paginya, Wakil Presiden diantar dengan mobil antipeluru seperti biasa ke markas besar C1A di Langley. Tadinya Direkrut Maynard dipanggil ke White House, namun meminta izin untuk tidak datang, dengan alasan ia menderita vertigo dan terkurung di kantornya

atas perintah dokter-dokternya. Ia «ering tidur dan makan di sana, terutama bila vertigonya sedang menyerang dan membuatnya sakit kepala. Vertigo adalah salah satu dalihnya yang betguna.

Pertemuan itu berlangsung singkat. Teddy duduk di ujung meja rapatnya yang panjang, di kursi rodanya, terbungkus selimut rapat-rapat, dengan Hoby di sisinya. Wakil Presiden masuk dengan hanya seorang ajudan, dan setelah basa-basi canggung tentang pemerintahan yang baru dan sebagainya, ia berkata, “Mr. Maynard, aku datang kemari untuk mewakili Presiden.”

Tentu saja,” kata Teddy dengan senyum kaku. Ia menduga akan dipecat; akhirnya, setelah delapan belas tahun dan berbagai ancaman, inilah saatnya. Akhirnya, presiden yang memiliki batu-batunya ; sendiri untuk menggantikan Teddy Maynard. Ia telah menyiapkan Hoby untuk saat-saat seperu itu. Sementara mereka menunggu Wakil Presiden, Teddy telah mengemukakan ketakutannya.

Seperti biasa Hoby mencoret-coret notesnya, menunggu menuliskan kata-kata yang telah dikhawatirkannya selama bertahun-tahun: Mr. Maynard, Presiden meminta Anda mengundurkan diri.

Namun sebaliknya, Wakil Presiden mengatakan sesuatu yang sungguh * Maynard, Presiden ingin tahu tentang s

man.”

Tak ada sesuatu pun yang dapat membuai Teddy Maynard berjengit. “Ada apa dengan Joel Backman?” ia bertanya tanpa ragu-ragu.

“Beliau ingin tahu di mana ia berada dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membawanya pulang.”

“Mengapa?”

“Aku tidak bisa mengatakannya.”

“Kalau begitu aku juga tidak bisa.”

“Hal ini penting sekali bagi Presiden.”

“Aku menghormati hal itu. Tapi Mr. Backman sangat penting artinya bagi operasi kami saat ini.”

Wakil Presiden-Iah yang pertama kali mengerjap. Ia menoleh ke arah ajudannya, yang juga sibuk dengan catatannya sendiri dan sama sekali tak berguna. Untuk alasan apa pun mereka tidak akan memberitahu CIA tentang transfer kawat dan imbalan atas pengampunan hukuman itu. Teddy akan mencari cara untuk memanfaatkan informasi tetsebut demi kepentingannya sendiri. Ia akan mencuri temuan emas mereka dan lolos lagi. No sir, Teddy harus memilih akan bermain bersama mereka atau pada akhirnya dipecat.

Wakil Presiden menggeser sikunya lebih ke depan dan berkata, “Presiden tidak akan berkompromi dalam hal ini, Mr. Maynard. Beliau akan mendapatkan informasi itu, dan ia akan mendapatnya segera. Kaku tidak, beliau meminta pengun-duran dm Anda. r 6

“Ia tidak akan mendapatkannya.” “Perlukah aku memberitahu Anda bahwa Anda mengabdi padanya?” Tidak perlu.”

“Bagus. Perintahnya jelas. Anda datang ke White House membawa arsip Backman dan membicarakannya panjang-lebar dengan kami, atau CIA akan segera mendapatkan direktur baru.”

“Keterusterangan semacam itu sungguh langka di kalangan Anda, Sir, dengan segala hormat.”

“Aku akan menerimanya sebagai pujian.”

Pertemuan itu pun usai.

Seperti bendungan bocor, Hoover Building boleh dikata menyiramkan gosip ke jalan-jalan Washington. Dan yang mengumpulkannya, di antara yang lain, adalah Dan Sandberg dari The Washington Post. Namun sumber-sumbernya jauh lebih baik daripada jurnalis investigasi kebanyakan, dan tak butuh waktu lama sebelum ia mencium skandal dalam urusan pengampunan hukuman itu. Ia mengaktifkan mata-matanya di pemerintahan White House yang baru dan mendapatkan sebagian konfirmasi. Garis besar kisah itu mulai terbentuk, tapi Sandberg tahu detail-detail yang penting hampir mustahil dikonfirmasi kebenarannya. Ia tidak berharap akan melihat catatan tentang transfer tersebut.

iaa —

Namun bila cerita ini benar—presiden va masih menjabat menjual pengampunan hukun^j untuk imbalan uang pensiun yang tidak sedikit— Sandberg tidak bisa membayangkan cerita yang – lebih hebat lagi. Seorang mantan presiden dikenai dakwaan, diadili, barangkali divonis dan dikirim ke penjara. Benar-benar tak terbayangkan.

Ia sedang berada di meja kerjanya yang sarat ketika datang telepon dari London. Dari teman lama, sesama wartawan kawakan yang menulis untuk The Guardian. Mereka berbicara selama beberapa menit tentang pemerintahan yang baru, yang merupakan topik resmi di Washington. Lagi pula saat itu bulan Februari, dengan salju menumpuk tebal di tanah dan Kongres tenggelam dalam pekerjaan komite tahunannya. Hidup berjalan relatif lambat dan tidak banyak yang bisa dibicarakan.

“Ada kabar tentang kematian Bob Critz?” tanya temannya.

“Tidak ada, hanya ada pemakamannya kemarin,” “hut Sandberg. “Kenapa?”

Ada bfberaPa pertanyaan rentang bagaimana si IZ8 ^itu Ditambah lagi, kami tidak

*«pLe^s** Kuki-m Tyans

“Mungkin begitu pat. Tidak ada S» T dltutuP dengan sangat ce-a *onW, asal kau tahu, hanya

acrali-gali ka1^ ada sesuatu J^g lin^ di I ^-ara akan menelepon beberapa orang,” kata f’ rjjjdbetg yang kecurigaannya sudah timbul.

“Lakukanlah. Kita akan mengobrol lagi besok [ atau lusa.”

Sandberg menutup telepon dan menatap monitor komputernya yang kosong. Critz pasti ada di sana . f ketika pengampunan hukuman pada detik terakhir itu diberikan oleh Morgan. Mengingat sifat paranoia mereka, kemungkinan besar hanya Critz yang ada di Oval Office bersama Morgan ketika keputusan itu diambil dan dokumen-dokumennya ditandatangani.

Barangkali Critz tahu terlalu banyak.

Tiga jam kemudian, Sandberg terbang dari Dulles menuju London.

245

15

Jauh sebelum matahari terbit, Marco sekali lagi terjaga di ranjang asing di tempat yang asing, dan untuk waktu lama bersusah payah mengumpulkan pikirannya—mengingat langkah-langkahnya, menganalisis situasinya yang janggal, merencanakan bannya, berusaha melupakan masa lalunya sambil mencoba memperkirakan apa yang akan terjadi dalam dua belas jam mendatang. Tidurnya sama se-“dak nyenyak. Ia terlelap selama beberapa jam; rasinya empat atau lima jam, tapi ia tidak yakin ka-^ta^rya ^ kecil dan hangat masih gelap jatuh tertlduTT ^””^ ^perti biasa, ia Italia yangcltb malam den^ &M

Ia bersyukur ^^g-ngiang di telinganya, membuatnya W . Udara yang hangat. Met^ ^gmandiRudlVdarhoteltem

perhentiannya yang terakhir pun tak kalah

Pat. „,„ Apartemen baru ini memiliki dinding Inginnya- *v …

bal jendela, dan sistem pemanas yang bekerja dcua’t tenaga. Setelah memutuskan harinya su-jjh dirancang dengan baik, perlahan-lahan ia menapakkan kakinya di lantai ubin yang sangat hangat dan sekali lagi berterima kasih pada Luigi atas petgantian tempat tinggal ini.

Tidak jelas berapa lama ia akan tinggal di sini, seperu juga masa depan yang mereka rencanakan untuknya. Dihidupkannya lampu dan diperiksanya arloji—hampir pukul lima. Di kamar mandi ia menyalakan lampu lain dan meneliti dirinya sendiri di cermin. Kumis yang tumbuh di bawah hidung dan di sepanjang sisi mulutnya dan menutupi dagunya telah berubah lebih kelabu daripada yang diharapkannya! Bahkan, setelah seminggu dipelihara, jelas bahwa jenggotnya akan terdin atas sembilan puluh persen rambut kelabu, dengan ditingkahi sedikit warna cokelat di sana-sini. Persetan. Umurnya sudah 52 tahun. Ini bagian penyamaran dan usahanya untuk tampak berbeda. De«gan wajah tirus, pipi cekung, rambut dipotong Pendek, dan kacamata buatan desainer dengan blngkai persegi tfuig trendi, dengan mudah ia o> >*nl sebagai Marco Lazzeri di jalanan manapun

di Bo

°gna. Atau Mi

ilan arau Florence atau tempat

mana pun yang ingjn dikunjunginya-

246

Satu jam kemudian ia melangkah ke luar, di bawah portico yang dingin dan diam, dibangun para pekerja yang telah mati tiga ratus tahun lalu.! Angin bertiup tajam dan menggigit, dan sekali lagi ia mengingatkan diri sendiri untuk mengeluhkan kurangnya pakaian musim dingin yang memadai pada pengawasnya. Marco tidak membaca surat kabar dan tidak menonton televisi, dan karena itu tidak mengetahui ramalan cuaca. Tapi jelas udara semakin dingin.

Ia tenis berjalan di bawah portico rendah sepanjang Via Fondazza, menuju universitas, satu-satunya j sosok yang tampak bergerak. Ia tidak mau melihat peta yang tersimpan di sakunya. Kalau tersesat, ia akan mengeluarkannya dan mengakui kekalahan keen, tapi ia sudah bertekad akan mengenal kota ini dengan berjalan kaki dan mengamati. Tiga puluh menit kemudian, dengan matahari yang akhirnya menampakkan tanda-tanda kehidupan, ia sampai di Via Itnerio di tepi utara kompleks universitas. Dari jendela depan ia melihat segumpal rambut kelabu lebat. Rudolph sudah ada di sana.

Karena kebiasaan, Marco menunggu sejenak Ia menoleh ke Via Irnerio, dari arah datangnya tadi, menanti seseorang mengendap-endap keluar dari bayang-bayang seperti anjing bloodhound. Ketika tak ada orang yang muncul, ia pun masuk. “Kawanku Marco,” kau Rudolph dengan seulas

senyum ketika mereka bertukar sapa. “Silakan duduk.”

Kafe itu batu separo penuh, dengan tipe akademisi yang sama yang tetbenam dalam koran pagi, hanyut dalam dunia mereka sendiri. Marco memesan cappuccino sementara Rudolph mengisi kembali pipa meerschaum-nyz. Aroma yang menyenangkan menyelimuti sudut kecil mereka yang nyaman.

“Aku menerima pesanmu tempo hari,” Rudolph berkata sambil mengembuskan segumpal asap pipa ke seberang meja. “Menyesal tidak bertemu dengan-I mu. Nah, dari mana saja kau?”

Marco tidak pergi ke mana-mana, tapi sebagai turis Kanada berdarah Italia ia telah mengumpulkan rancangan perjalanan palsu. “Beberapa hari di Flo- • rence,” ujarnya. “Ah, kota yang cantik.”

Mereka beibicara tentang Florence selama beberapa saat, dengan Marco mengoceh tentang situs, karya seni, dan sejarah tempat-tempat yang hanya diketahuinya dari buku panduan murahan yang dipinjamkan Ermanno kepadanya. Dalam bahasa Italia, tentu saja, yang berarti ia telah bekerja keras berjam-jam dengan kamus untuk menerjemahkannya menjadi bahan pembicaraan yang bisa diobrolkannya dengan Rudolph seolah ia telah menghabiskan berminggu-minggu di sana.

049

Meja-meja lain mulai penuh dan para pefw jung yang darang belakangan berkumpul di sekjt bar. Luigi reJah menjelaskan padanya bahwa j-Eropa, kalau kau mendapatkan meja, meja itu akan menjadi miliknya sepanjang hari. Tidak ada orang yang terburu-buru keluar supaya orang lain bisa duduk. Secangkir kopi, surat kabar, rokok, dan tak ada yang peduli berapa lama kau menahan meja sementara orang lain datang dan pergi.

Mereka memesan minuman lagi dan Rudolph mengisi kembali pipanya. Untuk pertama kali Marco memerhatikan noda tembakau di jenggot liar yang paling dekat dengan mulutnya. Di meja tergeletak tiga surat kabar, semua dalam bahasa Italia.

“Apakah ada koran berbahasa Inggris yang bagus di Bologna?” tanya Marco. “Kenapa kau bertanya?”

“Oh, entahlah. Kadang-kadang aku ingin tahu apa yang terjadi di seberang samudra.”

“Sesekali aku membeli Herald Tribune. Membuatku bahagia karena aku tinggal di sini, jauh dari segala kejahatan dan lalu lintas dan polusi dan politisi dan skandal. Masyarakat Amerika Serikat sudah bobrok. Dan pemerintahannya berada pada titik tertinggi kemunafikan—negara paling demokratis di dunia. Babi Kongres itu dibeli dan diupah oleh pihak-pihak yang kaya.”

Ketika tampaknya ia sudah siap meludah, Rudolph sekonyong-konyong menyedot pipanya dan mulai menggigiti gagangnya. Marco menahan napas, menunggu serangan beracun pada Amerika Serikat. Sesaat berlalu; mereka menyesap kopi masing-masing.

“Aku benci Pemerintah Amerika Serikat,” gerutu Rudolph dengan getir.

Nah, anak baik, pikir Marco. “Bagaimana dengan Kanada?” ia bertanya.

“Aku memberimu nilai yang lebih tinggi. Sedikit lebih tinggi.”

Marco berpura-pura lega dan memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan. Ia berkata sedang mempertimbangkan akan pergi ke Venesia. Tentu saja Rudolph sudah berkali-kali pergi ke sana dan punya banyak nasihat. Marco bahkan mencatatnya, seolah tidak sabar ingin segera melompat ke kereta. Dan tentu saja ada Milano, walaupun Rudolph tidak terlalu tertarik dengan adanya “fasis sayap-kanan” yang berkeliaran di sana. “Tempat itu adalah pusat kekuasaan Mussolini, kau tahu, katanya sambil mencondongkan tubuh ke depan seolah Komunis-Komunis lain di Bar Fontana akan menyulut huru-hara ketika mendengar seseorang menyebutkan nama diktator tersebut.

Ketika menjadi jelas bahwa Rudolph tak keberatan duduk dan bercakap-cakap sepanjang pagi,

Marco mulai berpamitan. Mereka sepakat untuk bertemu Jagi di tempat yang sama dan waktu yang sama. Senin depan.

Salju tipis turun, meninggalkan jejak ban mobil pengantar di Via Irnerio. Ketika meninggalkan kafe yang hangat itu, Marco sekali lagi mengagumi para perencana kota Bologna zaman dulu kala, yang telah merancang trotoar beratap sejauh hampir tiga puluh kilometer di area kota lama. Ia pergi sejauh beberapa blok ke timur dan berbelok ke selatan di Via deh” Indipendenza, jalan lebar dan anggun yang dibangun sekitar tahun 1870-an agar penduduk kelas atas yang tinggal di pusat kota dapat berjalan dengan nyaman ke stasiun kereta di sebelah utara j kota. Ketika menyeberangi Via Marsala, rak sengaja j ia menginjak gundukan salju yang baru dikeruk dan mengernyit ketika salju merembes membasahi kaki kanannya.

Ia menyumpahi Luigi karena tidak memberinya pakaian yang selayaknya—cuaca semakin dingin, sewajarnyalah bila orang membutuhkan sepatu bot. Pemikiran itu memicu rentetan tutukan dalam hati tentang kurangnya dana yang Marco terima dari «apa pun yang bertanggung jawab atas kesejahteraannya sekarang. Mereka membuangnya’ di Bologna, Italia, dan mereka jelas menghabiskan banyak uang untuk pelajaran bahasa, tempat tinggal, personalia, dan terutama makanan untuk

menjaganya tetap hidup. Menurut pendapatnya, mereka hanya menyia-nyiakan waktu dan uang. Akan lebih baik kalau ia diselundupkan ke London atau Sydney yang dihuni banyak orang Amerika dan semua orang bicara bahasa Inggris. Ia bisa membaur lebih mudah di sana.

Orang yang bersangkutan menjajari langkahnya. “Buon giorno,” sapa Luigi.

Marco menghentikan langkahnya, tersenyum, mengulurkan tangan untuk bersalaman, dan berkata, “Well, buon giorno, Luigi. Kau membuntutiku J W

Tidak, aku baru keluar untuk jalan-jalan dan

melihatmu berjalan di sisi seberang. Aku menyukai

salju, Marco. Bagaimana denganmu?”

Mereka berjalan lagi, dengan tempo santai. Marco ingin memercayai temannya, tapi ia tidak yakin pertemuan mereka sekadar kebetulan. “Oke-oke saja Lebih indah di Bologna sini ketimbang di Washington, D.C., saat jam sibuk Apa sebenarnya yang kaulakukan sepanjang hari, Luigi? Kalau kau tak keberatan aku bertanya?”

Tidak apa-apa. Kau boleh bertanya apa saja.”

“Itulah yang kupikirkan. Begini, aku punya dua keluhan. Tiga, sebenarnya.”

“Tak mengherankan. Kau sudah minum kopi?”

“Sudah, tapi aku mau minum lagi.”

Luigi mengedikkan dagu ke arah kafe kecil

253

di sudut jalan di depan mereka. Mereka masak dan mendapati semua meja sudah ditempati, jadi mereka berdiri bersama kerumunan di bar dan menyesap espresso. “Apa keluhanmu yang pertama?” tanya Luigi dengan suara rendah.

Marco beringsut mendekat, boleh dibilang hidung mereka nyaris bersentuhan. “Dua keluhan yang pertama sangat erat kaitannya. Pertama, soal uang. Aku tidak minta banyak, tapi aku ingin memiliki semacam uang saku. Tidak ada orang yang menyukai j kondisi bokek, Luigi. Aku akan lebih senang kalau punya sedikit uang tunai di kantongku dan tahu aku tak pedu menyimpannya.” “Berapa?”

“Oh, entahlah. Sudah lama sekali aku tidak menegosiasikan uang saku. Bagaimana kalau seratus euro seminggu, sebagai permulaan. Dengan begitu aku bisa membeli koran, buku, majalah, makanan—kau tahu, kebutuhan dasar. Paman Sam membayar uang sewaku dan aku sangat berterima kasih. Bahkan sebenarnya, ia membayar uang sewaku selama enam tahun terakhir.”‘

“Bisa saja kau masih di penjara sekarang ini.”

“Oh, terima kasih, Luigi. Hal itu tak pernah terlintas di kepakku.”

“Maaf, seharusnya aku tidak berkata begitu—”

“Dengar, Luigi, aku beruntung berada di sini, oke? Tapi, pada saat yang bersamaan, aku sekarang

ffaIga negara yang sudah mendapatkan pengampunan penuh, warga negara mana aku tak tahu, pokoknya aku punya hak untuk diperlakukan de– „gan sedikit hormat. Aku tidak suka bokek, dan aku tidak suka mengemis-emis demi uang. Aku ingin kau menjanjikan seratus euro seminggu.” “Akan kulihat apa yang bisa kulakukan.” Terima kasih.” “Keluhan yang kedua?”

“Aku mau minta uang untuk membeli beberapa pakaian. Sekarang ini kakiku kedinginan karena di luar turun salju dan aku tidak punya sepatu yang memadai. Aku juga ingin punya mantel yang lebih tebal, mungkin beberapa sweter.”

“Nanti kubelikan.”

Tidak, aku mau membelinya, Luigi. Beri aku uang dan aku akan berbelanja sendiri. Aku tidak minta banyak kok.”

“Akan kuatur.”

Mereka saling menjauh beberapa sentimeter dan masing-masing menyesap kopi. “Keluhan ketiga?” tanya Luigi.

“Soal Ermanno. Ia sudah kehilangan minat. Kami melewatkan enam jam bersama dan ia mulai bosan dengan segalanya.”

Luigi memutar mata frustrasi. “Aku tidak bisa sekadar menjentikkan jari dan menemukan guru bahasa yang baru, Marco.”

254

“Kau saja yang mengajariku. Aku menyukaimu, Luigi, kita akan bersenang-senang bersama. Kau tahu Ermanno itu membosankan. Ia masih muda dan ingin tetap bersekolah. Tapi kau bisa jadi gum yang baik.” “Aku bukan guru.”

“Kalau begitu tolong carikan guru yang baru. Ermanno tidak ingin melakukannya. Aku khawatir aku ridak maju-maju.”

Luigi membuang muka dan mengamati dua pria j tua masuk dan terseok-seok lewat. “Ia memang sudah harus pergi,” ujarnya. “Seperti yang kaukatakan, ia ingin kembali ke sekolah.”

“Masih berapa lama lagi aku harus belajar bahasa?”

Luigi menggeleng seolah ia tidak tahu. “Bukan aku yang membuat keputusan.”

“Aku punya keluhan keempat.”

“lima, enam, tujuh. Mari kita dengarkan semuanya, lalu mungkin kita bisa melewatkan beberapa minggu tanpa keluhan.”

“Kau sudah pernah mendengarnya, Luigi. Semacam syarat yang terus kuminta.”

“Apakah soal pengacara?”

“Kau terlalu banyak menonton film Amerika. Aku sebenarnya ingin ditransfer ke London. Ada sepuluh juta manusia di sana, mereka semua berbahasa Inggris. Aku tidak akan menghabiskan

sepuluh jam per hari untuk mempelajari bahasa baru. Jangan salah, Luigi, aku suka bahasa Italia. Semakin banyak yang kupelajari, semakin indah kedengarannya. Tapi, pikirkanlah, kalau kau mau menyembunyikan aku, buanglah aku di tempat yang memungkinkanku untuk bertahan hidup.”

“Aku sudah menyampaikan hal ini, Marco. Bukan aku yang membuat keputusan.”

“Aku tahu, aku tahu. Tapi tolong desaklah te-1 rus.”

“Ayo kira pergi.”

Salju turun semakin deras ketika mereka meninggalkan kafe dan kembali menyusuri trotoar bernaungan. Orang-orang bisnis yang berpakaian rapi melewati mereka dalam perjalanan ke tempat kerja. Orang-orang yang belanja pagi-pagi sudah keluar—kebanyakan ibu-ibu rumah tangga yang pergi ke pasar. Jalanan sibuk, dipenuhi mobil kecil dan skuter yang meliuk-liuk di sekitar bus-bus kota dan berusaha menghindari gundukan salju basah.

“Di sini sering turun salju?” tanya Marco.

“Beberapa kali setiap musim dingin. Tidak banyak, dan ada portico cantik ini yang melindungi kita agar tidak basah.”

“Keputusan yang pintar.”

“Beberapa bahkan berusia ribuan tahun. Jumlahnya lebih banyak daripada kota-kota lain di dunia, kau tahu?”

Tidak. Aku tidak banyak membaca, Luigi. Kalau aku punya uang. aku bisa membeli buku, lalu aku bisa membaca dan mempelajari hal-hal semacam itu.”

“Uangnya akan kuberikan saat makan siang nanti.”

“Makan siangnya di mana?” “Ristorante Cesarina, Via San Stefano, pukul satu?”

“Bagaimana aku bisa menolak?”

Luigi sedang duduk dengan seorang wanita di meja dekat bagian depan restoran ketika. Marco tiba, lima menit lebih awal. la menyela percakapan yang serius. Wanita itu berdiri, dengan enggan, dan menawarkan jabat tangan lemah dan tampang masam ketika Luigi memperkenalkannya sebagai Signora Francesca Ferro. Ia wanita yang menarik, berusia pertengahan empat puluhan, mungkin agak-terlalu tua untuk Luigi, yang sering memelototi gadis-gadis kuliahan. wanita ini memancarkan kesan sebal yang anggun. Sampai-sampai Marco ingin berkata: Maaf, rapi aku diundang ke sini untuk makan siang.

Sementara mereka menduduki kursi masing-masing Marco memerhatikan dua puntung rokok yang telah diisap sampai habis di asbak. Gelas air Luigi hampir kosone n,— .

& F 8’ Dua °«ng ini sudah duduk

di sini paling tidak selama dua puluh menit. Dengan bahasa Italia yang diucapkan lambat-lambat, Luigi berkata kepada Marco, “Signora Ferro adalah guru bahasa dan pemandu tur setempat.” Ia berhenti, Marco mengucapkan “Si” pelan.

Marco melirik Signora dan tersenyum, dan wanita itu membalasnya dengan senyum enggan. ; Belum-belum calon gurunya sudah tampak bosan dengannya.

Luigi melanjutkan dalam bahasa Italia. “Ia guru bahasamu yang baru. Ermanno akan mengajarmu di pagi hari, dan Signora Ferro pada siang hari.” Marco memahami semuanya. Ia memaksakan senyum palsu ke arah wanita itu dan berkata, “Va bene.” Bagus.

“Ermanno ingin melanjutkan kuliahnya di universitas minggu depan,” Luigi menjelaskan.

“Sudah kuduga,” ujar Marco dalam bahasa Inggris.

Francesca menyulut rokok lagi dan mengerucur-kan bibirnya di batang rokok tersebut. Ia mengembuskan segumpal awan asap dan bertanya, “Jadi bagaimana bahasa Italia-mu?” Suaranya terdengar berat, nyaris parau, tak ragu lagi akibat merokok bertahun-tahun. Bahasa Inggris-nya lambat-lambat, sangat bagus, dan tanpa aksen.

“Buruk sekali,” jawab Marco.

“Dia baik-baik saja,” sela Luigi. Pelayan datang

membawa sebotol air mineral dan memberikan tiga daftar menu. Lm signer* menghilang di balik menunya. Marco ikut-ikutan. Suasana sunyi yang panjang menyusul sementara mereka memilih makanan dan tak menghiraukan satu sama lain.

Ketika menu-menu itu akhirnya diturunkan, Francesca berkata kepada Marco, “Aku ingin mendengarmu memesan dalam bahasa Italia.”

‘Tidak masalah,” sahut Marco. Ia menemukan beberapa hidangan yang bisa diucapkannya tanpa memicu tawa. Pelayan muncul dengan bolpoinnya dan Marco berkata, “Si, allora, vorrei un’insalata di pamodori, e una mezza porzione di lasagna.” Ya, oke, aku mau salad dengan tomat dan setengah porsi lasagna. Sekali lagi ia bersyukur dengan adanya makanan-makanan trans-Adanrik seperti spaghetti, lasagna, ravioli, pasta.

“Non c’e male,” ujar Francesco. Tidak buruk. Ia dan Luigi berhenti merokok ketika hidangan salad datang. Menyantap makanan memberi mereka jeda dalam percakapan yang canggung. Tak ada yang menawarkan anggur, walaupun minuman itu sangat dibutuhkan.

Masa lalu Marco, hidup wanita itu saat ini, dan pekerjaan Luigi yang tak jelas adalah topik-topik yang verboden, jadi sambil menikmati makan siang mereka terapung-apung dan meliuk-liuk dalam percakapan ringan tentang cuaca, yang untungnya sebagian besar berlangsung dalam bahasa Inggris

Ketib espresso sudah habis, Luigi membayar tagihan dan mereka segera keluar dari restoran. Sementara itu; dan ketika Francesca tidak melihat, Luigi menyelipkan amplop kepada Marco dan berbisik, “Ini ada beberapa euro.”

“Grozie.”

Hujan salju sudah’ berhenti, matahari muncul dan bersinar terang. Luigi meninggalkan mereka di Piazza Maggiore dan menghilang, seperti yang hanya bisa dilakukan olehnya. Mereka berjalan dalam diam beberapa waktu, sampai Francesca bertanya, “Che cosa vorrebbe vedere?” Apa yang ingin kaulihat?

Marco belum sempat masuk ke katedral, Basilica di San Petronio. Mereka berjalan ke arah undakan depannya yang melengkung, lalu berhenti. Tempat ini cantik sekaligus sedih,” katanya dalam bahasa Inggris, dengan setitik aksen Inggris yang baru kali ini terdengar. “Mulanya ini dibangun oleh dewan kota sebagai balai kota, bukan katedral, melawan kehendak paus di Roma. Desain aslinya lebih besar daripada Katedral Santo Petrus, namun dalam prosesnya rencana itu gagal. Roma menentangnya dan mengalihkan dananya ke tempat lain, sebagian diberikan untuk mendirikan universitas.”

“Kapan ini dibangun?” tanya Marco.

“Katakan dalam bahasa Italia,” perintahnya.

“Aku tidak bisa.”

“Kalau begini dengarkan: ‘Quando e stata cos. trutia?’ Coba tirukan.”

Marco menirukannya empat kali sebelum Francesca puas.

“Aku tidak percaya pada pengajaran dengan buku, kaset, dan sebagainya,” jelas Francesca ketika mereka mendongak mengamati katedral yang besar itu. “Aku lebih percaya pada percakapan. Untuk mempelajari bahasa, kau harus mengucapkannya, berulang-ulang, seperti ketika kau masih kecil.”

“Di mana kau belajar bahasa Inggris?” tanya Marco.

“Aku tidak bisa menjawabnya. Aku sudah diberi instruksi untuk tidak mengatakan apa pun tentang masa laluku. Dan masa lalumu juga.”

Sejenak lamanya Marco sudah hampir berbalik dan pergi. Ia muak dengan orang-orang yang tidak bisa berbicara padanya, yang mengelak dari pertanyaannya, yang bertingkah seolah seluruh dunia ini penuh mata-mata. la sudah muak pada segala bentuk permainan.

Ia manusia bebas, ujarnya selalu pada diri sendiri, sepenuhnya bisa datang dan pergi dan membuat keputusan apa pun yang diinginkannya. Kalau ia muak pada Luigi dan Ermanno dan sekarang Signora Ferro, ia pun bisa menyumpahi mereka semua, dalam bahasa Italia, agar tercekik panino.

“Pembangunan dimulai pada tahun 1390, dan

semua berlangsung mulus selama beberapa ratus

tahun,” ujarnya. Sepertiga bagian bawah tampak muka katedral tersebut merupakan marmer merah muda yang indah; dua pertiga selebihnya berupa batu bata cokelat yang buruk yang belum dilapisi marmer. “Lalu halangan datang. Jelas terlihat, bagian luarnya tak pernah selesai.” “Tidak terlalu cantik.”

“Memang tidak, tapi menggelitik. Kau mau melihat ke dalam?”

Memangnya apa yang akan ia lakukan selama tiga jam mendatang? “Certamente, “jawab Marco.

Mereka menaiki undakan dan berhenti di pintu depan. Francesca menatap papan pengumuman dan betkata, “Mi dica.” Katakan padaku. “Jam berapa gereja ini tutup?”

Marco mengerutkan kening dalam-dalam, melatih beberapa kata, lalu berkata, “La chiesa chiude die sei.” Gereja tutup pukul enam. “Ripeta.”

Marco mengulangnya tiga kali sebelum Francesca menyuruhnya berhenti, lalu mereka masuk. “Katedral ini diberi nama untuk menghormati Petronio, santo pelindung Bologna,” ia berkata pelan. Lantai utama katedral tersebut cukup luas untuk pertandingan hoki dengan banyak penonton di kedua sisinya. “Besar sekali,” ujar Marco rer-kagum-kagum.

‘ia, padahal ini sekitar seperempat rancangan aslinya. Sekali lagi, Paus khawatir dan memberikan tekanan. Pembangunannya menyerap banyak sekali uang rakyat, dan akhirnya orang bosan melanjutkannya.”

“Tapi tetap saja sangat mengesankan.” Marco sadar betul mereka bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, yang sesuai dengan harapannya.

“Kau mau tur panjang atau pendek?” tanya Francesca. Walaupun suhu di dalam nyaris sedingin udara di luar, Signora Ferro tampaknya mulai mencair sedikit “Kau kan gurunya,” jawab Marco. Mereka berjalan ke sisi kiri dan menunggu serombongan kecil turis Jepang selesai mempelajari makam besar yang rerbuat dari marmer. Selain orang-orang Jepang itu, tak ada orang lain lagi di dalam katedral. Saat iru hari Jumat di bulan Februari, bukan musim turis. Sore harinya Marco mengetahui bahwa pekerjaan Francesca yang sangat tergantung musim turis memang agak sepi pada bulan-bulan musim dingin. Pengakuan itu satu-satunya data pribadi yang bersedia diakuinya.

Karena pekerjaan sedang sepi, Francesca tidak harus terburu-buru di dalam Basilica di San Petronio. Mereka melihat 22 kapel kecil yang ada di sana dan mengamari hampir semua lukisan, patung, hasil karya dari gelas, dan lukisan dinding. Kapel-

264

kapel tersebut dibangun oleh keluarga-keluarga kaya di Bologna yang mengeluarkan banyak uang untuk karya-karya seni tanda peringatan. Pembuatannya membentuk sejarah kota itu, dan Francesca mengetahui setiap rinciannya. Ia menunjukkan pada Marco tengkorak Santo Petronio yang terawat baik yang diletakkan di altar, dan jam astrologi yang diciptakan pada tahun 1655 oleh dua ilmuwan yang sangat meyakini hasil-hasil penelitian Galileo di universitas.

Walau terkadang bosan dengan penjelasan mendetail tentang lukisan dan patung, dan kewalahan dengan begitu banyak nama dan tanggal, Marco tetap bertahan sementara tur berlangsung lambat mengelilingi bangunan besar itu. Suara Francesca menawan hatinya, cara bicaranya yang lambat dan betat, bahasa Inggris-nya yang apik dan sempurna.

Lama sesudah rombongan turis Jepang tadi meninggalkan katedral, mereka akhirnya kembali di pintu depan dan Francesca berkata, “Sudah cukup?” “Ya.”

Mereka keluar dan Francesca langsung menjulur

rokok.

“Bagaimana kalau minum kopi?” ujar Marco.

“Aku tahu tempat yang tepat.”

,, .___ —„nvrbcranei jalan menuju

Marco mengikutinya menyeoerai B , ,

i i Mna langkah kemudian mereka Via Clavature; beberapa langKa/.

265

masuk ke Rosa Rose. “Cappuccino paling nikmat di lapangan ini,” Francesca meyakinkannya sesudah memesan dua cangkir di bar. Marco hendak bertanya tentang larangan memesan cappuccino selewat pukul setengah sebelas pagi, tapi mengurungkan

diri. Sambil menunggu, dengan hati-hati Francesca

melepas sarung tangan kulit, syal, serta mantelnya.

Mungkin acara minum kopi ini akan berlangsung

agak lama.

Mereka memilih meja di dekat jendela depan. Francesca menambahkan dua bongkah gula hingga segalanya sedemikian tepat. Ia tidak pernah tersenyum selama tiga jam terakhir, dan Marco pun tidak mengharapkannya sekarang.

“Aku punya salinan bahan-bahan pelajaran yang kaugunakan dengan guru yang satu lagi,” ujar Francesca sambil meraih rokok. “Ennanno.”

“Terserahlah, aku tidak kenal dia. Kusarankan setiap sore kita melatih percakapan berdasarkan apa yang kalian pelajari pagi harinya.”

Marco tidak bisa membantah apa pun yang ia usulkan. “Terserah,” ujarnya sambil mengangkat

bahu.

Francesca menyulut rokoknya, lalu menyesap kopinya.

“Apa yang diceritakan Luigi tentang diriku?” tanya Marco.

“Tidak banyak. Kau orang Kanada. Kau sedang liburan panjang keliling Italia dan ingin mempelajari bahasanya. Apakah itu benar?”

“Kau menanyakan pertanyaan pribadi?”

“Tidak, aku cuma bertanya apakah itu benar.”

“Benar.”

“Aku tak punya urusan untuk mengkhawatirkan soal-soal seperti itu.”

“Aku tidak memintamu untuk merasa khawatir.”

Marco membayangkan wanita itu sebagai saksi yang kuat di pengadilan, duduk dengan angkuh di depan juri, bertekad dirinya tak akan dibengkokkan maupun dipatahkan, bagaimanapun serunya tanya-jawab itu nanti. Ia telah menguasai dengan baik tampang cemberut dan tak peduli yang begitu jamak di kalangan wanita Etopa. Ia memegang tokoknya dekat dengan wajah, matanya mengamati segalanya di trotoar, tapi tidak melihat apa-apa. Obrolan basa-basi bukanlah kelebihannya. “Kau sudah menikah?” tanya Marco, isyarat pertama sesi tanya-jawab.

Dengusan, senyum palsu. “Aku sudah mendapat perintah, Mr. Lazzeri.”

“Panggil aku Marco. Dan aku harus memanggilmu apa?”

“Signora Ferro sudah cukup untuk sementara

1

267

“Tapi kau sepuluh tahun lebih muda dariku» “Di sini situasi lebih formal, Mr. Lazzeri *

“Tampaknya begitu.”

Signora Ferro mematikan rokoknya, menyesap kopi lagi, dan langsung ke urusan pekerjaan. “1^ hari liburmu, Mr. Lazzeri. Ini terakhir kali kita menggunakan bahasa Inggris. Pelajaran berikut, kita tidak bicara bahasa lain selain bahasa Italia.”

“Baik, tapi aku ingin kau mengingat satu hal. Kau tidak menawarkan bantuan dengan gratis, oke? Kau dibayar. Inilah pekerjaanmu. Aku turis Kanada yang memiliki banyak waktu, dan kalau kita tidak cocok, aku akan mencari orang lain untuk mengajarku.” “Apakah aku telah menyinggung perasaanmu? Kau bisa tersenyum.”

Wanha itu mengangguk kecil dan seketika matanya tampak basah. Ia membuang muka, mena-UP ke luar jendela, dan berkata, “Aku tidak punya banyak hal yang bisa membuatku tersenyum.”

16

Toko-toko di sepanjang Via Rizzoli buka pukul sepuluh pagi pada hari Sabtu dan Marco sedang menunggu sambil mengamati barang-barang yang dipajang di etalase. Dengan uang lima ratus euro saku, ia menelan ludah dengan susah payah, Meyakinkan diri bahwa ia tak punya pilihan lain kcuali masuk dan menjalani acara belanjanya pertama dan sungguhan dalam bahasa Italia. Ia telah menghafal kata-kata dan kalimat-kalimat hin8ga ia tertidur, tapi ketika pintu menutup di belakangnya ia berdoa ada penjaga toko muda.yang ba* hati dan bisa berbahasa Inggris dengan rasin. . Tak sepatah kata pun. Penjaga itu pria separo

kb,aya yan* ™y»m ^Sarco tTah me-

7^6 dari lima belas menit M* nu*juk, tergagap-gagap, dan kadang Jo* S

baik ketika menanyakan ukuran dan harga, la pun pergi dengan membawa sepasang sepatu bot hiking yang harganya sedang dan bergaya muda, jenis yang sering dilihatnya di sekitar universitas ketika cuaca memburuk, dan jaket parka hitam tahan air dengan tudung yang bisa digulung masuk ke dalam kerahnya. Dan ia masih memiliki hampir tiga ratus euro di sakunya. Mengumpulkan uang tunai kini menjadi prioritas utamanya.

la bergegas kembali ke apartemennya, berganti pakaian dengan bot baru dan jaket parka, lalu pergi lagi. Tiga puluh menit perjalanan ke Bologna Cenrrale menghabiskan waktu satu jam karena ia harus menggunakan jalur yang berliku-liku dan memutar. Ia tidak pernah menoleh ke belakang, tapi masuk ke kafe dengan mendadak dan mempelajari lalu lintas pejalan kaki, atau tiba-tiba berhenti di depan toko kue dan mengagumi kue-kue sambil mengamati pantulan di kaca. Kalau mereka membuntutinya, ia tidak ingin membuat meteka curiga. Latihan ini pun sangat penting. Lebih dari sekali Luigi mengatakan padanya bahwa tak lama lagi ia akan pergi, dan Marco Lazzeri ditinggalkan sendirian di dunia.

Pertanyaannya adalah, seberapa jauh ia bisa memercayai Luigi? Marco Lazzeri maupun Joel Backman sama-sama tidak memercayai siapa pun.

Ada saat-saat menggelisahkan di stasiun kereta ketika ia berjalan masuk, melihat keramaian di sana, mempelajari jadwal kedatangan dan keberangkatan, dan menoleh ke sana kemari dengan putus asa mencari loket penjualan tiket. Karena kebiasaan, ia juga mencari apa pun yang menggunakan bahasa Inggris. Namun ia belajar untuk menyisihkan kegugupannya dan terus maju. Ia berbaris dalam antrean dan sewaktu loket dibuka, ia maju dengan cepat, tersenyum pada wanita mungil di balik bea, melontarkan “Buon giorno” yang ramah, dan berkata, ‘Yado a Milano.” Saya mau pergi ke Milan.

Wanita itu sudah mengangguk. “Alle tredici e venti,” ujar Marco. Jam 13.20. “Si, cinquanta euro,” sahut wanita itu. Lima puluh euro.

Marco memberikan uang kertas pecahan seratus euto katena ia menginginkan kembaliannya, lalu betjalan pergi sambil menggenggam tiketnya dan memuji dirinya sendiri. Karena memiliki waktu luang satu jam, ia keluar dari stasiun dan berjalan dua blok di Via Boldrmi sampai menemukan kafe. la menikmati panino dan bir sambil mengamati trotoar, tidak berharap melihat siapa pun yang menarik perhatiannya.

Kereta Eurostar tiba tepat sepera yang dijadwalkan, dan Marco mengikuti arus penumpang yang

berjalan di peron. Ini perjalanan kereta pertamanya di Eropa dan ia tidak terlalu yakin dengan kebiasaan yang ada di sini. Ia telah mempelajari tiketnya sambil makan siang dan tidak melihat apa pun yang menunjukkan nomor tempat duduk. Sepertinya orang bebas memilih, dan ia menempati kursi dekat jendela pertama yang dilihatnya. Gerbongnya tak sampai separo penuh ketika kereta mulai bergerak, tepat pada pukul 13.20.

Dengan segera mereka keluar dari Bologna dan pemandangan pinggiran kota berkelebat cepat. Rel kereta itu mengikuti M4, jalan raya utama dari Milano ke Parma, Bologna, Ancona, dan sepanjang pesisir timur Italia. Setelah setengah jam, Marco kecewa dengan pemandangannya. Sulit menghargai pemandangan ketika melesat dengan kecepatan 160 kilometer per jam; semuanya menjadi kabur dan pemandangan yang indah lenyap dalam sekejap. Dan terlalu banyak pabrik yang berjajar di sepanjang rute transportasi.

Dengan segera ia pun menyadari mengapa ia satu-satunya orang di gerbong itu yang tampak tertarik dengan pemandangan di luar. Orang-orang yang berusia lebih dari tiga puluh tenggelam dalam surat kabar dan majalah, dan tampak santai, bahkan bosan. Yang lebih muda sudah tertidur lelap. Tak berapa kuna kemudian, kepala Marco pun tertunduk mengantuk.

Kondektur membangunkannya, mengucapkan

sesuatu dalam bahasa Italia yang sama sekali tak

dipahaminya. Ia hanya menangkap kata “bigiietto” dalam kalimat kedua atau ketiga dan cepat-cepat mengangsurkan tiketnya. Si kondektur cemberut memandangi tiket itu seolah ia akan menendang Marco keluar di jembatan berikut yang mereka lewati, tapi kemudian langsung melubanginya dan mengembalikannya sambil tersenyum lebar penuh W

Satu jam kemudian serangkaian kata tanpa arti terdengar dari pengeras suara, mengumumkan sesuatu yang ada hubungannya dengan Milano, dan pemandangan mulai berubah dengan drastis. Kota yang besar segera menelan mereka begitu keteta melambat, lalu berhenti, lalu bergerak lagi. Mereka melewati blok-blok gedung apartemen yang dibangun sesudah masa perang, berdempet-dempet, dengan jalan-jalan lebar yang memisahkannya. Buku panduan Ermanno mengatakan Milano memiliki populasi empat juta jiwa; ini kota penting, secara tak resmi merupakan ibu kota Italia utara, pusat keuangan, mode, penerbitan, dan industri negara tersebut. Kota industri sibuk yang, tentu saja, memiliki pusat kota dan katedral yang layak

dikunjungi. ^makin banyak

jalur-jalur re memecah n«nja^

dan melebar ketika mereka mem

Milano Centralc. Mereka berhenti di bawah kubah raksasa stasiun, dan ketika Marco turun ke peron, ia terperangah melihat betapa besarnya tempat itu. Tatkala berjalan di peron ia menghitung paling sedikit ada dua belas jalur yang berjajar rapi, sebagian besar dengan kereta yang sabar menunggu penumpangnya. Ia berhenti di ujung peron, di tengah-tengah keliaran ribuan orang yang datang dan pergi, dan mempelajari rute keberangkatan: Smttgart, Roma, Florence, Madrid, Paris, Betlin, Jenewa.

Seluruh Eropa ada di dalam jangkauannya, hanya beberapa jam jauhnya.

Ia mengikuti petunjuk yang membawanya ke gerbang masuk utama dan melihat perhentian taksi, tempat ia mengantre sebentar sebelum akhirnya naik ke kabin belakang mobil Renault putih kecil. “Aeroporto Malpensa,” katanya pada sopir. Merek merayap di lalu lintas Milano yang padat sampai tiba di pinggiran kota. “Quale compagnia aerea?” tanya si sopir sambil menengok ke belakang. Maskapai apa?

“Lufthansa,” sahut Marco. Di Terminal 2 taksi iru menemukan ruang lowong di tepi trotoar, dan Marco kembali merelakan empat puluh euro. Pintu otomatis membuka ke arah keramaian orang, dan ia bersyukur tidak harus mengejar pesawat apa pun. Ia meneliti jadwal keberangkatan dan menemukan

yang diinginkannya—penerbangan langsung ke Dulles. Ia mengelilingi tetminal sampai menemukan meja pendaftaran Lufthansa. Ada antrean panjang di depannya, tapi efisiensi Jerman yang biasa memungkinkan barisan itu bergerak cepat.

Prospek pertama adalah wanita berambut merah yang menarik berusia sekitar 25 tahun, yang sepertinya bepergian sendiri. Ia lebih menyukai calon seperti itu. Orang yang bepergian dengan teman mungkin tergoda untuk membicarakan pria aneh di bandara yang mengajukan permintaan janggal. Wanita itu ada di baris kedua dalam antrean kelas bisnis. Ketika mengawasi wanita itu, Marco juga menemukan prospek nomor dua: mahasiswa berbaju denim dengan rambut gondrong acak-acakan, ransel kumal, dan sweter University of Toledo—calon yang tepat. Pemuda itu ada di bagian belakang antrean, mendengarkan musik dengan headphone warna kuning cerah.

Marco mengikuti si rambut merah saat meninggalkan konter dengan kartu pas dan tas kabinnya. Penerbangannya masih dua jam lagi, jadi wanita itu melangkah mengikuti arus ke arah toko bebas pajak, tempat ia berhenti dan mengamati arloji-arloji Swiss paling mutakhir. Setelah tidak melihat apa pun yang ingin dibelinya, ia menuju kios majalah dan membeli dua majalah mode. Ketika wanita itu berjalan ke gerbang keberangkatan, serta pos

pemeriksaan pertama, Marco meneguhkan diri dan mendekat. “Permisi, Miss, permisi.” Wanita itu mau tak mau menoleh dan menatapnya, tapi terlalu curiga untuk mengatakan sesuatu.

“Apakah Anda akan pergi ke Dulles?” tanya Marco dengan senyum lebar dan pura-pura terengah-engah, seolah baru saja berlari mengejarnya.

“Ya,” sahut wanita itu ketus. Tanpa senyum. Orang Amerika.

“Saya juga, tapi paspor saya baru saja dicuri. Belum tahu kapan saya bisa kembali.” Marco mengeluarkan amplop dari sakunya. “Ini kartu ulang tahun untuk ayah saya. Bisakah Anda memasukkannya ke bus surat begitu Anda tiba di Dulles? Ulang tahunnya hari Selasa depan, dan saya khawatir kartu ini tidak akan tiba tepat pada waktunya. Tolong.”

Wanita itu memandangi Marco dan amplop itu dengan curiga. Itu kan cuma kartu ulang tahun, bukan bom atau pistol.

Marco mencabut sesuatu yang lain dari sakunya “Maaf, tidak ada prangkonya. Ini satu euro untuk membelinya Tolonglah, kalau Anda tidak keberatan.”

Wajah itu akhirnya bergerak, dan wanita itu , hampir tersenyum. “Tentu saja,” katanya, menerima amplop dan uang satu euro itu, lalu menyelip-kannya ke dalam tasnya.

276

Terima kasih banyak,” ujar Marco, nyaris menangis. “Ini ulang tahunnya yang kesembilan

puluh. Terima kasih.”

Tentu, tidak masalah,” kata si tambut merah.

Si pemuda dengan headphone kuning itu sedikit lebih sulit. Ia juga orang Amerika, dan termakan kisah paspor yang hilang. Tapi ketika Marco hendak memberikan amplop itu, si pemuda menoleh ke kanan-kiri dengan waspada seakan mereka melanggar hukum.

‘Wah, entahlah, man,” ujarnya sambil mundur selangkah. “Kurasa tidak.”

Marco tahu lebih baik ia tidak mendesak. Ia mundur dan berkata seketus mungkin, “Semoga penerbanganmu menyenangkan.”

Mts. Ruby Ausberry dari York, Pennsylvania, adalah penumpang terakhir di meja pendaftaran. Ia telah mengajar sejarah dunia di SMA selama empat puluh tahun dan sedang menikmati uang pensiunnya dengan bepergian ke tempat-tempat yang hanya ia lihat dalam buku-buku pelajaran. Ini akhir petualangan tiga minggunya setelah menjelajahi Turki. Ia hanya mampir di Milano dari Istambul untuk meneruskan penerbangan ke Washington. Pria ramah itu mendekatinya dengan senyum putus asa dan menjelaskan bahwa paspornya baru dicuri. Ia bisa jadi akan melewatkan ulang tahun ayahnya. Dengan senang hati ia menerima kami

itu dan menyimpannya di dalam tas. Ia melewati pemeriksaan dengan lancar dan berjalan tiga ratus meter ke gerbang keberangkatan, tempat ia menemukan tempat duduk dan mulai membangun sarangnya.

Di belakang wanita itu, tak sampai lima meter jauhnya, si rambut merah sampai pada ke-putusannya. Bisa jadi itu surat berisi bom. Memang tampaknya tidak cukup tebal untuk memuat bahan peledak, tapi mana ia tahu hal-hal semacam itu? Ada tong sampah di dekat jendela—tong sampah krom keperakan dengan tutup krom (ini kan Milano)—dan dengan lagak santai ia berjalan menghampirinya, lalu membuang amplop itu ke sana.

Bagaimana kalau amplop itu meledak di sana? ia bertanya-tanya sendiri sambil kembali duduk Sudah terlambat. Ia tidak akan ke sana dan mengaisnya lagi. Kalaupun ia mau melakukannya, lalu apa? Mencari petugas berseragam dan berusaha menjelaskan dalam bahasa Inggris bahwa ada kemungkinan ia tadi membawa surat berisi bom? Yang benar saja, tegurnya pada diri sendiri. Ia meraih tas kabinnya dan pindah ke seberang ruangan, sejauh mungkin dari rong sampah tadi. Dan ia tak dapat melepaskan pandang dari tong sampah itu.

Ketegangan ku semakin meningkat. Ia orang pertama yang naik ke pesawat 747 itu. Hanya dengan

bantuan segelas sampanye ia bisa mulai tenang. Begitu sampai di Baltimore ia langsung menonton CNN. Ia yakin akan terjadi pembantaian besar-besaran di bandara Malpensa Milano.

Perjalanan Marco kembali ke Milano Centrale dengan taksi memaksanya mengeluarkan 45 euro, tapi Marco tidak bertanya-tanya pada si sopir. Untuk apa repot-repot? Tiket kembali ke Bologna harganya sama—lima puluh euro. Setelah satu hari belanja dan jalan-jalan, uangnya hanya tinggal sekitar seratus euro. Simpanan uang tunainya menipis dengan cepat.

Hari sudah hampir gelap ketika kereta melambat di stasiun Bologna. Marco hanya salah satu penumpang kecapekan ketika ia turun di peron, tapi diam-diam hatinya membuncah karena bangga atas keberhasilannya hari itu. Ia sudah membeli pakaian, membeli tiket kereta, selamat dari kegilaan di stasiun kereta dan bandara Milano, dua kali naik taksi, dan mengirimkan suratnya, satu hari penuh tanpa petunjuk bahwa ada orang yang tahu siapa dia dan di mana dia berada.

Dan tak sekali pun ia diminta menunjukkan paspor maupun randa pengenal lainnya.

Luigi naik kereta yang lain, kereta cepat pukul 11.45 ke Milano. Namun ia turun di Parma dan langsung

tenggelam dalam keramaian. Ia menemukan taksi dan pergi tak jauh ke tempat pertemuan, sebuah kafe favorit. Hampir satu jam ia menunggu Whitaker, yang ketinggalan kereta di Milano dan segera menyusul dengan kereta berikutnya. Seperti biasa, suasana hati Whitaker sangat suram, yang menjadi lebih buruk lagi karena pertemuan itu berlangsung pada hari Sabtu. Dengan cepat mereka memesan dan begitu pelayan pergi, Whitaker berkata, “Aku ridak suka perempuan itu-”

“Francesca?”

“Ya, si pemandu tur. Kita belum pernah menggunakan dia, bukan?”

“Benar. Tenang saja, jangan khawatir. Ia tidak tahu apa-apa.”

“Bagaimana rupanya?”

“Lumayan menarik.”

“Lumayan menarik bisa berarti apa saja, Luigi. Berapa umurnya?”

“Aku tidak pernah bertanya Dugaan paling baik, empat puluh lima.”

“Sudah menikah?”

“Ya, tak punya anak Ia menikah dengan pria tua yang kesehatannya sangat buruk. Orang itu sekarat.” > ‘.

Seperti biasa, Whitaker mencoret-coret di catatannya, memikirkan pertanyaan berikutnya. “Sekarat? Kenapa?”

“Kurasa karena kanker. Aku tidak banyak ber-

tanya.”

“Mungkin sebaiknya kau lebih banyak bertanya.”

“Mungkin wanita itu tidak ingin membicarakan beberapa hal tertentu—usianya dan suaminya yang sudah hampir mati.” “Di mana kau menemukan dia?” Tidak mudah. Guru bahasa tidak antre seperti taksi. Ada teman yang merekomendasikan dia Aku bertanya ke sana kemari. Ia punya reputasi baik di kota itu. Dan kebetulan ia bersedia. Hampir mustahil menemukan guru bahasa yang mau menghabiskan tiga jam setiap hari dengan muridnya” “Setiap hari?”

Hampir setiap hari selain akhir pekan. Ia mau bekerja setiap siang untuk sekitar satu bulan ke depan. Sekarang ini belum musim turis. Ia mungkin punya pekerjaan satu atau dua kali seminggu, tapi berusaha tetap pada jadwal yang disepakati. Tenang, ia cukup bagus.” “Berapa bayarannya?”

“Dua ratus euro seminggu, sampai musim semi ketika turis mulai ramai.”

Whitaker memutar bola matanya, seolah jurulah itu harus dipangkasnya dari uang gajinya “Biaya Marco tinggi sekali,” ia berkata, seperu pada din sendiri.

“Marco punya ide bagus. Ia ingin pergi Australia atau Selandia Baru atau tempat lajn j! mana ridak ada kendala bahasa.”

“Ia ingin dipindah?”

“Ya, dan menurutku itu ide bagus. Mari Icjta buang dia ke tempat lain.”

“Bukan kita yang mengambil keputusan, kan Luigi?”

“Memang bukan.”

Pesanan salad riba dan mereka pun diam selama beberapa saat. Kemudian Whitaker berkata, “Aku tetap tidak menyukai wanita itu. Teruslah mencari orang lain.”

Tidak ada orang lain lagi. Apa sebenarnya yang kaukhawatirkan?”

“Marco punya sejarah dengan kaum wanita, oke? Selalu ada kemungkinan romansa bersemi. Wanita itu bisa mengacaukan banyak hal.”

“Aku sudah memperingatkan wanita itu. Lagi pula ia butuh uangnya”

Ta tidak punya uang?”

“Aku mendapat kesan kondisi keuangannya sedang sulit. Sekarang bukan musim turis dan suaminya tidak bekerja.”

Whitaker nyaris tersenyum, seakan iru kabar baik Dijejalkannya seiri» besar tomat ke dalam mulur dan dikunyahnya sambil menyapukan pandang ke trattoria itu, fcalau-kalau ada orang

yang menguping pembicaraan mereka yang dilangsungkan dalam bahasa Inggris dengan suara pelan. Ketika akhirnya bisa menelan, ia berkata, “Sekarang masalah e-mail. Marco sama sekali bukan tipe hacker. Pada masa jayanya dulu, ia hidup dengan teleponnya—ia punya empat atau lima pesawat telepon di kantornya, dua di mobil, satu di dalam saku—selalu menerima tiga telepon sekaligus. Sering membual ia menagihkan lima ribu dolar hanya untuk menerima telepon dari klien baru, omong kosong semacam itu. Tidak pernah menggunakan komputer. Orang-orang yang bekerja padanya mengatakan ia sesekali membaca e-mail. Ia jarang mengirim e-mail, dan kalaupun mengirimkannya, sekretarisnyalah yang melakukannya. Kantornya penuh peralatan berteknologi tinggi, tapi ia membayat orang untuk melakukan pekerjaan kasar. Ia terlalu penting.”

“Bagaimana ketika ia di penjara?”

Tidak ada bukti pengiriman e-mail. Ia mempunyai laptop yang digunakannya untuk menulis surat, bukan e-mail. Tampaknya semua orang menjauhinya ketika ia jatuh. Sekali-sekali ia menulis surat kepada ibunya dan putranya, tapi selalu melalui pos biasa.”

“Kedengarannya ia sama sekali buta huruf/’ “Kedengarannya begitu, tapi Langlcy khawatir ia akan mencoba menghubungi seseorang di luar.

h ridak bisa melakukannya Jewac telepon, paling ridak sekarang ini. la ridak punya alamat lain yang bisa dipakai, jadi mungkin surat tidak perlu dicemaskan.”

“Bodoh sekali kalau ia menulis sura r,” kara Luigi. “Iru bisa membongkar keberadaannya.”

Tepat Begitu pula telepon, faks, dan segalanya, kecuali e-mail.” “Kita bisa melacak e-mail.” “Sebagian besar bisa, tapi selalu ada cara.” Ta ridak punya komputer maupun uang untuk membelinya.”

“Aku tahu, tapi secara hipotesis, ia bisa saja menyelinap ke kafe Internet, menggunakan account berkode, mengirim e-mail, dan menghapus jejaknya, mengeluarkan sedikit uang untuk membayar pihak rental, lalu pergi.”

“Bisa saja, tapi siapa yang akan mengajarinya cara melakukannya?”

“Ia bisa belajar. Ia bisa menarinya di buku. Memang kecil kemungkinannya, tapi bukan berarti tidak ada sama sekali”

“Aku menyisir apartemennya setiap hari,” ujar Luigi. “Setiap jengkalnya. Kalau ia membeli buku atau meletakkan bon pembelian, aku pasti tahu.”

“Selidiki dengan cermat kafe-kafe Internet di sekitar situ. Sudah ada beberapa di Bologna sekarang”

“Aku tahu semuanya.”

“Di mana Marco sekarang?”

“Aku tak tahu. Sekarang hari Sabtu, hari liburnya. Ia mungkin menjelajahi jalanan Bologna, menikmati kebebasannya.”

“Dan ia masih ketakutan?”

“Ngeri.”

Mrs. Ruby Aus berry menelan pil sedatif ringan dan teridap selama enam jam dari delapan jam waktu terbang dari Milano ke Dulles International. Kopi suam-suam kuku yang mereka sajikan sebelum mendarat nyaris tak sanggup menyibakkan kabut kantuk, dan ketika pesawat 747 itu meluncur menuju gerbang kedatangan, ia sudah mulai tertidur lagi. la lupa pada kartu ulang tahun itu ketika mereka digiring ke mobil-mobil pengangkut ternak yang menunggu di landasan dan mengantar mereka ke terminal utama. Ia melupakan kartu itu ketika bersama penumpang-penumpang lain menunggu bagasi dan betbondong-bondong melewati pemeriksaan imigrasi. Dan ia pun melupakannya ketika ia melihat cucu perempuan yang ia sayangi

¦ i i: ninrti keluar terminal ke-

sudah menunggunya di pintu aeiu«i

datangan. . , , » «

o . «omnai ia sudah tiba de-

Ia melupakan kartukuisamp»

ngan selamat di rumahnya di

dan mengais-ngais tas cangklongnya mencari oU oleh. “Oh, astaga,” katanya ketika kartu itu jatuh di meja dapur. “Seharusnya aku memasukkan kartu ini ke bus surat di bandara tadi.” Lalu ia bercerita pada cucunya tentang pria malang di bandara Milano yang kehilangan paspor dan terpaksa tak bisa hadir pada hari ulang tahun ayahnya yang kesembilan puluh.

Cucunya mengamati amplop itu. “Kok tidak sepera kartu ulang tahun?” katanya. Ia membau alamatnya: R.N. Backman, Attorney at Law, 412 Main Street, Culpepet, Virginia, 22701.

“Tidak ada alamat pengirimnya,” ujar si cucu perempuan.

“Aku akan mengirimkannya besok pagi-pagi sekali,” kata Mrs. Ausberry. “Kuharap bisa sampai sebelum hari ulang tahunnya.”

17

Pada pukul sepuluh pagi di Singapura, dana misterius sejumlah tiga juta dolar yang sudah mendekam di rekening Old Stone Group, Ltd, mendadak meninggalkan tempatnya secara elektronis dan memulai perjalanan diam-diam menuju belahan dunia yang lain. Sembilan jam kemudian, ketik* Pwtu-pintu Galleon Bank and Trust di Pulau Saint Christopher di Kepulauan Karibia dibuka, dana itu langsung diterima dan dimasukkan ke rekening Jwnomor tanpa nama. Lazimnya, peristiwa ‘tu Walah transaksi anonim biasa, salah satu dan nb«an transaksi serupa pada Senin pag| «o» • J”*un Old Stone telah mendapat V^g^ dari PBI. Bank di Singapura ^ M “Ma sepenuhnya. Bank di Saint Christ P

demikian halnya, walau rak berapa lama lagi akan mendapat kesempatan untuk berpartisipasi.

Ketika Direktur Anthony Price tiba di kantornya di Hoover Building sebelum fajar merekah pada hari Senin itu, memo berisi berita panas telah menunggunya. Ia membatalkan semua kegiatan j yang sudah direncanakan pagi itu. Bersama timnya ia menunggu dana tersebut mendarat di Saint Christopher. Lalu ia menelepon Wakil Presiden. Makan waktu empat jam pemaksaan yang sama sekak tidak diplomatis untuk mengguncang Saint Christophet dan merontokkan informasi dari sana. Pada awalnya para bankir tersebur tetap bergeming, tapi negara yang nyaris tak bisa disebut negara ku tentu tak mampu bertahan melawan kekuatan dan amarah satu-satunya negara adidaya di dunia. Sewaktu Wakil Presiden mengancam perdana menteri negara tersebut dengan sanksi ekonomi dan perbankan yang akan menghancurkan perekonomian kecil yang menjadi rulang punggung pulaunya, sang perdana menteri akhirnya, bertekuk lutut dan ganti melabrak para bankirnya.

Rekening angka tersebut dapat dilacak dan secara langsung mengarah pada Artie Morgan, putra sang mantan presiden yang berusia 31 tahun. Ia JaJuar-masuk Oval Office selama jam-jam terakhir pemerintahan ayahnya, menyesap bir Heineken

f dan sekali-sekali memberikan saran kepada Critz

dan sang Presiden. Skandal itu semakin panas seiring berlalunya

waktu.

Dari Grand Cayman ke Singapura dan sekarang ke Saint Christopher, transfer kawat itu memperlihatkan tanda-tanda jelas seorang amatir yang berusaha menutupi jejak-jejaknya. Seorang profesional akan memecah dana tersebut menjadi delapan dan memarkir masing-masing bagian di sejumlah bank yang berbeda di beberapa negara, lalu mentransfernya satu per satu dengan selang waktu beberapa bulan. Kenyataannya, pemain pelonco seperti Artie pun semestinya bisa menyimpan dana tersebut. Bank-bank luar negeri yang ia pilih bersedia bekerja sama untuk melindunginya. Hanya saja, FBI berhasil mendapatkan terobosan berkat bajingan penipu dana bersama yang kelimpungan mencari jalan keluar untuk menghindari hukuman penjara.

Namun demikian, masih belum ada bukti dari mana dana tersebut berasal. Selama tiga hari ter-akhk masa baktinya, Presiden Morgan memberikan 22 pengampunan hukuman. Di antara semua itu, hanya dua yang menarik perhatian: Joel Backman dan Duke Mongo. FBI berupaya keras menggali informasi keuangan tentang kedua puluh orang yang lain. Siapa yang mungkin mempunyai tiga

289

juta dolar? Siapa yang memiliki sumber untuk mendapatkannya? Semua teman, anggota keluarga, dan rekan bisnis diselidiki dengan cermat oleh FBI.

Analisis awal menyatakan apa yang sebelumnya telah diketahui Mongo memiliki dana miliaran dolar dan mental yang korup sehingga bisa menyogok siapa saja, Backman pun bisa melakukannya. Kemungkinan ketiga adalah mantan anggota legislatif dan New Jersey yang mengeruk banyak keuntungan untuk “keluarganya” dari kontrak pembangunan jalan pemerintah. Dua belas tahun yang lalu, ia masuk ke “kamp fedetal” selama beberapa bulan dan sekarang ingin hak-haknya dipulihkan kembali.

Presiden sedang berada di Eropa dalam rangkaian kunjungan perkenalan, putaran kemenangannya yang pertama keliling dunia. Baru tiga hari lagi ia akan kembali, dan Wakil Presiden memutuskan untuk menunggu. Mereka akan mengawasi dana itu, memeriksa ulang semua fakta dan detail hingga dua-tiga kali. Saat Presiden kembali, mereka akan menyajikan kasus yang solid. Skandal jual-beli pengampunan hukuman akan menyengat negara ini. Partai oposisi akan dipermalukan dan resolusinya di Kongres akan melemah. Anthony Price dipastikan akan tetap menjabat sebagai direktur FBI selama beberapa tahun lagi. Teddy Maynard pada akhirnya akan dikirim ke panti jompo. Tidak ada «isi buruk

dalam serangan besar-besaran FBI melawan mantan

presiden yang sama sekali tidak curiga.

Gurunya sudah menunggu di barisan bangku belakang Basilica di San Francesco. Wanita itu terbungkus pakaian rapat, tangannya yang mengenakan sarung tangan setengah tersembunyi di dalam saku mantelnya yang tebal. Di luar turun hujan salju lagi, dan di dalam tempat ibadah yang luas, dingin, dan kosong itu, suhu udara tidak lebih hangat daripada di luar. Marco duduk di sebelahnya dan dengan suara pelan menyapa, “Buon porno.”

Wanita itu membalasnya dengan senyum sekadarnya yang cukup untuk disebut sopan, dan berkata, “Buon giorno.” Marco tetap menyimpan tangannya di dalam saku, dan untuk waktu yang , cukup lama mereka duduk saja seperti dua pendaki gunung kedinginan yang sedang berlindung dari dahsyatnya cuaca. Seperti biasa, wajah Francesca tampak muram dan pikirannya berkelana jauh dari pengusaha Kanada kikuk yang ingin mempelajari bahasanya, la kelihatan tak ambil pusing dan j pikirannya sibuk sendiri, dan Marco pun muak dengan tingkahnya. Ermanno makin kehilangan : minat dari hari ke hari. Francesca nyaris tak bisa diajak kompromi. Luigi selalu ada di belakang

191

sana, mengendap-endap dan mengawasi, tapi ja pun sepertinya sudah kehilangan minat pada permainan ini.

Marco mulai berpikir akan terjadi sesuatu tak lama lagi. Potong tali pelampungnya dan biarkan ia mengapung sendiri, entah berenang atau tenggelam. Biarkan saja. Sudah hampir satu bulan ia menjadi orang bebas. Ia sudah mempelajari cukup banyak bahasa Italia untuk bertahan hidup. Ia pasti biasa belajar sendiri lebih banyak lagi.

“Jadi berapa usia gereja ini?” tanya Marco setelah jelas bahwa ia yang pertama kali diharapkan memecahkan keheningan.

Wanita itu beringsut sedikit, berdeham, mengeluarkan kedua tangannya dari saku, seolah Marco telah membangunkannya dari tidur yang lelap. “Gereja ini mulai dibangun pada tahun 1236 oleh biarawan-biarawan Fransiskan. Tiga puluh tahun kemudian aula utama selesai dibangun.” “Pekerjaan yang terburu-buru.” “Ya, memang cukup cepat. Selama berabad-abad sesudahnya, kapel-kapel mulai dibangun di kedua sisinya. Sakristi kemudian dibangun, lalu menara loncengnya Pada tahun 1798, Prancis, di bawah Napoleon, mengubah tempat ibadah ini menjadi kantor pabean. Pada tahun 1886, bangunan ini kembal menjadi gereja, lalu direstorasi pada tahun 1928. Kak» Bologna dibom Sekutu, bagian fasad-

nya rusak berat. Bangunan ini memang memiliki sejarah yang keras.”

Tidak tampak cantik dari luar.”

“Begitulah akibat pemboman.”

“Kurasa itu karena kalian keliru memihak.”

“Bologna tidak berpikir begitu.”

Tak ada perlunya menghidupkan perang yang sudah berlalu. Mereka terdiam sementara suara mereka seolah mengambang naik dan bergaung pelan di dalam kubah. Ketika Backman masih kecil, ibunya mengajaknya ke gereja beberapa kali dalam setahun, tapi upaya setengah hati untuk memperdalam iman tersebut dengan segera ditinggalkan pada masa SMA dan sama sekali terlupakan selama empat puluh terakhir. Penjara pun tidak sanggup membujuknya kembali, tak seperti beberapa narapidana lain. Namun bahkan pria yang tak memiliki kepercayaan apa pun itu sulit memahami bagaimana pemujaan dalam bentuk apa pun bisa dilangsungkan di tempat serupa museum yang begitu dingin dan tak bernyawa.

“Gereja ini begitu kosong. Memangnya pernah ada orang yang beribadah di sini? “Ada misa harian dan hari Minggu. Aku dulu

menikah di sini.”

“Seharusnya kau tidak menceritakan kisah pribadimu. Luigi bisa marah.”

_„ . * i Tnlia. Marco, tidak boleh

“Gunakan bahasa Italia, 1VHM

bahasa Inggris lagi.” Dengan bahasa Italia, ia ber tanya, “Apa yang kaupela/ari pagi ini benam; Ermanno?” “La famiglia.”

“La sua famiglia. Mi dica.” Keluargamu. Cerita-kanJah padaku. “Berantakan,” ujar Marco dalam bahasa Inggris. “Sua moglie?”Istrimu? “Yang mana? Aku punya tiga.” “Bahasa Italia.” “Quale?Ne ho tre.” “L’ultima.” Yang terakhir. Lalu Marco menahan diri. Ia bukan Joel Backman, yang mempunyai tiga mantan istri dan keluarga berantakan. Ia Marco Lazzeri dari Toronto, yang memiliki seorang istri, empat anak, dan lima cucu. “Aku bergurau,” katanya dalam bahasa Inggris. “Aku cuma punya satu istri.”

“Mi duo, in Italiano, di sua moglie.” Ceritakan tentang istrimu.

Dengan bahasa Italia yang lambat, Marco menggambarkan istri rekaannya. Namanya Laura. Umurnya 52 tahun. Ia tinggal di Toronto. Ia bekerja di perusahaan kecil. Ia tidak suka bepergian. Dan seterusnya.

Setiap kalimat diulang paling tidak tiga kali. Setiap pengucapan yang salah disambut kernyitan dan ucapan singkat, “Ripeta.” Berulang-ulang Marco

ia/.

bercerita tentang Laura yang tak pernah ada. Ketika ceritanya tentang Laura habis, ia digiring untuk ber-cerira tentang putra sulungnya, rekaan juga, yang satu ini namanya Alex. Usianya tiga puluh tahun, bekerja sebagai pengacara di Vancouver, bercerai, memiliki dua anak, dst, dst.

Untungnya, Luigi telah memberinya biografi kecil tentang Marco Lazzeri, lengkap dengan semua detail yang diingat-ingatnya kembali di bangku belakang gereja yang dingin menggigit itu. Francesca mendorongnya terus, memaksanya menuju kesempurnaan, memperingatkannya agar tidak betbicara terlalu cepat, kecenderungan yang alami.

“Deve parlare lentamente,” ujarnya berkali-kali. Kau harus bicara perlahan.

Francesca sangat tegas dan tanpa humor, tapi juga membuatnya termotivasi. Kalau bahasa Italia Marco separo saja kemampuan Francesca berbahasa Inggris, tentu ia akan berhasil baik Jika Francesca yakin kemampuannya akan meningkat dengan pengulangan kalimat, ia pun akan melakukan hal yang sama.

Ketika mereka sedang membicarakan ibu Marco,

seorang pria berumur memasuki gereja dan duduk

di barisan bangku tepat di depan mereka. Tak lama

kemudian bapak itu tenggelam dalam meditasi

dan doa. Mereka memutuskan untuk keluar tanpa

_,„„_. Calm tipis masih turun dari langit

mengganggu. o«Ju ” ”

dan mereka berhenti di kafe pertama yang mereka lihat, untuk minum espresso dan merokok

“iaesso, possiamo parlare della sua familia?” tanya Marco. Bisakah kita berbicara tentang keluargamu sekarang?

Francesca tersenyum, memperlihatkan geliginya; yang sangat jarang terjadi. Lalu ia berkata, ‘Benissimo, Marco.” Bagus sekali. “Ma, non possiamo. Mi displace.” Tapi, maafkan aku. Kita tidak bisa melakukannya.

“Perche non?” Mengapa tidak?

“Abbiamo delle regole.” Kita punya peraturan.

“Dove suo marito?” Di mana suamimu berada?

“Qui, a Bologna.” Di sini, di Bologna.

“Dove lavora?” Di mana ia bekerja?

“Non lavora.”

Setelah rokoknya yang kedua, mereka berjalan kembali ke arah trotoar bernaungan dan memulai pelajaran mendalam tentang salju.” Francesca mengatakan kalimat pendek dalam bahasa Inggris, lalu Marco harus menerjemahkannya. Salju turun. Di Florida tak pernah turun salju. Mungkin besok akan turun salju. Minggu lalu, hujan salju turun dua kali. Aku suka salju. Aku tidak suka salju.

Mereka menyusuri tepi alun-alun utama dan tetap berjalan di bawah portico. Di Via Rizzoli, mereka melewati toko tempat Marco membeli sepatu bot dan jaketnya, dan menurutnya Francesca akan

296

senang mendengar cerita tentang peristiwa itu. Marco mampu menangani pembicaraan dalam bahasa Italia. Namun ia mengurungkan niat, karena tampaknya Francesca begitu berkonsentrasi dengan obrolan tentang cuaca. Di persimpangan, mereka berhenti dan memandang Le Due Torri, dua menara yang masih berdiri, yang menjadi kebanggaan penduduk Bologna.

Dulu pernah terdapat lebih dari dua ratus menara, jelas Francesca. Lalu ia meminta Marco mengulang kalimat tersebut. Marco mencobanya, mengucapkan bentuk lampau dan angkanya dengan ngawur, kemudian diminta mengulang kalimat keparat itu sampai ia mengatakannya dengan benar.

Di abad pertengahan, untuk alasan-alasan yang tak pernah bisa diterangkan oleh bangsa Italia zaman sekarang, nenek moyang mereka mengembangkan ketertarikan arsitektur yang tak biasa dengan membangun menara-menara jangkung dan langsing untuk tempat tinggal mereka. Karena perang antarsuku dan kerusuhan setempat menjadi sesuatu yang biasa dan menyebar cepat, menara-menara itu utamanya dijadikan tempat perlindungan. Bangunan tersebut bisa menjadi pos pengamatan yang bagus dan sangat penting artinya saat terjadi serangan, sekalipun tidak terlalu praktis sebagai tempat tinggal. Untuk melindungi persediaan pangan, dapur dibangun di lantai tertinggi,

tiga ratusan anak tangga dari tanah, sehingga tak \ mudah mencari pembantu yang bisa diandalkan. Ketika pecah perlawanan, keluarga-keluarga yang bermusuhan tinggal melontarkan anak-anak panah dan melemparkan tombak dari satu menara ke menara yang lain. Tak ada perlunya berperang di jalanan sepera orang kebanyakan.

Menara-menara tersebut juga menjadi simbol status. Kaum bangsawan dan orang-orang terhormat tak rela bila tetangga dan/atau musuhnya memiliki menara yang lebih tinggi, jadi pada abad ketiga belas dan keempat belas muncullah perlombaan aneh yang melanda kaki langit Bologna, ketika para aristokrat berusaha menyaingi tetangga-tetangganya. Kota itu pun dijuluki la turrita, yang bermenara. Seorang pengelana dari Inggris menggambarkannya sebagai “lautan asparagus”.

Pada abad keempat belas, pemerintahan yang terorganisir baik berhasil mengokohkan kekuasaannya di Bologna, dan orang-orang yang memiliki visi tahu bahwa perseteruan itu harus dihentikan. Kota tersebut, bilamana memiliki cukup tenaga kerja, merobohkan sebagian besar menara-menara ku. Pekerjaan pembongkaran sebagian yang lain diambil alih oleh waktu dan gaya gravitasi—fondasi yang buruk membuatnya roboh sendiri setelah be-berapa abad.

Pada akhir 1800-an, muncul gerakan untuk meruntuhkan semua menata, tapi hanya mendapat sedikit dukungan. Cuma dua menara yang bertahan—Asinelli dan Garisenda. Keduanya berdiri berdekatan di Piazza di Porto Ravegnana, tak satu pun berdiri tegak lurus. Garisenda condong ke utara pada sudut yang sanggup menyaingi menara yang lebih cantik dan lebih terkenal, yang ada di Pisa. Kedua menara yang masih berdiri itu telah memicu timbulnya banyak julukan selama berpuluh-puluh tahun. Seorang penyair Prancis mengibaratkan mereka sebagai dua pelaut mabuk yang terseok-seok pulang, saling menyandarkan tubuh ke yang lain agar tidak roboh. Buku panduan Ermanno menyebut mereka “Laurel dan Hardy” dari masa arsitektur abad pertengahan.

La Torre degii Asinelli dibangun pada awal abad kedua belas, dan, dengan tinggi 97,2 meter, dua kali lebih jangkung daripada rekannya. Garisenda mulai miring ketika hampir selesai dibangun pada abad ketiga belas, dan langsung dipenggal setengahnya demi mencegah kemiringan lebih lanjut. Klan Garisenda kehilangan minat dan meninggalkan kota tersebut dengan menanggung malu.

Marco pernah mempelajari sejarah tersebut dari buku panduan Ermanno. Francesca tidak mengetahuinya, dan ia, sebagai pemandu yang baik,

menghabiskan lima belas menit dalam udara dingin untuk bercerita rentang menara-menara yang terkenal itu. Ia menyusun kalimat sederhana, mengucapkannya dengan sempurna, membantu Marco terbata-bata mengulanginya, lalu dengan enggan beralih ke kalimat lain.

“Asinelli memiliki empat ratus sembilan puluh delapan anak tangga hingga ke puncaknya,” ujar Francesca.

“Andiomo,” ujar Marco segera. Ayo. Mereka memasuki fondasi menara yang besar melalui pintu sempit, menaiki tangga melingkar setinggi kurang-lebih lima belas meter sampai ke bilik penjualan tiket yang terjepit di suatu sudut. Marco membeli dua tiket yang masing-masing harganya tiga euro, dan mereka pun mulai mendaki. Menara itu bolong di tengah, dengan tangga yang menempel di dinding paling luar.

Francesca mengatakan, paling tidak sudah sepuluh tahun ia tidak naik ke menara itu, dan sepertinya bersemangat dengan petualangan kecil mereka. Ia mulai menaiki anak-anak tangga sempit dari kayu ek, sementara Marco menjaga jarak di belakangnya. Sesekali terdapat jendela terbuka, sehingga ada udara dan cahaya yang menembus masuk “Atur sendiri langkahmu,” kata Francesca dalam bahasa Inggris sambil menoleh ke belakang, ketika ia mulai jauh dari Marco. Pada siang hari di

bulan Februari yang bersalju itu, tidak ada orang yang berminat mendaki ke puncak kota.

Marco mengatur kecepatannya dan segera saja Francesca lenyap dari pandangan. Sekitar setengah jalan ke puncak, Marco berhenti di jendela lebar yang terbuka sehingga angin bisa menyejukkan wajahnya. Ia berhasil mengatur napas, lalu mendaki lagi, kali ini lebih lambat. Beberapa menit kemudian, ia berhenti lagi, jantungnya berdegup kencang, paru-parunya kembang-kempis, benaknya bertanya-tanya apakah ia sanggup sampai ke puncak Setelah 498 anak tangga, akhirnya ia muncul di kotak sempit di bawah atap dan melangkah ke puncak menara. Francesca sedang merokok, menera-wangi kotanya yang indah, tak terlihat setitik keringat pun di wajahnya.

Pemandangan dari puncak sungguh mengagumkan. Atap-atap rumah bergenting merah sekarang tertutup salju putih setebal lima sentimeter. Kubah hijau pucat San Bartolomeo ada di bawah atap-atap itu, tidak terkubur di bawah salju. “Pada hari cerah, kau bisa melihat Laut Adriatik di sebelah timur, dan Pegunungan Alpen di utara,” kata Francesca, masih berbahasa Inggris. “Indah sekali, bahkan ketika terlapisi salju.”

“Indah sekali,” kata Marco, napasnya tersengal-sengal. Angin bertiup melalui jeruji besi di antara

batu bata, dan udara di puncak Bologna lebih dingin daripada di jalanan di bawah.

“Menara ini adalah bangunan kelima tertinggi di Italia zaman kuno,” kata Francesca bangga. Marco yakin wanita itu bisa menyebutkan keempat bangunan yang lain.

“Mengapa menara ini dipertahankan?” tanya Marco.

“Untuk dua alasan, kurasa. Menara ini memiliki rancangan dan konstruksi yang bagus. Asinelli keluarga yang kuat dan- berkuasa. Dan bangunan ini pernah digunakan sebagai penjara pada abad keempat belas, ketika banyak menara lain dihancurkan. Sesungguhnya, tak ada orang yang benar-benar tahu mengapa menara ini dipertahankan.” Pada ketinggian sembilan puluh meter, Francesca menjadi orang yang berbeda. Matanya berbinar, suaranya terdengar hidup.

“Pemandangan ini selalu mengingatkanku mengapa aku mencintai kotaku,” karanya sambil menyunggingkan senyum langka. Bukan senyum yang ditujukan pada Marco, bukan pada apa pun dikatakannya, tapi pada atap bangunan dan kaki langit Bologna Mereka menyeberang ke sisi lain dan memandang kejauhan di sebelah barat daya. Di atas bukit di atas kota, samar-samar terlihat Santuario di San Luca, malaikat pelindung kota itu.

“Kau pernah ke sana?” tanya Francesca.

“Belum.”

“Kita akan pergi ke sana bila cuaca cerah, oke?”

“Baik.”

“Banyak yang harus kita lihat.”

Barangkali ia tidak akan memecat Francesca. Marco begitu mendambakan pertemanan, terutama dari lawan jenis, sehingga ia sanggup menolerir ketidakacuhan Francesca, kemuramannya, serta perubahan suasana hatinya. Marco bahkan akan belajar lebih giat lagi demi memperoleh pengakuan darinya.

. Bila perjalanan mendaki Menara Asinelli telah meningkatkan semangat Francesca, perjalanan turun mengembalikan lagi sikapnya yang murung. Mereka minum espresso sebentar di dekat menara dan kemudian berpisah jalan. Ketika Francesca berjalan menjauh tanpa pelukan yang palsu, tanpa kecupan di pipi, bahkan tanpa jabat tangan sopan santun, Marco memutuskan untuk memberinya walau satu minggu lagi.

Diam-diam ia menempatkan Francesca pada masa percobaan. Wanita itu punya waktu tujuh hari untuk bersikap lebih manis, kalau tidak Marco akan menghentikan kegiatan belajar-mengajar ini. Hidup ini terlalu singkat.

Namun, Francesca cantik juga sih.

Amplop itu dibuka oleh sekretarisnya, seperti semua surat yang datang kemarin dan kemarin dulu. Tapi di dalam amplop itu terdapat amplop lain, yang ditujukan kepada Neal Backman. Di muka dan belakang amplop, dalam huruf-huruf kapital tebal, tertulis peringatan serius: PRIBADI, RAHASIA, HANYA BOLEH DIBUKA OLEH NEAL BACKMAN.

“Anda mungkin mau melihat yang paling atas lebih dulu,” ujar sekretarisnya ketika mengantarkan tumpukan tebal surat-surat yang masuk itu pada pukul sembilan pagi. “Prangkonya distempel dua hari yang lalu di York, Pennsylvania.” Sewaktu sekretaris itu menutup pintu di belakangnya, Neal meneliti amplop tersebur. Warnanya cokelat muda, tanpa tanda-tanda apa pun kecuali yang sudah ditulis tangan oleh si pengirim. Tulisan itu tampak familier.

Dengan pisau pembuka surat, dengan perlahan dibukanya bagian atas amplop tersebut, lalu dikeluarkannya selembar kertas putih yang terlipat. Surat itu dari ayahnya. Mengejutkan, namun demikian tidak juga.

Dear Neal; 21 Feb

Sementara ini aku aman, tapi keadaan ini kurasa tak akan bertahan lama. Aku memerlukan bantuanmu. Aku tidak punya alamat, tidak punya telepon maupun mesin faks, dan

bila memilikinya pun aku tidak yakin dapat menggunakannya. Aku perlu akses e-mail, sesuatu yang tidak dapat dilacak. Aku tidak tahu bagaimana mendapatkannya, tapi aku tahu kau bisa. Aku tidak punya komputer dan tidak punya uang. Ada kemungkinan besar kau diawasi, jadi apa pun yang kaulakukan, kau tidak boleh meninggalkan jejak. Tutupi semua jejakmu. Tutupi jejakku. Jangan percaya pada siapa pun. Amati segalanya. Simpan surat ini, lalu hancurkan. Kirimi aku uang sebanyak yang mungkin kaukirimkan. Kau tahu aku akan menggantinya nanti. Jangan pernah gunakan nama aslimu atau apa pun juga. Gunakan alamat ini:

Sr. Rudolph Viscovitch, Universita degli Studi, Universitas Bologna, Via Zamboni 22, 44041, Bologna, Italia. Gunakan dua amplop—yang pertama ditujukan pada Viscovitch, yang kedua padaku. Dalam suratmu padanya, katakan padanya agar menyimpankan kirimanmu itu untuk Marco Lazzeri. Cepatlah!

Love, Marco

Neal meletakkan surat itu di mejanya dan berjalan ke pintu untuk menguncinya. Ia duduk di sofa kecil berlapis kulit dan berusaha menata pi-

kiran. Ia telah memutuskan bahwa ayahnya ada di luar negeri, karena kalau tidak, ia pasti akan mengontaknya jauh sebelum ini. Mengapa ia ada di Italia? Mengapa surat ini dikirim dari York, Pennsylvania?

Istri Neal tidak pernah bertemu ayah mertuanya. Backman sudah dipenjara selama dua tahun ketika Neal dan istrinya bertemu, lalu menikah. Mereka mengirim foto-foto pernikahan ke penjara, kemudian sebuah foto putri mereka,-cucu perempuan Joel yang kedua.

Neal tidak senang membicarakan ayahnya. Maupun memikirkannya. Joel bukan ayah teladan, sering tak ada hampir di sepanjang masa kecilnya, dan kejatuhannya yang mengejutkan dari kekuasaan telah mencoreng muka orang-orang yang dekat dengannya. Dengan enggan Neal mengirim surat dan kami selama masa tahanannya, tapi ia bisa dengan jujur mengatakan, paling tidak pada diri sendiri dan istrinya, bahwa ia tidak kehilangan ayahnya. Toh ia nyaris tak pernah berada dekat-dekat ayahnya.

Sekarang ayahnya kembali, meminta uang yang tak dimiliki oleh Neal, tanpa ragu beranggapan Neal akan melakukan apa yang diperintahkan, dengan tenang mempertaruhkan keselamatan orang lain.

Neal kembali menghampiri meja kerjanya dan membaca lagi surat itu, lalu sekali lagi. Tulisan

306

cakar ayam yang nyaris tak bisa dibaca itu sama seperti yang sering dilihatnya selama hidupnya. Dan metode operasinya pun sama, di rumah maupun di kantor. Lakukan ini, ini, dan ini, dan semuanya pasti berhasil. Lakukan dengan caraku, dan lakukan sekarang juga! Cepat! Pertaruhkan segalanya karena aku membutuhkanmu.

Dan bagaimana bila segalanya berjalan lancar dan sang broker kembali? Ia pasti tidak akan memiliki wakru luang untuk Neal dan cucunya. Bila diberi kesempatan lagi, Joel Backman, 52 tahun, pasd akan berjaya lagi dalam lingkaran kekuasaan Washington. Ia akan berteman dengan orang-orang yang tepat, menggiring klien-klien yang tepat, menikahi wanita yang tepat, menemukan parrner-partner yang tepat, dan dalam setahun, sekali lagi ia akan bekerja dalam kantornya yang luas tempat ia menagihkan uang jasa dalam jumlah tak tanggung-tanggung dan menyiksa para anggota Kongres. .

Hidup ini terasa lebih sederhana ketika ayahnya masih dipenjara.

Apa yang akan dikatakannya pada Lisa, istrinya? Sayang, uang dua ribu dolar yang kita kubur dalam tabungan itu hendak diminta. Ditambah beberapa rams dolar untuk sistem e-mail rahasia. Kau dan putri kita sebaiknya mengunci pintu sepanjang waktu karena hidup ini menjadi berbahaya.

Pada hari yang berubah drastis itu, neal meminta sekretarisnya untuk menahan semua telepon masuk. Diregangkannya tubuhnya di sofa, dilepasnya sepatunya, lalu ia memejamkan mata dan mulai memijat-mijat pelipisnya.

18

Duma perang kecil yang keji antara CIA dan FBI, kedua belah pihak sering kali menggunakan beberapa wartawan tertentu untuk alasan-alasan taktis. Serangan-serangan yang sudah dipertimbangkan akan dilancarkan, serangan balasan h tangkis, langkah mundur yang buru-buru segera ditutupi, bahkan pengendalian kerusakan^isa^ implementasikan dengan memanipulasi Sandberg memiliki sumber-sumber dan^ ^ belah pihak selama dua puluh ^””^^ diberi bersedia dirinya dimanfaatkan »1 “^y^ ja imbalan informasi yang benar, jug» ^ Je_ Pun bersedia mengemban pera” angkatan

ngan hati-hati bergerak di anK^.p ^akt untuk dengan men

yebarkan sosip^cwlioi Pihftk ,ain’ menjajaki seberapa jauh

Dalam upayanya mengonfirmasi kabar bahwa FBJ sedang melakukan investigasi skandal penjualan pengampunan hukuman, ia pun mengontak sumber CIA-nya yang paling dapat diandalkan. Seperti biasa, ia disambut tembok batu, tapi tak sampai 48 jam kemudian tembok itu diturunkan.

Kontaknya di Langiey adalah Rusty Lowell, pegawai karier yang kelelahan, dengan jabatan berganti-ganti. Apa pun jabatannya, pekerjaan sesungguhnya adalah mengawasi media dan memberikan nasihat pada Teddy Maynard tentang bagaimana memanfaatkah dan menyalahgunakan media. Ia bukan informan yang menyampaikan sesuatu yang ridak benar. Setelah bertahun-tahun menjaga hubungan, Sandberg cukup yakin bahwa banyak hal yang didapatnya dari Lowell bersumber dari tangan Teddy sendiri.

Mereka bertemu di Tyson’s Corner Mall di Virginia, tepat di mar jalur Beltway, di meja belakang warung pizza murahan di food court lantai atas. Masing-masing membeli seiris pizza pepperoni-keju serta minuman ringan, lalu mencari meja bilik yang tersembunyi dari semua orang. Aturan- J aturannya seperti biasa adalah: (1) segalanya bersifat j off-the-record dan dari sumber yang sangat dalam; j (2) Lowell akan memberikan lampu hijau lebih dulu sebelum Sandberg boleh memuat tulisannya; I dan (3) bila apa pun yang dikatakan Lowell di- |

310

J kontradiksi oleh sumber lain, ia, Lowell, diberi ke-semparan untuk mempelajarinya dan memberikan

kata akhir.

Sebagai wartawan investigasi, Sandberg membenci aturan-aturan tersebut Namun, Lowell tidak pernah salah, dan ia tak pernah berbicara pada orang lain. jika Sandberg ingin menggali tambang berharga ini, ia harus main sesuai aturan.

“Mereka menemukan sejumlah dana,” demikian Sandberg mulai. “Dan menurut mereka, itu berkaitan dengan pengampunan hukuman.”

Sorot mata Lowell menyatakan apa yang dipikirkannya karena pada dasarnya ia memang tak pernah berbohong. Matanya langsung menyipit dan jelas bahwa ini berita yang benar-benar baru. “Apakah CIA mengetahuinya?” tanya Sandberg. “Tidak,” jawab Lowell terus terang. Ia tidak pernah takut pada kebenaran. “Kami memang sedang mengawasi beberapa rekening luar negeri, tapi ridak ada sesuatu pun yang terjadi. Berapa jumlahnya?”

“Banyak sekali. Aku tidak tahu tepatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana mereka menemukannya.”

“Dari mana asalnya?”

“Mereka tidak yakin, tapi ingin sekali menghubungkannya pada Joel Backman. Mereka sudah membicarakannya dengan White House.”

“Tidak dengan kami.”

311

•Jehs tidak. Semua ini berbau politik. Mereka akan senang kalau bisa mengaitkan skandal ini dengan Presiden Morgan, dan Backman dijadikan mitra sekongkol yang sempurna.” “Duke Mongo juga bisa dijadikan target.” “Ya, tapi boleh dibilang ia sudah mati. Ia memang punya karier panjang dan penuh warna dalam penipuan pajak, tapi sekarang ia sudah pensiun. Backman masih mempunyai banyak rahasia Mereka ingin menggiringnya pulang, memasukkannya ke dalam mesin penggiling di Departemen Kehakiman, mengguncang Washington selama beberapa bulan. Itu akan mempermalukan Morgan.”

“Perekonomian sedang merosot tajam. Benar-benar pengalih perhatian yang menarik.”

“Seperti yang sudah kubilang, semua ini berbau politik”

Akhirnya Lowell menggigit pizzanya dan mengunyahnya dengan cepat sambil berpikir. “Tidak mungkin Backman. Mereka salah sasaran.” “Kau yakin.”

“Yakin benar. Backman tidak pernah tahu akan ada pengampunan hukuman. Boleh dibilang kami menyeretnya keluar dari selnya pada tengah malam buta, menyuruhnya menandatangani beberapa dokumen, lalu mengirimnya ke luar negeri sebelum matahari terbit.”

“Dan ke mana dia pergi?”

312

“Wah, aku tidak tahu. Dan kalaupun tahu, aku tidak akan memberitahumu. Intinya, Backman tidak punya waktu mengatur sogokan. Ia dikubur dalam-dalam di penjara, bahkan tak pernah mimpi bakal mendapat pengampunan. Itu gagasan Teddy, bukan Backman. Mereka salah orang.” “Mereka bertekad mencarinya.” “Mengapa? Ia kan manusia bebas, mendapat pengampunan penuh, bukan residivis yang sedang dalam pelarian. Ia tidak bisa diekstradisi, kecuali mereka bisa mengajukan dakwaan.” “Sepertinya mereka bisa melakukannya.” Lowell mengerutkan kening pada meja selama beberapa saat. “Aku tidak bisa membayangkan seperti apa bentuknya. Mereka tidak punya bukti. Mereka memang mengetahui ada dana yang mencurigakan di sebuah bank, tapi tidak tahu dari mana asalnya. Yakinlah, itu bukan uang Backman.” “Bisakah mereka menemukan Backman?” “Mereka akan memberikan tekanan pada Teddy, dan itu sebabnya aku mau bicara.” Disisihkannya sisa pizzanya dan ia mencondongkan tubuh ke muka. “Tak berapa lama lagi akan ada pertemuan di Oval Office. Teddy akan hadir, dan ia akan diminta oleh Presiden untuk melihat beberapa fakta sensitif mengenai Backman. Teddy akan menolak. Lalu akan ada waktu penentuan. Apakah Presiden akan memiliki nyali untuk memecat pak tua itu?”

“Dia punya nyali, tidak?” “Barangkali. Paling tidak, itulah yang diharapkai Teddy. Ini adalah masa kepresidenan keempat yang pernah dijalaninya, dan kau sendiri tahu itu rekoi luar biasa. Ketiga presiden yang pertama ingin memecatnya. Tapi sekarang, ia sudah tua dan sudah siap melepas jabatan.” “Sudah lama ia tua dan siap melepas jabatan.” “Memang benar, rapi dulu ia memimpin dengan tangan besi. Kali ini berbeda.” “Mengapa ia tidak pensiun saja?” “Karena ia bangsat pemarah, kontradiktif, dan keras kepala. Kau tahu itu.” “Memang sudah terbukti.” “Dan bila ia dipecat, ia tidak akan pergi begitu saja Ia mengharapkan liputan yang seimbang.”

“Liputan yang seimbang” adalah istilah lama mereka untuk “buat kami tampak lebih baik”.

Sandberg menyingkirkan pizzanya juga dan membunyikan buku-buku jarinya. “Begini cerita yang kubayangkan,” katanya, sebagai bagian dari ritual. “Setelah delapan belas tahun memegang tampuk pimpinan CIA, Teddy Maynard dipecat oleh presiden yang baru dilantik Alasannya adalah Maynard menolak membeberkan rincian peka yang berkaitan dengan operasi yang sedang dilangsungkan. Ia tetap pada pendiriannya demi melindungi keamanan nasional, dan meman-

dang rendah Presiden, yang, bersama FBI, menginginkan informasi rahasia itu supaya FBI dapat melanjutkan penyelidikan yang berhubungan dengan pengampunan hukuman yang diberikan oleh mantan presiden Morgan.”

“Kau tidak boleh menyinggung-nyinggung nama Backman.”

“Aku memang belum siap menggunakan nama itu. Aku belum dapat konfirmasi.”

“Kupastikan bahwa uang itu bukan berasal dari Backman. Dan kalau kau menggunakan namanya sekarang ada kemungkinan ia akan melihatnya dan melakukan sesuatu yang bodoh.”

“Seperti apa?”

“Kabur menyelamatkan diri.” “Kenapa itu dibilang bodoh?” Karena kami tidak ingin dia kabur menyelamatkan diri.” “Kau ingin dia dibunuh?” “Tentu saja. Begitulah rencananya. Kami ingin tahu siapa yang membunuhnya.”

Sandberg bersandar ke bangku plastik keras dan mengalihkan pandangan. Lowell mencomoti irisan-irisan pepperoni dari pizzanya yang sudah dingin dan liat seperti karet, dan untuk beberapa lama mereka berpikir dalam diam. Sandberg menghabiskan Diet Coke-nya, dan akhirnya berkata, “Entah bagaimana Teddy berhasil meyakinkan

Morgan untuk memberikan pengampunan pada Backman, yang sekarang disembunyikan di suatu tempat sebagai umpan untuk dibunuh.” Lowell membuang muka, tapi mengangguk. “Dan pembunuhan itu akan menjawab beberapa pertanyaan di Langley?”

“Barangkali. Begitulah rencananya.” “Apakah Backman tahu mengapa ia mendapat pengampunan?”

Tentu saja kami tidak memberitahunya, tapi ia cukup pintar.”

“Siapa yang memburunya?” “Orang-orang berbahaya yang menyimpan dendam.”

“Kau tahu siapa mereka?”

Anggukan, kedikan bahu, jawaban yang tidak jelas. “Ada beberapa yang memiliki potensi. Kami akan mengawasi mereka dari dekar dan mungkin bisa mengetahui sesuatu. Mungkin juga tidak.”

“Mengapa mereka menyimpan dendam?”

Lowell tertawa mendengar pertanyaan konyol tersebut. “Boleh juga, Dan. Sudah enam tahun kau mengajukan pertanyaan itu. Sudah, aku harus pergi Kerjakanlah tulisan seimbang itu dan tunjukkan padaku.”

“Kapan pertemuan dengan Presiden akan dilangsungkan?”

“Aku tak tahu tepatnya. Pokoknya begitu ia

kembali.” “Dan kalau Teddy dipecat?” “Kau orang pertama yang akan kuhubungi.”

Sebagai pengacara kota kecil di Culpeper, Virginia, penghasilan Neal Backman jauh lebih kecil daripada yang pernah diimpikannya ketika masih kuliah di fakultas hukum. Pada waktu itu, biro hukum ayahnya memiliki kekuasaan hebat di D.C. sehingga dengan mudah ia membayangkan akan menghasilkan banyak uang setelah praktik beberapa rahun saja. Associate termuda di Backman, Pratt & Boiling mulai dengan gaji seratus ribu dolar per tahun, dan partner junior berusia tiga puluh tahun yang baru menanjak kariernya akan mendapatkan tiga kak lipat jumlah tersebut. Pada tahun keduanya di fakultas hukum, majalah setempat memajang foto sang broker di halaman sampul dan menulis tentang mainan-mainan mahal yang dimilikinya. Penghasilannya diperkirakan sekitar sepuluh juta per tahun. Fakta tersebut cukup menimbulkan kehebohan di fakultas hukum, tapi tidak membuat Neal rikuh. Ia ingat dulu sering membayangkan betapa hebat masa depannya dengan kemungkinan

penghasilan sebesar itu.

„ _ „L- «mrai saru rahun setelah mu-

Kenyataannya, tak sampai

lai bekerja sebagai associate pemula, ia dipecat old biro setelah ayahnya divonis bersalah, dan bold: dibilang ia diusir keluar dari gedung kantor.

Namun dengan segera Neal berhenti memimpikan uang yang banyak dan gaya hidup yang gemerlapan. Ia sudah puas dengan menjalankan praktik hukum bersama biro hukum kecil di Main Street dan membawa pulang penghasilan 50.000 dolar setahun. Lisa berhenti bekerja sesudah putri mereka lahir. Lisa-lah yang menangani keuangan dan membuat anggaran ketat untuk hidup keluarga mereka.

Setelah melalui malam tanpa tidur sekejap pun, Neal bangun dengan gagasan kasar tentang apa yang harus ia lakukan kemudian. Masalah paling berat adalah pilihan untuk memberitahu istrinya atau tidak Begitu ia memutuskan untuk tidak melakukannya, rencananya mulai berbentuk. Ia pergi ke kantor pada pukul delapan, seperti biasa, dan berkutat dengan Internet selama satu setengah jam, sampai ia yakin bank sudah buka. Ketika menyusuri Main Street, ia merasa sulit memercayai kemungkinan ada orang-orang yang bersembunyi di sekitarnya, mengawasi setiap tindak-tanduknya. Meski demikian, ia tetap tidak mau ambil risiko.

Richard Koley mengepalai cabang Piedmont National Bank yang terdekat. Mereka teman saru gereja, teman berburu burung, teman main sofbol

di Rotary Club. Sejak dulu, biro hukum tempat Neal bekerja melakukan kegiatan perbankan di sana. Lobinya masih kosong pada hari sepagi itu, dan Richard sudah duduk di mejanya ditemani secangkir besar kopi, The Wall Street Journal, dan jelas sedang tidak punya banyak pekerjaan. Ia terkejut dan senang melihat Neal, dan selama dua puluh menit mereka mengobrol tentang turnamen basket antzi-college. Ketika akhirnya pembicaraan bergeser ke masalah bisnis, Richard bertanya, “Nah, apa yang bisa kubantu?”

“Aku cuma ingin tahu,” kata Neal santai, mdon-tarkan kalimat yang sudah dilatihnya sepanjang pagi. “Berapa uang yang bisa kupinjam dengan tanda tanganku sendiri?”

“Sedang cekak, ya?” Richard sudah meraih mouse dan melirik layar monitor, tempat segala jawaban tersedia.

“Tidak, bukan begitu. Suku bunga rendah sekali dan aku sedang mengincar saham panas.”

“Bukan strategi buruk, meskipun aku tidak akan gembar-gembor menyuruh orang melakukannya. Dengan indeks Dow Jones pada tingkat sepuluh ribu lagi, kau pasti heran mengapa orang tidak mengajukan kredit sebanyak mungkin dan membeli saham. Tapi jelas baik dampaknya bagi bank tua ini.” Ia melontarkan tawa kikuk seorang bankir menanggapi leluconnya sendiri. “Penghasilan rata-

rata?” ia bertanya sembari tangannya sibuk denga

keyboard, mimik wajahnya serius sekarang. “Bervariasi,” sahut Neal. “Enam puluh hinggj

delapan puluh ribu.” Kening Richard berkerut lebih dalam, dan Neal

ridak tahu apakah itu karena ia sedih mengetahui gaji temannya yang begitu kecil, atau karena temannya berpenghasilan lebih besar daripada dirinya. Ia tidak akan pernah tahu. Bank-bank kota kecil bukan jenis bank yang membayar karyawannya dengan gaji tinggi.

“Utang keseluruhan, tanpa hipotek?” tanya Richard, mengetik-ngetik lagi.

“Hmmm, tunggu sebentar.” Neal memejamkan mara dan menghitung-hitung lagi. Hipoteknya hampir 200.000 dolar dan Piedmonr penjaminnya. Lisa sangat menentang utang sehingga neraca kecil mereka sangat bersih, “Pinjaman mobil sekitar dua puluh riou,” jawabnya. “Mungkin sekitar seribu lebih di kami kredit. Tidak banyak kok.”

Richard mengangguk setuju dan tak pernah mengalihkan pandangan dari layar monior. Kerika jari-jarinya tak lagi menyentuh keyboard, ia mengangkat bahu dan kembali menjadi bankir yang murah hati. “Kita bisa mendapatkan tiga ribu dengan tanda tangan saja. Bunga enam persen, selama dua belas bulan.”

Karena tak pernah meminjam tanpa jaminan, j 320 I

Neal ridak tahu apa yang bisa diharapkannya. Ia tidak tahu berapa banyak yang bisa didapatkan tanda tangannya, tapi tiga ribu dolar sepertinya pantas saja. “Bisakah dinaikkan sampai empat ribu?” ia bertanya.

Kening yang berkerut lagi, tatapan serius ke arah monitor, yang kemudian memberikan jawaban. ‘Ya, kenapa ridak? Aku tahu di mana harus mencarimu,

kan?”

“Bagus. Akan kuberitahukan perkembangan saham itu.”

“Apakah ini kisikan panas, dari sumber yang ada di dalam?”

“Beri aku waktu satu bulan. Kalau harganya naik, aku akan kembali dan sesumbar.” “Cukup adil.”

Richard membuka laci, mencari formulir. NeaJ berkata, “Begini, Richard, ini hanya di antara kita, oke? Tahu maksudku? Lisa tidak akan ikut tanda tangan.”

“Tidak masalah,” kata bankir itu, si penjaga rahasia. “Istriku hampir tak tahu apa pun yang kulakukan dengan masalah finansial. Perempuan ridak akan mengerti.”

“Benar sekali. Dan sejalan dengan itu, bisakah aku mendapatkan dananya dalam bentuk tunai?”

Richard terdiam, matanya terlihat bingung, tapi

tidak ada yang mustahil di Piedmont National “Bisa, beri aku waktu sekitar satu jam.”

“Aku perlu kembali ke kantor untuk menuntui seseorang oke? Aku akan kembali tengah hari nanti untuk menandatangani semua dan membawa uangnya.”

Neal buru-buru kembali ke kantornya, dua blok jauhnya, dengan perut mulas karena gugup. Lisa akan membunuhnya jika tahu, dan di kota kecil seperti ini rahasia tidak bisa dikubur lama-lama. Selama empat tahun pernikahan mereka yang bahagia, mereka selalu memutuskan segalanya bersama. Menjelaskan pinjaman ini akan sulit sekali, walaupun pada akhirnya Lisa mungkin akan mengerti kalau ia menerangkan alasannya dengan jujur.

Membayar kembali utang itu juga tidak mudah. Ayahnya memang terkenal mudah mengumbar janji. Kadang-kadang ia menepatinya, kadang-kadang tidak dan apa pun yang dilakukannya, ia tidak terlalu peduli. Tapi itu kan Joel Backman •yang dulu. Joel Backman yang sekarang adalah pria yang putus asa, tak memiliki teman, tak memiliki orang yang bisa dipercaya.

Persetan. Ini kan cuma empat ribu dolar. Richard akan menutup mulut. Neal akan memusingkannya lagi lain kali. Lagi pula, ia kan pengacara. Ia bisa memeras tambahan upah di sana-sini, bekerja lebih lama lagi.

Sumber keprihatinannya saat ini adalah paket yang harus dikirimkan kepada Rudolph Viscovitch.

Dengan kantong tebal penuh berisi uang, Neal pergi dari Culpeper pada jam makan siang dan dengan cepat menuju Alexandria, satu setengah jam jauhnya. Ia menemukan Toko Chatter, di deretan pertokoan kecil di Russell Road, sekitar dua kilometer jauhnya dari Sungai Potomac. Di Internet, toko itu mengiklankan diri sebagai tempat yang tepat untuk mendapatkan peralatan telekomunikasi paling mutakhir, dan salah satu dari sedikit tempat di Amerika Serikat di mana orang bisa membeli ponsel tak berkunci yang bisa digunakan di Eropa. Ketika sedang melihat-lihat, Neal tercengang melihat banyaknya pilihan telepon, pager, komputer, telepon satelit—semua yang mungkin dibutuhkan untuk menjalin komunikasi. Ia tidak bisa berlama-lama—ada deposisi di kantornya pada pukul empat nanti. Lisa juga akan melakukan pengecekan seperti biasa untuk mengetahui, jika ada, apa yang terjadi di pusat kota.

Ia meminta penjaga toko menunjukkan Ankyo 850 PC Pocket Smartphone, hasil karya teknologi paling canggih yang mulai dipasarkan tiga bulan lalu. Si penjaga toko mengambilnya dari pajangan dan, dengan antusias, mengganti bahasanya dengan

bahasa teknologi dan menggambarkannya, “Keyboard QWERTY, operasi tri-band di lima benua, delapan puluh megabyte dengan buik-in memory, konektrvitas data high-speed dengan EGPRS, akses LAN wireless, teknologi Bluetooth wireless, Ipv4 dan Ipv6 dual stack support, inframerah, interface Pop-Fort, sistem operasi Symbian versi 7.0S, platform Series 80.”

“Pindah band otomatis?” “Ya”

“Didukung oleh jaringan Eropa?”

“Tentu saja.”

Smartphone itu agak lebih besar daripada ponsel bisnis biasa, tapi masih nyaman digenggam. Pemukaannya metalik yang halus dengan lapisan belakang dari plastik bergelombang agar tidak licin bua digunakan.

“Memang lebih besar dibanding yang lain,” kata petugas itu. “Tapi isinya canggih—e-mail, multimedia messaging, kamera, video, word processor lengkap, Internet—dan akses wireless lengkap hampir di mana pun di dunia. Anda mau membawanya ke mana?” “Italia.”

“Tinggal bawa saja. Anda hanya perlu membuka rekening di penyedia layanan.”

Membuka rekening berarti melibatkan dokumen Dokumen berani meninggalkan jejak, padahal Nea

bertekad untuk menghindarinya. “Bagaimana dengan SIM card prabayar?” ia bertanya.

“Bisa juga. Di Italia namanya TIM—Telecom Italia Mobile. Mereka provider terbesar di Italia, mencakup sekitar sembilan puluh lima persen wilayah negara.” “Oke, aku ambil.”

Neal menggeser tutup bagian bawah dan menampilkan keypad penuh. Petugas itu menjelaskan, “Lebih nyaman kalau Anda memegangnya dengan dua tangan dan mengetik dengan ibu jari. Sepuluh jari kan tidak muat di sana.” Ia mengambil alat itu dari tangan Neal dan mendemonstrasikan metode mengetik dengan ibu jari yang lebih dianjurkan. “Mengerti,” kata Neal. “Aku ambil.” Harga telepon itu adalah 925 dolar tidak termasuk pajak, ditambah 89 dolar lagi untuk kami TIM. Neal membayarnya dengan tunai sambil menolak tawaran tambahan garansi, pendaftaran rabat, program pemilik, semua yang melibarkan dokumen dan meninggalkan jejak. Penjaga toko itu menanyakan nama dan alamatnya, dan Neal menolak. Akhirnya ia menjadi sangat kesal dan berkata, “Bisakah aku membayarnya saja dan pergi?” ” Well, bisa saja sih,” kata petugas itu. “Kalau begitu, lakukan saja. Aku terburu-buru.” la pun meninggalkan toko itu dan mengemudi j sejauh delapan ratus meter ke toko perlengkapan

kantor yang besar. Dengan segera ia menemukan Hewlett-Packard Tablet PC dengan kemampuan nirkabel yang terintegrasi. Empat ratus empat puluh dolar lagi diinvestasikan untuk keselamatan ayahnya, walaupun Neal akan menyimpan laptop itu dan menyembunyikannya di kantornya. Dengan peta yang di-doumload-nya, ia menemukan PackagePost di pertokoan lain tak jauh dari sana. Di dalam, di loket pengiriman, dengan tergesa-gesa ia menuliskan dua halaman instruksi untuk ayahnya, lalu melipat dan memasukkannya ke amplop yang berisi surat dan instruksi lain yang sudah ia siapkan pagi harinya. Ketika ia yakin tak ada yang memerhatikan, ia menyusupkan dua puluh lembar uang seratus dolar ke dalam kantong hitam kedi smartphone Ankyo tadi. Lalu ia meletakkan surat dan instruksi, smartphone serta wadahnya ke dalam kardus paket yang dibelinya dari toko. k menyelotiprrya rapat-rapat, dan di bagian luar » menulis dengan spidol hitam: TITIPAN UNTUK fARCO lAzzETu. Karaiu itu pun dimasukkan alnTu kin yanS sedikit lebih besar, dan di-SSTJ^ Rudolph Viscovitch di Via ^ckagePos/ «o^- AktMt Pengirimnya adalah Virginia 22303 v Braddock Road, Alexandria.

tinggalkan namTT P1″1?* Pilihan’ *

nya di tempat * mat’ Kn* nomor telepon-Pcndaftaran, kalau-kalau p^1

tersebut dikembalikan. Petugas menimbang paket itu dan bertanya apakah Neal menghendaki asuransi. Neal menolak, lagi-lagi menghindari jejak dokumen. Petugas itu menempelkan prangko internasional dan akhirnya berkata, “Totalnya delapan belas dolar dan dua puluh sen.”

Neal membayarnya dan sekali lagi diyakinkan bahwa paket tersebut akan dikirim sore itu juga.

19

Dalam keremangan apartemennya yang kecil, Marco melakukan rutinitas paginya dengan efisiensi seperti biasa. Ia bukan orang yang biasa bermalas-malasan sewaktu membuka mata di pagi kari, kecuali di penjara, ketika ia tidak memiliki kanyak pilihan dan tidak punya motivasi untuk menjejakkan kaki di lamai dan segera bergiat. Dulu la SerinS ke kantornya sebelum pukul enam

Pa& hidungnya menyemburkan asap panas dan siap

Kebias y* ti8a atau cmPat Ja”1,

ada tantangan- ‘ mencari-cari perkara, tapi

Dalam w^^n Y™g berbeda, «lesai mandi, u’1″8 dati tiga menit ia sudah lasaan >ama lainnya yang di-

328

lakukan sepenuh hati di Via Fondazza karena keterbatasan air panas. Di atas toilet, ia bercukur dan dengan hati-hati menghindari jenggot menarik yang dibiarkannya tumbuh di wajahnya. Kumisnya hampir tumbuh sempurna; dagunya kelabu seluruhnya. Ia sama sekali tidak mirip Joel Backman, tidak juga bersuara seperti Joel Backman. Ia melatih dirinya berbicara lebih lambat dan dengan nada lebih pelan. Dan tentu saja ia melakukannya dalam bahasa asing.

Rutinitas paginya yang singkat termasuk melakukan sedikit kegiatan spionase. Di samping ranjangnya, terdapat lemari laci tempat ia menyimpan barang-barangnya. Empat laci, semua berukuran sama, yang paling bawah lima belas sentimeter jaraknya dari lantai. Ia mengambil seuntai benang Putih tipis yang dicabutnya dari seprai; benang yang sama yang digunakannya setiap hari Dijilat-nya kedua ujung benang, meninggalkan saliva sebanyak mungkin, lalu menjepitkan salah satu “jungnya di bawah laci paling terakhir. Ujung yang lain diselipkannya di dinding samping laci, jadiku laci tersebut dibuka, benang yang tak terlihat ltu akan tercabut dari tempatnya.

Seseorang, menurut dugaannya Luigi, memasuki barnya setiap hari sementara ia bela/ar_ dengan Ermanno ataupun Francesca, dan memeriksa Jaci-laci.

Meja kerjanya ada di ruang duduk yang kecil, ‘ di bawah satu-satunya jendela. Di sana Marco menyimpan berbagai kertas, notes, dan buku; buku panduan Bologna milik Ermanno, beberapa eksemplar Herald Tribune, koleksi menyedihkan panduan belanja gratis yang didapatkannya dari orang-orang Gipsi yang membagi-bagikannya di jalan, kamus Italia-Inggris yang amat sering digunakan, dan tumpukan bahan pelajaran dari Ermanno yang semakin membengkak. Meja itu tidak diatur dengan selayaknya, kondisi yang membuatnya jengkel. Meja pengacaranya yang lama, yang tidak akan muat diletakkan di ruang duduknya sekarang, terkenal karena keteraturannya yang luar biasa. Seorang sekretaris merapikannya sedemikian rupa setiap sore.

Namun di tengah-tengah kekacauan tersebut tersembunyi sebuah skenario. Permukaan meja tersebut berupa kayu keras yang sudah carut-marut karena digunakan selama puluhan tahun. Salah satu cacatnya adalah semacam noda kecil—Marco memutuskan itu barangkali noda tinta. Ukurannya sebesar kancing dan terletak tepat di tengah-tengah meja. Setiap pagi, sebelum pergi, ia menempatkan sudut selembar kertas di tengah noda itu. Bahkan mata-mata yang paling teliti tidak akan memerhatikannya.

Dan memang demikian adanya. Siapa pun yang

menyusup masuk setiap hari untuk menyisir apartemen ini tak pernah sekali pun cukup berhati-hati untuk mengembalikan kertas-kertas dan buku-buku tersebut di tempatnya yang tepat.

Setiap hari, tujuh hari seminggu, bahkan pada akhir pekan ketika ia tidak belajar, Luigi serta gengnya masuk dan melakukan pekerjaan kotor mereka. Marco mempertimbangkan rencana di mana ia akan bangun pada hari Minggu pagi dengan sakit kepala hebat, lalu menelepon Luigi, satu-satunya orang yang dihubunginya lewat ponsel, dan minta dibelikan aspirin atau apa pun obat semacam itu yang digunakan di Italia. Ia akan pura-pura sibuk mengurus dirinya, tak jauh-jauh dari tempat tidur, membiarkan apartemen tersebut tetap gelap, hingga sore hari ketika ia menelepon Luigi lagi dan mengumumkan bahwa ia sudah merasa jauh lebih sehat dan perlu makan. Mereka akan pergi ke sudut jalan, makan sesuatu dengan cepat, laki Marco mendadak merasa perlu segera kembali ke apartemen. Mereka akan pergi tak lebih dari satu jam. Adakah orang lain yang menyisir apartemennya? Rencana itu semakin matang. Marco ingin tahu siapa lagi yang memata-matainya. Sebesar apa jaring-jaringnya. Kalau kepentingan mereka hanya menjaga dirinya tetap hidup, mengapa mereka menggeratak apartemennya setiap hari? Apa yang

Mereka takut ia akan menghilang. Dan mengapa hal itu membuat mereka begitu khawatir? Toh ia manusia merdeka, bebas pergi ke mana pun. Penyamarannya bagus. Kemampuan bahasanya memang masih mendasar, tapi dapat dimengerti dan semakin baik dari hari ke hari. Peduli apa mereka kalau ia pergi? Naik kereta dan keliling negeri ini? Tidak pernah kembali lagi? Bukankah hidup mereka justru akan menjadi lebih mudah?

Dan mengapa mereka mengenakan tali kendali yang pendek padanya, tanpa paspor dan uang sekadarnya?

Mereka takut ia akan menghilang. Marco mematikan lampu-lampu dan membuka pintu. Di luar, di bawah trotoar bernaungan di Via Fondazza, suasana masih gelap. Ia mengunci pintu dan berjalan dengan cepat, sekali lagi mencari kopi pagi-pagi.

Di seberang dinding tebal, Luigi terbangun oleh suara berdengung di suatu tempat di kejauhan; dengung yang sama yang membangunkannya hampir setiap pagi pada jam-jam yang tak masuk akal. “Apa itu?” tanya si gadis. “Bukan apa-apa,” kata Luigi sambil menyibakkan selimut tebal ke arah perempuan itu dan terhuyung-huyung keluar tanpa mengenakan apa-apa. la cepat-cepat melintasi ruang kerja ke arah dapur, membuka kunci pintu, masuk, menutupnya, me-

nguncinya lagi, dan menatap monitor di atas meja lipat. Marco tampak meninggalkan apartemennya melalui pintu depan, seperti biasa. Dan sekali lagi pada pukul enam lewat sepuluh menit, tak ada yang aneh. Benar-benar kebiasaan yang bikin frustrasi. Orang Amerika terkutuk.

Ia menekan tombol dan monitor pun senyap. Prosedur mengharuskannya segera berpakaian, keluar ke jalan, menemukan Marco, dan mengawasinya sampai Ermanno mengadakan kontak dengannya. Namun Luigi sudah semakin bosan dengan prosedur itu. Lagi pula Simona menunggu.

Simona tak lebih dari dua puluh tahun usianya, mahasiswa dari Napoli, gadis cantik yang dikenalnya seminggu sebelumnya di klub yang dikunjunginya. Tadi malam adalah malam pertama mereka betsama, dan jelas tidak akan menjadi yang terakhir. Gadis itu sudah tertidur kembali ketika Luigi kembali ke kamar dan membenamkan diri di bawah selimut.

Di luar cuaca dingin. Ia memiliki Simona. Whitaker ada di Milan, kemungkinan masih tidur dan kemungkinan bersama seorang wanita Italia. Tak seorang pun mengawasi apa yang akan ia, Luigi, lakukan sepanjang hari itu. Marco tidak melakukan apa pun selain minum kopi.

Ia menarik Simona mendekat dan teridap lagi.

Pada awal bulan Maret itu, hari cerah dan penuh sinar matahari. Marco melewatkan sesi dua jam bersama Ermanno. Seperti biasa, bila cuaca berkompromi, mereka berjalan-jalan di pusat kota Bologna dan hanya berbicara dalam bahasa Italia. Kara kerja hari itu adalah “fare”, yang bisa diterjemahkan sebagai “melakukan” atau “membuat”, dan sejauh yang diketahui Marco, iru adalah kata yang paling fleksibel dan paling sering digunakan dalam bahasa Italia. Berbelanja adalah “fare la spesa”, yang terjemahannya bebasnya berarti “melakukan pengeluaran biaya, atau melakukan pembelian”. Bertanya adalah “fare la domanda”, yaitu “membuat pertanyaan”. Sarapan adalah “fare la colazume”, yang berarti “(melakukan) sarapan”.

Ermanno berpamitan lebih awal, seperti biasa mengatakan ia harus belajar. Sering kali, bila sesi pelajaran jalan-jalan berakhir, Luigi akan muncul menggantikan Ermanno, yang menghilang dengan kecepatan menakjubkan. Marco curiga koordinasi tersebut sengaja dimaksudkan untuk memberi kesan bahwa ia selalu diawasi.

Mereka berjabat tangan dan saling mengucapkan selamat berpisah di depan Feltrinelli’s, salah satu dari banyak toko buku yang ada di area universitas. Luigi muncul dari sudut jalan dan seperti biasa

menyapa dengan riang, “Buon giorno. Pranziamo?” Kita makan siang? “Certamente.”

Acara makan siang menjadi lebih jarang, dan Marco mendapat lebih banyak kesempatan makan dan memesan sendiri.

“Ho trovato un nuovo ristorante.” Aku menemukan restoran baru.

“Andiamo.” Mari.

Tidak jelas apa saja yang dilakukan Luigi sepanjang hari, tapi tak diragukan lagi bahwa ia melewatkan berjam-jam menjelajah kota ini untuk mencari kafe, trattoria, dan restoran. Mereka tidak pernah makan di tempat yang sama dua kali.

Mereka menyusuri jalan sempit dan sampai di Via dek” Indipendenza. Luigi yang lebih banyak bicara, selalu dengan bahasa Italia yang perlahan dan tepat pengucapannya. Menurut Marco, ia sudah melupakan bahasa Inggris sama sekali.

“Francesca tidak bisa datang mengajar sore ini,” ujarnya. “Kenapa tidak?”

“Ada rombongan tur dari Australia yang meneleponnya kemarin. Bisnisnya sedang sepi bulan-bulan ini. Kau menyukainya?”

“Apakah aku harus menyukai dia?”

Tah, lebih baik kalau begitu.”

“Ia bukan orang yang hangat dan lembut.”

“Apakah ia guru yang baik?” Luar biasa. Bahasa Inggris-nya yang sempurna memacuku untuk belajar lebih lagi.”

“Ia bilang, kau belajar dengan sangat rajin, dan bahwa kau orang yang baik.” “Ia menyukaiku?”

“Ya, sebagai murid. Menurutmu ia cantik?” “Sebagian besar wanita Italia cantik, rermasuk Francesca.”

Mereka berbelok ke jalan kecil, Via Goito, dan Luigi menuding ke depan. “Itu,” katanya, dan mereka berhenti di pintu Franco Rossi’s. “Aku belum pernah makan di sini, tapi kudengar makanannya enak sekali.”

Franco sendiri yang menyambut mereka dengan senyum dan lengan terbuka. Pria itu mengenakan setelan warna gelap yang konrras dengan rambut kelabunya yang lebat. Ia menerima mantel mereka dan bercakap-cakap dengan Luigi seolah mereka teman lama. Luigi menyebut nama-nama tertentu dan Franco senang mendengarnya. Dipilihlah meja di dekat jendela depan. “Meja kami yang terbaik,” ujar Franco penuh semangat. Marco menatap sekelilingnya dan tidak melihat meja yang buruk.

“Antiposti di sini luar biasa,” kata Franco rendah hati, seakan ia tidak suka sesumbar tentang hidangan-hidangannya. Tapi favorit saya hari ini

adalah salad jamur iris. Lino menambahkan truffles, keju Parmesan, beberapa iris apel…” Pada saat itu kata-kata Franco memelan sewaktu ia mencium ujung jemarinya. “Benar-benar enak,” akhirnya ia berhasil mengucapkannya dengan mata terpejam, seolah bermimpi.

Mereka setuju memesan salad itu dan Franco meninggalkan mereka untuk menyambut pengunjung lain. “Lino itu siapa?” tanya Marco.

“Kakaknya,- koki kepala.” Luigi mencelupkan roti Tuscany ke dalam semangkuk minyak zaitun. Seorang pramusaji berhenti dan menawarkan anggur. Tentu saja,” jawab Luigi. “Aku ingin anggur merah, dari daerah sini.”

Tak perlu ditanyakan lagi. Pramusaji itu dengan bolpoinnya menunjukkan sesuatu dalam daftar anggur dan berkata, “Yang ini, Liano dari Imola. Fantastis.” Ia berlagak mencium udara untuk menekankan ucapannya.

Luigi tak punya pilihan lain. “Kami mau mencobanya.”

“Kita tadi bicara soal Francesca,” kata Marco kemudian. “Sepertinya ia kurang konsentrasi. Ada apa dengannya?”

Luigi mencelupkan roti lagi ke dalam minyak zaitun dan menggigit besar-besar seraya mempertimbangkan sebanyak apa yang bisa ia beritahukan pada Marco. “Suaminya tidak sehat,” jawabnya.

“Ia punya anak?” “Kurasa ridak.” “Suaminya kenapa?”

“Sakit cukup parah. Kurasa usianya sedikit lebih tua daripada Francesca. Aku beJum pernah bertemu dia.”

// Signore Rossi kembali untuk membantu mereka dengan menu, yang sebenarnya tak dibutuhkan. Ia menjelaskan bahwa hidangan torteUini-ttp. adalah yang terbaik di Boiogna,.dan terutama hari ini sedang bagus-bagusnya. Lino akan senang keluar dari dapur dan membenarkan hai ini. Setelah tor-tellini, pilihan terbaik adalah filet daging sapi muda dengan truffle.

Selama lebih dari dua jam mereka mengikuti saran Franco, dan ketika meninggalkan restoran itu mereka membawa perut mereka kembali ke Via deh” Indipendenza sambil membicarakan waktu siesta.

Marco menemukannya secara tak sengaja di Piazza Maggiore. Ia sedang menikmati espresso di meja luar kafe, menahan udara dingin di bawah sinar matahari yang benderang, setelah jalan-jalan cepat selama tiga puluh menit. Ia melihat sekelompok kecil lansk berambut kelabu keluar dari Palazzo Comunale, balai kota Bologna. Sesosok rubuh yang

tak asing memimpin mereka, wanita kurus dan kecil dengan bahu tegak, rambutnya yang hitam terurai di bawah topi baret warna ungu kemerahan. Marco meninggalkan sekeping uang satu euro di meja dan mendekati mereka. Di kolam Neptunus, ia beringsut ke belakang rombongan tersebut—seluruhnya ada sepuluh orang—dan mendengarkan Francesca bekerja. Ia menjelaskan bahwa patung perunggu dewa laut Romawi itu dibuat oleh pria Prancis selama tiga tahun, dari tahun 1563 hingga 1566. Patung itu dipesan oleh seorang uskup dalam rangka program mempercantik kota, demi menyenangkan sang paus. Legenda mengatakan bahwa sebelum mulai bekerja, pria Prancis itu risau dengan kondisi Neptunus yang telanjang bulat, jadi ia mengirim rancangannya kepada Paus di Roma untuk meminta persetujuan. Paus mengirim pesan kembali, “Untuk Bologna, tidak apa-apa.”

Sikap Francesca dengan turis-turis sungguhan tampak lebih bersemangat ketimbang dengan Marco. Suaranya lebih hidup, senyumnya lebih sering terkembang. Ia mengenakan kacamata yang sangat trendi, yang membuatnya tampak sepuluh tahun lebih muda. Sambil bersembunyi di belakang rombongan Australia iru, Marco menonton dan mendengarkan untuk waktu yang lama tanpa ketahuan.

Francesca menjelaskan bahwa Fontana del Nettuno adalah salah satu simbol kota yang paling terkenal, dan boleh jadi paling sering difoto. Kamera-kamera pun dikeluarkan dari kantongnya, dan para turis mengambil waktu berpose di depan Neptunus. Pada saat itu, Marco berhasil cukup dekat untuk menangkap perhatian Francesca. Ketika melihat Marco, Francesca langsung tersenyum, lalu dengan pelan berkata, “Buon giorno.”

“Buon giorno. Keberatan kalau aku ikut?” tanya Marco dalam bahasa Inggris.

Tidak. Maaf aku harus membatalkan pelajaran.”

Tidak apa-apa. Bagaimana kalau makan malam?”

Francesca melirik ke sekitarnya, seolah ia baru melakukan sesuatu yang dilarang.

“Untuk belajar, tentu saja. Tidak lebih,” ujar Marco.

“Maafkan aku,” timpal Francesca. Ia melihat ke balik bahu Marco, ke seberang piazza, ke arah Basilica di San Petronio. “Kafe kecil di sana itu,” kata Francesca, “di sebelah gereja, yang di pojok.

Temui aku di sana pada jam lima, lalu kita akan

belajar selama satu jam.” “Va bene,”

Tur dilanjutkan beberapa langkah lagi ke tembok barat Palazzo Comunale, tempat mereka berhenti di

depan tiga foto hitam-putih besar yang dipajang di dalam bingkai. Sejarahnya, selama Perang Dunia II, Bologna dan sekitarnya menjadi jantung Perlawanan Italia. Bolognesi membenci Mussolini dan kaum fasis serta pendudukan Jerman, dan mereka berjuang dengan bergerilya. Nazi membalas dengan penuh dendam—aturan mereka yang tetkenal adalah mereka akan membunuh sepuluh orang Italia untuk satu tentara Jerman yang dibunuh oleh kelompok Perlawanan. Dalam rangkaian 55 pembantaian yang dilakukan di Bologna dan sekitarnya» mereka membunuh ribuan pemuda pejuang Italia. Nama dan wajah mereka dipajang di dinding, dikenang selama-lamanya.

Dalam saat-saat yang muram itu, para anggora tur Australia yang sudah berusia lanjut itu beringsut mendekat untuk melihat para pahlawan dengan lebih jelas. Marco juga ikut mendekat. Ia tercengang melihat betapa mudanya mereka, janji-janji yang selamanya tak akan pernah terpenuhi—dibantai karena keberanian mereka.

Sementara Francesca berjalan lagi bersama rombongannya, Marco diam di tempat, menatap wajah-wajah yang menutupi sebagian besar dinding panjang itu. Ada ratusan, bahkan ribuan jumlahnya. Di sana-sini terlihat wajah wanita cantik. Saudara. Ayah dan anak. Seluruh keluarga.

Rakyat jelata bersedia mati untuk negara mereka

dan apa yang mereka yakini. Patriot-patriot setia yang tak memiliki apa pun untuk dipersembahkan selain nyawa mereka, lapi Marco tidak. Maaf saja. Kalau terpaksa memilih antara kesetiaan dan uang Marco melakukan apa yang selalu ia lakukan. Ia memilih uang. Ia menyangkal negaranya. Semua demi kemuliaan harta.

Francesca berdiri di balik pintu kafe, menunggu, tidak minum apa pun, tapi tentu saja merokok Marco telah memutuskan bahwa kesediaan Francesca bertemu dengannya selarut ini merupakan bukti lebih lanjut betapa wanita itu membutuhkan pekerjaan.

“Kau mau berjalan-jalan,” tanya wanita itu tanpa mengucapkan halo.

Tentu.” Ia sudah berjalan beberapa mil bersama Ermanno sebelum makan siang, lalu selama beberapa jam setelah makan siang, ketika menunggu Francesca. Ia sudah berjalan cukup jauh untuk satu hari, rapi apa lagi yang bisa dilakukan? Setelah sebulan berjalan beberapa mil setiap harinya, tubuhnya menjadi lebih fit. “Ke mana?”

“Jalan jauh,” jawab Francesca.

Mereka menyusuri jalan-jalan sempit, menu/u arah barat daya, bercakap-cakap pelan dalam bahasa Italia, membicarakan pelajaran pagi itu dc-

I ngan Ermanno. Francesca menceritakan tentang orang-orang Australia tadi, rombongan yang menyenangkan dan mudah diurus. Di tepi kota lama, mereka berjalan ke arah Porta Saragozza dan Marco menyadari di mana ia berada, ke mana ia akan menuju.

“Naik ke San Luca,” katanya. “Ya. Cuaca hari ini sangat cerah, malam hari nanti pasti cantik sekali. Kau tidak apa-apa?”

Kedua kakinya sudah sangat pegal, tapi Marco tak pernah bermimpi akan menolaknya. “Andiamo,” ajaknya. Mari.

Hampir tiga ratus meter di atas kota, di Colle della Guardia, salah satu kaki bukit pertama dalam rangkaian Pegunungan Apennine, terdapat Santuario di San Luca, yang selama delapan abad telah berdiri mengawasi Bologna sebagai pelindung dan penjaga. Untuk naik ke sana, tanpa basah karena hujan maupun terbakar sinar matahari, . Bolognesi memutuskan untuk melakukan sesuatu yang menjadi keahlian mereka—membangun jalur pejalan kaki yang bernaungan. Dimulai pada tahun 1674, dan berlanjut tanpa henti selama 65 tahun, mereka membuat naungan melengkung; 666 lengkingan di atas jalur pejalan kaki, 3,6 kilometer jauhnya, menjadikannya trotoar beratap yang paling

panjang di dunia. …. ,

Walaupun Marco sudah mempelajari sejarahnya,

detail-detailnya jauh lebih menarik ketika didengar-nya dari mulur Francesca. Perjalanan naik itu terus mendaki, dan mereka mengukur kecepatan masing-masing. Setelah beberapa ratus lengkungan, betis Marco mulai menjerit minta istirahat. Di lain pihak, Francesca terus melaju seolah ia sanggup mendaki gunung. Marco masih menunggu sampai akibat banyaknya rokok memperlambat Jangkah Francesca.

Untuk mendanai proyek raksasa dan megah itu, Bologna menggunakan kekayaannya yang lumayan. Dalam kekompakan langka antara faksi-faksi yang berseteru, masing-masing portico tersebut didanai oleh kelompok-kelompok pedagang, perajin, mahasiswa, gereja, dan keluarga-keluarga bangsawan. Untuk mencatat pencapaian mereka, dan demi mengukuhkan keabadian, mereka diperbolehkan menggantungkan plakat di lengkungan masing-masing Kebanyakan sudah hilang seiring tahun-tahun berlalu.

Francesca berhenti sejenak di lengkungan ke-170, satu di antara sedikit plakat yang masih tergantung. Lengkungan itu dikenal dengan nama “la Madonna gratsa”, atau Madonna gemuk. Ada lima belas kapel sepanjang jalan ke sana. Mereka berhenti lagi di antara kapel kedelapan dan kesembilan, tempat terdapat jembatan di atas jalan. Bayang-bayang panjang mulai tercipta & portico sementara mereka

terus mendaki bagian paling terjal di tanjakan

tersebut. “Tempat ini terang pada malam hari,” Francesca meyakinkannya. “Untuk perjalanan turun.

Marco tidak memikirkan perjalanan turun. Ia masih mendongak, menatap gereja di atas, yang sesekali kelihatan lebih dekat dan pada saat yang lain seperti menjauh dari mereka. Pahanya sudah berdenyut-denyut sekarang, langkahnya semakin berat.

Sewaktu mereka mencapai puncak dan keluar dari bawah naungan ke-666, sebuah basilika yang mengagumkan terbentang di hadapan mereka. Lampu-lampunya mulai menyala sementara kegelapan mengelilingi perbukitan di aras kota Bologna, dan kubahnya bersinar dalam nuansa keemasan. “Sekarang sudah tutup,” kata Francesca. “Kita akan kembali untuk melihatnya lain kali.”

Saat mendaki, Marco melihat sebuah bus yang menuruni bukit. Kalau suatu saat ia bermaksud mengunjungi San Luca lagi hanya untuk melihat-lihat katedral lain, sudah pasti ia akan naik bus.

“Lewat sini,” kata Francesca pelan, memanggilnya. “Aku tahu jalan rahasia.”

Marco mengikutinya melalui jalan setapak berkerikil di belakang gerejai menuju tepi tebing di mana mereka berhenti dan memandang kota di bawah mereka. “Ini tempat favoritku,” kata

Francesca lalu menarik napas dalam-dalam, seolah berusaha menghirup keindahan Bologna. “Seberapa sering kau datang kemari?” “Beberapa kali dalam setahun, biasanya bersama rombongan. Mereka selalu naik bus. Kadang-kadang aku suka mendaki kemari pada hari Minggu sore.” “Sendiri?” “Ya, sendiri.”

“Bisakah kita duduk di suatu tempat?”

“Ya, ada bangku kecil tersembunyi di sebelah sana Tidak ada yang mengetahuinya.” Marco mengikuti Francesca menuruni beberapa undakan, lalu menyusuri jalan setapak berbatu-batu menuju tepi tebing lain yang juga menyajikan pemandangan menakjubkan.

“Kakimu pegal?” tanya Francesca.

Tentu saja tidak,” dusta Marco.

Wanita itu menyulut sebatang rokok dan menikmatinya dengan gaya yang hanya bisa dilakukan sedikit orang Mereka duduk dalam keheningan untuk waktu yang lama, keduanya beristirahat, keduanya berpikir dan memandangi lampu-lampu yang berpendar di Bologna.

Marco akhirnya berbicara, “Luigi memberitahuku bahwa suamimu sakit parah. Aku ikut prihatin.”

Francesca meliriknya, pandangannya terkejut, Wu membuang muka. “Luigi pernah berkata hal-hal pribadi tak boleh dibicarakan.”

“Luigi sudah mengubah peraturannya. Apa yang

dikatakannya tentang diriku?”

“Aku belum pernah bertanya. Kau berasal dari Kanada, sedang bepergian, berusaha mempelajari

bahasa Italia” “Kau percaya?” Tidak juga.” “Mengapa tidak?”

“Karena kau mengatakan punya istri dan keluarga, tapi kau meninggakkan mereka untuk perjalanan panjang ke Italia. Dan kalau kau pengusaha yang sedang berlibur, Luigi itu siapa? Dan Ermanno? Mengapa kau membutuhkan orang-orang itu?”

“Pertanyaan bagus. Aku tidak punya istri.” “Jadi semua itu bohong.”

“Ya.”

“Seperti apa kebenarannya?”

Aku tidak bisa memberitahumu.”

“Bagus. Aku tidak ingin tahu,”

“Kau sudah punya cukup banyak masalah, kan, Francesca?”

“Masalahku adalah urusanku sendiri.”

Francesca menyulut rokok lagi. “Aku boleh minta satu?” tanya Marco.

“Kau merokok?”

“Bertahun-tahun yang lalu.” Marco mengambil sebatang dari kotaknya dan menyulutnya. Lampu-

lampu kota tampak semakin cemerlang sernentan malam melingkupi mereka.

“Apakah kau memberitahu Luigi segala hal yang kita lakukan?” tanya Marco. “Hanya sedikit yang kuberitahukan padanya.”

348

20

Kunjungan Teddy yang terakhir ke White House dijadwalkan pada pukul sepuluh pagi. Ia berencana akan datang terlambat. Mulai pukul tujuh pagi itu, la roengumpulkan tim transisi tak resminya—empat deputi direktur dan orang-orang seniornya. Dalam raPat kecil diam-diam tersebut, ia memberitahu orang-orang yang menjadi kepercayaannya selama bertahun-tahun bahwa ia akan segera keluar, bahwa hal itu sebenarnya sudah sekian lama rak terhindarkan lagi, bahwa lembaga mereka dalam kondisi prima, dan hidup terus berjalan.

Orang-orang yang mengenalnya merasakan armos-fer kelegaan. Lagi pula, usianya sudah mendekat. Alapan puluh tahun dan kesehatannya yang buruk “tenjadi semakin parah. , , .

Pada pukul 08.45 tepat, ketika sedang berb.caradengan William Lucat, deputi direktur operasinya, Teddy Maynard memanggil Julia Javier untuk membicarakan Backman. Kasus Backman masih penting, tapi dalam tataran intelijen global, prioritasnya masih di tengah-tengah.

Betapa aneh operasi yang berkaitan dengan seorang mantan pelobi menjadi penanda kejatuhan Teddy.

Julia Javier duduk di sebelah Hoby yang selalu awas, yang masih saja menulis catatan yang tidak akan pernah dilihat siapa pun. Julia Javier memulai kata-katanya dengan lugas, “Ia berada di tempat, masih di Bologna, jadi kalau kita mau bergerak sekarang, kita bisa melakukannya.”

“Aku mengira rencananya adalah memindahkan dia ke pedesaan, tempat kita bisa mengawasinya dengan lebih ketat,” kata Teddy. “Itu masih beberapa bulan lagi.” “Kita tidak punya waktu beberapa bulan lagi.” Teddy berpaling pada Lucat dan berkata, “Apa yang terjadi kaku kita memencet tombolnya sekarang?”

“Bisa berhasil. Mereka akan menemukannya di suatu tempat di Bologna. Tempat itu menyenangkan, kota yang nyaris tak memiliki angka kriminalitas. Pembunuhan tak pernah terjadi disana, jadi kematiannya akan menarik perhatian bila mayatnya ditemukan di sana. Orang-orang Italia akan segera menyadari bahwa ia bukan—siapa namanya JuliaT

“Marco,” sahut Teddy tanpa melirik catatan, “Marco Lazzeri.”

“Ya. Mereka akan garuk-garuk kepala dan bertanya-tanya siapa dia sebenarnya.”

Julia menyela, “Tidak ada tanda-tanda identitas aslinya. Mereka akan menemukan mayat, kartu identitas palsu, tanpa keluarga, alamat, pekerjaan, : tanpa apa pun juga. Mereka akan menguburnya seperti orang kere dan membiarkan kasusnya tetap . terbuka selama setahun. Sesudah itu kasusnya akan dipetieskan.”

“Itu bukan urusan kita,” ujar Teddy. “Bukan kita yang akan melakukan pembunuhan.” “Benar,” kata Lucat. “Akan sedikit lebih sulit di-• lakukan di kota, tapi orang itu senang jalan-jalan i ke mana-mana. Mereka akan bisa menemukannya. Barangkali akan ada mobil yang menabraknya. Orang-orang Italia mengemudi seperti orang gila, kan.”

“Tidak akan terlalu sulit, bukan?”

“Kurasa tidak.”

“Dan berapa kemungkinan kita mengetahui pembunuhan itu sudah terjadi?” tanya Teddy.

Lucat menggaruk kepala dan menatap ke seberang meja pada Julia, yang sedang menggigit kukunya dan menoleh pada Hoby, yang sedang I mengaduk teh hijau dengan pengaduk plastik. Lucat akhirnya menjawab, “Lima puiuh-lima puluh,

paling tidak pada tempat kejadian. Kita akan mengawasinya dua puluh empat jam sehari dan tujuh hari seminggu, tapi yang akan menghabisinya pasti orang-orang yang terbaik. Kemungkinan tidak akan ada saksi.”

Julia menambahkan, “Kemungkinan besar kita akan mendengarnya kemudian, beberapa minggu setelah mereka mengubur si kere itu. Kita punya orang-orang yang bagus di sana. Kita akan mendengarkan dengan saksama. Kurasa kita baru akan mendengar kabarnya kemudian.”

Lucat berkata, “Seperti biasa, kalau bukan kita sendiri yang menekan picunya, ada kemungkinan kita tidak bisa yakin sepenuhnya.”

“Kita tidak boleh mengacaukan kasus ini, mengerti? Senang juga kalau mengetahui Backman sudah mati—hanya Tuhan yang tahu ia memang layak mendapatkannya—tapi tujuan utama operasi ini adalah mengetahui siapa yang membunuhnya,” kau Teddy sementara tangannya yang putih berkerut-kerut perlahan mengangkat cangkir kertas berisi teh hijau ke mulutnya. Ia menghirupnya dengan bunyi keras dan tidak sopan.

Mungkin sudah saatnya pak tua ini membusuk di panti jompo.

“Aku cukup yakin ” kata Lucat. Hoby mencatatnya

“Kalau kita membocorkan informasi ini, berapa

lama waktu yang dibutuhkan sebelum ia mati?” tanya Teddy.

Lucat mengangkat bahu dan membuang muka seraya memikirkan pertanyaan itu. Julia menggigiti kuku yang lain. “Tergantung ” jawab Julia hati-hati. “Kalau Israel yang bergerak, bisa seminggu. Cina biasanya lebih lambat. Saudi barangkali akan menyewa agen lepas; bisa makan waktu sebulan untuk menempatkan agen lepas di sana.”

“Rusia bisa melakukannya dalam seminggu,” tambah Lucat.

“Aku tidak akan berada di sini ketika itu terjadi,” ujar Teddy sedih. “Dan tak seorang pun di sisi Adantik sini yang akan mengetahuinya. Berjanjilah kalian akan meneleponku.”

“Jadi ini lampu hijau?” tanya Lucat. Ya. Tapi hati-hati dengan caramu membocorkannya. Semua pemburu harus diberi kesempatan yang sama untuk mengincar sasaran.”

Mereka mengucapkan selamat tinggal pada Teddy untuk terakhir kali dan meninggalkan kantornya. Pada pukul setengah sepuluh, Hoby mendorong kursi rodanya ke koridor, ke depan pintu lift. Mereka turun delapan lantai ke tingkat bawah tanah, tempat mobil van putih antipeluru itu sudah menunggu mengantarnya dalam perjalanan yang terakhir ke White House.

Pertemuan itu berlangsung singkat saja. Dan Sandberg sedang duduk di mejanya di Post ketika pertemuan itu dimulai di Oval Office beberapa menit selepas pukul sepuluh. Dan ia belum bergerak dari sana ketika Rusty Lowell meneleponnya dua puluh menit kemudian. “Sudah selesai/5 katanya.

“Apa yang terjadi?” tanya Sandberg, tangannya sudah siap di atas papan ketik.

“Seperti yang diperkirakan. Presiden ingin tahu tentang Backman. Teddy tetap bergeming. Presiden berkata ia berhak mengetahui segalanya. Teddy membenarkan, tapi berkata bahwa informasi itu akan disalahgunakan untuk kepentingan politik dan akan membongkar operasi yang sensitif. Mereka berdebat sebentar. Teddy akhirnya dipecat. Tepat seperti yang pernah kukatakan padamu.” “Wow.”

“White House akan memberikan pernyataan beberapa menit lagi. Kau mungkin ingin menontonnya.”

Seperti biasa, semua berjalan seketika. Sekretaris Pers yang berwajah muram mengumumkan bahwa Presiden telah memutuskan untuk “mengejar tujuan di jalur berbeda dalam hal operasi-operasi intelijen”. Ia memuji Direktur Maynard atas ke-

354

pemimpinannya yang legendaris dan tampak sangat sedih karena harus mencari penggantinya. Pertanyaan pertama yang diajukan dari baris depan:

Maynard mengundurkan diri atau dipecat? “Presiden dan Direktur Maynard telah mencapai

kesepahaman bersama.” “Apa artinya?”

“Tepat seperti yang sudah saya katakan.” Dan begitulah yang berlangsung selama tiga puluh menit.

Tulisan Sandberg di halaman pertama keesokan harinya menjatuhkan dua bom sekaligus. Tulisan itu dimulai dengan penegasan bahwa Maynard telah dipecat setelah menolak memberikan informasi sensitif yang menurutnya hanya akan dimanfaatkan untuk kepentingan politik semata. Tidak ada pengunduran diri, tidak ada “pencapaian kesepahaman bersama”. Itu hanya PHK dalam arti sebenarnya. Ledakan kedua mengumumkan pada dunia bahwa sikap keras Presiden menyangkut pengumpulan data intelijen itu berkaitan langsung dengan investigasi baru FBI yang menyelidiki jual-beli pengampunan hukuman. Bisik-bisik mengenai skandal jual-beli abolisi tersebut memang sudah terdengar, hingga Sandberg membuka pintu bendungan. Tulisannya boleh dibilang menghentikan lalu lintas di Jembatan Arlington Memorial. Sementara Sandberg berada di ruang pers, me-

nikmati pukulan yang dilancarkannya, ponselnya berdering. Dari Rusty Lowell, yang langsung ber kata, “Telepon aku dari jalur land line. Cepat” Sandberg pergi ke ruang kantor kecil untuk men-dapatkan privasi dan menghubungi nomor telepon Lowell di Langley.

“Lucat baru saja dipecat,” kata Lowell, “Pada pukul delapan pagi ini, ia dipanggil Presiden ke Oval Office. Ia diminta menjadi pejabat sementara I direktur. Ia mau. Mereka berbicara selama satu jam. Presiden menekannya soal kasus Backman. Lucat bergeming. Jadi ia dipecat, seperti Teddy.” “Sial, sudah ratusan tahun ia ada di sana.” Tiga puluh delapan tahun, tepatnya. Salah satu orang kami yang terbaik di sini. Administrator hebat.”

“Siapa yang berikut?”

“Pertanyaan bagus. Kami semua takut mendengar ketukan di pintu,”

“Harus ada orang yang mau mengurus lembaga itu,”

“Kau pernah bertemu Susan Penn?” “Tidak. Aku tahu siapa dia, tapi belum pernah bertemu dengannya.”

“Deputi direktur bidang sains dan teknologi. Sa ngat setia pada Teddy, tapi kami semua pun begitu Tapi dia juga tidak gampang kalah. Dia ada d Oval Office sekarang. Kalau ditawari jabatan g

dia akan menerimanya. Dan dia akan menyerahkan

Backman untuk mendapatkannya.”

“Dia presiden, Rusty. Dia bethak tahu semuanya.”

“Tentu saja. Dan ini masalah prinsip. Aku tak bisa menyalahkan otang itu. Ia masih baru, ingin memamerkan kekuatannya. Sepertinya ia siap memecat kami semua sampai mendapatkan apa yang diinginkannya. Kusuruh Susan Penn menerima jabatan itu untuk menghentikan banjir datah.”

“Jadi FBI akan tahu segalanya tentang Backman dalam waktu dekat?”

“Dugaanku hari ini juga. Aku sendiri tidak yakin apa yang akan mereka perbuat ketika mengetahui di mana ia betada. Kasus mereka masih dalam proses panjang. Barangkali mereka hanya akan mengacaukan operasi kami.” “la ada di mana?” “Tidak tahu.”

“Ayolah, Rusty, keadaan sudah berubah sekarang.”

“Jawabannya tetap tidak. Titik. Aku akan terus memberitahumu tentang banjir darah itu.”

Satu jam kemudian, sekretaris pers White House mengumumkan pengangkatan Susan Penn sebagai pejabat sementara direktur C1A. Ia membesar-besar-kan fakta bahwa Susan Penn adalah wanita pertama yang memegang tampuk kepemimpinan tersebut,

dan sekali lagi membuktikan betapa bulat tekad Presiden untuk bekerja keras demi kesetaraan hak

Luigi sedang duduk di tepi ranjangnya, seorang diri dan berpakaian lengkap, menunggu tanda dari apartemen sebelah. Yang ditunggunya tiba pada menit keempat belas selepas pukul enam pagi—Marco sudah menjadi makhluk yang didikte kebiasaan. Luigi berjalan ke ruang kontrol dan menekan tombol untuk menghentikan dengung yang menandakan temannya baru saja keluar dari pintu depan. Komputer mencatat waktu setepatnya dan dalam beberapa detik, seseorang di Langley akan mengetahui bahwa Marco Lazzeri baru saja meninggalkan rumah persembunyian di Via Fondazza pada pukul 06.14.

Sudah beberapa hari Luigi tidak membuntutinya. Simona menginap di apartemennya. Ia menunggu beberapa saat, menyelinap keluar dari pintu belakang, mengambil jalan pintas melalui gang sempit, lalu mengintip dari balik bayang-bayang trotoar Via Fondazza. Marco ada di sebelah kirinya, mengarah ke selatan dan berjalan dengan langkah sigapnya seperti biasa, yang bertambah cepat seiring lamanya ia tinggal di Bologna. Usianya paling sedikit dua puluh tahun lebih tua daripada Luigi, namun dengan kesukaannya berjalan-jalan selama berkilo-

kilometer setiap hari, tubuhnya menjadi semakin bugar. Tambahan lagi, ia tidak merokok, tidak banyak minum, sepertinya tidak tertarik pada perempuan ataupun kehidupan malam, dan ia telah melewatkan enam tahun terakhir di balik tetali besi. Tak heran ia bisa menjejalah jalanan selama berjam-jam, tanpa melakukan sesuatu yang lain.

Marco mengenakan sepatu botnya yang baru setiap hari. Luigi belum bisa menyentuhnya. Sepasang sepatu itu masih bebas dari penyadap, tidak meninggalkan jejak sedikit pun. “Whitaker mengkhawatirkan hal ini di Milan, tapi ia memang mengkhawatiikan segala hal. Luigi yakin Marco berjalan berkilo-kilometer di dalam wilayah kota, tapi tak pernah keluar dari garis. Ia memang pernah menghilang sebentar, menjelajah atau melihat-lihat, tapi ia selalu bisa ditemukan kembali.

Marco berbelok di Via Santo Stefano, jalan besar di sudut tenggara kota lama Bologna yang mengarah ke keramaian di sekitar Piazza Maggiore. Luigi menyeberang dan mengikutinya dari sisi lain. Sementara ia nyaris berlari kecil, dengan segera ia menghubungi Zellman lewat radio. Zellman adalah orang baru mereka di kota ini, dikirim Whitaker untuk merapatkan jaring-jaring. Zellman sudah menunggu di Strada Maggiore, jalan besar yang sibuk di antara rumah persembunyian dan universitas. Kedatangan Zellman merupakan tanda bahwa

“rencana ini bergerak maju. Luigi mengetahui hampir seluruh detailnya sekarang, dan entah bagaimana merasa sedih karena hari-hari Marco sudah bisa cfchitung jumlahnya. Ia tidak yakin siapa yang akan membunuhnya, dan ia. mendapat kesan Whitaker pun tidak tahu.

Luigi berdoa, semoga bukan dia yang diperintahkan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut. Ia pernah membunuh dua orang, dan memilih untuk mengiiindari kerepotan tersebut. Lagi pula, ia menyukai Marco.

Sebelum Zellman sempat melanjutkan penguntitan, Marco menghilang. Luigi berhenti dan mendengarkan. Ia menyelinap di kegelapan sebuah pintu, kalau-kalau Marco telah berhenti juga.

Ia mendengarnya di belakang sana, langkah-langkahnya agak terialu berat, napasnya agak terlalu memburu. Ia berbelok kiri dengan sigap di jalan yang sempit, Via Castellata, berlari cepat sejauh lima puluh meter, lalu belok kiri lagi di Via de Chiari. Dengan berganti haluan dari utara ke barat, lalu berjalan cepat cukup jauh, maka tibalah ia di tempat terbuka, alun-alun kecil bernama Piazza Cavour. Ia mengenal kota lama itu dengan baik; ja-‘ lan besar, gang jalan buntu, persimpangan, labirin berkelok-kelok yang terdiri atas jalan-jalan sempit,

nama setiap alun-alun, dan toko serta warung. Ia tahu warung rokok mana yang buka pada pukul enam dan mana yang menunggu sampai jam tujuh. Ia bisa menemukan lima warung kopi yang sudah penuh menjelang fajar, walau kebanyakan buka ketika hari sudah terang. Ia tahu di mana ia bisa duduk di depan jendela depan, bersembunyi di balik koran, memandang ke arah trotoar, dan menunggu Luigi berjalan lewat.

Ia bisa melepaskan diri dari Luigi kapan pun ia mau, walau seringnya ia ikut bermain dan membiarkan dirinya mudah diikuti. Namun kenyataan bahwa ia selalu diawasi dengan ketat membuktikan sesuatu yang lebih penting.

Mereka tidak ingin aku menghilang begitu katanya selalu pada diri sendiri. Mengapa? Karena aku ada di sini untuk tujuan tertentu.

Ia mengambil jalur melambung lebar ke arah barat kota, jauh dari yang diperkirakan pengekor-nya. Setelah hampir satu jam berzig-zag melalui puluhan jalan dan gang, ia sampai di Via Irnerio dan mengamati lalu lintas pejalan kaki. Bar Fontana ada di seberang jalan persis di depannya. Tidak ada orang yang mengawasinya.

Rudolph duduk menyempii di belakang, wajahnya terkubur rendah di balik koran pagi, asap pipa membubung dalam spiral biru yang bergerak malas. Sudah sepuluh hari mereka tidak bertemu, dan se-

telah bertukar salam hangat yang biasa, Rudolph bertanya, “Kau jadi ke Venesia?”

Ya, kunjungan yang menyenangkan. Marco menyebut nama-nama tempat yang dihafalkannya dari buku panduan. Dengan berbunga-bunga, ia menggambarkan keindahan kanal-kanal, pelbagai jenis jembatan, gelombang turis yang menyesakkan. Tempat yang menakjubkan. Tak sabar untuk kembali ke sana. Rudolph menambahkan kenangan-kenangannya sendiri. Marco menggambarkan Basilika San Marco seolah ia telah melewatkan seminggu di sana.

Berikutnya ke mana? Rudolph ingin tahu. Mungkin ke selatan, ke tempat yang lebih hangat. Barangkali Sisilia, atau pesisir Amalfi. Rudolph tentu saja mengagumi Sisilia dan menceritakan kunjungannya ke sana. Setelah setengah jam mengobrol tentang perjalanan, Marco akhirnya sampai pada tujuannya. “Aku bepergian terus, sehingga tidak punya alamat tetap. Seorang teman di Amerika mengirimkan paket untukku. Kuberikan alamatmu di Fakultas Hukum. Kuharap kau tidak keberatan.”

Rudolph menyulut kembali pipanya. “Sudah datang kok. Kemarin,” ujarnya, sementara asap tebal mengiringi setiap kata yang diucapkan.

Jantung Marco berhenti berdetak sekejap. “Ads alamat pengirimnya?”

“Suatu tempat di Virginia.”

“Bagus.” Mulutnya langsung terasa kering, la menyesap air dan berusaha menyembunyikan kegairahannya. “Kuharap itu tidak merepotkan.”

“Sama sekali tidak.”

“Aku akan mampir nanti untuk mengambilnya.” “Aku ada di kantot dari pukul sebelas sampai

setengah satu.”

“Bagus, terima kasih.” Seteguk ait lagi. “Ingin tahu saja, sebesar apa paketnya?”

Rudolph menggigiti pipanya dan berkata, “Ku-

rang-lebih seukuran kotak cetutu.”

Hujan yang dingin turun sebelum tengah hari. Marco dan Ermanno sedang berjalan-jalan di lingkungan universitas dan menemukan tempat ber-teduh di bar yang tenang. Mereka menyelesaikan pelajaran lebih dini hari itu, terutama karena si murid belajar dengan giat. Ermanno selalu lebih suka pelajaran mereka cepat selesai.

Karena Luigi belum datang untuk makan siang, Marco punya waktu bebas betjalan-jalan, dengan anggapan ia tidak diikuti. Namun ia tetap berhati-hati. Ia melakukan manuver melambung dan mengubah arah, dan merasa konyol seperti biasa. Konyol atau tidak, itu adalah prosedur standarnya sekarang. Di Via Zamboni, ia mengikuti arus sekelompok mahasiswa yang berjalan tak tentu

arah. Di depan pintu gedung Fakultas Hukum, ia menyusup masuk dengan cepat, melompati beberapa anak tangga sekaligus, dan dalam beberapa detik sudah mengetuk pintu ruang kerja Rudolph yang terkuak.

Rudolph duduk di depan mesin tik kunonya, mengetuk-ngetuk tuts, sibuk mengetik sesuatu yang tampak seperti surat pribadi. “Di sana,” ujar Rudolph, menuding ke tumpukan barang-barang di atas meja yang kelihatannya sudah puluhan tahun tak pernah dibereskan. “Kotak cokelat yang paling atas.”

Marco mengambil paket itu dengan sebisa mungkin berlagak tak berminat sedikit pun. “Sekali lagi terima kasih, Rudolph,” ujarnya, tapi Rudolph sudah sibuk lagi dan tampaknya sedang tidak ingin menerima tamu. Jelas sekali kedatangannya telah mengganggu.

“Kembali,” sahurnya dari balik bahu, menguarkan segumpal awan asap dari pipanya.

“Apakah ada kamar kecil di dekat sini?” tanya Marco.

“Di lorong, sebelah kiri.” “Trims. Sampai ketemu.” Ada urinoar kuno dan tiga bilik kayu di dalamnya. Marco masuk ke bilik paling jauh, mengunci pintu, menurunkan dudukan toilet, dan duduk di sana. Dengan hati-hati, ia membuka paket itu dan

pembuka lipatan kertas-kertas yang menyertainya, kembar yang pertama adalah secarik kertas putih polos tanpa kepala surat. Ketika melihat kata-kata

Dear Marco, ia nyaris menangis.

Dear Marco:

Tak perlu dikatakan lagi bahwa aku sangat gembira mendengar kabar darimu. Aku bersyukur pada Tuhan ketika mendengar berita kau dibebaskan dan aku berdoa untuk keselamatanmu sekarang. Seperti yang kauketahui, aku bersedia melakukan apa pun untuk membantu.

Di dalam paket ini terdapat smattphone yang sangat canggih. Teknologi ponsel dan Internet di Eropa lebih maju daripada kita, jadi alat ini akan memadai untuk digunakan di sana. Aku sudah menuliskan instruksi di kertas yang lain. Aku tahu kedengarannya rumit sekali, tapi sebenarnya tidak.

Jangan mencoba menelepon dengan ponsel ini—terlalu mudah dilacak. Lagi pula, kau harus memberikan nama dan berlangganan. Satu-satunya jalan adalah e-mail Dengan menggunakan KwyteMail yang disandikan, pesan-pesan kita tidak mungkin dilacak. Kusarankan kau mengirim e-mail hanya padaku. Aku yang kemudian akan meneruskannya.

Di sini, aku memiliki laptop baru yang kusimpan di dekatku setiap waktu.

Kita akan berhasil, Marco. Percayalah padaku. Begitu kau bisa online, e-mail aku dan kita akan bercakap-cakap. Semoga berbasil, Grinch.

(5 Maret)

Grinch? Pasti semacam sandi. Ia tidak menggunakan nama asli mereka.

Marco mengamari alat canggih itu, benar-benar kebingungan, tapi juga bertekad untuk bisa menguasainya. Ia merogoh-rogoh ke dalam kotak kecil itu, menemukan uang tunai, dan menghitungnya lambat-lambat seolah itu emas. Pintu terbuka dan tertutup, seseorang menggunakan urinoar. Marco nyaris tak sanggup bernapas. Tenang, perintahnya pada diri sendiri berkali-kali.

Pintu kamar kecil terbuka dan terrutup, dan ia pun sendiri lagi. Halaman insrruksi tersebut ditulis tangan, Jelas dilakukan ketika Neal tidak memiliki banyak waktu. Isinya:

Ankyo 850 PC Pocket Smartphone—baterai penuh—6 jam waktu bicara sebelum perlu di-recharge. Charger termasuk dalam paket. Langkah 1) Cari kafe Internet dengan akses nirkabel—daftar terlampir j

langkah 2) Masuk ke kafe atau berada dalam

radius 60 meter darinya Langkah 3) Hidupkan alat, tombolnya ada di

sudut kanan atas Langkah 4) Layar akan menampilkan “Access

Area” lalu pertanyaan “Access Now?”

Tekan “Yes” di bawah layar, lalu

tunggu

Langkah 5) Tekan tombol keypad, kanan bawah,

dan buka keypad-«y drive-through. Laptop ada di pangkuannya, tepat [ di bawah roda kemudi. Di tepi jalan, ia memesan t mocha ukutan besar, tanpa krim, dan menunggu I mobil-mobil di depannya beranjak sejengkal demi sejengkal. Sambil menunggu, ia mengetik dengan kedua tangannya. Begitu bisa online, ia langsung terhubung ke KwyteMail. Diketikkannya user name-nya—Grinchl23—lalu password-nya—post hoc ergo propter hoc. Beberapa detik kemudian—itu dia, pesan pettama dari ayahnya.

Neal menahan napas sembari membaca, lalu mengembuskannya keras-keras dan memajukan mobilnya sedikit. Berhasil! Pak tua itu bethasil melakukannya!

Dengan cepat, ia mengetik:

Marco: Pesan-pesan kita tidak dapat dilacak. Kau bisa mengatakan apa pun yang ingin kaukatakan,’ tapi lebih baik sesedikit mungkin. Senang mendengar kau ada di sana dan sudah keluar dari Rudley. Aku akan online setiap (jari—tepatnya pukul 07-50 EST. Sudah dulu. Grinch.

382

383

Ia meletakkan laptop di kursi penumpang, menurunkan jendela, dan membayar hampir empat dolar untuk secangkir kopi. Ketika menjauh, ia terus melirik komputernya, melihat sampai berapa lama sinyal aksesnya bertahan. Ia berbelok ke jalan, mengemudi sampai 60 meter, dan sinyalnya pun hilang.

Bulan November lalu, setelah kekalahan Arthur Morgan yang mencengangkan, Teddy Maynard mulai merancang strategi pengampunan hukuman Backman. Dengan perencanaannya yang teliti seperti biasa, ia menyiapkan hari tertentu ketika informan-informan mulai membocorkan lokasi keberadaan Backman. Untuk memberikan kisikan pada pihak Cina, dan melakukannya sedemikian rupa tanpa menimbulkan kecurigaan, Teddy mulai mencari mata-mata yang tepat.

Namanya Helen Wang, warga Cina-Amerika generasi kelima yang sudah bekerja di Langley selama delapan tahun sebagai analis masalah-masalah Asia. Wanita itu sangat cerdas, sangat menarik, dan dapat berbicara bahasa Mandarin. Teddy mendapatkan pekerjaan temporer untuknya di Departemen Luar Negeri, dan di sana ia mulai mengembangkan kontak dengan diplomat-diplomat dari Cina Komunis, beberapa di antaranya juga mata-mata dan selalu berburu mencari agen baru.

Cina sangat terkenal dalam hal taktik agresifnya perekrut mata-mata. Setiap tahun, 25.000 mahasiswa meteka mendaftarkan diri di universitas Amerika, dan polisi rahasia melacak mereka semua. Para pengusaha Cina diharapkan bekerja sama dengan badan intelijen begitu mereka kembali ke tanah air. Ribuan petusahaan Amerika yang berbisnis di Cina daratan dimonitor sepanjang waktu. Eksekutif-eksekutif mereka diawasi dan diteliti latar belakangnya. Prospek-prospek yang potensial terkadang didekati.

Ketika Helen Wang “tanpa sengaja” menyinggung ia sempat bekerja beberapa tahun di CIA, dan berharap bisa kembali ke sana segera, seketika ia menarik pethatian kepala-kepala intelijen di Beijing. Helen Wang menerima undangan teman untuk makan siang di restoran mewah di D.C, lalu makan malam. Ia memainkan perannya dengan cantik, selalu ragu-ragu menanggapi pendekatan mereka, tapi selalu mengiyakan dengan enggan. Memo-memonya yang mendetail diberikan langsung kepada Teddy sesudah setiap penemuan.

Sewaktu Backman tiba-tiba dibebaskan, dan jelas bahwa ia disembunyikan dan tidak akan muncul kembali, Cina mulai menekan Helen Wang. Mereka menawarkan seratus ribu dolar sebagai imbalan informasi tentang keberadaan Backman. Helen pura-pura takut mendengar tawaran tersebut, dan

selama beberapa hari tidak mengadakan kontak. Dengan perhitungan waktu yang sempurna, Teddy membatalkan penugasan Helen di Deplu dan memanggilnya kembali ke Langley. Selama dua minggu, Helen tidak berhubungan dengan teman-teman lamanya yang menyamar di Kedutaan RRC.

Kemudian ia menelepon mereka dan penawarannya pun menanjak menjadi lima ratus ribu dolar. Helen menjadi serakah dan menuntut imbalan satu juta dolar, mengaku ia mempertaruhkan karier dan kebebasannya, dan mengatakan bahwa nilai informasi tersebut pasti jauh lebih besar daripada itu. Cina setuju.

Sehari sesudah Teddy dipecat, Helen menelepon pengendalinya dan meminta pertemuan rahasia. Ia menyerahkan selembar kertas berisi instruksi transfer kawat ke rekening bank di Panama, yang diam-diam diniiliki oleh CIA. Kalau uang itu sudah diterima, Helen berkata, mereka akan bertemu lagi dan ia akan memberitahukan lokasi Joel Backman. Ia juga akan memberikan foto terbaru Joel Backman.

Penyerahan informasi itu hanya berupa “senggolan”, pertemuan fisik antara mata-mata dan pengendalinya, yang dilakukan sedemikian rupa sehingga tak seorang pun akan menyadari sesuatu yang lain daripada biasa. Sepulang kerja, Helen

Wang mampir di Toko Kroger di Bethesda. la berjalan ke ujung gang dua belas, tempat tak pajangan majalah dan novel saku. Pengendalinya sedang betada di dekat rak sambil membawa lacrosse Magazine. Helen mengambil majalah yang sama dan dengan cepat menyelipkan amplop ke dalamnya. Ia membuka-buka majalah itu dengan gaya jemu, lalu mengembdikannya ke rak. Pengendalinya memilih-milih di antata majalah mingguan olahraga. Helen berjalan menjauh, hanya sesudah ia melihat pengendalinya mengambil Lacrosse Magazine yang diletakkannya tadi.

Sebenarnya tutinitas itu tidak perlu dilakukan. Teman-teman Helen di CIA tidak mengawasi karena metekalah yang mengatur penyerahan informasi tetsebut. Mereka juga sudah bertahun-tahun mengenal si pengendali.

Amplop itu betisi selembat kertas—fotokopi berwarna foto Joel Backman yang tampak sedang menyusuri jalan, la jauh lebih kurus, di dagunya tumbuh jenggot kelabu, kacamatanya bergaya Eropa, dan ia berpakaian seperti penduduk setempat. Tulisan tangan di bagian bawah menyebutkan: Joel Backman, Via Fondazza, Bologna, Italia. Si pengendali melongo ketika melihamya di dalam mobilnya, lalu ia melesat secepat mungkin ke Kedutaan Republik Rakyat Cina di Wisconsin Avenue NW di Washington.

Pada mulanya, Rusia seolah tak menunjukkan minat dengan keberadaan Joel Backman. Di Langley, isyarat-isyarat mereka diterjemahkan dengan berbagai variasi. Tidak ada kesimpulan awal yang dibuat, karena hal itu mustahil. Selama bertahun-tahun, Rusia diam-diam menjaga kesan bahwa sistem yang disebut Neptunus itu adalah milik mereka, dan hal ini membuat CIA kebingungan setengah mati.

Dunia intelijen terkejut karena Rusia berhasil mempertahankan sekitar 160 satelit pengintaian setahun, kurang-lebih sama banyaknya dengan satelit mantan Uni Soviet. Keberadaannya yang kuat di angkasa luar belum terkikis, berlawanan dengan prediksi Pentagon dan CIA.

Pada tahun 1999, seorang pembelot GRU, badan intelijen militer Rusia dan penerus KGB, memberikan informasi pada CIA bahwa Neptunus bukanlah milik Rusia. Mereka sama kagetnya dengan Amerika. Kecurigaan terfokus pada Cina Komunis, yang jauh tertinggal dalam bisnis satelit. Atau tidak demikian kenyataannya? Rusia ingin tahu tentang Neptunus, tapi mereka tidak ingin membayar untuk informasi mengenai Backman. Ketika pendekatan dari Langley diabaikan sama sekali, foto berwarna yang dijual kepada Cins

100

^ juga melalui e-mail secara anonim ke anpat kepala operasi intelijen yang bekerja dalam

penyamaran sebagai diplomat di Eropa.

Kebocoran ke pihak Saudi dilakukan melalui pejabat eksekutif perusahaan minyak Amerika yang ditempatkan di Riyadh. Namanya Taggett dan ia sudah tinggal di sana lebih dari dua puluh tahun. Ia fasih betbahasa Arab dan bergerak dalam lingkaran pergaulan sosial dengan mudah seperu orang-orang asing lainnya. Terutama ia dekat dengan birokrat menengah di Kementetian Luar Negeri Saudi, dan pada acara minum teh sore hari, Taggett memberitahu bahwa petusahaannya pernah diwakili oleh ]oel Backman. Lebih jauh lagi, dan yang lebih penting, Taggett mengaku tahu di mana Backman betsembunyi.

Lima jam kemudian, Taggett dibangunkan dengung bel pintu. Tiga pria muda beisetelan jas masuk begitu saja ke apartemennya dan menuntut waktunya sebentar. Mereka meminta maaf, menjelaskan bahwa meteka berasal dari suatu cabang kepolisian Saudi, dan perlu bicara dengannya. Ketika ditekan, dengan enggan Taggett memberikan informasi yang sudah dilatih untuk dibocorkannya.

]oe\ Backman betsembunyi di Bologna, Italia,

1

menggunakan nama lain. Hanya itu yam,

nya. 11

Bisakah ia mencari tahu lebih jauh? mereka b tanya.

Barangkali.

Mereka bertanya apakah ia bisa pergi keesokan paginya, kembali ke kantor pusatnya di New York dan menggali informasi lebih banyak mengenai Backman. Informasi itu sangat penting bagi Pemerintah Saudi dan keluarga kerajaan.

Taggett setuju melakukannya. Apa pun mau di-lakukannya demi Raja.

22

Setiap tahun pada bulan Mei, tepat sebelum Hari Kenaikan, penduduk Bologna berbaris sepanjang Colle della Guardia dari gerbang Saragoza, menyusuri trotoar bernaungan terpanjang di dunia, melewati 666 lengkingan dan lima belas kapel, menuju puncak ke Santuario di San Luca. Di katedral itu, mereka menurunkan dan membawa patung Madonna, lalu turun kembali ke kota, tempat mereka mengarak Madonna melalui jalan-jalan yang dipadati penduduk dan akhirnya menempatkannya di Katedral San Pietro, tempat Madonna diam di sana selama delapan hari hingga ^k|r^ang mengantarnya pulang kembali. Fesa terse u hanya ada di Bologna, dan rak pernah lekang d.-lakukan sejak tahun l47> Santuario

Sementara Franceses dan Joel dua

di San Luca, Francesca menjelaskan ritual tersebut dan betapa hal itu amat berani bagi penduduk Bologna. Cantik memang, tapi menurut Marco sama saja seperti gereja yang kosong.

Mereka naik bus kali ini, menghindari 666 leng-kungan dan 3,6 kilometer tanjakan yang harus mereka daki menuju puncak bukit. Betisnya masih nyeri dari pendakian terakhir ke San Luca, tiga hari yang lalu.

Francesca begitu teralihkan perhatiannya oleh hal-hal lain sehingga sesekali ia berbahasa Inggris tanpa menyadarinya. Marco tidak mengeluh. Ketika Francesca selesai bercerita tentang festival tersebut, ia mulai menunjukkan elemen-elemen yang menarik di katedral tersebut—arsitektut dan konstruksi kubahnya, lukisan-lukisan dinding. Marco berjuang sekuat tenaga untuk berkonsentrasi. Kubah, fresco, dan kubur marmer para santo mulai berbaur kacau di Bologna, dan tiba-tiba ia merindukan cuaca yang lebih hangat. Pada cuaca yang demikian, mereka bisa duduk di luar dan mengobrol. Mereka bisa

mengunjungi taman-taman cantik di kota ini dan

kalau Ftancesca berani menyebut-nyebut katedral,

ia akan mengamuk.

Francesca tidak sedang memikirkan cuaca yang

lebih hangat. Pikirannya ada di tempat lain. “Kau sudah menjelaskan yang itu,” sela Marco

ketika Francesca menuding lukisan yang dipajang

di atas baptistery.

“Maaf. Apakah aku membuatmu bosan?” Marco nyaris menyemburkan yang sebenarnya,

tapi ia berkata, “Tidak, tapi aku sudah puas melihat-lihat.”

Mereka meninggalkan sanctuary dan keluar ke belakang gereja, ke jalan setapak tahasia Francesca yang membawa mereka beberapa langkah menuju pemandangan tetbaik ke arah kota. Salju terakhir mulai meleleh dengan cepat di atas genting-genting merah. Saat itu tanggal 18 Maret.

Francesca menyulut rokok dan sepertinya cukup puas berdiam membisu sambil mengagumi Bologna. “Kau menyukai kotaku?” tanya Francesca akhirnya. “Ya, amat sangat.” “Apa yang kausukai?”

Setelah enam tahun di dalam penjara, kota mana pun bolehlah. Marco berpikir sebentar, lalu menjawab, “Ini kota sungguhan, penduduknya tinggal di tempat meteka bekerja. Kota ini aman dan bersih, tak lekang waktu. Tak banyak yang berubah selama berabad-abad. Rakyatnya mencintai sejarah mereka dan bangga dengan segala sesuatu yang telah dicapainya.”

Ftancesca mengangguk sedikit, menyetujui analisisnya. “Aku bingung dengan orang-orang Amerika,” ujarnya. “Ketika aku memandu meteka mengelilingi Bologna, mereka selalu tergesa-gesa, se-

lalu ingin segera melihat satu situs sehingga mereka bisa mencoretnya dari daftar dan pergi ke situs beri- I kutnya. Mereka selalu bertanya tentang esok hati, atau lusa. Mengapa begitu?”

“Kau keliru bertanya padaku.”

“Mengapa?”

“Aku orang Kanada, ingat?” “Kau bukan orang Kanada.” “Tidak, memang bukan. Aku dari Washington.” “Aku pernah ke sana. Aku pernah melihat orang banyak lalu-lalang dengan tergesa-gesa, tidak menuju ke mana-mana. Aku tidak memahami keinginan menjalani kehidupan yang begitu sibuk Semuanya harus cepat—pekerjaan, makanan, seks.”

“Sudah enam tahun aku tidak melakukan hubungan seks.”

Francesca menatapnya dengan pandangan yang sarat pertanyaan. “Aku benar-benar tidak ingin membicarakan hal itu.”

“Kau sendiri yang menyinggungnya.” Wanita itu mengembuskan asap rokok ketika udara mulai tampak bersih dari asap. “Mengapa kau tidak berhubungan seks selama enam tahun?” “Karena aku dikurung dalam penjara soliter.” Francesca mengernyit sedikit dan tulang belakangnya diluruskan. “Kau membunuh orang?”

“Tidak, bukan hal seperti itu. Aku tidak ber bahaya kok.”

Sunyi lagi, embusan asap lagi. “Mengapa kau

ada di sini?” “Aku sungguh-sungguh tidak tahu.” “Berapa lama kau akan tinggal?” “Mungkin Luigi bisa menjawabnya.” “Luigi,” ucap Francesca seolah ia ingin meludah. Ia berbalik dan mulai berjalan. Marco mengikutinya karena memang itulah yang harus dilakukannya. “Kau bersembunyi dari sesuatu?” tanya wanita itu.

“Ceritanya amat sangat panjang, dan kau pasti tidak ingin tahu.” “Kau dalam bahaya?”

“Kurasa begitu. Aku tidak tahu petsis sebeiapa besar bahaya itu, tapi anggap saja cukup besat sehingga aku takut menggunakan nama asliku dan takut pulang ke negaraku.”

“Kedengarannya cukup berbahaya bagiku. Apa peran Luigi dalam hal ini?” “Ia melindungiku, kurasa.” “Untuk berapa lama?” “Aku sungguh-sungguh tidak tahu” “Mengapa kau tidak menghilang saja?” ritulah yang sedang kulakukan sekarang. Aku sedang dalam proses menghilang. Dan dari sini, ke mana aku akan pergi? Aku tidak punya uang, tidak punya paspor, tidak punya identifikasi. Secara resmi aku tidak eksis.”

“Benar-benar membingungkan.”

Marco memalingkan muka sejenak dan tidak melihat Francesca jatuh. Ia mengenakan sepatu bot kulit hitam bertumit rendah, dan kak kirinya terpeleset tajam di atas batu di jalan setapak itu. Francesca terkesiap dan jatuh keras, menahan tubuhnya pada detik terakhir dengan kedua tangannya. Tasnya melayang. Ia memekikkan sesuatu dalam bahasa Italia. Marco dengan cepat betjongkok dan menariknya.

“Pergelangan kakiku,” kata Francesca sambil meringis. Matanya sudah basah, wajahnya yang antik mengernyit kesakitan.

Dengan lembut Marco menariknya dari jalan setapak yang basah dan membawanya ke bangku, lalu mengambil tasnya. “Aku pasti terpeleset,” kata Francesca terus-menerus. “Maafkan aku.” Ia menahan tangis tapi segera menyerah.

“Tidak apa-apa,” ujar Marco, berlutut di depannya. “Boleh kupegang?”

Perlahan-lahan Francesca mengangkat kak kirinya, tapi tasa sakitnya terlalu hebat.

“Sebaiknya sepatunya tak usah dilepas,” kata Marco, memegangnya dengan amat hati-hati.

“Kutasa ada yang patah,” kata Francesca. Ia menarik tisu dari tasnya dan menyeka matanya Napasnya memburu dan ia mengenakkan gigi “Maafkan aku.”

Tidak apa-apa.” Marco melihat sekelilingnya; ^leh dibilang tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua. Bus yang membawa mereka ke San Luca hampir kosong, dan selama sepuluh menit ini me-reka tidak melihat siapa-siapa. “Aku, mm, mau masuk dan cari bantuan.” “Ya, tolonglah.”

“Jangan betgetak. Aku akan segera kenibali.” Marco menepuk lutut Francesca dan ia berhasil tersenyum. Lalu ia pergi tetgesa-gesa, hampir terjatuh, la berlari ke belakang gereja dan tidak melihat siapa pun. Di mana tepatnya otang bisa menemukan kantor katedral? Di mana kurator, manajer, atau pastot kepala? Siapa yang beitanggung jawab atas tempat ini? Di luar, ia mengelilingi San Luca dua kali sebelum melihat petugas kebetsihan muncul dari pintu yang setengah tetsembunyi dekat taman.

“Mi pub aiutare?” teriaknya. Bisakah kau membantuku?

Petugas itu melongo dan diam saja Marco yakin ia bicara dengan jelas. Ia berjalan mendekat dan berkata, “La mia arnica si e fatta male.”Teman perempuanku terluka.

“Dove?” getam lelaki itu. Di mana?

Marco menuding dan menjawab, “Li, dietro alk

Ichiesa.” Di sana, di belakang gereja. “Aspetti.” Tunggu. Orang itu berbalik berjalan kembali ke pintu dan masuk.

“Si sbrigbi, per favore.” Cepatlah, kumohon.

Satu-dua menit berlalu sementara Marco menung, gu dengan gugup, ingin melesat kembali untuk menengok keadaan Francesca. Kalau ada tulang yang patah, bisa jadi ia akan kena shock. Pintu yang lebih besar di bawah baptistery terbuka, dan seorang pria bersetelan jas berlari keluar dengan petugas tadi di belakangnya.

“La mia arnica e caduta,” kata Marco. Temanku jatuh.

“Di mana dia?” tanya pria itu dalam bahasa Inggris yang fasih. Mereka memotong jalan melalui teras kecil berbatu bata, menembus salju yang belum meleleh.

“Di belakang sana, dekat tepi tebing yang rendah. Pergelangan kakinya—menurutnya ada tulang yang patah. Kita mungkin perlu ambulans.”

Sambil menoleh ke belakang, pria itu menguapkan sesuatu kepada si petugas, yang langsung menghilang.

Francesca duduk di tepi bangku dengan sebisa mungkin menjaga martabatnya. Ia menggigit tisu, tapi tangisnya sudah berhenti. Pria tadi tidak tahu namanya, tapi pasti pernah melihat Francesca di San Luca. Meteka berbicara dalam bahasa Italia, dan Marco nyaris tak memahami seluruhnya.

Sepatu yang sebelah kiri tetap menempel di kaki Francesca, dan disepakati bahwa sepati

itu sebaiknya tidak dilepas untuk mencegah kebengkakan. Pria itu, Mr. Coletta, sepertinya mengetahui pertolongan pertama. Ia memeriksa lutut dan tangan Francesca. Memang tergores-gores dan perih, tapi tidak ada yang berdarah. “Cuma keseleo parah,” kata Francesca. “Menurutku tidak ada yang patah.”

“Ambulans akan lama sekali datangnya,” kata pria itu. “Aku akan mengantar Anda ke rumah

sakit.”

Klakson mobil terdengat di dekat mereka. Petugas kebersihan tadi telah mengambil mobil dan berhenti sedekat mungkin.

“Kurasa aku bisa berjalan,” kata Francesca dengan berani, berusaha berdiri.

“Tidak, kami akan membantumu,” tukas Marco. Masing-masing pria itu memegang siku dan dengan perlahan menolong Ftancesca berdiri. Ia mengernyit ketika menapakkan kakinya, tapi berbta, “Tidak patah kok. Hanya terkilir.” Ia berkeras berjalan sendiri. Mereka setengah mengangkatnya ke mobil.

Mr. Coletta mengambil alih dan mengatur mereka di bangku belakang sehingga kaki Francesca berada di pangkuan Marco, terangkat, dan punggungnya bersandar ke pintu kiri belakang. Sesudah penumpang-penumpangnya berada di tempat yang sesuai, Mr. Coletta melompat ke belakang kemudi dan memasukkan persneling. Mereka merayap

mundur sepanjang jalan setapak yang dirimbuni sesemakan, lalu ke jalan sempit yang beraspal. Tak lama, mereka mulai menuruni bukit, menuju Bologna.

Francesca mengenakan kacamata hitamnya. Marco memerhatikan ada setitik darah di lutut kirinya. Diambilnya tisu dari tangan Francesca, lalu ditutul-tutulkannya ke luka itu. “Terima kasih,” bisik Francesca. “Maaf aku mengacaukan harimu.” “Sudahlah,” kata Marco sambil tersenyum. Sebenarnya itu hari terbaik bersama Francesca. Kejadian tadi membuat Francesca merendahkan diri dan menjadikannya lebih manusiawi. Meski tak diinginkan, hal itu menggugah emosi yang jujur. Mengizinkan terjadinya kontak fisik yang tulus, manusia yang benar-benar ingin menolong manusia lain. Kejadian itu menyurukkan Marco ke dalam kehidupan Francesca. Apa pun yang terjadi kemudian, entah di rumah sakit atau di rumahnya, paling tidak Marco akan berada di sana selama beberapa saat. Dalam situasi darurat, Francesca membutuhkannya, walaupun jelas sekali wanita itu tidak mengharapkannya.

Sambil memegangi kaki Francesca dan menatap kosong ke. luar jendela, Marco menyadari betapa besar ia mendambakan hubungan dalam bentuk apa pun, dengan siapa pun. Siapa pun bisa menjadi teman.

Di kaki bukit, Francesca berkata kepada Mr.

Coletta, “Aku ingin pulang ke apartemenku.” Mr. Coletta melirik spion dan menyahut, “Tapi

menurutku Anda perlu diperiksa dokter.” “Mungkin nanti. Aku mau istirahat sebentat dan

melihat bagaimana tasanya nanti.” Keputusannya

sudah bulat, tak ada gunanya membantah.

Marco sebenarnya juga punya saran, tapi ia menahan diri. la ingin melihat di mana Francesca tinggal.

“Baiklah,” ujar Mr. Coletta. “Via Minzoni, dekat stasiun keteta.” Marco tersenyum dalam hati, bangga karena ia tahu jalan itu. Ia bisa membayangkannya di peta, di tepi utara kota lama, daerah yang menyenangkan namun bukan distrik mahal. Ia pernah melewatinya paling tidak sekali. Bahkan, ia menemukan bar kopi yang buka pagi-pagi di suatu tempat di ujung jalan itu, yang bermuara di Piazza dei Martiri. Sementara mereka melesat di jalan lingkar melalui lalu lintas sore hari, Marco melirik petunjuk-petunjuk jalan, mengamati setiap petsimpangan, dan tahu dengan tepat di mana ia betada.

Tak ada lagi kata-kata yang diucapkan. Ia memegangi kaki Francesca, sepatu bot hitamnya yang gaya namun tak lagi baru mengotori celana wolnya. Saat ini, ia sama sekali tidak hirau. Ketika mereka berbelok ke Via Minzoni, Francesca memberitahu,

“Terus sepanjang dua blok, di sebelah kanan.” Sesaat kemudian ia berkata, “Di depan sana. Ada tempat kosong di belakang mobil BMW hijau itu.”

Dengan lembut mereka mengeluarkan Francesca dari bangku belakang dan membantunya berdiri di trotoar, dan Francesca melepaskan pegangan mereka serta berusaha berjalan. Pergelangan kaki itu langsung goyah; mereka seketika menangkapnya. “Apartemenku di lantai dua,” ujarnya sambil mengenakkan gigi. Di sana ada delapan apartemen. Marco mengamati dengan saksama ketika Francesca menekan tombol di sebelah nama Giovanni Ferro. Ada suara wanita menjawab.

“Francesca,” sahutnya, lalu terdengar bunyi klik di pintu. Mereka masuk ke selasar yang gelap dan kusam. Di sebelah kanan ada lift yang pintunya terbuka, menunggu. Ketiga orang itu berjejalan masuk “Aku sudah tidak apa-apa,” ujar Francesca, berusaha keras mengusir Marco dan Mr. Coletta.

“Kita harus mengompresnya dengan es,” kata Marco ketika lift mulai naik.

Lift itu berhenti dengan bunyi berisik, pintunya akhirnya terbuka, dan mereka bersusah payah keluar, kedua pria itu masih memegangi siku Francesca. Apartemennya hanya bebetapa langkah dari sana, dan ketika mereka sampai, Mr. Coletta merasa sudah terlalu jauh.

“Aku prihatin atas semua ini,” ujarnya. “Kak ada tagihan medis, maukah Anda meneleponku?”

Tidak apa-apa, Anda baik sekali. Terima kasih

banyak”

“Teruna kasih,” timpal Marco, masih menempel pada Francesca. Ia menekan bel pintu dan menunggu sementara Mr. Coletta masuk ke lift dan meninggalkan mereka. Ftancesca menjauh dan berkata, “Sudah tidak apa-apa, Matco. Aku bisa sendiri. Ibuku sedang menjaga tumah hari ini.”

Marco menunggu diundang masuk, tapi ia tahu tidak sepantasnya ia mendesak. Petannya dalam episode ini sudah hampir usai, dan ia sudah mengetahui lebih banyak hal daripada yang diharapkannya. Ia tetsenyum, melepaskan lengan Francesca, dan hendak mengucapkan selamat tinggal ketika tetdengar kunci berdetak keras dari dalam. Francesca berpaling ke pintu, dan ketika melakukannya memberikan tekanan pada pergelangan kakinya yang cedera. Kakinya goyah lagi, membuatnya terkesiap dan mengulurkan tangan ke atah Marco.

Pintu terbuka tepat ketika Francesca jatuh pingsan.

Ibunya bernama Signora Altonelli, wanita tujuh puluhan tahun yang tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali dan selama beberapa menit penama yang panik mengira Marco telah mencederai putrinya.

Bahasa Italia Marco yang patah-patah terbukti tidak memadai, terlebih di bawah tekanan saat itu. Marco membopong Francesca ke sofa, menaikkan kakinya, dan berusaha menyampaikan konsep “Ghiaccio, ghiaccio.” Es, ambilkan es. Dengan amat enggan, wanita itu mundur, lalu menghilang ke dapur.

Francesca terjaga ketika ibunya kembali dengan membawa handuk kecil basah dan seplastik kecil es.

“Kau pingsan,” Marco menjelaskan, merunduk di atasnya. Francesca memegangi tangan Marco, melihat berkeliling dengan pandangan liar. “Chi e?” tanya ibunya curiga. Siapa dia? “Un amico.” Teman. Marco menyeka wajah Francesca dengan handuk basah dan Francesca berbicara cepat. Dengan bahasa Italia paling cepat yang pernah didengarnya, Francesca menjelaskan kepada ibunya apa yang telah terjadi. Senapan-senapan mesin itu saling menyembur berbalasan, membuat Marco bingung ketika berusaha mengenali satu-dua kata, namun akhirnya menyerah. Mendadak, Signora Altonelli tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Marco tanda setuju. Anak baik.

Ketika wanita tua itu menghilang, Francesca berkata, “Ia akan membuat kopi.”

“Bagus.” Marco menarik bangku pendek mendekati sofa dan duduk, menunggu. “Kita perlu mengompresnya dengan es,” ujarnya.

“Ya, sebaiknya begitu.”

Mereka menatap sepatu bot itu. “Kau mau melepasnya?” tanya Francesca.

“Tentu.” Marco membuka ritsleting bot kanan dan melepasnya seolah kaki itu juga cedeta. Ia lebih berhati-hati lagi dengan yang sebelah kiri. Setiap gerakan kecil menimbulkan tasa nyeri, dan akhirnya Marco berkata, “Kau mau melepasnya sendiri?”

‘Tidak, kau saja.” Ritsleting itu bethenti hampir tepat di atas pergelangan kaki yang bengkak. Sepatu bot itu jadi lebih sulit dilepaskan. Setelah satu menit yang panjang menggoyang-goyangkannya dengan hati-hati, sementara si pasien mengenakkan gigi, bot itu pun lepas.

la mengenakan stoking hitam. Marco mengamatinya, lalu berkata, “Ini juga harus dilepas.”

“Ya, benar.” Ibu Francesca kembali dan menembakkan sesuatu dalam bahasa Italia. “Bagaimana kalau kau menunggu di dapur?” pinta Francesca pada Marco.

Dapur itu kecil, tapi segalanya teratur di tempatnya, sangat modern dengan krom dan kaca, tanpa satu senti pun tuang yang terbuang sia-sia. Alat pembuat kopi canggih berdeguk-deguk di meja dapur. Dinding di atas ceruk meja sarapan tertutup lukisan abstrak berwarna cerah. Marco menunggu dan mendengarkan kedua wanita itu berceloteh pada saat bersamaan.

Mereka berhasil melepas stoking tanpa cedera lebih lanjut. Sewaktu Marco kembali ke ruang duduk, Signora Altonelli sedang mengatur es di sekitar pergelangan kaki kiri.

“Ia bilang tidak patah,” Francesca memberitahu Marco. “Ia dulu bekerja di rumah sakit bertahun-tahun.”

“Ia tinggal di Bologna?”

“Imola, beberapa mil dari sini.”

Marco tahu tempat itu, paling tidak di atas peta. “Kurasa sebaiknya aku pergi sekarang,” ujarnya, tidak ingin pergi tapi mendadak merasa seperti tamu tak diundang.

“Kurasa kau perlu minum kopi,” tukas Ftancesca. Ibunya melesat pergi, kembali ke daput.

“Aku merasa seperti orang yang tidak diundang,” kata Marco.

“Tidak, setelah semua yang kaulakukan hati ini, hanya ini yang bisa kulakukan sebagai balasan.”

Ibunya kembali, dengan segelas air dan dua butir pil. Francesca menelannya dan mengganjal kepalanya dengan bantal. Ia bertukar kalimat pendek dengan ibunya, lalu menoleh pada Marco dan berkata, “Ibuku punya torta cokelat di lemari es. Kau mau?”

“Ya, terima kasih.”

Lalu ibunya petgi lagi, sekarang sambil bersenan-dung senang karena ada orang yang bisa dirawatnya

dan satu orang lagi yang diberi makan. Marco kembali ke tempatnya di bangku pendek. “Sakit?”

“Ya,” jawab Ftancesca, tersenyum. “Aku tidak bisa bohong. Sakit sekali.”

Marco tidak bisa menemukan jawaban yang pantas, maka ia kembali ke wilayah netral. “Semua terjadi begitu cepat,” katanya. Mereka melewatkan beberapa menit mengulangi kejadian tadi. Lalu mereka terdiam. Francesca memejamkan mata dan sepertinya tertidut sejenak. Marco bersedekap dan memandangi lukisan besar dan aneh yang menutupi > hampir seluruh dinding.

Bangunan itu sudah tua, tapi dati dalam Francesca dan suaminya melawan dengan penuh tekad modern. Perabotannya rendah, dengan kulit hitam licin dan rangka baja mengilap, sangat minimalis. Dinding-dindingnya tertutup karya-karya kontemporer yang membingungkan.

“Kita tidak boleh memberitahu Luigi tentang hal ini,” bisik Francesca. “Kenapa tidak?”

Ftancesca ragu-ragu sejenak, lalu menyerah. “Ia membayarku dua ratus euro seminggu untuk mengajarmu, Matco, dan ia selalu mengeluh dengan jumlahnya. Kami bertengkar. Ia mengancam akan mencari orang lain. Sejujurnya, aku membutuhkan uang itu. Aku punya peketjaan satu-dua kali seminggu—sekarang masih musim sepi. Keadaan akan

lebih baik sebulan lagi ketika turis berdatangan, tap saat ini penghasilanku tidak banyak.”

Ekspresi pasif itu sudah lama lenyap. Marco tidak percaya Francesca mengizinkan dirinya tampak sedemikian rapuh. Wanira itu ketakutan, dan Marco bersedia mempertaruhkan lehernya demi membantu Francesca.

“Wanita itu melanjutkan, “Aku yakin ia akan berhenti mempekerjakanku kalau aku membolos beberapa hari.”

“WelL kau memang akan membolos beberapa hari.” Marco melirik es yang membungkus per-gelangan kakinya.

“Bisakah kita merahasiakan hal ini? Aku pasti sudah bisa berjalan tak lama lagi, bukan?”

“Kita bisa mencoba merahasiakannya, tapi Luigi punya cara mencari tahu segala sesuatu. Ia mem-bunturiku dengan ketat. Aku akan pura-pura sakit besok, lalu kira bisa merencanakan sesuatu untuk lusa. Mungkin kita bisa belajar di sini.” “Tidak. Suamiku ada di sini.” Marco tak dapat menahan diri menoleh ke belakang. “Di sini?” “Ia ada di kamar. Sakit parah.” “Apa—”

“Kanker. Stadium akhir. Ibuku menjaganya saat aku bekerja. Perawat rumah sakit datang setiap sok untuk memberikan obat.”

I”Aku prihatin mendengarnya.” “Aku juga.” “Jangan risau tentang Luigi. Aku akan mengatakan bahwa aku menyukai gayamu mengajar dan ¦ aku tidak mau bekerja dengan orang lain.” “Itu dusta, bukan?” “Begitulah.”

Signora Altonelli kembali dengan senampan torta dan espresso. Ia meletakkannya di meja pendek warna merah manyala di tengah ruangan dan mulai memotong-motong kue. Francesca mengambil cangkir kopi, tapi tidak ingin makan. Marco makan sepelan mungkin dan menyesap kopi dari cangkir kecil seolah itu kopinya yang terakhir. Sewaktu Signora Altonelli mendesak mengambilkannya seiris kue dan secangkir kopi lagi, Marco akhirnya meng-iyakan dengan enggan.

Marco duduk di sana selama satu jam. Ketika turun dengan lift, ia menyadari bahwa Giovanni Ferro tak bersuara sama sekali.

23

Badan intelijen utama Cina Komunis, Kementerian Keamanan Negara, atau MSS, menggunakan unit-unit kecil yang sangat terlatih untuk melaksanakan pembunuhan di seluruh dunia, tak beda jauh dari Rusia, Israel, Inggris, dan Amerika.

Namun ada satu perbedaan yang penting, yaitu Cina menjadi terbiasa mengandalkan satu unit tertentu. Bukannya menyebarkan pekerjaan kotor mereka seperti negara-negara lain, pilihan pertama MSS adalah seorang pemuda yang sudah diaman dengan penuh kekaguman oleh CIA dan Mossad selama beberapa tahun. Namanya Sammy Tin, produk dari dua diplomat Cina Komunis yang kabarnya dipilih oleh MSS untuk menikah dan bereproduksi. Bila ada klon agen yang sempurna, itu adalah Sammy Tin. Ia lahir di New York City

410

oan dibesarkan di kawasan hunian tepi kota D.C, mendapat pendidikan privat dari guru yang membombardirnya dengan bahasa-bahasa asing sejak ia lepas dari popok, la masuk University of Maryland pada usia enam belas tahun, lulus dengan dua – gdar pada usia 21, lalu belajar teknik di Hamburg, f Jerman. Dalam proses tersebut, ia mengembangkan hobi membuat bom. Bahan peledak menjadi sum-X ber kegirangannya, dengan penekanan pada ledakan [ terkendali dari benda-benda biasa—amplop, cangkir kenas, bolpoin, kotak rokok, la penembak jitu yang piawai, tapi senapan tetlalu sederhana dan I membuatnya bosan. Tin Man menyukai bom. Kemudian ia belajar kimia dengan nama samaran di Tokyo, dan di sana ia menguasai seni dan ilmu membunuh dengan racun. Pada usia 24 tahun, ia telah memiliki belasan nama berbeda, menguasai bahasa yang kurang-lebih sama banyaknya, dan melewati banyak perbatasan dengan betbagai paspor dan samaran. la bisa meyakinkan petugas imigtasi mana pun bahwa ia orang Jepang, Korea, atau Taiwan.

Untuk menyelesaikan pendidikannya, ia melewatkan satu tahun yang melelahkan dalam pelatihan bersama kelompok elite angkatan bersenjata Cina. la belajar berkemah, memasak di atas api, menyeberangi sungai deras, bertahan hidup di laut, dan hidup di alam Uar selama berhari-hari. Ketika usia-

411

nya 26 tahun, MSS memutuskan bahwa anak i sudah belajar cukup banyak. Sudah tiba saati membunuh. 1

Sejauh yang diketahui CIA, ia mulai mencatatkan angka kematiannya yang mencengangkan dengan pembunuhan tiga ilmuwan Cina Komunis yang menjadi terlalu akrab dengan Rusia. Ia mengun-dang mereka makan malam di restoran di Moskow, ‘ Sementara para tukang pukul mereka menunggu di luar, salah satunya digorok di toilet pria ketika sedang kencing di urinoar. Perlu waktu satu jam untuk menemukan mayatnya, dijejalkan ke tong sampah yang lumayan kecil. Orang kedua membuat kesalahan dengan mengkhawatirkan orang pertama. Ia masuk ke toilet pria, tempat Tin Man sudah menunggu dan berpakaian sebagai petugas kebersihan. Mereka menemukan orang itu dengan kepala disurukkan ke lubang kakus, yang tersumbat dan mampet. Orang ketiga tewas be-berapa detik kemudian di meja, tempat ia sedang duduk sendiri dan menjadi sangat khawatir dengan kedua kawannya yang menghilang. Seorang lelaki dengan jas pelayan berlalu dengan cepat, dan tanpa mempetlambat langkah menusukkan anak panah beracun ke tengkuknya.

Bila dinilai, pembunuhan-pembunuhan itu cukup cetoboh. Terlalu banyak darah, terlalu banyak sakst. Kesempatan melarikan diri sangat tipis, tapi

Tin Man mendapatkannya dan berhasil melesat melalui dapur yang sibuk tanpa diketahui, Ia sudah lolos dan berlari cepat di gang kecil ketika para tukang pukul itu dipanggil. Ia menghilang di kota yang gelap, memanggil taksi, dan dua puluh menit kemudian sudah memasuki Kedutaan Cina. Esok harinya ia sudah berada di Beijing, merayakan ke-I suksesannya yang pertama.

Nyali besat yang dipamerkan pada penyeiangan t tersebut mengguncang dunia intelijen. Badan-badan

1intelijen saingan mulai geragapan mencari siapa , yang telah melakukannya. Peristiwa tersebut sangat berlawanan dengan gaya Cina yang biasa dalam melenyapkan musuh-musuhnya. Mereka terkenal memiliki kesabaran, disiplin untuk menunggu dan menunggu hingga waktunya tepat. Meteka berburu hingga mangsa mereka akhirnya menyerah. Atau mereka akan meninggalkan satu tencana dan ganti rencana lain, dengan hati-hati menunggu kesempatan.

Ketika hal itu tetjadi lagi beberapa bulan kemudian di Berlin, legenda Tin Man pun lahir. Seorang eksekutif Ptancvs melakukan kesepakatan rahasia tipuan menyangkut teknologi tinggi radar bergerak, la dilontarkan dari balkon kamar hotel di lantai empat belas, dan ketika mendarat di dekat kolam renang, hal itu menimbulkan kemarahan bebetapa otang yang sedang berjemur. Sekali lagi, pembunuhan itu tetlalu mudah dilihat.

Di London, Tin Man meledakkan kepala seseorang dengan ponsel. Seorang pembelot di Chinatown New York kehilangan sebagian besar wajahnya ketika rokoknya meledak. Sammy Tin segera mendapar nama dari berbagai pembunuhan intelijen yang dramatis di dunia bawah tanah. Legendanya tumbuh dengan cepat. Walaupun ia memiliki empat atau lima anggota tepercaya dalam unitnya, ia sering kali bekerja sendiri. Ia pernah kehilangan sasaran di Singapura ketika targetnya mendadak muncul bersama beberapa teman, semuanya membawa pistol. Itu adalah kegagalan yang jarang terjadi, dan pelajaran yang didapat dari sana adalah menjaga dirinya tetap tersembunyi, menyerang dengan cepat, dan jangan melibatkan terlalu banyak orang.

Semakin dewasa, pembunuhan-pembunuhannya menjadi tak sedramatis dulu, tak sekejam dulu, dan lebih mudah dimtup-tutupi. Sekarang umurnya 33 tahun, dan tak (hragukan lagi ia adalah agen yang paling .ditakuti di dunia. CIA menghabiskan banyak dana untuk berusaha melacak gerakannya. Mereb tahu ia ada di Beijing, tinggal di apartemennya yang mewah. Ketika ia pergi, mereka melacaknya di Hong Kong. Interpol diberi peringatan ketika Tin Man menumpang penerbangan nonstop ke London, tempat ia berganti paspor dan pada detik terakhir naik penerbangan Alitalia ke Milan. Interpol hanya bisa mengawasi. Sammy Tin se-

jjflg kali bepergian dengan samaran diplomatik.

[a bukan kriminal; ia agen, diplomat, pengusaha,

dosen, apa pun yang dibutuhkannya.

Sebuah mobil sudah menunggunya di Bandata Malpensa Milan, dan ia pun lenyap dalam keramaian kota. Sejauh yang diketahui CIA, sudah empat setengah tahun berlalu sejak tetakhir kali Tin Man menjejakkan kaki di Italia.

Penampilan Mt. Elya jelas-jelas menyatakan dirinya pengusaha Saudi yang kaya raya, walau setelan jas wolnya yang tebal warnanya hampir hitam, agak terlalu gelap bagi Bologna, dan garis-garisnya terlalu tebal untuk tekstil yang didesain di Italia. Kemejanya metah jambu, dengan kerah putih yang mengilap—bukan paduan yang buruk, tapi, yah, tetap saja itu merah jambu. Menghubungkan kancing teratas kemejanya ada jepit emas, juga terlalu tebal, yang mendorong simpul dasinya terlalu tinggi sehingga menimbulkan kesan tercekik, dan pada kedua ujung jepit itu ada sebutir berlian. Mr. Elya menyukai berlian—ada berlian besar di masing-masing tangannya, belasan butir yang lebih kecil mengelilingi arloji Rolex-nya, beberapa lagi di manset kemejanya. Menurut Stefano, sepatunya tampak seperti buatan Italia, baru gres, cokelat, tapi warnanya terlalu muda untuk setelan jasnya.

Secara keseluruhan, paduan itu tidak tampak bagus. Meski demikian, jelas bahwa ia telah berusaha keras. Stefano punya waktu mempelajari kliennya sementara mereka berkendara tanpa suara dari ban- j dara, tempat Mr. Elya dan asistennya tiba dengan jet pribadi, menuju pusat kota Bologna. Mereka du- i duk di bangku belakang Mercedes hitam, salah satu i syarat Mr. Elya, dengan pengemudi yang membisu | di kursi depan, dan asisten yang sepertinya hanya bisa berbahasa Arab. Bahasa Inggris Mr. Elya cepat tapi bisa dimengerti, biasanya diikuti ucapan dalam bahasa Arab kepada si asisten, yang merasa wajib mencatat apa pun yang dikatakan majikannya.

Setelah sepuluh menit di dalam mobil bersama mereka, Stefano berharap urusan ini bisa selesai sebelum waktu makan siang.

Apartemen pertama yang ditunjukkannya ada di dekat universitas, tempat putra Mr. Elya akan datang tak lama lagi untuk belajar kedokteran. Empat ruangan di lantai dua, tanpa lift, bangunan tua yang kokoh, perabotannya baik, jelas kelewat mewah untuk mahasiswa mana pun—1.800 euro sebulan, satu tahun masa sewa, dengan tambahan biaya petawatan. Mr. Elya tidak mengucapkan apa pun, hanya mengerutkan kening, seolah putranya yang manja membutuhkan sesuatu yang lebih baik. Si asisten juga mengerutkan kening. Mereka semua mengerutkan kening menuruni tangga, masuk kf

ffl0bil, dan tak mengucapkan sepatah kata pun sementara si pengemudi membawa mereka ke perhentian kedua.

Apartemen itu ada di Via Remorsella, satu blok sebelah barat Via Fondazza. Sedikit lebih besar daripada yang pertama, dengan dapur seperti lemari penyimpanan sapu, perabotannya buruk, tidak mempunyai pemandangan, dua puluh menit dari universitas, harga sewanya 2.600 euro sebulan, dan bahkan ada bau-bauan aneh yang menyertainya. Mereka tak lagi mengerutkan kening, mereka me-: nyukai tempat itu. “Ini boleh juga,” ujar Mr. Elya, dan Stefano mengembuskan napas lega. Dengan sedikit keberuntungan, ia tidak perlu menjamu mereka makan siang. Dan ia baru saja mendapat komisi yang lumayan.

Mereka cepat-cepat kembali ke kantor tempat j Stefano bekerja, dan di sana dokumen-dokumen diselesaikan dengan kecepatan rekor. Mr. Elya orang yang sibuk dan memiliki janji penting di Roma, dan bila urusan sewa-menyewa tidak bisa1 diselesaikan saat itu juga, lupakan saja semuanya!

Metcedes hitam itu melesat membawa mereka kembali ke bandara. Di sana, Stefano yang gugup dan kelelahan mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal, lalu berlalu dari sana secepat-cepatnya. Mr. Elya dan asistennya menanggalkan setelan bisnis mereka dan mengenakan pakaian santai biasa.

* 416

Mereka bergabung dengan tiga anggota tim ya% lain. Setelah menanti sekitar satu jam, akhirnya m
Luigi mulai curiga pada tas Silvio biru tua itu. Marco tidak pernah meninggalkannya di apartemen. Tidak pernah lepas dari pandangannya, la membawanya ke mana-mana, diselempangkan di bahu, dan dijepit rapat di bawah lengan kanannya seolah berisi emas.

Apa yang dimilikinya sekarang yang harus dilindungi sedemikian rupa? Ia jarang membawa bahan-bahan pelajarannya ke mana pun. Kalau ia dan Ermanno tidak belajar di luar, mereka melakukannya di apartemen Marco. Jika belajar di luar, mereka melakukan percakapan dan tidak perlu menggunakan buku.

Whitaker di Milano juga mulai curiga, terutama sejak Marco ketahuan berada di kafe Internet di dekat universitas. Ia mengirim agen bernama Krater ke Bologna untuk membantu Zellman dan Luigi mengawasi lebih ketat Marco dan tasnya yang bermasalah itu. Dengan tali laso mulai mengetat dan kembang api akan segera dimulai, Whitaker meminta Langley mengirim lebih banyak tenaga ke jalan.

418

tfamun Langley sedang heboh. Kepergian Teddy, walau bukannya tak terduga, telah mengacaukan tempat itu. Gelombang kejut dari pemecatan Lucat roasih terasa sama saat itu. Presiden mengancam jkan melakukan pembongkaran besar-besaran, dan para deputi direktur serta pejabat atas tinggi mulai menghabiskan waktu melindungi pantat mereka, tak lagi menggubris operasi-operasi mereka.

Krater-lah yang mendapat pesan radio dari Luigi bahwa Marco sedang berjalan ke arah Piazza Maggiore, mungkin mencari kopi sore. Krater melihatnya ketika Marco menyeberangi alun-alun, tas biru tua dijepit di bawah lengan kanan, tampak se-| perti penduduk setempat. Setelah mempelajari arsip cukup tebal mengenai Joel Backman, senang juga akhirnya bisa melihatnya. Kalau saja pria malang itu tahu.

Namun Marco tidak haus. Belum. Ia melewati kafe dan toko, lalu tiba-tiba, setelah melirik diam-diam, masuk ke Albergo Nettuno, hotel butik dengan lima puluh kamar tak jauh dari piazza. Krater memberitahu Zellman dan Luigi melalui radio, yang kebingungan karena Marco tidak punya alasan apa pun untuk masuk ke hotel. Krater menunggu lima menit, lalu masuk ke lobinya yang kecil, menyetap segala yang bisa dilihatnya. Di sebelah kanan area lobi terdapat beberapa kursi dan majalah liburan yang ditebarkan di meja pendek

lebar. Di sebelah kiri ada ruang kecil telep0tl umum yang kosong dengan pintu terbuka, laju ruangan lain yang tidak kosong. Marco duduk di sana, sendiri, membungkuk di atas meja kecil di ba-wah telepon dinding, tas birunya terbuka. Ia terlalu sibuk sehingga ridak melihat Krater masuk.

“Bisa saya bantu?” tanya petugas meja depan.

“Ya, terima kasih, saya ingin memesan kamar,” ujar Krater dalam bahasa Italia.

“Untuk kapan?”

“Malam ini.”

“Maaf, malam ini kamar-kamar kami sudah penuh”

Krater mengambil brosur dari meja. “Tempat ini selalu penuh,” katanya sambil tersenyum. “Hotel ini sangat terkenal.”

“Memang benar. Mungkin lain kali?”

“Apakah di sini tersedia akses Internet?”

“Tentu.”

“Nirkabel?”

“Ya, hotel pertama di kota ini yang menyediakan akses nirkabel.”

Kratet mundur sambil berkata, “Terima kasih Saya akan mencoba lagi lain kali.”

“Silakan.”

Sebelum keluar, ia melewati ruang telepon it lagi. Marco tidak mendongak.

Dengan kedua ibu jati Marco mengetik pesan dan berharap ia tidak diminta pergi oleh petugas meja depan. Akses nirkabel adalah fasilitas baru yang diiklankan oleh Nettuno, tapi hanya untuk tamu-tamu hotel. Kafe, perpustakaan, dan toko buku menyediakan layanan gratis kepada siapa pun yang masuk, tapi hotel tidak begitu. Isi e-mailnya:

Grinch: Aku pernah berurusan dengan seorang bankir di Zurich, namanya Mikel Van Thiessen, di Rhineland Bank, Bahnhofitrasse, pusat kota Zurich. Coba periksa apakah ia masih di sana. Kalau tidak, siapa yang menggantikannya? Jangan meninggalkan jejak!

Marco

Ia menekan tombol Send, dan sekali lagi berharap ia melakukannya dengan benar. Dengan segera, dimatikannya Ankyo 850 dan dimasuk-L ¦ kannya kembali ke tas. Ketika pergi, ia mengangguk kepada petugas yang sedang menelepon.

Dua menit setelah Krater keluar dari hotel, j Marco pun keluar. Mereka mengamatinya dari tiga titik, lalu membuntutinya ketika dengan mudah ia bergabung dengan keramaian orang yang pulang

kerja. Zellman berbalik, masuk ke Nett

ke ruang relepon di sebelah kiri, duduk- Pergi

Marco duduk tak sampai dua puluh

belumnya. Petugas meja depan, yang seCT* ^’

ngung, pura-pura sibuk di balik mejanya. 8 bl”

Satu jam kemudian, mereka bertemu di b

dan membahas kembali pergerakan Marco V • ^ • i • i. . ‘ ^esim-

pulannya jelas, tapi tetap sulit ditelan—-karen

Marco tidak menggunakan telepon, ia menumpang akses Internet gratis yang disediakan hotel. Tidak ada alasan lain untuk memasuki lobi hotel secara acak, duduk di ruang telepon tak lebih dari sepuluh menit, lalu pergi lagi. Tapi bagaimana ia melakukannya? Ia tidak punya laptop, tidak punya ponsel selain yang dipinjamkan Luigi padanya, alat kuno yang hanya bisa digunakan di dalam kota dan tidak mungkin di-upgrade untuk menjelajah Internet. Apakah ia mendapat alat berteknologi canggih? Ia kan tidak punya uang. Kemungkinannya pencurian. Mereka mencoba-coba berbagai skenario. Zellman bertugas mengirimkan berita mencemaskan itu melalui e-mail kepada Whitaker. Krater disuruh mulai melihat-lihat tas Silvio biru yang serupa. Luigi diberi tugas memikirkan makan malam. Pikirannya terusik panggilan- telepon W Marco- k ada di apartemennya, sedang tidak cnaK

utnya

melilit sepanjang sore. la ^ba^inS-P^makanmal^

24

Jika telepon Dan Sandberg berdering sebelum pukul enam pagi, beritanya pasti tidak bagus, la burung hantu, makhluk malam yang sering kalj tidur melewati waktu sarapan sekaligus makan siang. Semua orang yang mengenalnya juga tahu; percuma saja meneleponnya pagi-pagi.

Telepon itu dari rekannya di Post. “Kau didului, buddy” ujarnya muram, j

“Apa?” Sandberg meledak.

“Times baru saja menyeka ingusmu.”

“Siapa?”

“Backman.”

“Apa?”

“Lihat saja sendiri.”

Sandberg berlari ke ruang kerja di apartemennya yang berantakan dan menyerbu komputernya, k

menemukan berita itu, ditulis oleh Heath Frick, rival yang dibenci dari The New York Times, judul utama halaman depan berbunyi JOEL BACKMAN TERKAIT PENYIDIKAN JUAL-BELI ABOLISI.

Mengutip dari sumber-sumber yang tak disebutkan namanya, Frick melaporkan bahwa penyidikan yang dilakukan FBI sehubungan dengan jual-beli pengampunan hukuman semakin intensif dan ber-kembang sehingga melibatkan individu-individu [ tertentu yang dibebaskan oleh Presiden Arthur i Morgan. Duke Mongo disebut sebagai “orang yang I dicurigai”, istilah halus yang dilontarkan pihak berwenang jika ingin mencoreng muka orang yang tak bisa didakwa secara formal. Namun Mongo sedang dirawat di rumah sakit dan kabarnya sedang me-i regang nyawa.

Penyidikan itu sekarang memusatkan perhatian pada Joel Backman, yang pengampunannya pada detik-detik terakhir telah menggegerkan dan membuat marah banyak orang, menurut analisis Frick yang tak perlu. Misteri lenyapnya Backman semakin memicu spekulasi bahwa ia telah membeli pengampunan hukuman itu dan kabur untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan i timbul. Desas-desus lama masih berkembang di I masyarakat, Frick mengingatkan semua orang, dan berbagai sumber tepercaya yang tak ingin disebut namanya memberi petunjuk bahwa teori mengenai

425

424

Backman yang menimbun harta karun belum lagi j dilupakan.

“Sampah!” umpat Sandberg sambil terus mern- I baca ke bawah. Ia lebih tahu fakta-faktanya daripada orang lain. Omong kosong ini tidak ada isinya. Backman tidak pernah membeli pengampunan hukuman itu.

Tak satu pun orang-orang yang terkait dengan mantan presiden mau buka mulut. Sementara ini, penyidikan itu tetap sekadar penyidikan, tanpa dikembangkan menjadi penyelidikan resmi, namun artileri berat federal tak beranjak jauh-jauh darinya. Seorang jaksa tinggi sudah gembar-gembor ingin segera mulai bekerja. Ia belum mendapatkan juri, tapi kantornya sudah siap, menunggu perintah dari Departemen Kehakiman.

Frick menutup tulisannya dengan dua paragraf mengenai Backman, pengulangan historis yang pernah ditulis koran tersebut sebelumnya.

Tak ada isinya!” Sandberg mendidih.

Presiden tnembacanya juga, tapi reaksinya berbeda. Ia membuat beberapa catatan dan menyimpannya sampai pukul setengah delapan, saat Susan Penn, pejabat direktur CIA, datang untuk taklimat pagi. Taklimat harian presiden secara tradisi ditangani oleh direktur sendiri, selalu di Oval Office, dar

biasanya merupakan acara pertama hari kerjanya. Namun Teddy Maynard dan kesehatannya yang buruk telah mengubah rutinitas tersebut, dan selama sepuluh tahun taklimat tersebut dilakukan oleh orang lain. Sekarang ttadisi kembali dihormati.

Rangkuman masalah intelijen sebanyak delapan hingga sepuluh halaman diletakkan di meja Presiden pada pukul tujuh tepat. Setelah hampir dua bulan beketja, ia mengembangkan kebiasaan membaca setiap patah kata. Menurutnya, hal itu sangat menarik. Pendahulunya sesumbar hampir tak pernah membaca apa pun—buku, surat kabar, majalah. Apalagi dokumen legislasi, kebijakan, perjanjian, atau taklimat harian. Ia bahkan sering kesulitan membaca naskah pidatonya sendiri. Keadaan berbeda sekali sekarang.

Susan Penn diantar dengan mobil antipeluru dari rumahnya di Georgetown ke White House, tempat ia tiba setiap pagi pada pukul 07.15. Sepanjang perjalanan ia membaca rangkuman harian, yang I disiapkan oleh CIA. Pada halaman empat pagi itu, I ada laporan mengenai Joel Backman. Ia menarik i perhatian beberapa orang berbahaya, bahkan mungkin Sammy Tin.

Presiden menyambutnya dengan hangat dan kopi sudah menunggu di dekat sofa. Mereka berdua saja, seperti biasa, dan langsung mulai beketja.

“Kau sudah membaca The New York Times pagj ini?” tanya Presiden. “Sudah.”

“Bagaimana kemungkinan Backman membeli pengampunan hukuman itu?”

“Sangat tipis. Seperti yang sudah saya jelaskan, ia tidak tahu pengampunannya sudah disiapkan. Ia tidak punya waktu mengatur segala sesuatu. Lagi pula, kami yakin ia tidak punya uang yang cukup.”

“Lalu mengapa Backman diampuni?”

Kesetiaan Susan Penn pada Teddy Maynard dengan cepat tenggelam dalam sejarah. Teddy sudah pergi, dan tak lama lagi mati, tapi ia, pada usia 44 tahun, masih memiliki karier. Mungkin cukup panjang. Ia dan Presiden bekerja sama dengan baik Sepertinya ia tidak buru-buru ingin menunjuk direktur baru.

“Sejujurnya, Teddy ingin dia mati.”

“Mengapa? Apa yang kauingat tentang alasan-alasan Mr. Maynard menghendaki ia mati?” “Ceritanya panjang—” “Tidak.”

“Kami tidak tahu seluruhnya.” “Kau tahu cukup banyak. Katakan apa yang kauketahui.”

Susan Penn melemparkan salinan rangkuman itu ke sofa dan menarik napas dalam-dalam. “Backmat]

daIl]acy Hubbard kejatuhan durian runtuh. Mereka rnenuliki perangkat lunak ini, JAM, yang dengan bodoh dibawa klien-klien mereka ke Amerika Serikat, ke kantor mereka, untuk mendapat banyak

uang.”

• “Klien-klien ini adalah pemuda-pemuda Pakistan

itu, bukan?” “Ya, dan mereka semua sudah mati.” “Kau tahu siapa yang membunuh meteka?”

“Tidak.”

“Kau tahu siapa yang membunuh Jacy Hubbard?”

“Tidak.”

Presiden berdiri sambil membawa kopinya dan berjalan ke meja kerja, la duduk di tepi meja dan melotot pada Susan Penn. “Aku sulit percaya kita tidak tahu apa-apa.”

“Jujut saja, saya juga. Dan itu bukan karena kami tak petnah betusaha. Itu salah satu alasan Teddy betusaha keras agar Backman diampuni. Ya, pada dasarnya ia menginginkan Backman mati—mereka punya sejarah dan Teddy selalu menganggap Backman pengkhianat. Namun ia juga sangat yakin bahwa pembunuhan Backman akan memberitahukan sesuatu kepada kita.” “Apa?”

“Tergantung siapa yang membunuhnya. Kalau Rusia yang melakukannya, kita boleh percaya sistem satelit Itu milik Rusia. Begitu juga dengan

Cina. Tapi kalau Israel yang membunuhnya, ada kemungkinan Backman dan Hubbard berusaha menjual produk mereka kepada Saudi. Bila Saudi yang menghabisinya, kita bisa yakin bahwa Backman mengkhianati mereka. Kami cukup yakin bahwa Saudi mengira mereka sudah mendapat kesepakatan.”

“Tapi Backman mengelabui mereka?”

“Barangkali tidak. Menurut kami, kematian Hubbard mengubah segalanya. Backman mengemasi tasnya dan kabur masuk ke penjara. Semua kesepakatan batal.”

Presiden berjalan kembali ke meja kopi dan mengisi cangkirnya Ia duduk di depan Susan Penn dan menggeleng. “Kau berharap aku percaya bahwa tiga hacker Pakistan itu membobol sistem satelit yang begitu canggih tanpa sepengetahuan kita?”

“Ya. Mereka sangat pintar, tapi juga beruntung. Lalu mereka bukan saja membobol sistem, tapi juga membuat program luar biasa yang memanipulasinya”

“Dan itu yang disebut JAM?” “Begitulah mereka menamainya.” “Ada yang pernah melihat perangkat lunak itu?”

“Saudi. Karena itulah kami tahu, bukan hanya perangkat lunak itu sungguh-sungguh ada, tapi mungkin juga bekerja seperti yang diiklankan.”

“Di mana perangkat lunak itu sekarang?” Tidak ada yang tahu, kecuali mungkin Backman

sendiri.”

Suasana sunyi cukup lama sementara Presiden menyesap kopinya yang suam-suam kuku. Lalu ia menumpukan kedua sikunya di atas lutut dan berkata, “Apa yang paling baik bagi kita, Susan? Apa yang paling baik untuk kepentingan kita?”

Susan Penn tidak ragu-ragu. “Mengikuti rencana Teddy. Backman akan dilenyapkan. Perangkat lunak itu tak pernah terlihat selama enam tahun, jadi mungkin juga sudah tidak ada. Sistem satelit itu ada di atas sana, tapi siapa pun yang memilikinya tidak bisa menggunakannya.”

Diam lagi. Sesapan kopi lagi. Presiden menggeleng-geleng dan berkata, “Jadilah.”

Neal Backman tidak membaca The New York Times, tapi pagi itu ia melakukan pencarian nama ayahnya di Internet. Sewaktu mendapatkan tulisan Frick, ia melampirkannya pada e-mail yang dikirimnya dari

Jerrys Java.

Di meja kerjanya, ia membaca lagi tulisan tersebut, dan teringat desas-desus tentang berapa banyak uang yang disembunyikan sang broker ketika bitonya runtuh. Ia tidak pernah mempertanyakan hal itu dengan lugas pada ayahnya, karena ia tahu

431

tidak akan mendapat jawaban yang jelas. Selama bertahun-tahun, ia mulai menerima keyakinan umum bahwa Joel Backman adalah pesakitan yang tak punya uang.

Lalu mengapa ia merasakan sesuatu yang mengusik, bahwa skandal jual-beli pengampunan hukuman iru ada benarnya? Karena bila ada orang yang terkubur begitu dalam di penjara federal tapi bisa melakukan keajaiban semacam itu, ayahnyalah orangnya. Tapi bagaimana ia bisa sampai di Bologna, Italia? Dan mengapa? Siapa yang memburunya?

Pertanyaan-pertanyaan menumpuk, jawaban-jawabannya tak bisa didapatkan.

Sambil menyesap double mocha dan memandangi pintu ruang kantornya yang terkunci, sekali lagi ia mengajukan pertanyaan besar itu pada diri sendiri: Bagaimana orang bisa menemukan bankir Swiss tertentu tanpa menggunakan telepon, faks, surat, atau e-mail?

Ia sudah menemukan caranya. Ia hanya perlu waktu.

Tulisan di 77?»« itu dibaca oleh Efraim ketika ia naik kereta dari Florence ke Bologna. Panggilan telepon dari Tel Aviv memberitahunya, dan ia menemukannya di Internet. Amos empat kursi di belakangnya, juga sedang membaca di laptop-nya.

Rafi dan Shaul tiba keesokan harinya pagi-pagi sekali—Rafi dengan pesawat dari Milan, Shaul naik kereta dari Roma. Keempat anggota kidon yang berbahasa Italia itu sudah sampai di Bologna, dengan segera menyiapkan dua rumah persembunyian yang mereka perlukan untuk proyek tersebut.

Rencana awal adalah metingkus Backman di bawah portico gelap sepanjang Via Fondazza atau jalan kecil yang sesuai, lebih disukai pagi-pagi sekali atau setelah gelap. Mereka akan membiusnya, memasukkannya ke van, membawanya ke rumah persembunyian, dan menunggu pengaruh obat biusnya lenyap. Mereka akan menginterogasinya, akhirnya membunuhnya dengan racun, dan membawa mayatnya dengan mobil selama dua jam ke Lake Garda, tempat ia akan menjadi makanan ikan.

Rencana itu kasar dan penuh bahaya, tapi lampu hijau sudah diberikan. Tidak ada lagi jalan kembali. Setelah Backman mendapat begitu banyak perhatian sekarang, meteka harus menyerang dengan cepar.

Perlombaan itu juga dipacu fakta bahwa Mossad memiliki alasan untuk yakin bahwa Sammy Tin betada di Bologna, atau di suatu tempat tak jauh dari sana.

H

Restoran yang paling dekat dengan apartemen Francesca adalah trattoria tua menarik bernama Nino’s. Francesca tahu benar tempat itu dan sudah bertahun-tahun mengenal dua putra Nino tua. Ia menjelaskan kesulitannya, dan ketika ia tiba, kedua pria itu sudah menanti dan boleh dibilang menggendongnya masuk. Mereka mengambil alih tongkat, tas, mantel, dan mengantarnya perlahan-lahan ke meja favorit, yang mereka dekatkan ke perapian. Mereka membawakan kopi dan air minum untuknya, lalu menawarkan apa pun yang mungkin dikehendakinya. Saat itu menjelang sore, pengunjung makan siang sudah sepi. Nico serasa hanya menjadi milik Francesca dan muridnya.

Ketika Marco tiba beberapa menit kemudian, dua bersaudara itu menyambutnya seolah ia anggota keluarga. “La professoressa la sta aspettando,” salah satunya berkata. Guru sudah menunggu.

Peristiwa di jalan setapak berbatu di San Luca dan pergelangan kaki yang terkilir itu telah mengubah Francesca. Lenyap sudah sikap tak peduli yang dingin itu. Lenyap sudah k^edihan itu, paling tidak untuk sekarang ini. Ia tersenyum ketika melihat Marco, bahkan mengulurkan tangan, meraih tangan Marco, dan menariknya supaya mereka bisa saling mengecup kedua belah pipi, kebiasaan yang sudah diamati Marco selama dua bulan namun belum

pernah melibatkannya. Lagi pula, Francesca kenalan wanita yang pertama di Italia, la memberi isyarat ke arah kursi di depannya. Dua bersaudara tadi datang merubung, mengambil mantelnya, bertanya apakah ia mau minum kopi, bersemangat ingin melihat seperti apa kursus bahasa Italia itu.

“Bagaimana kakimu?” tanya Matco, dan membuat kesalahan dengan berbahasa Inggris. Francesca menyentuhkan jarinya ke bibir, menggeleng, dan berkata, “Non inglese, Marco. Solamente Italiano”

Marco mengerutkan kening dan’ berkata, “Aku sudah khawatir.”

Kaki Francesca masih sakit sekali. Ia mengompresnya dengan es kalau sedang membaca atau menonton televisi, dan bengkaknya sudah hilang sekatang. Perjalanan ke restotan dilakukannya lambat-lambat, tapi penting baginya untuk betgerak terus. Atas desakan ibunya, ia menggunakan tongkat. Baginya, benda itu betguna sekaligus membuatnya malu.

Kopi dan air putih kembali datang, dan sewaktu dua bersaudara itu yakin betul bahwa segalanya memadai bagi teman tersayang mereka Francesca dan muridnya yang orang Kanada, dengan enggan mereka kembali ke bagian depan restotan.

“Bagaimana kabar ibumu?” tanya Marco dalam

bahasa Italia.

Sangat baik, sangat lelah. Sudah sebulan ia me-

rawat Giovanni, dan tanda-tanda keletihannya sudah mulai tampak.

Jadi, pikir Marco, sekarang kita sudah boleh membicarakan Giovanni. Bagaimana keadaannya?

Kanker otak yang tak bisa dioperasi, jawab Francesca, dan butuh beberapa pengulangan sampai kalimat itu diterjemahkan dengan tepat. Sudah hampir setahun ia sangat menderita, dan akhirnya sudah dekat. Ia sudah tak sadar lagi. Sayang sekali.

Apa profesinya dulu, apa pekerjaannya?

Ia mengajar sejarah abad pertengahan di universitas selama bertahun-tahun. Mereka bertemu di sana—Francesca mahasiswa, Giovanni profesornya. Pada saat itu, Giovanni masih menikah dengan seorang wanita yang amat tidak disukainya. Mereka mempunyai dua putra. Francesca dan profesornya saling jatuh cinta dan menjalin kisah cinta rahasia yang berlangsung hampir sepuluh tahun sebelum Giovanni menceraikan istrinya dan menikahi Francesca.

Anak? Tidak, sahut Francesca sedih. Giovanni sudah punya dua anak, ia tidak ingin punya anak lagi. Francesca memiliki penyesalan, banyak penyesalan.

Jelaslah bahwa perkawinan itu bukan perkawinan yang bahagia. Tunggu saja sampai kita membahas perkawinanku, batin Marco.

Tak lama mereka sampai ke topik tersebut. “Ceritakan tentang dirimu,” kata Francesca. “Bicaralah perlahan-lahan. Aku ingin mendengar aksen yang

sebaik mungkin.” “Aku hanya pengusaha dari Kanada,” ujar Marco

dalam bahasa Italia. “Tidak, yang sebenarnya. Siapa namamu yang

sebenarnya?” “Tidak.” “Apa?”

“Untuk sementara ini, Marco. Aku punya sejarah panjang, Francesca, dan aku tidak bisa membicarakannya.” “Baiklah. Kau punya anak?” Ah, ya. Untuk beberapa waktu yang panjang, : Marco membicarakan ketiga anaknya—nama, umur, pekerjaan, tempat tinggal, pasangan, anak-anak mereka. Ia membumbuinya dengan sedikit fiksi untuk memperlancar kisahnya, dan menciptakan keajaiban kecil dengan membuat keluarganya tampak seperti keluatga yang cukup normal. Francesca mendengarkan dengan penuh perhatian, menunggu menyela kesalahan pengucapan atau konjugasi kau kerja yang keliru. Salah satu putra Nino datang membawakan cokelat dan tinggal sebentar untuk berkomentar, diiringi senyum lebar, “Paria molto bene, signore.” Anda berbicara dengan sangat baik, Tuan. I

Francesca mulai gelisah setelah satu jam dan Marco menyadari ia mulai merasa tidak nyaman. Akhirnya Marco berhasil meyakinkannya untuk pulang, dan dengan sangat gembira ia mengantar Francesca ke Via Minzoni, tangan kanannya erat menggenggam siku kiri Marco sementara tangan kirinya memegangi tongkat. Mereka berjalan selambat mungkin. Francesca enggan kembali ke apartemennya, kembali berjaga, menunggu ke-matian. Marco ingin berjalan bermil-mil jauhnya, memperpanjang sentuhannya, merasakan tangan seseorang yang membutuhkan dirinya.

Di apartemen Francesca, mereka saling mengecup sebagai ucapan selamat berpisah dan mengatut pertemuan di Nino’s besok, jam yang sama, meja yang sama.

Jacy Hubbard melewatkan hampir 25 tahun hidupnya di Washington; seperempat abad penuh perburuan agresif kelas kakap dengan sejumlah besar wanita yang gampang digantikan. Yang terakhir adalah Mae Szun, wanita cantik yang tingginya hampir 180 sentimeter, dengan tubuh sempuma, mata hitam yang mematikan, dan suara parau yang tidak mendapat banyak kesulitan mengajak Jacy keluar dari bar dan naik mobil. Setelah satu jam seks yang kasar, ia menyerahkan

jacy kepada Sammy Tin, yang menghabisinya dan meninggalkan mayatnya di makam kakaknya.

Kalau seks diperlukan untuk menjebak mangsa, Sammy memilih Mae Szun. Wanita itu agen MSS yang hebat, tapi tungkai dan wajahnya menambah dimensi yang sudah terbukti mematikan pada tiga peristiwa. Sammy memanggilnya ke Bologna, bukan untuk merayu tapi untuk menggandeng tangan agen lain dan berpura-pura menjadi pasangan turis yang berbahagia. Tentu saja, rayuan mungkin diperlukan. Terutama dengan Backman. Pria malang itu baru bebas dari enam tahun di penjata, jauh dari wanita.

Mae melihat Marco ketika ia bergerak bersama kerumunan di Strada Maggiore, berjalan menuju arah Via Fondazza. Dengan kegesitan mengagumkan, ia mempercepat langkah, mengeluarkan ponsel, dan berhasil menyusul Marco sambil tetap terlihat seperti turis yang bosan melihat-lihat toko.

Lalu Marco menghilang. Dengan tiba-tiba ia mengambil tikungan ke kiri, berbelok di gang kecil, Via Begatto, dan menuju arah utara, menjauhi Via Fondazza. Sewaktu Mae Szun berbelok, Marco sudah lenyap dari pandangan.

25

Musim semi akhirnya tiba di Bologna G . salju terakhir sudah berlalu. Suhu mencapai sepuluh derajat kemarin, dan ketika Marco melangkah ke luar sebelum fajar, ia sempat berpikir untuk mengganti jaket palkanya dengan jaket yang lain. berjalan beberapa langkah di bawah naungan yang gelap, mencoba merasakan suhu, dan memutuskan saat itu masih cukup dingin untuk mengenakan paria, la akan kembali ke apartemen beberapa jam lagi dan masih bisa ganti jaket kalau mau. Dijejalkannya kedua tangan ke dalam saku, dan ia memulai acara jalan-jalan paginya.

Tak ada hal lain yang menguasai pikirannya selain tulisan di Times itu. Melihat namanya rerpampang di halaman depan menggugah ke” nangan lama yang menyakitkan, dan itu cukup

mengganggu. Namun dituduh menyuap Presiden adalah sesuatu yang berkonsekuensi hukum, dan dalam kehidupannya yang lain, ia akan memulai harinya dengan menembakkan tuntutan hukum pada semua orang yang terlibat. Ia bisa saja memiliki The New York Times.

Namun yang membuatnya tak bisa tidur adalah pertanyaan lajn. Perhatian yang ditujukan padanya itu, apa artinya bagi dirinya sekarang? Apakah Luigi akan menjemputnya dengan paksa dan membawanya kabur lagi?

Dan yang paling penting: Apakah bahaya yang mengancamnya hari ini lebih besar daripada kemarin?

Ia sudah bertahan hidup dengan baik, tersembunyi di kota yang indah tanpa seorang pun mengetahui nama aslinya. Tidak ada yang mengenali wajahnya. Tidak ada yang peduli. Bolognesi sibuk menjalani hidup mereka sendiri tanpa mencampuri I urusan orang lain.

Bahkan ia tidak mengenali dirinya sendiri. Setiap pagi ketika selesai bercukur dan mengenakan kacamata serta topi korduroi cokelatnya, ia berdiri di depan cermin dan menyapa Marco. Hilang sudah pipi tembam dan mata hitam yang sembap, rambutnya yang lebih tebal dan lebih panjang. Hilang sudah cibiran dan kesombongan. Sekarang ia hanyalah lelaki biasa yang pendiam di jalan.

Marco menjalani hidupnya hari demi hari, d^ hari-hari itu semakin banyak. Orang-orang yang membaca tulisan di Times itu tidak tahu di mana Marco berada atau apa yang dilakukannya.

Ia melewati seorang pria bersetelan gelap dan langsung tahu bahwa masalah membayanginya. Setelan jas itu tidak cocok. Asalnya dari tempat lain, dibeli obralan di toko pakaian murah, yang dulu oUlihatnya setiap hari pada kehidupan yang lain. Kemeja putih itu kemeja button-down membosankan yang telah dilihatnya selama tiga puluh tahun di” D.C. Dulu ia pernah mempertimbangkan mengedarkan memo di kantor, yang melarang penggunaan kemeja button-down katun biru-putih, tapi Carl Pratt berhasil membujuknya untuk membatalkan niat.

Ia tidak melihat warna dasinya.

Itu bukan setelan jas yang biasa terlihat di bawah naungan trotoar Via Fondazza sebelum fajar merekah, atau kapan pun. Ia melangkah lagi, melirik ke belakang, dan melihat setelan jas itu tidak mengikutinya. Pria kulit putih, tiga puluh tahun, badan kekar, atletis, pemenang lomba lari atau pertandingan tinju. Jadi Marco menerapkan strategi lain. Tiba-tiba ia berhenti, berbalik, dan bertanya, “Kau butuh sesuatu?”

Orang lain menjawab pertanyaan itu, “Kemari Backman.”

Mendengar nama itu, ia seketika bergeming. Sesaat lututnya tetasa seperti karet, bahunya melorot, dan ia meyakinkan diri sendiri bahwa ia tidak bermimpi. Sekejap ia memikirkan segala kengerian yang menyertai kata “Backman”. Betapa menyedihkan merasa takut mendengar nama sendiri.

Ada dua orang. Yang menjawab tadi masuk ke adegan dari seberang Via Fondazza. Setelan jasnya kurang-lebih serupa, tapi ia mengenakan kemeja putih tanpa kancing di ketannya. Ia lebih tua, lebih pendek, dan jauh lebih kurus. Mutt and Jeff. Thick ‘n’ Thin.

HOME
HomeDaftar NovelBaca NovelBaca Novel Silat Thursday, September 8, 2011THE BROKER 3
“Kau mau apa?” tanya Matco. Perlahan-lahan tangan meteka menjangkau saku. “Kami dari FBI,” kata si kekai. Inggris Amerika, mungkin Midwest. “Tentu saja,” tukas Marco. Mereka melakukan ritual mengibaskan tanda i pengenal, namun di bawah kegelapan atap trotoar, [ Marco tidak bisa membaca apa pun. Penerangan redup di atas pintu sebuah apattemen tidak banyak membantu. “Aku tidak bisa melihatnya,” ujarnya. “Mari kita jalan-jalan,” kata si kurus. Boston, I Irlandia.

“Kalian tersesat?” kata Matco, tetap bergerningr Ia tidak ingin bergerak, lagi pula kakinya sangat

berat.

“Kami tahu benat di mana kami B^^m

“Aku tidak yakin. Kalian punya surat perin-tahi”

“Tidak perlu.”

Si kekar melakukan kesalahan dengan menyentuh siku kiri Marco, seolah hendak membantunya berjalan ke mana pun mereka mau. Marco menyentakkan lengannya. “Jangan sentuh aku! Kalian tersesat. Kalian tidak bisa melakukan penangkapan di sini. Yang bisa kalian lakukan cuma bicara.”

“Baiklah, mari kita mengobrol,” kata si kurus.

“Aku tidak perlu bicara.”

“Ada warung kopi beberapa blok dari sini,” kata si kekar.

“Bagus, silakan minum kopi. Dan makan pastri. Tapi tinggalkan aku.”

Thick ‘n Thin bertukar pandang, lalu melirik ke sekeliling, tidak yakin harus berbuat apa, tidak tahu apakah Rencana B diperlukan.

Marco tidak bergerak; bukan berarti ia merasa lebih aman di tempatnya, tapi ia hampir bisa melihat mobil gelap menunggu di tikungan.

Di mana Luigi sekarang? ia bertanya pada diri sendiri. Apakah ini bagian dari persekongkolannya?

la ketahuan, ditemukan, dibuka topengnya, dipanggil dengan nama aslinya di Via Fondazza. Ini jelas membutuhkan strategi baru, rumah persembunyian baru.

Si kurus memutuskan untuk mengambil alih kendali pertemuan ini. “Tentu, kita bisa bicata di sini. Ada banyak orang di rumah yang ingin bicara

denganmu.”

“Barangkali itu sebabnya aku ada di sini.” “Kami sedang menyelidiki pengampunan hukuman yang kaubeli.”

“Kalau begitu kalian sedang menghabiskan banyak waktu dan uang, yang memang tidak mengherankan semua orang.”

“Kami punya beberapa pertanyaan mengenai transaksi tersebut.”

“Penyelidikan tolol,” kata Marco, menyemburkan umpatan itu pada si kurus. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia metasa seperti sang broker lagi, menghina birokrat sombong atau anggota Kongres yang bodoh. “FBI menghabiskan banyak uang mengirim dua badut seperti kalian jauh-jauh ke Bologna, Italia, untuk mencegatku di jalan supaya kalian bisa mengajukan pertanyaan yang tidak akan dijawab orang bodoh mana pun yang otaknya waras. Kalian ini sepasang idiot, tahu? Pulang sajalah dan katakan pada bosmu bahwa ia juga idiot. Dan sementara kalian mengobrol dengannya, katakan padanya bahwa ia menghambur-hamburkan banyak uang dan waktu kalau ia mengira aku membeli pengampunan hukuman itu.” “Jadi kau menyangkal—”

“Aku tidak menyangkal apa pun. Aku tidak mengakui apa pun. Aku tidak mengatakan apa pun, kecuali bahwa kali ini FBI benar-benar parah. Kalian berdua berada di air yang dalam padahal kalian tidak bisa berenang.”

Di tanah air, mereka pasti akan bermain-main dengannya, mendesaknya, mencaci-makinya, menghinanya. Namun di tanah asing, mereka tidak tahu harus bertindak apa. Perintah mereka adalah menemukan Backman, melihat apakah ia memang berada di tempat yang diberitahukan CIA kepada mereka. Dan kalau ia ditemukan, mereka harus membuatnya terkejut, membuatnya ketakutan, menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang transfer kawat dan rekening-rekening luar negeri.

Mereka sudah merencanakan semuanya dan sudah mektihnya beberapa kali. Namun di bawah portico di Via Fondazza, Mr. Lazzeri menumpas habis rencana mereka.

“Kami tidak akan meninggalkan Bologna sampai kita bicara,” kata si kekar.

“Selamat, kalian akan melewatkan liburan yang panjang.”

“Kami mendapat perintah, Mr. Backman.” “Aku juga.”

“Hanya beberapa pertanyaan,” kata si kurus. “Temui saja pengacaraku,” ujar Marco sambil berjalan pergi, ke arah apartemennya.

“Siapa pengacaramu?” “Cari Prau.”

pereka tidak betgerak, tidak mengikutinya, dan j^arco mempercepat langkah. Ia menyeberang jalan, melirik cepat ke arah rumah persembunyian, tapi tidak melambat. Kalau mereka ingin mengikutinya, mereka menunggu terlalu lama. Sewaktu melesat ke Via del Piombo, ia tahu meteka tidak akan pet-nah menemukannya. Jalanan ini miliknya sekarang, .gang-gangnya, pintu-pintunya menuju toko-toko

yang tidak akan buka sampai tiga jam lagi. Mereka menemukannya di Via Fondazza hanya

karena mereka mengetahui alamatnya.

Di tepi tenggara kota lama Bologna, di dekat Porta San Stefano, ia naik bus kota selama setengah jam, sampai ia turun di dekat stasiun kereta di lingkar luar utara. Di sana ia naik bus lain dan menuju pusat kota. Bus-bus mulai penuh; orang-orang yang berangkat kerja pagi-pagi. Bus ketiga membawanya menyeberangi kota lagi menuju Porta Saragozza, tempat ia mulai mendaki tanjakan 3,6 kilometet menuju San Luca. Pada lengkung keempat ratus, ia berhenti untuk mengatut napas, dan di antara tiang-tiang ia melihat ke bawah dan menunggu sesemang menyelinap di belakangnya. Tidak ada, seperti yang ia harapkan.

Ia memperlambat langkah dan menyelesaikan pendakian itu dalam 55 menit. Di belakang Santuario di San Luca, ia mengikuti jalur sempit tempat Francesca jatuh, dan akhirnya menempatkan diri di bangku tempat Francesca dulu menunggu. Dari sana, pemandangan Bologna di pagi hari tampak mengagumkan. Ia menanggalkan jaket untuk menyejukkan diri. Matahari sudah menanjak, udara ringan dan bersih, dan untuk waktu lama Marco duduk seorang diri dan mengamati kota itu beranjak hidup.

Ia menikmati kesendiriannya, dan rasa aman yang cUtimbulkannya. Mengapa ia tidak bisa mendaki setiap pagi, dan mungkin membaca koran? Barangkali menelepon teman dan bergosip?

Sebelum itu, ia harus mencari teman dulu.

Mimpi yang tidak akan pernah terwujud.

Dengan ponsel Luigi yang amat terbatas, ia menelepon Ermanno dan membatalkan sesi pelajaran pagi. Kemudian ia menelepon Luigi dan menjelaskan ia sedang tidak ingin belajar.

“Ada sesuatu?”

“Tidak. Aku hanya ingin istirahat.”

“Baik, Marco, tapi kami membayar Ermanno untuk mengajarmu, oke? Kau harus belajar setiap hari.”

“Sudahlah, Luigi. Aku tidak mau belajar hari ku.”

“Aku tidak menyukainya.”

“Dan aku tidak peduli. Skots saja aku. Keluarkan

dari sekolah.”

“Ada yang mengganggumu?”

“Tidak, Luigi, aku baik-baik saja. Ini hari yang indah, musim semi di Bologna, dan aku sedang

jalan-jalan jauh.” “Ke mana?”

“Tidak usah, Luigi. Aku tidak ingin ditemani.”

“Bagaimana dengan makan siang?”

Perut Marco perih karena lapar. Makan siang dengan Luigi selalu nikmat dan ia selalu membayar tagihannya. “Baik.”

“Beri aku waktu untuk beipikir. Aku akan meneleponmu.” “Tentu, Luigi. Ciao”

Mereka bertemu pukul setengah satu siang di Caffe Atene, gua kecil di gang sempit, beberapa undakan turun dari jalan utama. Tempat itu kecil, dengan meja-meja persegi mungil yang nyaris berdempetan. Para pelayan meliuk-liuk mencari jalan sambil membawa nampan makanan yang diangkat tinggi-tinggi. Pata koki berteriak dari dapur. Ruang makan yang sempit itu penuh asap, riuh rendah, dan penuh dengan orang-orang lapar yang senang bicara sekeras-kerasnya sambil makan. Luigi menjelaskan bahwa restoran ini sudah ada sejak beberapa abad yang lalu, mustahU mendapat

meja, dan makanannya, tentu saja, luar biasa. U mengusulkan mereka berbagi sepiring caLtmari untuk membuka acara makan.

Setelah sepagian berdebat dengan diri sendiri di San Luca. Marco memutuskan untuk tidak memberitahu Luigi tentang pertemuannya dengan FBI. Setidaknya untuk saat ini, siang ini. Bisa saja ia akan melakukannya besok, atau lusa, tapi sementara ini ia masih menimbang-nimbang. Alasan utamanya tidak buka mulut adalah ia tidak ingin berkemas-kemas dan kabur lagi. mengikuti kemauan Luigi. Kalau mau kabur, ia akan kabur sendiri. Ia tidak bisa menemukan alasan mengapa FBI ada di Bologna, jelas tanpa sepengetahuan Luigi atau siapa pun atasannya. Ia berasumsi Luigi tidak mengetahui keberadaan mereka di sini. Ia tampak lebih peduli pada menu dan daftar anggur. Hidup menyenangkan. Semuanya normal.

Lampu-lampu mari. Mendadak, Cafft Atcne gelap total, dan sekejap kemudian, pelayan yang sedang membawa nampan berisi makan siang orang lain menabrak meja mereka, berteriak, mengumpat, jatuh – ke atas Luigi dan Marco. Kaki meja tua itu goyah dan pinggirnya patah di atas pangkuan Marco. Pada saat yang sama ada kaki atau sesuatu yang memukul bahu kirinya dengan keras. Semua orang berteriak Gelas-gelas pecah. Tubuh didorong ke sana kemari,

lalu riari danur wnniw U——• »v i i i»

Seniua berhamburan ke luar dan ke jalan» dan udak ada yang tcrluka serius. Orang yang terakhir fcluar adalah Marco, yang menunduk rendah untuk menghindari diinjak-injak orang sambil mencari-cari tas Silvio biru tuanya. Seperti biasa, ia menggantungkan talinya di belakang kursi, tasnya terletak tak jauh dari tubuhnya sehingga ia bisa merasakannya. Tas itu hilang dalam kehebohan.

Orang-orang Italia itu berdiri di jalan dan memandang kafe dengan tak percaya. Makan siang mereka ada di dalam sana, belum habis dan sekarang sudah kacau. Akhirnya asap tipis muncul dan keluar dari pintu. Seorang pelayan berlari di dekat meja-meja depan sambil membawa tabung pemadam api. Lalu ada asap lagi, tapi tidak tebal.

Tasku hilang,” Marco memberitahu Luigi ketib mereka menonton dan menunggu. “Yang biru?”

Berapa banyak tas yang kubawa ke mana-mana, Luigi? “Ya, yang biru.” Ia sudah curiga ras itu dicuri.

Truk pemadam kebakaran kecil dengan sirene besar muncul, berhenti, dan tetap meraung-raung

sementara para petugas berlari masuk. Menit-menit berlalu, dan orang-orang Itu mulai pergi. Yang lebih tegas memutuskan untuk mencari makan siang di tempat lain sementara masih ada waktu. Yang lain .„.„n melon» meHhaj ketidakadilan ini.

Sirene akhirnya dimatikan. Begitu juga kebakaran-nya, dan tanpa perlu air disemprotkan ke seluruh restoran. Setelah saru jam berdiskusi, berdebat, dan sedikit memadamkan api, situasi kembali terkendali. “Sesuatu di kamar mandi,” teriak seorang pelayan pada temannya, salah saru pengunjung yang masih belum beranjak dan belum diberi makan. Lampu-lampu kembali menyala.

Mereka diizinkan masuk untuk mengambil mantel. Beberapa yang tadinya pergi mencari makan di tempat lain, kembali untuk mengambil barang-barang mereka. Luigi sangat bersusah payah membantu mencari ras Marco. Ia membicarakan situasi tersebut pada kepala pelayan, dan rak lama kemudian setengah stafnya mencari-cari di seluruh penjuru restoran. Di antara celotehan ramai, Marco mendengar seorang pelayan mengatakan sesuatu rentang “bom asap”. Tas itu lenyap, dan Marco sudah menduganya. Mereka makan panino dan minum bir di kafe tepi jalan, di bawah sinar matahari tempat mereka bisa memandangi gadis-gadis cantik Jewat. Marco sibuk memikirkan pencurian itu, tapi berusaha keras agar tidak tampak peduli. ‘Maaf tasmu hilang,” kata Luigi, . “Tidak apa-apa.

“Aku akan memberimu ponsel lain.”

“Trims”

[“Apa lagi yang hilang?” Tidak ada. Hanya peta kota, aspirin, dan be-P berapa euro.”

Di sebuah kamar hotel beberapa blok jauhnya, Zellman dan Krater meletakkan tas i tu di ranjang, ! isinya diatur dengan rapi. Selain smartphone Ankyo itu, ada dua peta Bologna, keduanya ditandai dan tampak sering dipakai tapi tidak menyatakan apa-apa, empat lembar seratus dolar, ponsel pinjaman dari Luigi, sebotol aspirin, dan buku manual Ankyo. i^m

Zellman, yang lebih mengerti komputer di antara keduanya, menghubungkan smartphone itu ke colokan akses Internet dan langsung bermain-main dengan menu. “Ini barang bagus,” komentarnya, cukup terkesan dengan alat tersebut. “Mainan terbaru di pasaran.”

Tak mengherankan, langkahnya terhambat password. Meteka harus membedah alat itu di Langley. Dengan laptop-nya, ia mengirim e-mail ke Julia Javier, menyertakan nomor seri dan informasi

lain.

Dalam waktu dua jam setelah pencurian itu, seorang agen CIA sudah duduk di tempat parkir di luar Chatter, tepi kota Alexandria, menunggu

toko buka, I

26

Dari kejauhan, ia mengawasi wanita itu terseok-seok dengan berani* dibantu tongkat, sepanjang trotoar Via Minzoni. Ia mengikutinya dan segera berhasil menyusul tak sampai lima belas meter jauhnya. Hari ini Francesca mengenakan bot suede cokelat, pasti untuk mendukung kakinya. Sepatu itu berhak rendah. Sepatu datar jelas lebih nyaman, tapi toh ia orang Italia dan faktor gaya selalu mendapat prioritas lebih tinggi. Rok cokelat yang melambai itu berhenti di lututnya. Ia mengenakan sweter wol tipis, warnanya merah manyala, dan baru kali ini Marco melihatnya tanpa pakaian berlapis-lapis tebal untuk cuaca dingin. Tanpa mantel luar yang menyembunyikan bentuk tubuhnya yang benar-benar indah. Francesca berjalan hati-hati dan agak pincang.

tapi dengan tekad yang menyentuh hatinya, mi cuma acara minum kopi di Nino’s, satu-dua jam berbahasa Italia. Dan semua itu dilakukan untuk-

! nya!.

Dan untuk uang juga.

Sesaat Marco berpikir tentang keuangan Francesca. Bagaimanapun sulitnya situasi dengan suaminya yang miskin dan pekerjaan serabutan sebagai pemandu wisata, Francesca bisa berpakaian dengan gaya dan hidup dalam apartemen yang didekorasi bagus. Giovanni dulunya bekerja sebagai dosen. Mungkin ia menabung dengan hati-hati selama bertahun-tahun, dan sekarang penyakitnya menyita banyak anggaran mereka.

Terserah. Marco punya masalah sendiri. Ia baru saja kehilangan uang tunai empat *m *k™ satu-satunya tali penghubung dengan f* ” Orang-orang yang seharusnyaM ^ keberadaannya, sekarang tahu |||||| | men. ^mpat tinggalnya. Sembilan if^^d^ dengar nama aslinya disebut di ^biarkan Ia memperla mbat ^ i Ugj Francesca masuk ke «g g| p””*^

disambut bak IMI M B

M mereka kesemPa«* j||j|g m

mengurus keperluan mengobrol sedikit

reka. Sepuluh menit setelah Francesca tiba di sana, Marco masuk melalui pintu dan mendapat pelukan j hangat dari putra bungsu Nino. Teman Francesca ] adalah teman selamanya.

Suasana hati Francesca berubah begitu drastis sehingga Marco tidak tahu apa yang diharapkannya, j Ia masih tersentuh kehangatannya kemarin, tapi ia tahu sikap dingin itu bisa kembali hari ini. Ketika | Francesca tersenyum, menyambut tangannya, dan mulai saling mengecup pipi, Marco tahu sesi pelajaran ini akan menjadi pelipur lara suatu hari yang menyebalkan.

Sewaktu mereka akhirnya ditinggal berdua, Marco bertanya tentang suami Francesca. Belum berubah. “Tinggal hitungan hari,” jawab Francesca dengan bibir kaku, seolah ia sudah menerima ke-matian dan siap berkabung.

Marco bertanya tentang ibunya, Signora Altonelli, dan mendapat laporan lengkap. Ia membuat tom buah pir, salah satu kesukaan Giovanni, kalau-kalau Giovanni bisa mencium aromanya dari dapur. “Dan bagaimana harimu?” tanya Francesca. Mustahil mengarang serangkaian kejadian yang lebih buruk daripada yang telah terjadi. Dari keterkejutan mendengar namanya disebut di dalam kegelapan, hingga menjadi korban pencurian yanf direncanakan dengan saksama, ia tidak bisa tam bayangkan hari yang lebih menarikan

“Ada kejadian seru waktu makan siang,” ujarnya.

“Ceritakanlah.”

Marco menjelaskan pendakiannya ke San Luca, ke tempat Francesca jatuh, bangkunya, pemandangan, sesi dengan Ermanno yang dibatalkan, makan siang dengan Luigi, kebakaran, tapi bukan hilangnya tasnya. Francesca tidak menyadari hal itu hingga Marco menceritakan kisahnya.

“Tidak banyak kriminalitas di Bologna,” ujat Francesca, setengah meminta maaf. “Aku tahu Cafre Atene. Itu bukan tempat yang banyak copetnya.”

Barangkali bukan orang Italia, Marco ingin menimpali, tapi ia hanya mengangguk muram, seolah berkata: Ya, ya, apa jadinya dunia ini?

Ketika basa-basi selesai, Francesca mengubah peisneling sepetti guru yang tegas dan berkata ia sedang ingin menguasai beberapa kata kerja. Marco bilang, ia tidak merasa dernikian, tapi suasana hatinya tidak penting. Ftancesca memberondongnya dengan bentuk masa depan abitare (hidup, tinggal) dan vedere (melihat). Lalu ia menyuruhnya menggabungkan kedua kata itu dalam segala bentuk dalam setatus kalimat acak. Bukannya tidak berkonsentrasi, Francesca menyerbu setiap pengucapan yang tidak benar. Kesalahan tata bahasa langsung mendapat teguran, seolah Marco baru saja mpnerhina seluruh ba

Franceses melewatkan harinya terkurung
Marco menyerah setelah dua jam, terkuras dan buruh jalan-jalan. Butuh waktu lima belas menit untuk berpamitan dengan Nino bersaudara. Dengan gembira, ia mengantar Francesca pulang ke apartemennya. Mereka berpelukan sebentar dan saling mencium pipi, berjanji untuk bertemu lagi besok.

Kalau Marco langsung pulang, apartemennya ha-nya sejauh 25 menit berjalan kaki. Namun sudah fcb* dari sebulan ini ia tidak berjalan langsung k* i tujuan mana pun,

Marco mulai bertanya-tanya.

Pada pukul empat sore, delapan orang anggota Iddon sudah ada di Via Fondazza, di berbagai ¦posisi—satu sedang minum kopi di kafe tepi jalan, satu sedang berjalan tak tentu arah satu blok jauhnya, satu mondar-mandir di atas skuter, dan satu lagi melihat ke luar jendela dari lantai tiga.

Setengah mil jauhnya, di luar pusat kota, di lantai dua toko bunga yang dimiliki seorang Yahudi tua, empat anggota kidon yang lain sedang bermain kartu dan menunggu dengan gelisah. Seorang di antaranya, Ari, adalah salah satu interogator berbahasa Inggris paling piawai di Mossad.

Mereka bermain tanpa banyak bercakap-cakap. Malam nanti akan panjang dan tidak menyenangkan.

Sepanjang hari, Marco bergumul dengan pertanyaan apakah ia akan kembali ke Via Fondazza. Orang-orang FBI tadi pasti masih ada di sana, siap dengan konfrontasi keras. Ia yakin mereka tidak akan semudah itu dipatahkan. Mereka tidak akan naik pesawat dan pergi begitu saja. Mereka punya atasan yang menuntut hasil.

Walau jauh dari yakin, ia punya firasat Luigi-lah dalang di balik pencurian tas Stfvio-nya. Kebakaranitu bukan kebakaran sungguh an; hanya pengalih perhatian, alasan untuk mematikan listrik dan memberi kesempatan seseorang menyambar ras itu.

Ia tidak memercayai Luigi, karena ia tidak memercayai seorang pun.

Mereka mendapatkan smartphone-nya. yang kecil itu. Password-password Neal ada di sana. Bisakah mereka membongkarnya? Bisakah jejak itu mengarah pada anaknya? Marco sama sekali tidak tahu cara kerja alat tersebut, apa yang mungkin dilakukan, apa yang tidak bisa.

Dorongan untuk pergi dari Bologna sangat mendesak Ke mana dan bagaimana adalah pertanyaan-pertanyaan yang belum dipecahkannya. Ia mulai meracau sekarang, dan merasa rentan, hampir tak berdaya. Setiap wajah yang meliriknya seperti orang yang mengetahui nama aslinya. Di halte bus yang padat, ia memutuskan untuk naik, tidak tahu ke mana akan pergi. Bus itu penuh pelaju yang kelelahan, bahu menempel dengan bahu sementara mereka terguncang-guncang bersama. Lewat jendela ia mengamati lalu lintas pejalan kaki di bawah atap trotoar yang menakjubkan di pusat kota.

Pada detik terakhir ia melompat turun, lalu berjalan tiga blok sepanjang Via San Vitale hingga ia melihat bus lain. Ia berputar-putar selama hampir satu jam, lalu akhirnya berhenti di dekat stasiun kereta. Ia bergabung dengan gelombang

penumpang lain, lalu melesat menyeberangi Via deh” Indipendenza menuju terminal bus. Di sana ia menemukan area keberangkatan, melihat bus yang akan berangkat sepuluh menit lagi menuju Piacenza, satu setengah jam jauhnya dengan lima perhentian. Ia membeli tiket seharga tiga puluh euro dan bersembunyi di kamar kecil hingga saatnya berangkat. Bus itu hampir penuh. Kursi-kursinya lebar dengan sandaran kepala, dan ketika bus bergerak perlahan dalam lalu lintas yang padat, Marco hampir terangguk-angguk tertidur. Lalu ia menyiagakan diri. Tidur tidak masuk hitungan.

Ini dia—pelarian yang sudah cbpertimbangkannya sejak hari pertama di Bologna. Ia semakin yakin bahwa untuk bertahan hidup ia harus menghilang meninggalkan Luigi dan hidup mandiri. Sering kali ia bertanya-tanya bagaimana dan kapan pelarian itu akan dimulai. Apa yang akan memicunya? Seraut wajah? Ancaman? Ia akan naik bus atau kereta, taksi atau pesawat? Ke mana ia akan pergi? Di mana ia akan bersembunyi? Apakah bahasa Italianya yang seadanya ini memadai? Berapa banyak uang yang akan dimilikinya saat itu?

Inilah saatnya. Ini sudah terjadi. Tidak ada jalan kembali lagi sekarang.

Perhentian pertama adalah desa kedi Bazzano, lima belas kilometer sebeJah barat Bologna. Marco turun dari bus dan tidak naik kembali. Sekali lagi,

ia bersembunyi di kamar kecil terminal sampai busnya pergi, lalu menyeberangi bar tempat ja memesan bir dan menanyakan hotel terdekat pada

bartender.

Sambi) menikmati bir kedua, ia menanyakan letak stasiun kereta, dan mendapat jawaban bahwa Bazzano tidak memiliki stasiun kereta. Hanya bus, kata si bartender.

Albergo Cantino letaknya dekat pusat desa, lima atau enam blok jauhnya. Hari sudah gelap ketib ia mendatangi meja depan, tanpa membawa tas, sesuatu yang tak lepas dari perhatian signora yang mengurusi segala sesuatu.

“Ada kamar?” tanya Marco dalam bahasa Italia.

“Berapa malam?”

“Satu malam saja.”

“Sewanya lima puluh lima euro.”

“Baik.”

“Paspor Anda?”

“Maaf, paspor saya hilang.”

Alisnya yang dicabut dan diwarnai langsung melengkung tinggi penuh kecurigaan, dan ia mulai menggeleng “Maaf.”

Marco meletakkan dua lembar seratus euro di meja di depannya Ini jelas-jelas penyuapan—ambil saja uangnya, tanpa dokumen macam-macam, dan berikan kuncinya padaku.

Gelengan kepala, kerutan dahi.

“Anda harus punya paspor,” tegasnya. Lalu wa-‘ nita itu bersedekap, menaikkan dagunya, bersiap membalas serangan berikut Tidak mungkin ia akan

menyerah.

Di luar, Marco menyusuri jalanan kota yang tak dikenalnya. Ia menemukan bar dan memesan kopi—tidak boleh ada alkohol lagi, ia perlu menjaga pikirannya jernih.

“Di mana aku bisa mendapat taksi?” ia bertanya pada bartender.

“Di terminal bus.”

Pada pukul sembilan malam, Luigi mondar-mandir di apartemennya, menunggu Marco pulang ke apartemen sebelah. Ia menelepon Francesca dan wanita itu melaporkan mereka belajar tadi siang; bahkan pelajaran mereka menyenangkan. Bagus, pikirnya.

Pelarian itu merupakan bagian dari rencana, tapi Whitaker dan Langley mengira ia akan melakukannya beberapa hari lagi. Apakah mereka sudah kehilangan dia? Secepat itu? Ada lima agen yang berada di sini sekarang—Luigi, Zeliman, Krarer, dan dua lagi dikirim dari Milano.

Luigi selalu mempertanyakan rencana itu. Di kota sebesar Bologna, mustahil melakukan penguntitan fisik selama 24 jam sehari. Luigi membantah keras bahwa Sfttu-satunya cara agar rencana itu

berhasil adalah menyembunyikan Backman di a kecil tempat gerakannya terbatas, pilihannya sedi^ dan tamu-tamunya lebih bisa dikenali. Begitulah

rencana awalnya, tapi rincian-rinciannya mendadak diubah di Washington.

Pada pukul 21.12, ada bunyi berdengung di dapur. Luigi bergegas menghampiri monitor di dapur. Marco pulang. Pintu depannya terbuka. Luigi memandangi gambar digital dari kamera tersembunyi di langit-langit ruang duduk apartemen sebelah.

Dua orang tak dikenal—bukan Marco. Dua pria berusia tiga puluhan, berpakaian seperti orang biasa. Mereka menutup pintu dengan cepat, pelan, profesional, lalu mulai melihat berkeliling. Salah satunya membawa tas kecil hitam.

Hebat juga mereka, sangat hebat. Bisa membobol kunci rumah persembunyian, berarti mereka sangat bagus.

Luigi tersenyum penuh semangat. Dengan sedikit keberuntungan, kamera-kameranya akan segera merekam Marco diringkus. Mungkin mereka akan membunuhnya di ruang duduk itu juga, terekam ^ Sim. Barangkali rencana ini bisa berhasil akhirnya.

voW^r^ t0mbo1 audio dan mengerasi digun^anaT-PCntin8 menS^ui bahasa |g ^Unakan- Dari mana mereka berasal? Apa bahasa

u , Namun ternyata tidak terdengar suara

asli mereka- i dakm diam. Mereka sa-

sernent^ ^ dua kaUj tapi Luigi nyaris tak

S mendengarnya.

27

Taksi itu berhenti mendadak di Via Gramsri, di dekat stasiun kereta dan terminal bus. Dari bangku belakang, Marco memberikan uang yang cukup, lalu merunduk di antara dua mobil yang diparkir dan segera lenyap dalam kegelapan. Pelariannya dari Bologna singkat saja, tapi belum sepenuhnya selesai. Ia berzig-zag karena begitulah kebiasaannya, memutar balik, mengawasi jejaknya sendiri.

Di Via Minzoni, ia berjalan cepat di baw naungan dan berhenti di depan gedung aParteI^ Francesca. Ia tidak punya kemewahan waktu uj^ berpikir ulang, atau ragu-ragu, atau men* nebak. Ia memencet bel dua kali, berharap^ sepenuh hati Francesca-lah yang akan meAl bukan Signora Aitoncili.

“Siana>” ____«M wr,cr mCrdu ft”*

“Francesca, ini Marco. Aku perlu bantuan. Sunyi yang benar-benar sejenak, lalu, “Ya, tentu

jaja.”

Francesca menyambutnya di pintu apartemennya di lantai dua dan mengundangnya masuk Dengan kecewa, Marco melihat Signora Akonelli masih ada di sana, berdiri di pintu dapur dengan serbet di tangan, mengawasi kedatangannya dengan penuh perhatian.

“Kau baik-baik saja?” tanya Francesca dalam bahasa Italia.

“Bahasa Inggris saja,” kata Marco, menoleh dan

tersenyum pada ibu Francesca. “Ya, tentu saja.”

“Aku perlu tempat menginap malam ini. Aku tidak bisa mendapat kamar karena tidak punya paspor. Aku bahkan tidak bisa menyuap penjaga penginapan kecil.” “Memang begitulah hukum di Eropa.” “Ya, sekarang aku sudah tahu.” Francesca memberi isyarat ke arah sofa, lalu berpaling pada ibunya- dan memintanya membuat kopi. Mereka duduk. Marco memerhatikan Francesca bertelanjang kaki dan berjalan ke sana kemari tanpa tongkat, meskipun jelas ia masih membutuhkannya. Ia mengenakan jins ketar dan sweter longgar dan penampilannya sama menggemaskan seperti mahasiswa.

“Bagaimana kalau kau memberitahuku apa yam, terjadi?” katanya.

“Gentanya rumit dan sebagian besar tidak bisa kuberitahukan padamu. Katakan saja aku tidak merasa aman sekarang, dan aku perlu meninggalkan Bologna, secepat mungkin.” “Kau akan pergi ke mana?” “Aku belum tahu. Ke suatu tempat di luar Italia, di luar Eropa, tempat aku akan bersembunyi lagi.” “Berapa lama kau akan bersembunyi?” “Lama sekali. Aku tidak yakin.” Francesca memandanginya dengan dingin, tanpa mengerjap. Marco balas menatapnya, karena meskipun dingin, mata itu indah sekali. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Francesca.

” Well, yang jelas aku bukan Marco Lazzeri.” “Kau lari dari apa?”

“Masa laluku, yang sekarang sedang memburuku dengan cepat. Aku bukan penjahat, Francesca. Aku dulu pengacara. Aku terlibat kesulitan. Aku sudah dipenjara. Aku sudah mendapat pengampunan penuh. Aku bukan orang jahat*”

“Mengapa ada orang yang mengejarmu?” “Ini menyangkut bisnis enam tahun yang lalu. Ada orang-orang kejam yang tidak senang dengan kesepakatan itu. Mereka menyalahkan aku. Mereka ingin menemukanku.” “Untuk dibunuh?”

“Ya. Itulah yang ingin mereka lakukan.”

“Benar-benar membingungkan. Mengapa kau kemari? Mengapa Luigi membantumu? Mengapa mereka mempekerjakanku dan Ermanno? Aku tidak

mengerti.”

“Dan aku tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Dua bulan lalu aku ada di dalam penjara, dan kukira aku akan tetap di sana selama empat belas tahun lagi. Tiba-tiba, aku bebas. Aku diberi identitas baru, dibawa ke sini, pertama disembunyikan di Treviso, lalu Bologna Kurasa mereka ingin membunuhku di sini.” “Di sini! Di Bologna!”

Marco mengangguk dan berpaling ke dapur ketika Signora Altonelli muncul dengan nampan berisi kopi, juga torta pir yang belum diiris. Ketika wanita tua itu meletakkannya dengan hati-hati di piring kecil untuk Marco, Marco baru menyadari ia belum makan sejak siang.

Makan siang dengan Luigi. Makan siang dengan sandiwara kebakaran dan pencurian smartphone itu. la teringat Neal lagi dan mengkhawatirkan keselamatannya.

“Enak sekali” katanya pada ibu Francesca dalam bahasa Italia. Francesca tidak makan. Ia mengamati setiap gerakan Marco, setiap suapan, setiap sesapan kopi. Ketika ibunya sudah kembali ke dapur, ia berkata, “Luigi bekerja untuk siapa?”

“Aku tidak yakin. Mungkin CIA. Kau tahu GIA?”

ia. Aku membaca novel spionase. CIA yang menempatkanmu di sini?”

“Menurutku, CIA mengeluarkanku dari penjara, ke luar negeri, dan ke Bologna, tempat mereka menyembuayikanku di rumah persembunyian sementara mereka berunding apa yang akan mereka perbuat terhadap diriku.”

“Apakah mereka akan membunuhmu?”

“Mungkin.”

“Luigi?”

“Bisa jadi.”

Francesca meletakkan cangkirnya di meja dan memainkan rambutnya sebentar. “Kau mau minum ak?” ia bertanya sambil beranjak.

Tidak, terima kasih.”

“Aku perlu bergerak sedikit,” katanya sambil menapakkan kaki kiri dengan hati-hati. Ia berjalan lambat-lambat ke arah dapur, tempat keadaan tenang sejenak sebelum perdebatan mulai timbul.

Ia dan ibunya bertengkar agak seru, tapi mereka

terpaksa melakukannya dalam bisikan-bisikan tajam

dan tegang.

Hal itu berlangsung selama beberapa menit, mereda, lalu membara lagi ketika kedua belah pihak sepertinya tidak mau menyerah. Akhirnya francesca terpincang-pincang kembali sambil mem

bawa sebotol San Pcttegrino dan duduk lagi di

sofa.

“Ada apa tadi?” tanya Marco.

“Aku memberitahunya bahwa kau ingin tidur di

sini malam ini. Ia salah paham.” “Ayolah. Aku mau saja tidur di dalam lemari.

Aku tidak peduli.” “Ia sangat kolot.”

“la akan menginap di sini malam ini?”

“Sekarang ya.”

“Beri saja aku bantal. Aku akan tidur di meja

dapur.”

Signora Altonelli berubah perangai ketika kembali untuk mengambil nampan. Ia melotot pada Marco seolah ia sudah mencelakai putrinya. Ia melotot pada Francesca seolah ingin menamparnya.

Ia kembali ke dapur selama beberapa menit, lalu

masuk ke suatu tempat di apartemen. “Kau mengantuk?” tanya Francesca.

“Tidak. Kau?”

“Tidak. Mari kita bicara saja.”

“Oke.”

“Ceritakan semuanya padaku.”

Marco tidur selama beberapa jam di sofa, dan terbangun ketika Francesca menepuk bahunya. “Aku punya ide” katanya. “Ayo ikut aku.”

Marco mengikutinya ke dapur, di sana jam dinding menunjukkan pukul 04.15. Di dekat bak cud terdapat pisau cukur sekali pakai, sekaleng krim cukur, kacamata, dan sebotol produk untuk rambut—ia tidak bisa menerjemahkannya. Francesca memberinya semacam dompet kulit warna merah tua dan berkata, “Ini paspor. Milik Giovanni.”

Marco nyaris menjatuhkannya. ‘Tidak, aku tidak bisa—”

“Bisa. Ia tidak akan membutuhkannya. Ayolah.”

Marco membuka paspor itu lambat-lambat dan melihat wajah seorang pria yang tak pernah ditemuinya. Tanggal berlakunya tinggal tujuh bulan, jadi foto itu sudah hampir lima tahun usianya. Ia membaca tanggal lahirnya—Giovanni sekarang berumur 68 tahun, dua puluh tahun lebih tua daripada istrinya.

Dalam perjalanan kembali dari Bazzano tadi, hanya paspor yang memenuhi pikirannya. Ia berpikir untuk mencuri dari turis yang tidak curiga. Ia berpikir untuk membeli di pasar gelap, tapi tidak tahu ke mana harus mencari. Dan ia

sempat memikirkan paspor Giovanni, paspor yang,

sayangnya, sebentar lagi tak akan berguna. Kosong

dan hampa.

Namun ia menyingkirkan gagasan itu karena takut menempatkan Francesca dalam bahaya. Bagaimana kalau ia terungkap? Bagaimana kalau petugas

imigrasi di bandara mencurigainya dan memanggil atasannya? Namun ketakutannya yang terbesar adalah tertangkap oleh orang-orang yang sedang memburunya. Paspor itu bisa melibatkan Francesca, dan Marco tidak mau hal itu terjadi pada wanita itu.

“Kau yakin?” tanya Marco. Setelah memegang paspor itu, sekarang ia benar-benar ingin mempertahankannya.

“Ayolah, Marco, aku Ingin membantu. Giovanni

pasti akan mendesakmu juga.”

“Aku tidak tahu harus berkata apa”

Kita punya pekerjaan. Ada bus menuju Parma yang akan berangkat dua jam lagi. Itu cara aman keluar dari kota.”

“Aku ingin pergi ke Milano,” ujar Marco.

“Ide bagus.”

Francesca meraih paspor itu dan membukanya. Mereka mempelajari foto suaminya. • “Mari mulai dengan yang ada di sekitar mulutmu itu,” kata Francesca.

Sepuluh menit kemudian, kumis dan jenggot pendek itu sudah hilang, wajahnya dicukur bersih. Francesca memegangkah cermin di depannya sementara ia mencondongkan tubuh di atas bak cuci. Rambut kelabu Giovanni pada usia 63 tahun lebih sedikit daripada rambut kelabu Marco yang berumur 52 tahun. Tapi kan ia tidak pernah divonis

hukuman penjara federal dan menjalani enam tahun di dalam penjara.

Marco menganggap Francesca menggunakan semacam pewarna rambut, tapi ia tidak bertanya, Hasilnya terlihat satu jam kemudian. Ia duduk di kursi menghadap meja, dengan handuk menyelimuti bahunya, sementara dengan lembut Francesca mengusapkan cairan itu di rambutnya. Tak banyak yang diucapkan. Ibunya masih tidur. Suaminya diam dan tenang dan dalam pengaruh obat-obatan keras.

Beberapa waktu yang lalu, Giovanni sang profesor mengenakan kacamata kulit penyu bundar, cokelat muda, bergaya akademis. Ketika Marco memakainya dan mengamati penampilannya yang baru, ia terkejut melihat perbedaannya. Rambutnya lebih gelap, matanya berubah banyak. Ia nyaris tak mengenali dirinya sendiri.

“Lumayan” adalah penilaian Francesca aras hasil kerjanya, “Cukuplah untuk sementara ini.”

Ia membawa masuk jaket sport korduroi biru tua, dengan tambalan kulit yang sudah kusam di sikunya. “Ia lebih pendek sekitar lima sentimeter daripada dirimu,” Francesca memberi tahu. Lengan jaket itu kurang panjang dua setengah sentimeter dan agak ketat di sekitar dada, tapi Marco sekarang begitu kurus sehingga apa pun yang dikenakannya akan membuatnya tenggelam di dalamnya.

“Siapa nama aslimu?” tanya Francesca sembari

menarik ujung lengan jaket dan membenahi kerahnya. “Joel.”

“Kurasa kau harus bepergian dengan membawa

koper. Supaya kelihatan normal.”

Marco tidak membantah. Kemurahhatian Francesca sungguh luar biasa, dan ia memang membutuhkan setiap detailnya. Francesca keluar, lalu masuk lagi dengan membawa koper tua yang bagus, kulit cokelat muda dengan gesper perak.

“Aku tidak tahu harus berkata apa,” gumam Marco.

“Ini koper favorit Giovanni, hadiah dariku dua

puluh tahun yang lalu. Kulit Italia.”

Tentu saja.”

Kalau kau tertangkap karena paspor itu, apa yang akan kaukatakan?” tanya Francesca.

“Aku mencurinya. Kau guruku. Aku berkunjung ke rumahmu sebagai tamu. Aku berhasil menemukan 1 aci berisi dokumen-dokumen, dan aku mencuri paspor suamimu.”

“Kau pembohong yang hebat.”

“Pada suatu ketika, aku salah satu yang paling terbaik. Kalau aku tertangkap, Francesca, aku akan melindungimu. Janji. Aku akan berbohong untuk membuat semua orang bingung.”

“Kau tidak akan tertangkap. Tapi gunakan paspor itu sesedikit mungkin.”

“Jangan khawatir. Aku akan melenyapkanya secepat aku mampu,

“Kau butuh uang?” Tidak.”

“Sungguh? Aku punya seribu euro.” Tidak, Francesca, terima kasih.” “Lebih baik kau segera berangkat,” Marco mengikutinya ke pintu depan, tempat mereka berdiri dan berpandangan. “Kau sering buka Internet?” tanya Marco. “Beberapa saat setiap hari.” “Cari nama Joel Backman, mulailah dengan The Washington Post. Ada banyak informasi di sana, tapi jangan percaya semua yang kaubaca. Aku bukan monster seperti yang mereka gambarkan. “Kau sama sekali bukan monster, Joel. “Aku tidak tahu bagaimana harus mengucapkan terima kasih.”

Francesca meraih tangannya dan meremasnya e-ngan kedua tangannya sendiri. “Apakah kau akan Pernah kembali ke Bologna?”, ia bertanya. Lebih berupa undangan daripada pertanyaan.

“Aku tak tahu. Aku benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi mungkin saja. Boleh kah aku mengetuk pintumu kalau aku bisa kembali

kemari? tentu saja

Berhati-hatilah di luar sana” ia berdiri di bawah bayang-bayang Via minzoni

Lama beberapa menit, tidak ingin meninggalkan francesca ,tidak siap memulai perjalanan yang pan-

jang

lalu terdengar suara batuk dari bawah naungan di seberang jalan dan Giovanni Ferro pun tabur.

28

Sementara jam-jam berlalu dengan kelambatan yang menyiksa, kekhawatiran Luigi berangsur-angsur berubah menjadi panik. Satu dari dua hal telah terjadi: pembunuhan itu sudah dilakukan, atau Marco menyadari sesuatu dan berusaha melarikan diri. Luigi mencemaskan tas yang dicuri itu. Apakah tindakan mereka terlalu keras? Apakah langkah tersebut membuat Marco begitu ketakutan sehingga ia memutuskan untuk kabur?

Smartphone mahal itu membuat kaget semua oran,orang yang mereka amati ternyata melakukan banyak kegiatan selain belajar bahasa ltalia berjalan-jalan, dan menjajal setiap kafe dan bar dikota ini. ia telah membuat rencana, dan berkomunikai

smartphone itu sekarang ada di laboratorium

bawah tanah Kedutaan Amerika di Milan, dan me-Inorut Whitaker, yang meneleponnya setiap lima I belas menit, para teknisi di sana belum berbasil f.’ memecahkan sandinya.

Beberapa menit selewat tengah malam, dua penyusup di apartemen sebelah akhirnya sudah f jemu menunggu. Ketika sedang keluar, mereka I mengucapkan beberapa kata cukup keras untuk ditangkap alat perekam. Bahasa Inggris dengan sedikit aksen. Luigi langsung menelepon Whitaker dan melaporkan mereka mungkin dari Israel

Luigi benar. Kedua agen tersebut diberi instruksi oleh Efraim untuk meninggalkan apartemen dan mengambil posisi lain.

Ketika mereka pergi, Luigi memutuskan untuk mengirim Krater ke Terminal bus dan Zellman ke stasiun kereta. Tanpa paspor, Marco tidak akan bisa membeli tiket pesawat. Luigi mengambil keputusan untuk tidak mengawasi bandara. Namun, seperti yang dikatakannya pada Whitaker, kalau sasaran mereka entah bagaimana mampu mendapatkan Ponsel/PC canggih yang harganya sekitar seribu dolar, barangkali ia juga bisa mendapatkan paspor pada pukul tiga dini hari whitaker berteriak-teriak di Milano,luigi yg tidak bisa balas berteriak untuk alasan-alasan keamanan hanya bisa menyumpah-nyumpah, yg dilakukanya dalam

bahasa Inggris dan Italia, dan mempertahankan diri

dengan kedua bahasa itu.

“Kau kehilangan dia, sialan.'” umpat Whitaker.

“Belum!”

“Ia sudah mati!”

Luigi menutup teleponnya lagi, untuk ketiga kalinya dini hari itu.

Kidon itu undur diri pada sekitar pukul 03.30. Mereka akan beristirahat selama beberapa jam, lalu membuat rencana untuk keesokan harinya.

Ia duduk di samping gelandangan pemabuk di bangku taman, di Via deh” Indipendenza, tidak jauh dari terminal bus. Gelandangan itu memegangi sebotol cairan merah jambu yang dinikmatinya hampir semalaman, dan setiap lima menit ia berhasil mengangkat kepala dan menggumamkan sesuatu pada Marco yang duduk tak sampai dua meter jaraknya. Marco balas bergumam, dan apa pun yang ia katakan sepertinya membuat si gelandangan senang. Dua rekannya sudah tak sadarkan diri dan meringkuk bersama di dekat mereka, seperti dua mayat serdadu di bawah tenda. Marco tidak merasa terlalu aman bersama mereka, tapi ia punya masalah-masalah lain yang lebih serius.

Beberapa orang mondar-mandir di depan terminal bus. Sekitar pukul setengah enam, aktivitas

meningkat ketika segerombol orang yang tampak seperti kaum Gipsi datang berbondong-bondong, t semua berbicara bersamaan dengan suara keras, tampak gembira bisa turun dari bus setelah perjalanan ¦ panjang dari suatu tempat. Lebih banyak lagi penumpang berdatangan, dan Marco memutuskan sudah saatnya ia meninggalkan si gelandangan pemabuk. Ia masuk ke terminal di belakang sepasang pria dan wanita serta anak mereka, lalu mengikuti mereka menuju loket penjualan tiket, mendengarkan dengan saksama ketika mereka membeli tiket ke Parma. Ia melakukan hal yang sama, lalu cepat-cepat menuju kamar kecil dan sekali lagi bersembunyi di dalam bilik.

Krater duduk di warung yang buka sepanjang malam di dalam stasiun, minum kopi tidak enak sambil mengamati penumpang datang dan pergi dari balik surat kabar. Ia melihat Marco berjalan lewat. Ia memerhatikan tingginya, bentuk tubuhnya, usianya. Gaya berjalan itu tampak familier, walau lebih lambat. Marco Lazzeri yang telah dibayanginya selama beberapa minggu ini bisa berjalan secepat orang berlari kecil. Orang ini jalannya jauh lebih lambat, tapi ia toh memang tak punya tujuan. Untuk apa tergesa-gesa? Di jalanan, Lazzeri selalu berusaha melarikan diri dari kuntitan mereka, dan sering kali ia berhasil.

Namun wajah itu sangar berbeda. Warna ram-

butnya lebih gelap. Topi korduroi cokelat itu sudah hilang, namun itu toh cuma aksesori dan bisa disingkirkan dengan mudah. Kacamata kulit penyu itulah yang menarik perhatian Krater. Bingkai kacamata Armani yang bergaya milik Marco sangat cocok di wajahnya, sedikit mengubah penampilannya tanpa menarik perhatian. Kacamata bundar orang ini justru memanggil minta diperhatikan.

Kumis dan jenggot sudah hilang; pekerjaan gampang, sesuatu yang pasti akan ia lakukan. Kemejanya tidak pernah Krater lihat sebelumnya, padahal ia ada di apartemen Marco bersama Luigi ketika mereka menyapu apartemen dan memerhatikan setiap potong pakaiannya. Jins pudar itu cukup umum, dan Marco pernah membeli jins semacam itu. Namun jaket sport biru tua dengan tambalan kulit di siku yang sudah kusam, serta koper kerja yang sangat bagus buatannya, menahan Krater tetap di tempat duduknya. Jaket itu jelas sudah panjang usianya, dan mustahil Marco bisa mendapatkannya. Lengannya agak kependekan, tapi itu bukan sesuatu yang aneh. Koper itu terbuat dari kulit yang bagus. Marco mungkin bisa mendapatkan uang dan membeli smartphone, tapi untuk apa ia menghambur-hamburkan uang untuk membeli koper mahal? Tasnya yang terakhir, tas Silvio biru tua yang menjadi miliknya sampai sekitar enam belas jam lalu ketika Krater men-

\ jurinya dalam kehebohan di Carre Atene, harganya

t cuma enam puluh euro.9

Krater mengawasinya sampai ia berbelok dan hilang dari pandangan. Bisa jadi—tidak lebih dari sekadar kemungkinan. Ia menghirup kopinya dan selama beberapa menit merenungkan pria yang baru saja dilihatnya.

Marco berdiri di dalam bilik dengan jinsnya teronggok lepas di sekitar pergelangan kaki, merasa amat tolol, tapi samaran yang bagus jauh lebih penting saat ini. Pintu terbuka. Ada empat urinoar pada dinding di sebelah kiri pintu, di seberangnya terdapat enam wastafel, dan di sebelahnya ada empat bilik. Tiga bilik yang lain kosong. Tidak banyak kegiatan pagi itu. Marco memasang relinga tajam-tajam, menunggu suara orang melepas hajat—bunyi ritsleting, denting gesper ikat pinggang desah lega yang biasa dilakukan kaum pria saat kencing, suara gemercik urine.

Tidak ada suara apa pun. Tidak terdengar sesuatu dari wastafel, tidak ada orang yang sedang mencuci tangan. Pintu ketiga bilik di sebelahnya tidak terbuka. Mungkin itu cuma petugas kebersihan yang sedang memeriksa, dan melakukannya tanpa

SU Di depan wastafel, Krater membungkuk serendah mungkin dan melihat jins yang teronggok di pergelangan kaki di dalam bilik paling ujung. Di

sebelah jins itu terdapat koper bagus tadi. Pria itu

sedang melakukan urusannya dan tidak terburu-buru.

Bus berikut berangkat pukul enam menuju Parma, setelah itu ada keberangkatan pukul 06.20 menuju Florence. Krater segera menghampiri loket dan membeli tiket untuk kedua tujuan tersebut. Si petugas memandangnya aneh, tapi Krater tidak ambil pusing. Ia kembali ke kamar kecil. Pria di dalam bilik paling ujung itu masih ada di sana.

Krater keluar dan menelepon Luigi. Ia memberikan deskripsi orang yang bersangkutan, dan menjelaskan sepertinya ia tidak terburu-buru meninggalkan kamar kecil.

Tempat terbaik untuk bersembunyi,” komentar Luigi.

“Aku juga sering melakukannya.” “Menurutmu itu Marco?” “Entahlah. Kalau ya, samarannya sangat bagus.” Luigi yang terkaget-kaget dengan ditemukannya smartphone, uang tunai empat ratus dolar Amerika, dan pelarian Marco, kini tidak mau ambil risiko. “Buntuti dia,” perintahnya.

Pada pukul 05.55, Marco mengenakan jitunya kembali, mengguyur toilet, meraih koper, dan menghampiri bus. Di pelataran, Krater sudah menunggu, dengan tak acuh makan apel dari satu tangan dan memegang koran dengan tangan yang lain. Sewaktu

Marco mendekati bus yang menuju Parma, Krater

pun melakukan hal yang sama.

Sepertiga kursi yang tersedia masih kosong. Marco mengambil kursi di sisi kiri, di bagian [tengah, dekat jendela. Kratet membuang muk! ketib mdewatinya, lalu duduk empat baris di belakangnya.

Perhentian pertama adalah Modena, tiga puluh menit kemudian. Sewaktu mereka memasuki kota, Marco memutuskan untuk melihat-lihat wajah di belakangnya. Ia pun berdiri dan berjalan ke bagian belakang, ke kamar kecil, dan melirik sambil lalu ke wajah-wajah para pria.

Ketika ia sudah terkunci di dalam kamar kecil, dipejamkannya matanya dan ia berkata pada diri sendiri, “Ya, aku pernah melihat wajah itu.”

Tak sampai 24 jam sebelumnya, di Caffe Atene, beberapa menit sebelum lampu padam. Wajah [ itu terlihat di cermin panjang yang terpajang di dinding, di dekat gantungan mantel tua, di atas meja-meja. Wajah itu duduk tak jauh, di belakang-nya, bersama pria lain. ; .

Wajah itu tidak asing. Bahkan mungkin ia pernah melihatnya disusatu tempat di Bologna.

Marco kembali ke kursinya ketika bis mulai melambat dan memasuki terminal,cepat pikir,bung

ancamannya berkali-kaJi pada diri sendiri, tapi jaga kepalamu tetap dingin. Jangan panik. Mereka sudah menguntitmu keluar dari Bologna, tapi kau tidak boleh membiarkan mereka mengikutimu keluar dari negara ini.

Ketika bus berhenti, sopir mengumumkan mereka sudah riba di Modena. Perhentian singkat, berangkat lagi dalam lima belas menit. Empat penumpang terhuyung-huyung menyusuri gang dan turun dari bus. Yang lain tetap di tempat, kebanyakan tertidur. Marco memejamkan mata dan membiarkan kepalanya meneleng ke samping, ke arah jendela, tertidur lelap. Semenit berlalu dan dua penduduk setempat naik, dengan mata membelalak dan membawa tas-tas kain yang berat.

Sewaktu sopir kembali dan menempatkan diri di belakang kemudi, mendadak Marco bergeser keluar dari tempat duduknya, merayap cepat di sepanjang gang dan melompat turun dari bus tepat pada saat pintu sedang menutup. Ia bergegas masuk ke terminal, kemudian berbaiik dan melihat bus itu sedang mundur. Pengejarnya masih berada di atas bus.

Reaksi pertama Krater adalah cepat turun dari bus, mungkin berdebat sedikit dengan sopir, tapi toh tak ada sopir yang mau berjuang mati-matian untuk mencegah penumpang turun. Ia menahan diri, karena Marco jelas-jelas tahu ia sedang

dibuntuti. Pelariannya pada detik ter masukan kecurigaan Krater. Berarti memang benar R itu tadi Marco, yang berlari seperti hewan terjuka.

Masalahnya, saat ini Marco bebas di Modena, ‘: sedangkan Krater tidak. Bus itu berbelok ke jalan lain, lalu berhenti di lampu merah. Krater segera menghampiri sopir, memegangi perutnya, memohon diperbolehkan rurun sebelum ia muntah ke segala penjuru. Pintu otomatis langsung terbuka, Krater melompat turun dan berlari kembali ke terminal.

Marco tidak membuang-buang waktu. Begini bus itu hilang dari pandangan, ia bergegas ke halaman terminal, tempat tiga taksi sedang menunggu. Ia naik ke kabin belakang taksi pertama dan berkata, “Bisakah kau mengantarku ke Milano?” Bahasa Italia-nya sangat bagus. “Milano?” “Si, Milano.”

“£ molto caro!” Mahal sekali.

“Quanto?”

“Duecente euro.” Dua ratus euro.

“Andiamo.”

Sesudah satu jam menjelajahi terminal bus Modena dan dua jalan di sampingnya, Krater menelepon Luigi untuk menyampaikan berita yang tidak bagus, tapi juga “dak buruk sama sekaii. Ia kehilangan

orang yang dibuntutinya, tapi pelarian mendadak ku membuktikan bahwa pria itu memang Marc

Reaksi Luigi campur aduk. Ia frustrasi karena Krater bisa dikelabui seorang amatir. Ia terkesan Marco berbasil mengubah penampilannya dengan efektif dan lolos dari kejaran sekelompok kecil pembunuh. Dan ia geram pada Whitaker dan orang-orang goblok di Washington yang terus-menerus mengubah rencana dan sekarang menciptakan bencana yang pastilah kesalahannya akan ditimpakan kepada Luigi.

Ia menelepon Whitaker, berteriak dan menyumpah-nyumpah lagi, lalu segera menuju stasiun kereta bersama Zellman dan dua agen lain. Mereka akan bergabung dengan Krater di Milano, dan di sana Whitaker sudah menjanjikan penjagaan ketat dengan seluruh tenaga yang bisa dikerahkannya.

Ketika meninggalkan Bologna menumpang Eurostar, Luigi mendapat gagasan hebat, yang tidak bisa dilontarkannya. Bagaimana kalau mereka memberitahu pihak Israel dan Cina bahwa Backman terakhir kali terlihat di Modena, ke arah barat menuju Parma, dan bisa jadi tujuan akhirnya Milano? Ketimbang Langley, merekalah yang l«jf menginginkan Backman. Dan jelas mereka lebih mampu menemukannya. ,

TaPl Perintah tetap perintah, walaupun perintah itu berubah-ubah.

banyak jalan menuju Milano.

488

29

Taksi itu berhenti satu blok dari stasiun kereta. utama Milano. Marco membayar si sopir, berterima kasih sekali lagi, mendoakan ia selamat kembali ke Modena, lalu berjalan melewati belasan taksi lain yang sedang menunggu penumpang. Di dalam sta-s’un raksasa itu, ia mengikuti arus orang banyak, naik eskalator, memasuki kekacauan peron yang terkendali, tempat terdapat belasan jalur rel. Ia menemukan papan pengumuman keberangkatan dan mempelajari pilihan-pilihannya. Ada kereta menuju Stuttgart yang berangkat empat kali sehari, dan perhentianya ketujuh adalah Zurich,ia mengambil jadwal keberangkatan,membeli brosur panduan dan peta kota yg murah,lalu menemukan meja kosong dikafe diantara deretan toko,waktu tidak boleh di buang buang,tapi ia

perlu membuat rencana. Ia memesan dua esprtsso dan pastri, sementara matanya terus mengamati kerumunan. Ia menyukai kerumunan, gerombolan orang yang datang dan pergi. Ada rasa aman dalam

keramaian.

Rencana pertamanya adalah berjalan-jalan, sekitar tiga puluh menit, menuju pusat kota. Entah di mana ia bisa mendapatkan toko pakaian murah dan mengganti semuanya—jaket, kemeja, celana panjang, sepatu. Mereka sudah melihatnya di Bologna. Ia tidak bisa meAgambiJ risiko lagi.

Di suaru tempat di pusat kota, dekat Piazza del Duomo, pastilah ada kafe Internet tempat ia bisa menggunakan komputer selama lima belas menit. Ia tidak terlalu percaya dengan kemampuannya duduk di depan mesin asing, menyalakannya, dan bukan saja meloloskan diri dari hutan belantara Internet, namun juga mengirim pesan kepada Neal. Saat itu pukul 10.15 di Milan, pukul 04.15 di Culpeper, Virginia. Neal akan memeriksa pesan pada pukul 07.50.

Ia harus berhasil mengirim e-maii entah bagaimana caranya. Ia tidak punya pilihan lain.

Rencana kedua adalah melarikan diri, yang tampak semakin bagus sementara ia mengamati ribuan orang naik dengan santai ke kereta-kereta yang akan menyebarkan mereka ke seluruh penjuru Eropa dalam beberapa jam. Beli tiket sekarang dan

keluar dari Milano serta Italia secepat mungkin. Warna rambutnya yang sudah berubah dan kacamata Giovanni serta jaket tua ala profesor tidak [mampu mengelabui mereka yang ada di Bologna. Kalau mereka sehebat itu, mereka tentu akan bisa menemukannya di mana pun.

Ia berkompromi dengan berjalan memutari blok tersebut. Udara segar selalu membantu, dan setelah empat blok darahnya mulai terpompa lagi. Seperti di Bologna, jalanan Milano menyebar keluar ke segala jurusan seperti sarang laba-laba Lalu lintas padat dan beberapa kali nyaris tidak bisa bergerak Ia menyukai lalu lintas tersebut, dan terurama ia menyukai trotoar yang penuh sesak dan menyediakan tempat persembunyian baginya.

Toko itu bernama Roberto’s, toko pakaian pria yang terjepit di antara toko perhiasan dan toko roti. Dua etalasenya penuh pajangan pakaian yang bisa bertahan sekitar seminggu, yang sangat sesuai dengan kerangka waktu Marco. Penjaga toko yang berasal dari Timur Tengah itu bahasa Italia-nya lebih parah daripada Marco, tapi dengan fasih menuding dan menggumam, dan ia bertekad akan mengubah dandanan tamunya. Jaket biru tua itu diganti jaket cokelat tua. Baju barunya adalah sweter putih lengan pendek. Celana panjangnya dari wol berkualitas rendah warna biru tua gelap. Butuh waktu seminggu untuk permak, jadi Marco

bertanya apakah si penjaga toko mempunyai gunting. Dalam ruang ganti yang berbau lembap, ia mengukur sebisanya, lalu menggunting celana panjang itu sendui. Ketika ia keluar dengan kostumnya yang baru, si penjaga toko melihat ujung celana yang bergerigi dan nyaris menangis.

Semua sepatu yang dicoba Marco bisa membuatnya lumpuh sebelum tiba di stasiun kereta, jadi ia tetap mengenakan sepatu botnya sementara ini. Barang terbaik yang dibelinya adalah topi anyaman yang dibeli Marco karena ia melihatnya sebelum memasuki toko itu.

Pada saat ini, peduli apa ia dengan soal mode?

Keseluruhan pakaian baru itu memaksanya mengeluarkan uang hampir empat ratus euro, yang dengan berat hati dibayarkannya, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia berusaha menukarnya dengan koper Giovanni, tapi si penjaga toko terlalu sedih dengan celana panjang yang dicincang tadi. Ia hampir rak sanggup mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal dengan lemah. Marco keluar dengan jaket biru, jins pudar, dan kemeja lamanya terlipat dalam tas plastik merah, sesuatu yang berbeda untuk dibawa-bawa.

Ia berjalan beberapa menit dan melihat toko sepatu. Ia membeli sepatu yang mirip dengan sepatu boling yang sudah dimodifikasi, tak ragu lagi sepatu paling jelek di toko yang bagus itu. Warnanya

hitam dengan garis merah keunguan, semoga dibuat dengan mementingkan segi kenyamanan, bukan penampilan. Ia membayar 150 euro, hanya karena sepatu itu sudah banyak dicoba. Setelah berjalan dua blok, barulah ia mampu mengerahkan keberanian untuk menunduk dan melihatnya.

Luigi mendapat penguntit ketika keluar dari Bologna. Pemuda yang mengendarai skuter itu melihatnya keluar dari aparremen di sebelah apar-remen Backman, dan tindak-tanduknyalah yang menarik perhatian. Ia berlari, semakin cepar seiring setiap langkah. Tidak ada orang yang berlari di bawah naungan Via Fondazza. Skuter itu menunggu sampai Luigi berhenti dan segera masuk ke dalam Fiat merah. Ia mengemudi beberapa blok, lalu melambar sedikit untuk memberi kesempatan pria lain melompat naik. Mereka melesat dengan kecepatan penuh, tapi dalam lalu lintas kota, skuter itu tidak mendapat kesulitan mengikutinya. Ketika mereka memasuki stasiun kereta dan parkir di tempat terlarang, pemuda berskuter itu melihat semuanya dan melapor lewat radio pada Efraim.

Dalam lima belas menit, dua agen Mossad yang mengenakan seragam polisi lalu lintas membobol apartemen Luigi, menyiagakan alarm-alarm— beberapa tak bersuara, beberapa hampir

493

rak terdengar. Sementara tiga agen lain menunggu di jalan, sebagai perlindungan, tiga agen di dalam menendang pintu dapur dan menemukan koleksi peralatan pengintaian elektronik yang menakjubkan.

Pada saat Luigi, Zellman, dan agen ketiga naik ke Euros tar yang menuju Milano, si pemuda ber-skuter juga sudah membeli tiket. Namanya Paul, anggota kidon termuda dan paling fasih berbahasa Italia. Di balik gaya rambut dan wajah kekanak-kanakan itu, ia adalah veteran berusia 26 tahun yang sudah mencatatkan belasan pembunuhan. Ketika ia melapor lewat radio bahwa ia sudah berada atas di kereta yang bergerak, dua agen lain memasuki apartemen Luigi dan membantu membedah peralatan tersebut. Namun satu alarm tidak bisa dimatikan. Deringnya yang konstan menembus tembok-tembok dan berhasil menarik perhatian beberapa retangga di jalan tersebut.

Sepuluh menit kemudian, Efraim menarik anak-anak buahnya yang membobol apartemen. Agen-agen tersebut menyebar, lalu bergabung kembali di salah satu rumah persembunyian mereka. Mereka belum dapat memastikan siapa Luigi sebenarnya atau untuk siapa ia bekerja, tapi tak diragukan lagi ia telah memata-matai Backman sepanjang hari dan malam.

Ketika jam-jam berlalu tanpa tanda-tanda keber-Laan Backman, mereka mulai yakin Backman sudah kabur. Dapatkah Luigi membawa mereka

padanya? I

I Di pusat kota Milano, di Piazza del Duomo, Marco melongo memandangi katedral raksasa bergaya ‘ Gotik yang hanya membutuhkan waktu tiga ratus tahun untuk selesai dibangun. Ia berjalan sepanjang Galleria Vittorio Emanuele, koridor berkubah kaca mengagumkan yang terkenal di Milano. Dengan deretan kafe dan toko buku, galeri itu adalah pusat kehidupan kota, tempat pertemuan yang paling populer. Dengan temperatur mencapai lima belas derajat, Marco makan sandwich dan minum cola di luar, burung-burung merpati merubung setiap remah yang tercecer. Ia memandangi seorang Milanesi tua yang berjalan-jalan di galeri, dua wanita saling mengaitkan lengan, para pria berhenti untuk mengobrol seolah waktu bukan sesuatu yang relevan. Betapa beruntungnya, pikir Marco.

Apakah sebaiknya ia pergi saat itu juga, atau diam di sini dulu Sehari atau dua hari? Irulah pertanyaan yang paling mendesak Di kota yang padat dengan empat juta penduduk ia bisa menghilang selama mungkin. Ia bisa membeli peta,

mempelajari jalan jalanya, menghabiskan berjam-mempeiajan

jam bersembunyi di kamar dan berjam-jam menjelajahi gang-gang kecil.

Tapi anjing-anjing pemburu di belakangnya akan mendapat kesempatan mengumpulkan kekuatan.

Apakah ia harus pergi sekarang, saat mereka sedang kewalahan dan menggaruk-garuk kepala?

Ya, ia memutuskan. Ia membayar makanannya dan melirik sepatu bolingnya. Memang nyaman, rapi ia sudah tak sabar ingin segera membakarnya. Di dalam bus kota, ia melihat iklan kafe Internet di Via VerrL Sepuluh menit kemudian, ia memasuki tempat itu. Papan di dinding mencantumkan harga sewanya—sepuluh euro per jam, minimum tiga puluh menit. Ia memesan jus jeruk dan membayar untuk setengah jam. Petugas jaga memberi isyarat ke arah meja dengan beberapa komputer. Tiga di antara delapan komputer yang tersedia digunakan oleh orang-orang yang tahu benar apa yang mereka lakukan. Marco sudah merasa tersesat.

Namun dipasangnya tampang sok tahu. Ia duduk, meraih keyboard, menatap monitor, dan ingin berdoa, tapi nekat terjun seolah sudah bertahun-tahun melakukannya. Ternyata mudah saja; ia masuk ke situs KwyteMail, mengetikkan user name, ‘Grinch456”, lalu password-nya, “post hoc ergo Fopter hoc”, menunggu sepuluh detik, dan mun-cuUah pesan dari Neal:

Marco: Mikel Van Thiessen masih benam ! Ehineland Bank, sekarang menjadi wakil direktur

pelayanan klien. Apa lagi? Grinch.

Tepat pukul 07.50 EST, Marco mengetik pesan:

Grinch: Ini Marco—aku ada di sini, langsung.

Kau ada di sana?

Ia menyedot jus jeruknya dan menatap layar monitor. Ayo, baby, jangan sampai gagal. Ia menyedot lagi. Wanita di meja seberang berbicara kepada monitornya. Lalu muncul pesan:

Aku ada di sini. Ada apa?

Marco mengetik: Mereka mencuri Ankyo 850-ku. Ada kemungkinan besar orang-orang itu mendapatkannya dan membongkarnya. Bisakah mereka mengetahui keterlibatanmu?

Neal: Hanya kalau mereka punya user name dan passwordnya. Mereka memilikinya?

Marco: Tidak, sudah kumusnahkan. Mungkinkah mereka mengakali password-nya?

Neal: Dengan KwyteMail tidak bisa. KwyteMail sepenuhnya aman dan tersandi. Kalau mereka hanya mendapatkan PC-nya, tak ada gunanya.

Marco: Jadi kita benar-benar aman sekarang?

Neal: Ya, sungguh. Tapi apa yang kaugunakan

sekarang?

Marco: Aku ada di kafe Internet, menyewa komputer, seperti hacker sungguhan.

Neal: Kau mau smartphone Ankyo baru?

Marco: Tidak, sekarang tidak perlu, mungkin nanti. Begini. Temuilah Carl Pratt. Aku tahu kau tidak menyukainya, tapi saat ini aku membutuhkan dia. Pratt sangat dekat dengan mantan senator Ira Clayburn dari North Carolina. Clay burn mengelapai Komite Intelijen Senat selama bertahun-tahun. Aku membutuhkan Clayburn sekarang. Hubungi dia lewat Pratt.

Neal: Di mana Clayburn berada?

Marco: Aku tidak tahu—aku hanya berharap ia masih hidup. Ia berasal dari Outer Banks North Carolina, tempat terpencil yang indah. Ia pensiun setahun setelah aku masuk kamp federal. Pratt bisa menemukannya.

Neal: Tentu, aku akan melakukannya begitu bisa menyelinap kabur.

Marco: Berhati-hatilah. Awasi belakangmu. ¦ Neal: Kau baik-baik saja?

Marco: Dalam pelarian. Aku meninggalkan

Bologna tadi pagi. Aku akan berusaha online pada

saat yang sama besok. Oke?

Neal: Bersembunyilah terus. Aku akan ada di sini besok.

Marco melakukan sign off dengan tampang bangga. Misi terlaksana. Ternyata gampang saja. Selamat datang di dunia peralatan teknologi canggih. Ia memastikan ia keluar sepenuhnya dari KwyteMail, lalu menghabiskan jus jeruknya, dan keluar dari kafe. Dalam perjalanan ke stasiun kereta, ia mampir di toko kulit, tempat ia berhasil menukar koper Giovanni yang bagus dengan koper kulit hitam mengilap berkualitas lebih rendah; lalu di toko perhiasan murah tempat ia membayar delapan belas euro untuk arloji bundar besar dengan tali merah manyala, sesuatu yang akan mengalihkan perhatian orang yang sedang mencari Marco Lazzeri yang berasal dari Bologna; kemudian di toko buku bekas, dengan uang dua euro ia membeli buku hardcover lusuh berisi puisi-puisi Czeslaw Milosz, dalam bahasa Polandia tentu saja, untuk mengacaukan anjing-anjing pemburu itu; dan akhirnya, di toko aksesori bekas ia membeli kacamata gelap dan tongkat kayu, yang langsung digunakannya begitu ia keluar di trotoar.

Tongkat itu mengingatkannya pada Francesca, juga memperlambat langkahnya, mengubah gaya berjalannya. Dengan waktu tersisa, ia terpincang-pincang menuju Milano dan membeli tiket ke Stuttgart.

Whitaker mendapat pesan mendesak dari Langley bahwa rumah persembunyian Luigi telah dibobol orang, tapi tak ada apa pun yang bisa dilakukannya. Semua agen dari Bologna sekarang ada di Milano, geragapan dengan panik. Dua agen ada di stasiun kereta, mencari jarum di antara timbunan jerami. Dua di Bandara Malpensa, 43 kilometer jauhnya dari pusat kota. Dua ada di Bandara Linate, yang lebih dekat dan terutama melayani penerbangan Eropa. Luigi ada di terminal bus pusat, masih berdebat di ponsel bahwa bisa saja Matco tidak berada di Milano. Hanya karena ia naik bus dari Bologna ke Modena, lalu ke arah barat laut, bukan berarti ia akan pergi ke Milano. Namun kredibilitas Luigi saat itu sudah buruk, paling tidak dalam penilaian Whitaker, jadi ia dibuang ke terminal bus untuk mengamati ribuan orang datang dan pergi.

Krater yang berada paling dekat dengan jarum itu.

Marco membeli tiket kelas saru seharga enam puluh euro, dengan harapan bisa menghindarkan dirinya terekspos di kelas ekonomi. Untuk perjalanan ke utara, gerbong kelas satu ada di paling ujung, dan Marco naik pada pukul 17.30, 45 menit sebelum jam keberangkatan. Ia duduk di kursinya, menyembunyikan wajahnya sebisa mungkin di balik kacamata dan topi anyaman, membuka

buku puisi Polandia, dan memandang ke arah peron tempat para penumpang melewati keretanya. Beberapa tak sampai dua meter jauhnya, semua

terbutu-buru.

Kecuali satu orang. Pria yang di bus itu muncul lagi; wajah yang terlihat di Cafte Atene; mungkin si tangan panjang yang mencopet tas Silvio birunya; anjing pemburu yang terlambat turun dari bus di Modena sekitar sebelas jam lalu. Ia berjalan namun tanpa tujuan. Matanya disipitkan, keningnya berkerut dalam. Untuk ukuran profesional, ia terlalu mencolok, pikir Giovanni Ferro, yang sayangnya sekarang mengetahui lebih banyak daripada yang ia inginkan tentang cara bersembunyi dan menghilangkan jejak.

Krater sudah diberitahu bahwa Marco mungkin akan menuju selatan ke Roma, tempat ia memiliki lebih banyak pilihan, atau ke utara ke Swiss, Jerman, Prancis—ke mana pun tujuan yang dipilihnya di seluruh benua. Sudah lima jam Krater mondar-mandir di dua belas peron tersebut, mengamati kereta datang dan pergi, bergabung dengan kerumunan, sama sekali tidak memedulikan otang-otang yang turun tapi memberikan perhatian besar pada siapa pun yang naik kereta. Setiap jaket bitu dengan segala nuansa dan model menarik perhatiannya, tapi ia belum melihat yang di sikunya terdapat tambalan kulit yang sudah lusuh.

501

Jaket itu berada di dalam koper hitam m ii yang terjepit di antara kaki Marco, di kursi no tujuh puluh di gerbong kelas satu menuju Stuttgart Marco mengawasi Krater mondar-mandir di peron mengamati dengan saksama kereta yang tujuan akhirnya Stuttgart. Di tangannya ia memegang sesuatu yang mirip tiket, dan ketika ia lenyap dari pandangan, Marco bersumpah ia melihat orang itu naik ke kereta.

Marco menahan dorongan untuk melompat turun. Pintu kabinnya terbuka, dan Madame masuk

30

begitu sudah dipastikan bahwa Backman menghilang, dan bukannya mati di tangan orang lain, lima jam penuh kepanikan berlalu sebelum ]ulia Javier menemukan informasi yang sebenarnya tak jauh-jauh darinya. Informasi tersebut ditemukan di arsip yang disimpan dalam tempat terkunci di kantor direktur, dan dulunya dijaga oleh Teddy Maynard sendiri. Kalaupun pernah melihat informasi tersebut, Julia tidak bisa mengingatnya. Dan, dalam kekacauan itu, tentu saja ia tidak akan mengakui apa pun. „„.„

Informasi tersebut datangnya dengan eg-, dari FBI beberapa ^.^IZnZZ Backman di bawah penyelidikan. ^ ^ keuangannya diperiksa dengan sang^ ^ menipu ada rumor santer yang men&a

seorang klien dan mengubur kekayaannya. Jadi di mana uang itu? Demi mencarinya, FBI me-‘j nyusun potongan-potongan sejarah perjalanan 1 Backman ketika mendadak ia mengaku bersalah i dan dijebloskan ke penjara. Pengakuan bersalah itu tidak seketika memetieskan kasus Backman, tapi yang jelas mengangkat beban yang selama ] itu menekannya. Seiring waktu, riset perjalanan Backman itu pun lengkap, dan akhirnya diberikan kepada Langley.

Pada bulan sebelum Backman dikenai dakwaan, ditangkap, dan dibebaskan dengan pengaturan jaminan yang sangat ketat, ia melakukan dua kali perjalanan singkat ke Eropa. Yang pertama, ia naik penerbangan kelas bisnis Air France bersama sekretaris favoritnya ke Paris, tempat mereka bermain-main dan melihat-lihat selama beberapa hari. Belakangan wanita itu memberitahu para penyelidik bahwa Backman melewatkan satu hari penuh di Berlin untuk urusan bisnis singkat, tapi kembali pada waktunya untuk makan malam di restoran Alain Ducasse. Wanita itu tidak pergi bersamanya.

Tidak ada catatan Backman menggunakan penerbangan komersial ke Berlin, atau ke mana pun di «luruh Eropa, selama minggu itu. Pihak maskapai pasti akan meminta paspor, dan FBI yakin Backman tidak menggunakan paspornya. Perjalanan dengan kereta tidak membutuhkan paspor. Jenewa,

Bein> Lausanne, dan Zurich, semua berjarak empat jjm perjalanan kereta dari Paris.

perjalanan ke Eropa yang kedua berlangsung hanya dalam 72 jam, dari Dulles menuju Frankfurt dengan Lufthansa di kabin kelas satu, sekali lagi untuk urusan bisnis, walau tidak ada kontak bisnis yang ditemukan di sana. Backman membayar dua malam di hotel mewah di Frankfurt, dan tidak ada bukti bahwa ia pernah tidur di tempat lain. Seperti Paris, Frankfurt hanya beberapa jam perjalanan kereta jauhnya dari pusat-pusat perbankan Swiss.

Sewaktu Julia Javier akhirnya menemukan arsip tersebut dan membaca laporannya, ia langsung menelepon Whitaker dan memberitahu, “Ia menuju Swiss.”

Barang bawaan Madame cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan lima anggota keluarga yang kaya. Portir yang kewalahan membantunya menaikkan koper-koper yang berat itu ke keteta dan ke dalam gerbong kelas satu, yang ia penuhi dengan dirinya, barang-barang miliknya, dan bau parfumnya. Di dalam kabin itu ada enam tempat duduk, paling sedikit empat di antaranya dikuasainya sendiri. Ia duduk di seberang Marco dan menggoyang-goyang bokongnya yang penuh seolah hendak melonggarkannya lagi. Ia melirik Marco

yang menciut di dekat jendela dan dengan sensual \ mendesahkan “Bonsoir”. Orang Prancis, pikir 1 Marco, dan karena sepertinya tidak pas menjawab j dengan bahasa Italia, ia menanggapi dengan “Halo” I yang biasa. “Ah, Amerika.”

Dengan segala bahasa, identitas, nama, budaya, latar belakang, kebohongan, kebohongan, dan ke- I bohongan lain terpilin-pilin kusut, Marco berhasil j berkata tanpa keyakinan sedikit pun, “Bukan, j Kanada.”

“Ah, ya,” ujar wanita itu, masih mengatur tas- i tasnya dan menempatkan diri dengan nyaman. Jelas bahwa Amerika lebih disukai ketimbang Kanada. Madame adalah wanita bertubuh subur berusia enam puluh tahun, mengenakan gaun merah ketat, betisnya tebal, dan sepatu pantofel hitamnya tampak sudah melakukan perjalanan jutaan mil jauhnya. Matanya yang dirias tebal kelihatan sembap, dan tak lama kemudian Marco tahu sebabnya. Jauh sebelum kereta mulai bergerak, wanita itu mengeluarkan termos besar, membuka tutupnya yang bisa dijadikan cangkir, dan menuangkan cairan yang tampak ampuh, la menenggaknya sekaligus, lalu tersenyum pada Marco dan menawari, “Mau minum?”

“Tidak, terima kasih.” “Ini brendi yang bagus sekali.”

“Tidak, terima kasih.”

“Ya sudah.” Ia menuang lagi, menenggaknya sampai habis, lalu menyimpan termos tersebut.

Perjalanan yang panjang ini akan semakin panjang.

“Kau mau ke mana?” tanya wanita itu dalam bahasa Inggris yang sangat bagus. “Stuttgart. Anda?”

“Stuttgart, lalu ke Strasbourg. Tidak bisa tinggal lama-lama di Stuttgart, kau tahu.” Hidungnya berkerut seolah seluruh kota itu terendam dalam selokan bau.

“Aku suka Stuttgart,” ujar Marco, sekadar ingin melihat hidung itu tidak berkerut lagi.

“Oh, well!’ Wanita itu sekarang memusatkan perhatian pada sepatunya. Ia menendang lepas keduanya, tanpa peduli ke mana mereka akan mendarat. Marco ancang-ancang akan diserang bau kaki, tapi kemudian menyadari bau apa pun tidak akan sanggup menandingi aroma parfum murahan itu.

Untuk mempertahankan diri, ia pura-pura terkantuk-kantuk. Wanita itu mengabaikannya selama beberapa menit, lalu bertanya keras-keras, “Kau bisa bahasa Polandia?” Ia menatap buku puisi Marco.

Kepala Marco tersentak seolah ia baru saja terjaga. “Tidak, tidak juga. Aku sedang belajar. Keluargaku dari Polandia.” Marco menahan napas,

setengah berharap wanita itu akan membanjirinya» dengan bahasa Polandia yang baik dan benar, lalu j menenggelamkannya.

“Begitu,” ujar wanita itu, sepertinya tak setuju. Pada pukul 18.15 tepat, seorang kondektur yang \ tak terlihat meniup peluit dan kereta pun mulai 1 beranjak. Untung saja, tidak ada penumpang lain ] yang masuk ke kabin Madame. Beberapa orang j menyusuri gang dan berhenti, melirik ke dalam, \ melihat kesesakan itu, lalu berjalan terus mencari j kabin lain yang lebih lapang.

Marco mengamati peron dengan saksama ketika mereka mulai bergerak. Pria yang di bus itu tidak terlihat di mana pun.

Madame menikmati brendinya sampai mulai mendengkur. Ia dibangunkan kondektur yang melubangi tiket mereka. Seorang portir lewat dengan kerera dorong penuh berisi minuman. Marco membeli bir dan menawarkannya pada rekan sekabinnya. Penawaran itu disambut dengan kemyitan hidung yang dahsyat, seolah Madame lebih memilih minum air kencing.

Perhentian pertama adalah Como/San Giovanni, perhentian dua menit dan tak seorang pun naik ke kereta. Lima menit kemudian mereka berhenti di Chiasso. Saat itu hampir gelap, dan Marco mem-pemmbangkan kabur lagi. Ia mempelajari jadwal 11 K P^tian lagi sebelum mereka

iiba di Zurich, satu di Italia dan tiga di Swiss. Ulayah negara mana yang lebih menguntungkan?

Ia tidak bisa mengambil risiko dibuntuti lagi sebiang. Kalau orang-orang itu ada di kereta, mereka sudah mengikutinya sejak Bologna, lalu Modena, dan Milano, dengan berbagai penyamaran. Mereka profesional, dan Marco tak sebanding dengan me-teka. Sambil menghirup birnya, Marco merasa seperti amatir yang payah.

Madame memandangi ujung celana pantalonnya yang tercincang. Kemudian Marco melihatnya melirik sepatu boling modifikasi itu, dan Marco sama sekali tidak menyalahkannya. Lalu jam tangan bertali merah menarik perhatian Madame. Mimik wajahnya menyatakan apa yang sudah jelas—ia tidak setuju dengan selera mode Marco yang rendah. Biasalah, orang Amerika, atau Kanada, atau dari mana pun dia. Mral

Marco melihat sekilas cahaya yang berkelip-kelip dari Danau Lugano. Mereka mehuk-liuk melalui wilayah sekitar danau itu, semakin menanjak. Swiss tidak jauh lagi.

Sesekali ada orang lewat di gang di luar bbin. Mereka menoleh, memandang melalui pintu kaca, lalu terus ke belakang, mencari kamar kecil. Madame menumpangkan kedua kakinp di kursi di depannya, tidak jauh dari Marco. Sam jam sesudah berangkat, ia menebarkan wadah, majalah,

dan pakaiannya di seluruh kabin. Marco takut me ninggalkan tempat duduknya.

Akhirnya keletihan menguasainya, dan Marco 1 jatuh tertidur. Ia terbangun karena keriuhan di stasiun Bellinzona, perhentian pertama di Swiss. | Seorang penumpang memasuki gerbong kelas satu j dan tidak bisa menemukan tempat. Ia membuka ¦ pintu kabin Madame, mengedarkan pandang, tidak menyukai yang dilihatnya, lalu keluar untuk memanggil kondektur. Mereka menemukan kursi untuknya di tempat lain. Madame nyaris tidak mendongak dari majalah mode yang dibacanya.

Perjalanan berikut satu jam empat puluh menit lamanya, dan ketika Madame kembali mengambil termos, Marco berkata, “Aku mau sedikit.” Wanita itu tersenyum untuk pertama kalinya selama berjam-jam. Walau ia tidak keberatan minum sendiri, selalu lebih menyenangkan menikmati minuman bersama teman. Namun dua gelas kemudian, Marco kembali terangguk-angguk oleh kantuk.

Kereta tersentak-sentak ketika melambat di perhentian Arth-Goldau. Kepala Marco ikut tersentak, dan topinya jatuh. Madame mengawasinya Wm-lekat. Sewaktu Marco akhirnya berhasil membuka mau, wanita itu memberitahu, “Ada orani aneh yang udi memandangimu.”

“Di mana?”

“Di mana? Ya di sini, tentu saja, di atas kereta Ia lewat paling tidak tiga kali. Berhenti di pintu, memandangimu dengan teliti, lalu menyelinap pergi.”

Mungkin karena sepatuku, pikir Marco. Atau celana pantalonku. Arlojiku? Ia menggosok-gosok mata dan betlagak seolah itu sering terjadi. “Seperti apa tampangnya?” “Rambut pirang, sekitar tiga puluh lima, manis, jaket cokelat. Kau kenal dia?”

“Tidak, aku tidak kenal.” Pria di bus di Modena itu rambutnya tidak pitang dan ia tidak mengenakan jaket cokelat, tapi hal-hal kecil itu tidak relevan sekarang. Marco sudah cukup ketakutan sehingga ingin mengubah rencananya. 2^

Zug tinggal 25 menit lagi, perhentian terakhir sebelum Zurich. Ia tidak bisa mengambil risiko membawa mereka ke Zurich. Sepuluh menit ke-I mudian, ia mengumumkan ia perlu ke kamar kecil. Di antata kursinya dan pintu tersebar segala 1 halangan milik Madame. Ketika melompat-lompat I mencari jalan, ia meletakkan koper dan tongkatnya 1 di kursi.

Ia melewati empat kabin, masing-masing berisi I sedikitnya tiga penumpang, tak seorang pun 1 tampak mencurigakan. Ia pergi ke kamar kecil, j menguncinya, dan menunggu sampai kereta mulai

melambat. Lalu kereta itu berhenti. Perhentian di Zug ini cuma dua menit, dan sejauh ini kereta 1 selalu tepat waktu. Satu menit ia biarkan berlalu, 1 lalu ia kembali ke kabin, membuka pintu, tidak 1 mengucapkan apa pun pada Madame, mengambil 1 koper dan tongkatnya, yang sudah disiapkannya se- j bagai senjata, dan berlari ke bagian belakang kereta, : lalu melompat ke peron.

Stasiun itu kecil, lebih tinggi daripada jalan di 1 bawah. Marco berlari menuruni tangga ke trotoar, i mendekati satu-satunya taksi dengan sopir yang i terlelap di belakang kemudi. “Ke hotel,” katanya j mengagetkan si sopir, yang secara instingtif meraih kunci kontak. Ia menanyakan sesuatu dalam bahasa Jerman dan Marco mencoba bahasa Italia. “Aku mau ke hotel kecil. Aku belum memesan tempat.”

“Tidak masalah,” timpal sopir itu. Saat mereka berangkat, Marco mendongak dan melihat kereta itu bergerak. Ia melongok ke belakang, dan tak melihat seorang pun mengejarnya.

Perjalanan itu empat blok jauhnya, dan ketika mereka berhenti di depan bangunan berbentuk A di jalan kecil yang sunyi, sopir taksi berkata dalam bahasa Italia, “Hotel, ini sangat bagus.”

tampaknya lumayan. Trims. Berapa lama perjalanan naik mobil ke Zurich?”

“Dua jam, kuang-lebih. Tergantung lalu lin-tas.

“Besok pagi, aku harus sampai di pusat kota Zurich pada pukul sembilan pagi. Bisakah kau mengantarku ke sana?”

Sopir itu ragu-ragu sejenak, benaknya sudah membayangkan uang tunai. “Barangkali,” jawabnya. “Berapa ongkosnya?”

Sopir itu menggosok-gosok dagunya, lalu mengangkat bahu dan berkata, “Dua ratus euro.” “Bagus. Kita berangkat dari sini pukul enam.” “Enam, ya, aku akan ada di sini.” Marco mengucapkan terima kasih lagi dan melihat taksi itu menjauh. Bel berdering ketika ia memasuki pintu depan hotel. Meja konter kecil itu kosong, tapi terdengar suara televisi tak jauh dari sana. Seotang remaja dengan mata mengantuk akhirnya muncul dan berusaha tersenyum. “Guten abend,” sapanya.

“Paria inglese?” tanya Marco. Pemuda itu menggeleng, tidak. “Italiano?” “Sedikit.”

“Aku juga bisa sedikit,” kata Marco dalam bahasa Italia. “Aku mau menginap satu malam.”

Petugas jaga itu memberikan formulir registrasi, dan berdasarkan ingatan, Marco mengisi nama yang ada di paspor, juga nomornya. Ia menulis alamat karangan di Bologna, dan nomor telepon palsu juga. Paspor itu ada di saku mantelnya, de-

kat jantungnya, dan walau enggan ia siap mengluarkannya.

Namun saat itu sudah larut dan sipetugas meja depan terpaksa kehilangan tontonan televisi Dengan kecerobohan yang tidak sesuai dengan karakter Swiss, ia berkata, juga dalam bahasa italia “Empat puluh dua euro,” dan tidak menyebut-nyebut soal paspor.

Giovanni meletakkan uang di meja, dan pe tugas jaga itu memberinya kunci kamar nomor i 26. Dengan bahasa Italia yang bagus, Giovanni mengatur agar ia dibangunkan pada pukul lima pagi. Seolah baru teringat, ia menambahkan, “Sikat gigiku hilang. Apakah ada sikat gigi cadangan?”

Pemuda itu menarik laci dan mengambil sekotak penuh berbagai keperluan—sikat gigi, pasta gigi, alat cukur sekali pakai, krim cukur, aspirin, tampon, krim tangan, sisir, bahkan kondom. Giovanni , memilih beberapa di antaranya dan memberikan sepuluh euro.

Suite mewah di Ritz pun tidak akan lebih disyukuri daripada kamar nomor 26. Kecil, bersih, BE dengan kasur yang mantap, dan pintu yang lili dua kali untuk mengusir wajah yang telah

menghantuinya sejak dini hari. Ia mandi lama di

bawah pancuran, Lalu bercukur dan menggosok gigi

lama sekali.

Semakin ^legakan ketika ia menemukan rnini-

• ai bawah televisi. Ia makan sebungkus di lemari tomya ^ botol ked

biskuit. merayap ke balik selimut, mental-

wiski, * wbuhnya kelelahan. Tongkat itu

nf* tef „„sana di dekatnya. Konyol memang, j„ di atas ranjang, * t tidak bisa menahan diri.

31

Jauh di kedalaman penjara, ia memimpikan Zurich dengan sungai-sungainya yang biru, jalan-jalan yang bersih dan teduh, toko-toko yang modern, dan penduduknya yang elegan, semua bangga menjadi orang Swiss, semua mengerjakan pekerjaannya dengan kesungguhan yang menyenangkan. Di kehidupan lain, ia pernah naik trem listrik yang berdengung pelan bersama orang-orang itu menuju distrik keuangan. Dulu ia terlalu sibuk untuk sering bepergian, terlalu penting untuk meninggalkan urusan-urusan yang rawan di Washington, tapi Zuri adalah salah satu dari sedikit tempat yang Petuah dilihatnya. Kota itu sesuai dengannya: tldak turis dan lalu lintas, tidak bersedia

m^iskan waktunya memelototi katedral dan UI sertj memuja kurun waktu dua ratus

yang sudah berlalu- Sama sekali ^ seperti Ju Se8ala hal tentang Zurich adalah uar»g, mana-Len uang canggih yang pernah dikuasai Backman [ingga sempurna, kebalikan dari uang tunai yang Jiambil begitu saja.

Ia berada di atas trem itu lagi, yang dinaikinya di dekat stasiun kereta, dan sekarang bergerak dengan keceparan rerap di sepanjang BahnhorTstrasse, jalan utama pusat kota Zurich, kalaupun ada yang disebut demikian di sana. Saat itu hampir pukul sembilan pagi. Ia berada di antara gelombang terakhir para bankir muda yang berpakaian apik, menuju UBS dan Credit Suisse dan ribuan institusi yang tidak setenar itu namun sama-sama kaya. Setelan bernuansa gelap, kemeja berbagai warna rapi hanya sedikir warna putih, dasi mahal dengan simpul yang lebih tebal dan desain yang lebih sederhana., sepatu cokelat dengan tali, tak ada yang bet-tassel. Gayanya hanya berubah sedikit dalam kurun wakru enam tahun. Tetap konservatif, tapi dengan sentuhan aksen. Tidak segaya kaum profesional di kota asalnya, Bologna, tapi mereka cukup menarik. m„„u

Semua orang membaca sesuatu

arah. Marco pura pura asyik membaca newsweek tapi sesungguhnya ia sedang mengamati orang orang lainorang lain.

Tidak ada yang mengawasi dirinya. Tidak ada * yang tampak terganggu dengan sepatu bolingnya. Bahkan, ia sempat melihat sepatu semacam itu dikenakan seorang pemuda yang berpakaian santai I di dekat stasiun kereta. Topi jeraminya juga tidak menarik perhatian. Ujung pantalonnya sudah di- ‘ perbaiki seadanya setelah ia membeli seperangkat perlengkapan menjahit yang dibelinya di meja resepsionis hotel, lalu ia melewatkan setengah jam berusaha menjahit pantalonnya tanpa meneteskan darah. Harga pakaiannya hanya sepersekian dari setelan-setelan yang ada di sekitarnya, tapi peduli apa? Ia berhasil sampai di Zurich tanpa Luigi dan yang lain-lain, dan dengan sedikit keberuntungan Lagi ia akan lolos.

Di ParadepLatz, trem-trem bergulir dari arah timur dan barat, lalu berhenti. Gerbong-gerbongnya segera kosong sementara para bankir muda itu menyebar dalam gerombolan dan menuju gedung-gedung. Marco bergerak bersama kerumunan, topinya sudah ditinggalkan di bawah tempat duduk uem.

Tidak ada yang berubah dalam tujuh tahun. Paradeplatz masih sama—tempat terbuka yang dikelilingi toko-toko kecil dan kafe-kafe. Bank-bank di sekitarnya sudah berdiri selama ratusan tahun; sebagian mengumumkan namanya dengan neon, yang lain begitu tersembunyi hingga tak

•CV

bisa ditemukan. Dari balik kacamata hitamnya, •ia meresapi semua itu selama ia bisa, sambil terus menempel pada tiga pemuda yang membawa tas olahraga. Sepertinya mereka menuju Rhineiand Bank, di sisi timur. Ia mengikuti mereka masuk, ke lobi, tempat segala kesenangan dimulai.

Meja informasi itu pun tidak berubah tempat sejak tujuh tahun lalu; bahkan, wanita berdandanan rapi di belakangnya pun tampak tidak asing. “Saya ingin bertemu Mr. Mikel Van Thiessen,” ujarnya sepelan mungkin. “Nama Anda?”

“Marco Lazzeri.” Ia akan menggunakan nama “Joel Backman” nanti, di lantai atas, tapi ia ragu-ragu mengucapkannya di sini. Mudah-mudahan, e-mail Neal kepada Van Thiessen menyebutkan nama alias tersebut. Bankir itu sudah diminta tidak bepetgian ke luar kota, kalau memungkinkan, selama seminggu ini.

Wanita itu menelepon sekaligus mengetik-ngetik di keyboard-nyz. “Mohon tunggu sebentar, Mr. Lazzeri,” ujarnya. “Anda tidak keberatan menunggu?”

“Tidak,” sahutnya. Menunggu? Ia sudah memimpikan kejadian ini selama bertahun-tahun. Ia memilih tempat duduk, menyilangkan tungkai, melihat sepatunya, lalu menydipkan kakinya di bawah kursi, la yakin dirinya sedang diamati dari belasan

kamera, dan itu tidak menjadi masalah baginya. Barangkali mereka akan mengenali Backman duduk 1 di lobi, barangkali juga tidak. Ia hampir bisa membayangkan mereka di atas sana, memelototi monitor, menggaruk-garuk kepala, sambil berkata, “Entahlah, ia jauh lebih kurus, bahkan tirus.”

“Dan rambutnya itu. Jelas-jelas usaha pengecatan rambut yang gagal.”

Untuk membantu mereka, Joel melepas kacamata kulit penyu milik Giovanni.

Lima menit kemudian, seorang lelaki tipe satpam dengan wajah serius dan setelan jas yang kualitasnya jauh di bawah rata-rata mendekatinya entah dari mana dan berkata, “Mr. Lazzeri, Anda bersedia ikut saya?”

Mereka naik lift pribadi ke lantai tiga, tempat Marco dibawa masuk ke ruangan kecil dengan dinding-dinding tebal. Semua dinding memang tampak lebih tebal di Rhineland Bank. Dua petugas keamanan sudah menunggu. Salah satunya bahkan tersenyum, tapi yang lain tidak. Mereka meminta Marco meletakkan kedua tangannya di atas alat .pemindai sidik jari biometrik. Alat ini akan membandingkannya dengan sidik jari yang sudah diberikannya hampir tujuh tahun lalu, di tempat yang sama, dan bila keduanya cocok, akan terlihat lebih banyak senyuman, lalu ruangan yang lebih menyenangkan dan lobi yang lebih menyenangkan,

sCtta ada tawaran kopi atau jus. Apa pun yang ^da kehendaki, Mt. Backman.

Ia meminta jus jeruk karena ia belum sarapan, petugas-petugas keamanan tadi kembali ke gua mereka. Mr. Backman sekarang dilayani oleh Elke, salah satu asisten Mr. Van Thiessen yang bertubuh sintal. “Beliau akan keluar sebentar lagi,” jelasnya. “Ia tidak mengharapkan Anda datang pagi ini.”

Yah, memang agak sulit membuat janji ketika bu hatus bersembunyi di kamar kecil. Joel tersenyum pada asisten itu. Marco tinggal sejarah sekarang. Akhirnya ia diistirahatkan setelah pelarian selama dua bulan penuh. Marco telah banyak sekali membantunya, menjaganya tetap bernapas, mengajarinya bahasa Italia mendasar, berjalan bersamanya berkeliling Treviso dan Bologna, dan memperkenalkannya kepada Francesca, wanita yang takkan segera dilupakannya.

Namun Marco juga bisa membuatnya terbunuh, jadi ia meninggalkan Marco di lantai tiga Rhineland Bank, sembari memandangi rumit sepatu stiletto Elke dan menunggu kedatangan bosnya. Marco sudah lenyap, tak akan kembali lagi.

Kantor Mikel Van Thiessen dirancang untuk menghantam tamu-tamunya dengan pukulan hook kanan yang kuat. Dengan permadani Persia yang amat lebar. Dengan kursi dan sofa kulit. Dengan meja kayu mahoni kuno yang tidak akan muat

di dalam sel Rudley. Dengan rangkaian peralatan dektronik yang boleh digunakannya kalau ia mau. Ia menemui Joel di pintu kayu ek dan mereka berjabat tangan sepantasnya, tapi tidak seperti dua kawan lama. Mereka hanya pernah bertemu satu kali.

Kalau Joel kehilangan tiga puluh kilogram berat badannya sejak pertemuan terakhir mereka, Van Thiessen malah bertambah hampir tiga puluh kilogram. Ia juga tampak lebih tua dan kelabu, tidak sesegar dan setajam bankir-bankir muda yang dilihat Joel di trem. Van Thiessen membawa kliennya ke kursi-kursi kulit, sementara Elke dan asisten yang lain sibuk menyiapkan kopi dan kue-kue.

Ketika mereka tinggal berdua saja, dengan pintu tertutup rapat, Van Thiessen berkata, “Saya membaca banyak hal tentang Anda.”

“Oh, begitu. Dan apa yang kaubaca?”

“Menyogok Presiden untuk imbalan kebebasan? Ayolah, Mr. Backman. Apakah memang semudah itu di sana?”

Joel tidak yakin orang ini bergurau atau tidak. Suasana hatinya sedang tidak bersemangat, dan ia tidak ingin bersilat lidah.

“Aku tidak menyogok siapa pun, kalau itu yang kaumaksud.”

“Yah, yang jelas koran-koran penuh dengan spekulasi.» Nadanya lebih menuduh daripada main-mam. r

joel memutuskan untuk tidak membuang-buang ^aktu. “Kau percaya semua yang kaubaca di

koran?”

“Tentu saja tidak, Mt. Backman.” “Aku datang kemari untuk tiga alasan. Aku mau akses ke kotak penyimpananku. Aku mau meneliti rekeningku. Aku mau menarik sepuluh ribu dolar tunai. Setelah itu, aku mungkin masih menginginkan satu-dua bantuan.”

Van Thiessen menjejalkan kue kering ke dalam mulurnya dan mengunyah dengan cepat. “Ya, tentu saja. Kurasa tidak ada masalah dalam hal itu.” “Mengapa harus ada masalah?” “Bukan masalah, Sir. Saya hanya perlu waktu beberapa menit.” “Untuk apa?”

“Saya perlu berkonsultasi dengan kolega saya.”

“Bisakah kau melakukannya dengan cepat?”

Van Thiessen nyaris melesat dari ruangan dan membanting pintu di belakangnya. Nyeri di perut Joel bukan karena lapar. Kalau roda-rodanya mulai lepas sekarang, ia tidak punya rencana cadangan, la harus keluar dari bank ini tanpa membawa apa pun, berharap bisa menyeberang ke Paradeplatz

untuk naik trem, dan sesudah itu ia tidak punya

tempat tujuan. Pelariannya akan berakhir. Marco

akan kembali, padahal Marco pada akhirnya akan

membuatnya terbunuh.

Ketika waktu mendadak berhenti, ia memikirkan pengampunan hukuman tersebut. Dengan abolisi : itu, ia benar-benar membuka halaman baru, Pemerintah AS tidak bisa memaksa Swiss membeku- 1 kan rekeningnya. Swiss tidak pernah membekukan 1 rekening! Swiss imun dari segala paksaan! Itu sebab- 1 nya bank-bank mereka penuh dengan jarahan dari 1 segala penjuru dunia.

Ini Swiss!

Elke memanggil dan meminta Joel mengikutinya ke lantai bawah. Di hari-hari lain, ia mau saja mengikuti Elke ke mana pun, tapi sekarang hanya ke lantai bawah.

Ia pernah masuk ke lemari besi pada kunjungan sebelumnya. Letaknya di bawah tanah, turun beberapa tingkat, walaupun para klien tak pernah tahu sedalam apa mereka turun ke bawah tanah Swiss. Semua pintu sekitar tiga puluh sentimeter tebalnya, semua dinding tampak terbuat dari timah, semua langit-langit penuh dengan kamera pengintai. Elke menyerahkan Joel kepada Van Thiessen lagi.

Kedua ibu jarinya di-scan untuk mencocokkan sidik tari. Pemindai optis memotret wajahnya. “Nomor tujuh,” ujar Van Thiessen sambil menunjuk. “Saya akan menunggu di sana,” katanya, lalu keluar dari ptmu,

loel menyusuri lorong pendek, melewati enam

P1MU g ^jendela, sampai tiba di pintu ke

tujuh. Ia menekan tombol, segala sesuatu bergerak dan mengeluarkan bunyi ceklikan di dalam, lalu pintu pun terbuka. Ia masuk, dan Van Thiessen sudah menunggunya.

Ruangan tersebut tak sampai dua meter persegi luasnya, dengan tiga dinding berisi lemari-lemari besi pribadi, kebanyakan tak lebih besar daripada kotak sepatu. “Nomor lemari besi Anda?” tanya Van Thiessen. “L2270.” “Benar.”

Van Thiessen melangkah ke sebelah kanan, sedikit metunduk di depan L2270. Di keypad lemari besi itu ia memencet beberapa nomor, lalu menegakkan tubuh dan berkata, “Silakan.”

Di bawah pengamatan tajam Van Thiessen, Joel maju mendekati lemari besinya dan memasukkan nomor kode. Sembari melakukannya, ia membisikkan angka-angka yang selamanya terpatri dalam ingatan, “Delapan puluh satu, lima puluh lima, sembilan puluh empat, sembilan puluh tiga, dua puluh tiga” Lampu hijau kecil berkedip-kedip di keypad. Van Thiessen tersenyum dan berujar, “Saya akan menunggu di depan. Bunyikan bel bila Anda sudah selesai.”

Saat akhirnya sendiri, Joel mengambil kotak baja dati lemari besinya dan membuka tutupnya. Diambilnya amplop berlapis tebal dan dibukanya.

Di dalamnya terdapat empat disk Jaz berkapasitas dua gigabyte yang dulu pernah bernilai satu miliar dolar.

Ia mengambil waktu sejenak, tapi tak lebih dari enam puluh detik. Toh ia aman saat ini, dan kalau ingin merenung, apa ruginya?

Ia memikirkan Safi Mirza, Fazal Sharif, dan Farooq Khan, pemuda-pemuda brilian yang menemukan Neptunus, yang kemudian menyusun rangkaian besar perangkat lunak untuk memanipulasi sistem tersebut. Mereka semua sudah mati sekarang, terbunuh oleh keserakahan yang naif dan kesalahan memilih ahli hukum. Ia memikirkan Jacy Hubbard, bajingan kasar yang karismatik dan banyak bicara, yang telah mengelabui para pemilik hak suara sepanjang kariernya dan akhirnya menjadi terlalu serakah. Ia memikirkan Carl Pratt, Kim Boling, dan belasan rekanan yang direngkuhnya ke dalam biro mereka yang makmur, dan hidup mereka yang diluluhlantakkan benda yang sekarang berada di tangannya. Ia memikirkan Neal dan aib yang disebabkan ayahnya ketika skandal itu menyebar ke seluruh penjuru Washington dan penjara tak sekadar kepastian, tapi bahkan menjadi tempat perlindungan.

Dan ia memikirkan dirinya sendiri, bukan dalam arti egois, bukan untuk mengasihani diri, bukan untuk mengalihkan beban kesalahan ke

pundak orang lain. Betapa berantakan hidup yang dijalaninya, sejauh ini, paling tidak Meskipun ia ingin sekali kembali dan melakukannya dengan cara berbeda, ia tidak punya waktu untuk memanjakan diri dengan pikiran-pikiran itu. Hidupmu tinggal beberapa tahun lagi, Joel, atau Marco, atau Giovanni, atau, persetan, siapa pun namamu. Untuk pertama kalinya dalam hidupmu yang busuk ini, bagaimana kalau kau melakukan apa yang benar, bukan apa yang menguntungkan?

Dimasukkannya disk-disk itu ke dalam amplop, lalu amplop itu masuk ke koper, dan dikembalikannya kotak baja itu ke lemari besi. Ia memencet bel memanggil Van Thiessen.

Kembali di kantornya, yang hebat, Van Thiessen memberikan map dengan selembar kertas di dalamnya. “Ini ringkasan laporan rekening Anda,” ia memberitahu. “Sangat sederhana. Seperti Anda ketahui, tidak ada aktivitas selama ini.”

“Kalian hanya memberikan bunga satu persen,” kata Joel.

“Anda mengetahui tingkat bunga kami ketika membuka rekening ini, Mr. Backman.” “Ya, aku tahu.”

“Kami melindungi uang Anda dengan cara-cara ain.

“Tentu saja.” Joel menutup map itu dan mengembalikannya. “Aku tidak ingin menyimpannya. Kau sudah mengambil uangnya?” ” “Ya, sedang dibawa ke atas.” “Bagus. Aku memerlukan beberapa hal lagi.” Van Thiessen mengambil notes dan siap sedia dengan penanya. “Ya,” ucapnya.

“Aku ingin mengirim seratus ribu ke bank di Washington D. C. Kau bisa merekomendasikan salah satu bank?”

“Tentu. Kami bekerja sama dengan Maryland Trust.”

“Bagus, kirim uangnya ke sana, dan dengan perintah kawat bukalah rekening tabungan biasa. Aku ridak akan menulis cek, hanya mengambil dana.”

“Atas nama siapa?”

“Joel Backman dan Neal Backman.” Ia mulai terbiasa dengan namanya lagi, tidak merunduk berlindung ketika mengucapkannya. Tidak menciut ketakutan, menunggu bunyi tembakan. Ia menyukai perasaan itu.

“Baik,” kata Van Thiessen. Tidak ada yang mustahil.

“Aku minta bantuan untuk kembali ke Amerika. Dapatkah asistenmu mencarikan jadwal penerbangan ke Philadelphia dan New York?”

“Tentu saja. Kapan, dan dari mana?”

“Hari ini, secepat mungkin. Aku ingin menghin-

dari bandara di sini. Kalau naik mobil, berapa jauh Munich dari sini?”

“Dengan mobil, tiga atau empat jam.”

“Dapatkah kau menyediakan mobil?”

“Saya yakin kami bisa mengaturnya.”

“Aku lebih suka keluar dari ruang bawah tanah gedung ini, dengan mobil yang dikemudikan seseorang yang tidak berpakaian seperti sopir. Jangan pakai mobil hitam, pokoknya yang tidak menarik perhatian.”

Van Thiessen berhenti menulis dan melontarkan pandangan bingung. “Apakah Anda dalam bahaya, Mr. Backman?”

“Mungkin. Aku tidak yakin, dan aku tidak mau ambil risiko.”

Van Thiessen merenungkannya sesaat, lalu berkata, “Anda ingin kami memesan tempat dalam penerbangan itu?”

“Ya.”

“Kalau begitu, saya perlu melihar paspor Anda.”

Joel mengeluarkan paspor pinjaman Giovanni Van Thiessen meneutinya untuk waktu lama, wajah kalem ala bankirnya tidak bisa menyembunyikan ekspresi sebenarnya. Ia bingung dan khawatir. Akhirnya ia berkata, “Mr. Backman, Anda akan bepergian menggunakan paspor orang lain.”

“Benar.”

“Masih.”

“Saya menganggap Anda tidak punya paspor.” “Mereka dulu mengambilnya.” “Bank ini tidak ingin mengambil bagian dalam tindakan kriminal. Kalau paspor ini dicuri—” “Aku menjamin paspor ini tidak dicuri.” “Lalu bagaimana Anda—” “Katakan saja itu pinjaman, oke?” . “Tapi menggunakan paspor orang lain adalah pelanggaran hukum.”

“Tak perlulah kita memusingkan diri dengan kebijakan keimigrasian Amerika Serikat, Mr. Van Thiessen. Ambilkan saja jadwal penerbangan itu. Aku yang akan memilin waktunya. Asisten Anda bisa melakukan pemesanan atas nama bank Potong saja dari rekeningku. Carikan mobil dan sopir untukku. Potong dari rekeningku juga, kalau itu maumu. Semua sederhana saja.”

Ini toh cuma paspor. Masa bodoh, klien-klien lain bahkan memiliki tiga atau empat paspor. Van Thiessen mengembalikan paspor itu pada Joel dan berkata, “Baiklah. Ada yang lain?”

“Aku perlu akses Internet, Aku yakin komputer-komputermu aman.” “Tentu saja.”

inilah isi e-mailnya pada Neal:

Grinch—Dengan sedikit keberuntungan, aku akan tiba di AS malam ini. Beli ponsel baru hari ini juga. Jangan biarkan hilang dari pandanganmu. Besok pagi, teleponlah Hilton, Marriott, dan Sheraton, di pusat kota Washington. Minta bicara dengan Giovanni Ferro. Itu aku. Telepon Carl Pratt pagi ini juga, dengan telepon baru. Desaklah agar Senator Clayburn datang ke D.C. Kita akan membayar pengeluarannya. Katakan ini sangat mendesak. Sebagai bantuan untuk kawan lama. Jangan sampai ia bilang tidak. Jangan ada e-mail lagi sampai aku pulang. Marco

Setelah makan sandwich dan rninum cola di kantor Van Thiessen, Joel Backman meninggalkan gedung bank itu dengan sedan BMW hijau cerah yang melaju cepat. Demi amannya, ia menutupi wajahnya dengan koran Swiss sampai mereka tiba di autobahn. Sopirnya bernama Franz. Franz menganggap dirinya calon pengemudi Formula 1, dan ketika diberitahu bahwa Joel sedang terburu-buru, Franz masuk ke jalur cepat dan melaju 150 kilometer per jam.

32

Pada pukul 13.55, Joel Backman duduk di kursi lebar yang mewah di kabin kelas satu 747 Lufthansa, sementara pesawat itu mulai mundur dari gerbang keberangkatan bandara Munich. Sesudah pesawat itu mulai bergerak, barulah ia berani mengangkat gelas sampanye yang selama sepuluh menit terakhir hanya dipandanginya. Gelas itu sudah kosong sebelum pesawat berhenti di landasan untuk pengecekan terakhir. Sewaktu roda-roda terangkat dari aspal, Joel memejamkan mata dan mengizinkan diri menikmati mewahnya beberapa jam yang penuh kelegaan.

Di pihak lain, dan pada saat yang bersamaan, pukul 07.55 Eastern Standard Time, putranya sedang ter-

W hingga taraf ingin melempar barang-barang gangnya bagaimana ia bisa membeli ponsei Lu sesegera mungkin, lalu menelepon Carl Pratt , i dan menagih piutang budi yang tidak pernah ada, dan entah bagaimana membujuk pensiunan senator tua yang pemarah dari Ocracoke, North Carolina, agar mau meninggalkan apa pun yang sedang dikerjakannya untuk secepatnya datang kembali ke kota yang terang-terang dibencinya serengah mati? Belum lagi memikirkan sesuatu yang ada di depan mata: Ia, Neal Backman, punya banyak pekerjaan di kantor. Tidak ada yang lebih mendesak ketimbang menyelamatkan ayahnya yang bandel, tapi tetap saja agendanya penuh dengan klien-klien dan banyak hal penting lainnya.

Ia meninggalkan Jerry’s Java, rapi bukannya pergi ke kantornya, ia malah pulang ke rumah. Lisa sedang memandikan putri mereka dan terkejut melihat Neal. “Ada apa?” tanya istrinya. “Kita harus bicara. Sekarang.” Neal memulai penuturannya dengan surat misterius yang berprangko York, Pennsylvania, berlanjut ke pinjaman empat ribu dolar, meski ******* kemudian smaryhone, e-mail rahasia, dan p**£ cerita selengkapnya. Lisa menanggapi V tenang, yang membuatnya lega- ^

“Seharusnya kau memberitahuku, cuma sekali.

“Ya, dan aku minta maaf.” Tidak ada pertengkaran, tidak ada perdebatan. Kesetiaan memang sifat Lisa yang paling utama, dan ketika ia berkata, “Kita harus membantunya,” Neal pun memeluknya.

“Ia akan mengembalikan uangnya,” Neal meyakinkan istrinya.

“Soal uang kita pikirkan nanti saja. Apakah ia dalam bahaya?” “Kurasa begitu.” “Oke, apa langkah pertama?” “Telepon kantor dan bilang pada mereka, aku kena flu.”

Seluruh percakapan mereka, secara langsung dan lengkap, tertangkap rnikrofon mungil yang ditanam Mossad di firing lampu di atas tempat mereka duduk. Mikrofon itu terhubung ke pemancar yang tersembunyi di bawah atap, dan dari sana diteruskan ke alat penerima frekuensi tinggi, empat ratus meter jauhnya di ruang perkantoran yang jarang digunakan, yang baru-baru ini disewa oleh seorang pria dari D.C. Di sana, teknisi mendengarkan percakapan itu dua kali, lalu cepat-cepat mengirim e-mail kepada agen lapangan di Kedutaan Israel di Washington.

Sejak lenyapnya Backman di Bologna lebih dari

24 jam sebelumnya, mikrofon-mikrofon yang ditanam di sekitar putranya dimonitor dengan lebih saksama.

E-mail ke Washington itu disudahi dengan kalimat “JB mau pulang.”

Untung saja, Neal tidak menyinggung-nyinggung nama “Giovanni Ferro” dalam pembicaraannya dengan Lisa. Namun sayangnya, ia menyebut dua dari tiga hotel yang disepakati—Marriott dan Sheraton.

Kepulangan Backman diberi prioritas setinggi mungkin. Sebelas agen Mossad yang ditempatkan di Pantai Timur, semua diperintahkan pergi ke D.C. saat itu juga.

Lisa mengantar putri mereka ke rumah ibunya, lalu ia dan Neal melaju cepat ke selatan, menuju Charlottesville, tiga puluh menit dari sana. Di pusat pertokoan sebelah utara kota, mereka menemukan kantor U.S. Cellular. Mereka membuka rekening, membeli telepon, dan dalam tiga puluh menit sudah kembali ke jalan. Lisa mengemudi, sementara Neal berusaha menemukan Carl Pratt.

Dengan bantuan sejumlah besar sampanye dan anggur, Joel berhasil tidur selama beberapa jam ketika menyeberangi Adantik. Sewaktu pesawat mendarat

di JFK pada pukul 16.30, sikap santainya hilang, digantikan ketidakpastian dan dorongan untuk selalu menengok ke belakang.

Di imigrasi, pada mulanya ia berdiri di antrean warga negara Amerika yang kembali ke negaranya, antrean yang lebih pendek. Mendadak ia teringat, melirik kiri-kanan, berbisik menyumpah-nyumpah sendiri, lalu pindah ke antrean warga negara asing.

Betapa bodoh dirinya.

Bocah berseragam berleher besar dari Bronx berteriak menyuruh orang-orang berbaris di antrean ini, bukan yang itu, dan jangan lambat-lambat. Selamat datang di Amerika. Beberapa hal tidak membuatnya rindu kampung halaman.

Petugas pemeriksa paspor mengerutkan kening mengamari paspor Giovanni, tapi ia mengerutkan kening pada yang lain juga. Joel sudah mengamatinya lekat-lekat dari balik kacamata hitam murahan.

“Tolong lepas kacamata Anda?” ujar petugas itu.

“Certamente,” jawab Joel keras-keras, ingin membuktikan ke-Italia-annya. Dilepasnya kacamata tersebut, menyipit seolah silau, lalu digosoknya matanya sementara petugas itu berusaha melihat wajahnya Dengan enggan, ia memberikan cap di paspor itu dan mengembalikannya tanpa sepatah

kata pun. Tanpa barang yang harus dilaporkan, petugas pabean nyaris tidak memerhatikannya. Joel berjalan cepat di terminal dan menemukan antrean taksi di pangkalan. “Penn Station,” ujarnya. Sopir taksi itu mirip Farooq Khan, yang paling muda dari tiga pemuda Pakistan itu, masih bocah, dan Joel mengamatinya dari bangku belakang sambil menarik kopernya lebih dekat.

Sesudah 45 menit melewati lalu lintas jam padat, ia akhirnya tiba di Penn Station. Ia membeli tiket Amtrak ke D.C., dan pada pukul 19.00 meninggalkan New York menuju Washington.

Taksi itu diparkir di Brandywine Street di barat laut Washington. Saat itu hampir pukul sebelas malam, dan sebagian besar rumah bagus itu sudah gelap. Backman berbicara pada si sopir, yang sudah menyesuaikan kursinya dan siap tidur sejenak.

Mrs. Pratt sudah berada di ranjang dan sedang berusaha tidur ketika mendengar bel pintu. Ia mengambil mantel kamar dan segera turun. Suaminya sering tidur di kamar bawah tanah, terutama karena ia mendengkur, tapi juga karena ia rerlalu banyak minum dan menderira insomnia. Istrinya beranggapan suaminya ada di sana.

“Siapa?” tanya Mrs. Pratt melalui interkom.

“Joel Backman,” begitu jawaban yang terdengar,

dan Mrs. Pratt menganggap ada yang berolok-olok. “Siapa?”

“Donna, ini aku, Joel. Sungguh. Buka pintunya.”

Mrs. Pratt mengintip dari lubang pintu dan tidak mengenali orang asing itu. “Tunggu sebentar,” katanya, lalu lari ke bawah tanah tempat Cari sedang menonton berita televisi. Semenit kemudian Cari sudah berdiri di pintu, mengenakan sweter Duke dan membawa pistol.

“Siapa itu?” tanyanya melalui interkom. “Cari, ini aku, Joel. Singkirkan pistol dan buka pintunya.”

Suara itu tidak mungkin keliru. Ia membuka pintu dan Joel Backman masuk kembali ke kehidupannya, mimpi buruk itu datang menghantui lagi. Tanpa pelukan, tanpa jabatan tangan, nyaris tanpa senyuman. Pasangan Pratt memandanginya sambil membisu karena ia tampak begitu berbeda— jauh lebih kurus, rambutnya lebih gelap dan lebih pendek, pakaiannya asing. Ia mendapat pertanyaan “Apa yang kaulakukan di sini?” dari Donna.

“Pertanyaan bagus,” sahutnya tenang. Kemenangannya adalah karena ia punya waktu untuk menyusun rencana. Mereka benar-benar tidak siap. “Kau mau menyingkirkan pistol itu?”

Pratt meletakkan pistolnya di meia kecil.

“Kau sudah bicara dengan Neal?” tanya Backman.

“Sepanjang hari.”

“Ada apa ini, Cari?” tanya Donna.

“Kita bisa bicara? Untuk itulah aku datang kemari. Aku tidak memercayai telepon lagi.”

“Bicara apa?” tuntut Donna.

“Kau mau membuatkan kopi untuk kami, Donna?” pinta Joel sopan.

“Tak sudi.”

“Ya sudah.”

Cari menggosok-gosok dagunya, menilai siruasi. “Donna, kami perlu bicara berdua. Urusan biro hukum lama. Nanti kuterangkan padamu.”

Donna melemparkan pandangan tajam pada mereka yang jelas-jelas mengatakan, Pergilah ke neraka, lalu dengan langkah ribut naik ke lantai atas. Mereka masuk ke ruang kerja. Cari berkata, “Kau mau minum?”

“Ya, yang keras.”

Cari menghampiri bar kecil di sudut dan menuangkan mab—dobel. Diberikannya segelas pada Joel dan tanpa mengupayakan senyum ia berkata, “Cheers.”

“Cheers. Senang bertemu denganmu, Cari.” “Jelas senang. Seharusnya kau tidak bertemu siapa-siapa lagi sampai empat belas tahun menda-

“Menghitung hari, ya?”

“Kami masih membersihkan kotoran yang kautinggalkan, Joel. Banyak orang baik ikut dirugikan. Maaf kalau aku dan Donna tidak terlalu gembira melihatmu. Kurasa tidak banyak orang di kota ini yang menyambutmu dengan pelukan.” “Kebanyakan malah ingin menembakku.” Cari melirik pistolnya dengan waspada. “Aku tidak bisa terlalu memikirkan hal itu,” lanjut Backman. “Tentu saja aku ingin kembali dan mengubah beberapa hal, tapi aku tidak memiliki kemewahan itu. Aku sedang kabur menyelamatkan nyawaku, Cari, dan aku butuh bantuan.” “Barangkali aku tidak ingin terlibat.” “Aku tidak bisa menyalahkanmu. Tapi aku perlu bantuan, bantuan besar. Tolong aku sekarang, dan aku berjanji tidak akan pernah muncul di depan pintumu lagi.” “Aku akan menembakmu lain kali.” “Di mana Senator Clayburn? Katakan dia masih hidup.”

“Ya, masih segar bugar. Dan kau beruntung.” “Apa?”

“Ia ada di sini, di D.C.” “Kenapa?”

“Hollis Maples pensiun, setelah seratus tahun mendekam di Senat. Mereka mengadakan pesta

besar-besaran untuknya malam ini. Semua teman j lama ada di sini.”

“Maples? Bukankah ia sudah ngiler di atas supnya sepuluh tahun lalu?”

“Well, sekarang ia sudah tidak bisa melihat supnya lagi. Ia dan Clayburn akrab sekali.” “Kau sudah bicara pada Clayburn?” “Ya.” “Dan?”

“Mungkin sulit, Joel. Ia tidak senang mendengar J namamu. Menyinggung-nyinggung soal ditembak karena mengkhianati negara.”

‘Terserah. Katakan padanya ia bisa jadi perantara kesepakatan yang akan membuatnya merasa seperti patriot.”

“Kesepakatan apa?”

“Aku punya perangkat lunaknya, Cari. Seluruhnya. Baru kuambil tadi pagi dari lemari besi di bank di Zurich, tempatnya mendekam selama lebih dari enam tahun. Kau dan Clayburn datang ke kamar hotelku besok pagi, dan akan kutunjukkan barangnya pada kalian.”

“Aku tidak terlalu kepingin melihatnya.”

“Ya, kau mau.”

Pratt menenggak dua ons scotch. Ia berjalan ke bar dan mengisi lagi gelasnya, menenggak dosis yang mematikan, lalu berujar, “Kapan dan *

mana?”

mana?

“Marriott di Twenty-second Street. Kamar lima dua puluh. Jam sembilan pagi.”

“Kenapa, Joel? Kenapa aku harus terlibat?” “Bantuan untuk kawan lama.” “Aku tidak berutang budi padamu. Dan kawan lama itu sudah pergi sejak dulu.”

“Kumohon, Cari. Bawalah Clayburn, dan kau tidak perlu ikut-ikut lagi mulai tengah hari besok. Aku berjanji kau tidak akan pernah melihatku lagi.”

“Penawaran yang sangat menggoda.”

Ia meminta sopir tidak tergesa-gesa. Mereka melaju di wilayah Georgetown, menyusuri K Street, dengan restoran-restoran yang buka larut malam dan bar-bar serta tempat-tempat nongkrong mahasiswa yang penuh dengan manusia yang sedang bersenang-senang. Saat itu tanggal 22 Maret dan musim semi menjelang. Temperatur sekitar 65 dan para mahasiswa ingin terus berada di luar, bahkan pada tengah malam.

Taksi itu melambat di persimpangan I Street dan 14th, dan Joel bisa melihat gedung kantornya yang lama di kejauhan, di New York Avenue. Di suatu tempat di sana, di lantai paling atas, ia pernah memimpin kerajaan kecilnya, dengan budak-budak berlarian di belakangnya, melompat

siaga begitu diberi perintah. Bukan saat-saat yang penuh nostalgia. Sebaliknya, ia dipenuhi penyesalan atas hidup tak berharga yang disia-siakan dengan memburu uang, membeli persahabatan, wanita, serta mainan apa pun yang diinginkan jagoan hebat. Taksi mereka terus melaju, melewati deretan gedung yang tak terhitung jumlahnya, kantor pemerintah di satu sisi, para pelobi di sisi lain.

Ia meminta sopir pergi dari sana, mencari pemandangan yang lebih menyenangkan. Mereb berbelok ke Constitution Avenue dan menyusuri Mali, melewati “Washington Monument. Putrinya yang bungsu, Anna Lee, bertahun-tahun lalu pernah memohon padanya agar diajak jalan-jalan di Mali pada musim semi, seperti teman-teman sekelasnya. Ia ingin melihat Mr. Lincoln dan menghabiskan sepanjang hari di Smithsonian. Joel berjanji dan berjanji terus hingga Anna Lee pergi. Sekarang ia ada di Denver, pikir Joel, memiliki anak yang tidak pernah dilihatnya.

Sementara kubah Capitol semakin debt, mendadak Joel merasa muak Perjalanan menyusuri jalan kenangan ini amat menekan. Kenangan-kenangan dalam hidupnya terlalu tidak menyenangkan.

“Antarkan aku ke horel,” katanya.

33

Neal membuat kopi teko pertama, lalu keluar k serambi batu bata yang sejuk dan mengagumi keindahan fajar musim semi.

Kalau benar ayahnya sudah tiba kembali di D.C, ia pasti tidak sedang tidur pada pukul setengah tujuh pagi. Semalam, Neal sudah menyimpan nomor telepon hotel-hotel Washington di pon-seJ barunya, dan ketika matahari terbit, ia mulai dengan Sheraron. Tidak ada nama Giovanni Ferro. Kemudian Marriott.

“Tolong tunggu sebentar,” ujar operator, lalu telepon kamar mulai berdering. “Halo,” terdengar suara yang dikenalnya. “Dengan Marco?” tanya Neal. “Ini Marco. Ini Grinch?” “Benar.”

“Di mana kau sekarang?” “Berdiri di serambi, menunggu matahari terbit.” “Dan telepon apa yang kaugunakan?” “Motorola baru yang kukantongi terus sejak kubeli kemarin.” “Kau yakin teleponmu aman?” “Ya.”

Hening sejenak sementara Joel menghela napas dalam-dalam. “Senang mendengar suaramu, Nak”

“Aku juga senang mendengarmu. Bagaimana perjalananmu?”

“Seru sekali. Bisakah kau pergi ke Washington?”

“Kapan?”

“Hari ini, pagi ini.”

“Bisa, semua orang mengira aku kena flu. Urusan dengan kantor beres. Kapan dan di mana?”

“Datanglah ke Marriott di Twenty-second Street. Masuklah ke lobi pada pukul delapan empat lima, naik lift ke lantai enam, lalu turun lewat tangga ke lantai lima. Kamar lima dua puluh.”

“Semua itu perlu?”

“Percayalah. Kau bisa menggunakan mobil -lain?”

“Entahlah. Aku tidak yakin siapa—” “Ibu Lisa. Pinjam mobilnya, pastikan kau tidak dibuntuti. Begitu sampai di kota, parkirlah di garasi di Sixteenth, lalu berjalanlah ke Marriott. Awasi belakangmu setiap saat. Kalau kau melihat

sesuatu yang mencurigakan, telepon aku, dan kita akan batalkan semuanya.”

Neal melayangkan pandangan ke seluruh penjuru kebun belakangnya, setengah berharap melihat agen-agen berpakaian hitam menghambur ke arahnya. Dari mana ayahnya tahu trik-trik rahasia ini? Selama enam tahun di penjara, barangkali? Ribuan novel spionase? iffSe*?

“Kau mengerti?” bentak Joel.

“Yeah, tentu saja. Aku akan segera berangkat.”

Ira Clayburn tampak seperti orang yang telah melewatkan sepanjang hidupnya memancing di atas perahu, bukannya mengabdi selama 34 tahun di Senat Amerika Serikat. leluhurnya memancing di Outer Banks, North Carolina, di sekitar rumah mereka di Ocracoke, selama seratus tahun. Nasib Ira juga akan sama, tapi guru matematikanya di kelas enam kemudian mengetahui ia memiliki IQ yang luar biasa. Beasiswa ke Chapel Hill mengentaskannya dari rumah. Satu beasiswa lagi ke Yale memberinya gelar master. Yang ketiga, ke Stanford, menyematkan titel “Doktor” di depan namanya. Ia sudah menjadi dosen ekonomi di Davidson ketika bersedia berkompromi memenuhi janji temu di Senat, untuk mengisi posisi kosong yang masa jabatannya belum habis. Dengan enggan

I ia kemudian mengajukan diri untuk masa jabatan ! penuh, dan selama tiga puluh tahun sesudahnya j ia berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan Washington. Pada usia 71 tahun, akhirnya ia pun j pergi. Ketika mengundurkan diri dari Senat, ia j membawa pengetahuan tentang intelijen AS yang tak bisa ditandingi politisi mana pun. Ia setuju pergi ke Marriott bersama Carl Pratt, 1 kawan lamanya dari klub tenis, hanya untuk memuaskan rasa penasatannya. Misteri Neptunus itu tidak pernah terpecahkan, sejauh pengetahuannya. Namun ia memang sudah betada di luar lingkaran selama lima tahun terakhir, menghabiskan seluruh i waktunya dengan memancing setiap hari, dengan I gembira membawa kapalnya berburu ikan di perairan Hatteras hingga Cape Lookout.

Selama masa senja kariernya di Senat, ia mengamati Joel Backman bergabung dalam barisan panjang pelobi kelas kakap yang telah menyempurnakan seni memuntir lengan untuk memeras upah tinggi. Ia meninggalkan Washington ketika Jacy Hubbard, salah saru ular kobra itu, mendapatkan ganjaran yang setimpal dari ditemukan mati.

Ia tidak punya urusan dengan bajingan-bajingan sejenis itu.

Ketika pintu kamar 520 terbuka, ia masuk di belakang Cari Partt dan berhadapan dengan si setan.

Namun setan ini cukup sopan, sangat berterima kasih, benar-benar manusia yang berbeda. Penjara.

Joel memperkenalkan dirinya dan putranya, Neal, kepada Senator Clayburn. Tangan-tangan berjabatan sepantasnya, ucapan terima kasih dilontarkan sewajarnya. Meja di suite kecil itu penuh dengan kue, kopi, dan jus. Empat kursi telah disiapkan dalam lingkaran longgar, dan mereka pun duduk.

“Ini semestinya tidak akan makan waktu lama,” ujar Joel. “Senator, aku membutuhkan bantuan Anda. Aku tidak tahu seberapa banyak yang Anda ketahui tentang urusan kacau yang mengirimku ke penjara selama beberapa tahun…”

“Aku tahu garis besarnya, tapi selalu ada pertanyaan-pertanyaan.” “Aku yakin aku mengetahui jawabannya.” “Sistem satelit itu milik siapa?” Joel tidak sanggup duduk diam. Ia berjalan ke jendela, tidak melihat apa-apa, lalu menghela napas dalam-dalam. “Sistem itu dibuat oleh Cina Komunis, dengan anggaran astronomi. Seperti yang Anda ketahui, Cina amat tertinggal dari kita dalam hal persenjataan konvensional, jadi mereka menghabiskan banyak uang untuk teknologi tinggi. Mereka mencuri beberapa teknologi kita, dan dengan sukses meluncurkan sistem itu—yang diberi nama Neptunus—tanpa sepengetahuan CIA.” “Bagaimana mereka melakukannya?”

“Dengan samaran teknologi rendah seperti kebakaran hutan. Mereka membakar delapan hektar lahan hutan pada suatu malam di provinsi utara. Kebakaran itu menciptakan asap tebal dan di balik itu mereka meluncurkan tiga roket, masing-masing berisi tiga satelit.”

“Rusia pernah melakukannya juga,” ujar Clayburn.

“Dan Rusia termakan tipuan mereka sendiri. Mereka juga tidak mengetahui keberadaan Neptunus—tidak ada yang tahu. Tak satu pihak pun di dunia tahu Neptunus ada sampai klien-klienku menemukannya dengan tak sengaja.”

“Mahasiswa-mahasiswa Pakistan itu.”

“Ya, dan ketiganya sudah mati sekarang.”

“Siapa yang membunuh mereka?”

“Kuduga agen-agen Cina Komunis.”

“Siapa yang membunuh Jacy Hubbard?”

“Sama.”

“Dan sedekat apa orang-orang iru denganmu sekarang?”

“Lebih dekat daripada yang kuharapkan.”

Clayburn meraih donat dan Pran menenggak habis segelas jus jeruk. Joel melanjutkan, “Aku memiliki perangkat lunaknya—JAM, begitu istilah mereka. Hanya ada satu kopi.”

“Yang mau kaujual dulu?” tanya Clayburn.

“Ya. Dan aku benar-benar ingin menyingkirkan-

nya sekarang. Ternyata benda ini mematikan, dan aku ingin, segera mengalihkannya ke tangan lain. Aku hanya tidak tahu siapa yang layak mendapatkannya.”

“Bagaimana dengan CIA?” tanya Pratt, karena ia belum mengucapkan apa-apa.

Clayburn sudah menggeleng-geleng tak setuju. “Aku tidak bisa memercayai mereka,” kata Joel. “Teddy Maynard mengusahakan pengampunan untukku supaya ia bisa duduk santai dan menonton orang lain membunuhku. Sekarang ada direktur interim.”

“Dan presiden baru,” timpal Clayburn. “CIA sedang berantakan sekarang ini. Aku tidak akan mau dekat-dekat mereka.” Dan dengan kalimat itu, Senator Clayburn melangkahi garis batas, menjadi penasihat, bukan lagi sekadar penonton yang ingin tahu.

“Pada siapa aku harus bicara?” tanya Joel. “Siapa yang bisa kupercaya?”

“DIA, Defense Intelligence Agency, Badan Intelijen Militer,” sahut Clayburn tanpa ragu-ragu. “Yang mengepalai Mayor Wes Roland, teman lamaku.”

“Sudah berapa lama ia di sana?”

Clayburn berpikir sejenak, lalu menjawab, “Sepuluh, mungkin dua belas tahun. Ia sangat berpengalaman, cerdas sekali. Dan orang terhormat.”

“Dan Anda bisa bicara padanya?” ‘Ya. Kami masih sering berhubungan.” “Ia tidak akan melapot pada Direktur CIA?” tanya Pratt.

“Ya, semua juga begitu. Saat ini paling sedikit ada lima belas badan intelijen—yang mati-matian kutentang selama dua puluh tahun—dan secara hukum mereka semua melapor pada CIA.”

“Jadi Wes Roland akan membawa apa pun yang kuberikan padanya dan melapor kepada CIA?” tanya Joel.

“Ia tidak punya pilihan lain. Namun ada beberapa cara untuk mengakalinya. Roland orang yang rasional, dan ia tahu cara memainkan politik Karena itulah ia bertahan selama ini.”

“Bisakah Anda mengatur pertemuan?”

“Ya, tapi apa yang akan terjadi pada pertemuan itu?”

“Aku akan melemparkan JAM padanya dan lari keluar dari gedung.”

“Dan sebagai imbalannya?”

“Ini kesepakatan yang mudah, Senator. Aku tidak menginginkan uang. Hanya bantuan kecil.”

“Apa?”

“Aku lebih suka membicarakannya sendiri dengannya. Anda juga menyaksikan di dalam ruangan, tentu saja.”

Tercipta jeda dalam pembicaraan ketika Clayburn

memandangi lantai dan menimbang-nimbang masalah tersebut. Neal menghampiri meja dan mengambil croissant. Joel menuang kopi lagi. Pratt, yang jelas menderita sakit kepala akibat kebanyakan minum, sekali lagi menenggak jus jeruk dari gelas tinggi.

Akhirnya, Clayburn bersandar di kursinya dan berkata, “Aku beranggapan hal ini sangat mendesak.”

“Lebih buruk daripada itu. Bila Mayor Roland bersedia, aku mau menemuinya sekarang juga. Di mana pun.”

“Aku yakin ia akan meninggalkan apa pun yang sedang dikerjakannya.” “Teleponnya ada di sana.”

Clayburn berdiri dan mendekati meja. Pratt berdeham dan berkata, “Oke, fellas, pada tahap permainan ini, aku mau keluar. Aku tidak mau dengar apa-apa lagi. Tidak mau jadi saksi, atau pembela, atau korban yang lain lagi. Jadi aku mohon diri, mau kembali ke kantor lagi.”

Ia tidak menunggu tanggapan. Dalam sekejap ia menghilang, dengan pintu berdebam tertutup rapat di belakangnya Mereka memandangi pintu selama beberapa saat, sedikit tertegun melihat kepergiannya yang mendadak.

“Cari yang malang,” ujar Clayburn. “Selalu takut pada bayangannya sendiri.” Ia meraih gagang telepon dan mulai bekerja.

Di tengah-tengah pembicaraan telepon keempat, dan telepon kedua ke Pentagon, Clayburn membekap gagang telepon dan betkata pada Joel, “Mereka memilih pertemuan di Pentagon.”

Joel sudah menggeleng-geleng. “Tidak. Aku tidak mau pergi ke sana membawa perangkat lunak itu sebelum ada kesepakatan. Aku akan menyimpannya dan memberikannya kepada mereka nanti, tapi aku tidak mau masuk ke sana membawa benda itu.”

Clayburn menyampaikan keberatan itu, lalu mendengarkan untuk waktu yang lama. Ketika tangannya menutup gagang telepon lagi, ia bertanya, “Perangkat lunak itu, dalam bentuk apa?” “Empat disk” jawab Joel. “Mereka harus memverifikasinya, kau mengerti?” “Oke, aku akan membawa dua disk ke Pentagon. Sekitar separonya. Mereka boleh melihatnya sebentar.”

Clayburn kembali bicara di telepon dan mengulangi syarat yang diajukan Joel. Sekali lagi, ia mendengarkan cukup lama, lalu bertanya pada Joel, “Kau mau memperlihatkan disk-disk itu padaku?”

“Ya.”

Ia membiarkan mereka menunggu sementara Joel mengambil kopernya. Diambilnya amplop itu, lalu empat disk, dan ditempatkannya semuanya di atas ranjang agar bisa dipeloroti Neal dan Clayburn. Clayburn kembali ke telepon dan berkata, “Aku

sedang melihat empat disk. Mr. Backman meyakinkanku bahwa itulah bendanya.” Ia mendengarkan selama beberapa menit, lalu memencet tombol tunggu lagi.

“Mereka ingin kita ke Pentagon sekarang juga,” ujarnya. “Mari.”

Clayburn meletakkan telepon dan berkata, “Situasi mulai sibuk di sana. Kurasa anak-anak itu bersemangat sekali. Kita berangkat sekarang?”

Ketika pintu termtup di belakang Clayburn, Joel segera mengumpulkan disk-disk tersebut dan menyelipkan dua ke dalam saku mantelnya. Dua yang lain—nomor tiga dan empat—dimasukkan lagi ke dalam koper, yang ia serahkan kepada Neal sambil berkata, “Setelah kami berangkat, pergilah ke meja resepsionis, dan mintalah kamar lain. Kau harus berkeras untuk check in saat itu juga. Telepon kamar ini, tinggalkan pesan untukku, dan beritahu aku di mana kau berada. Tetap diam di sana sampai kau mendapat kabar dariku.”

“Oke, Dad. Kuharap’ kau tahu apa yang kaulakukan.”

“Cuma bertransaksi, Nak Seperti dulu.”

Taksi menurunkan mereka di areal parkir selatan Pentagon, dekat perhentian Metro. Dua anggota

staf Mayor Roland yang berseragam sudah menunggu dengan surat pengantar dan instruksi. Kedua orang itu mengantar mereka melalui pos penjagaan dan foto mereka diambil untuk ditempatkan di kartu identitas sementara. Selama itu Clayburn mengeluh tentang betapa mudahnya prosedur itu di masa lalu.

Masa lalu atau bukan, ia sudah melakukan transisi cepat dari kritikus skeptis menjadi pemain utama, dan ia terlibat penuh dalam rencana Backman. Sewaktu mereka menyusuri koridor lebar di lantai dua, ia mengenang tentang betapa sederhana kehidupan dulu ketika hanya ada dua kekuatan adidaya. Kita selalu’berhadapan dengan Soviet. Pihak lawan selalu mudah diidentifikasi.

Mereka naik tangga ke lantai tiga, Sayap C, dan digiring dua anggora staf itu melalui beberapa pintu dan menuju sekelompok ruang kerja tempat mereka sudah dinantikan kedatangannya. Mayor Roland sendiri sudah berdiri, menunggu. Usianya sekitar enam puluh tahun, sosoknya masih ramping dan prima dalam balutan seragam khakinya. Perkenalan dilakukan, dan ia mengundang mereka semua masuk ke ruang rapat. Di salah satu ujung meja yang panjang dan lebar, terdapat tiga teknisi yang sedang sibuk memeriksa komputer besar yang tampak baru saja dibawa masuk ke sana.

Mayor Roland meminta kesediaan Joel mengizin-

kan dua asistennya hadir dalam pertemuan mereka. Tentu saja. Joel tidak keberatan.

“Anda keberatan kalau kita merekam pertemuan ini dengan video?” tanya Roland.

“Untuk apa?” tanya Joel.

“Hanya merekamnya dalam film kalau-kalau ada orang di atas yang ingin melihatnya.” “Misalnya?” “Mungkin Presiden.”

Joel menoleh pada Clayburn, satu-satunya temannya di ruangan itu, teman dengan ikatan yang lemah.

“Bagaimana dengan CIA?” tanya Joel. “Mungkin.”

“Kita lupakan saja videonya, paling tidak pada awalnya. Mungkin pada suatu saat dalam pertemuan ini, kita sepakat untuk menghidupkan kamera.”

“Cukup adil. Kopi atau minuman ringan?”

Tidak ada yang haus. Mayor Roland bertanya pada para teknisi komputer apakah peralatan mereka sudah siap. Sudah, dan ia meminta mereka keluar dari ruangan.

Joel dan Clayburn duduk di ujung lain meja rapat itu. Mayor Roland diapit dua wakilnya. Ketiganya siap dengan bolpoin dan notes yang sudah siaga. Joel dan Claybburn tidak membawa apa-apa.

“Mari kita mulai dan mengakhiri pembicaraan tentang CIA,” Backman mulai, bertekad untuk memegang kendali pertemuan itu. “Menurut se-pengetahuanku tentang hukum, atau setidaknya cara kerja di sini, direktur CIA bertanggung jawab atas seluruh kegiatan intelijen.” “Benar,” sahut Roland. “Apa yang akan Anda lakukan dengan informasi yang hendak kuberikan kepada Anda?”

Mayor itu melirik sisi kanannya, dan tatapan antara dirinya dan wakilnya yang duduk di sana begitu sarat ketidakpastian. “Seperti yang Anda katakan, Sir, direktur berhak mengetahui dan mendapatkan semuanya.”

Backman tersenyum dan berdeham. “Mayor, CIA berusaha membunuhku, oke? Dan sejauh yang kuketahui, mereka masih memburuku. Orang-orang di Langley itu tidak banyak manfaatnya untukku.”

“Mr. Maynard sudah tidak ada di sana, Mr. Backman.”

“Dan orang lain telah mengambil alih tempatnya. Aku tidak menginginkan uang. Aku menghendaki peilindungan. Pertama, aku ingin pemerinrahku membiarkanku bebas.”

“Itu bisa diarur,” kara Roland penuh wibawa. “Dan aku membutuhkan bantuan untuk hal-hal lain.”

“Bagaimana kalau Anda menceritakan segalanya

kepada kami, Mr. Backman? Semakin banyak yang kami ketahui, semakin mudah kami bisa membantu.”

Terkecuali Neal, Joel Backman tidak memercayai satu orang pun di muka bumi ini. Namun sudah tiba saatnya untuk membeberkan semua di meja dan mengharapkan yang terbaik. Perburuan itu sudah selesai, tak ada tempat untuk lari lagi.

Ia mulai dengan Neptunus, dan menjelaskan bahwa sistem itu dibuat oleh Cina Komunis, bahwa teknologinya dicuri dari dua kontraktor pertahanan AS, bahwa satelit itu diluncurkan dengan samaran dan tidak hanya mengelabui AS, tapi juga Rusia, Inggris, dan Israel. Ia menuturkan kisah panjang tentang tiga pemuda Pakistan itu—penemuan mereka yang bernasib buruk, ketakutan mereka karena apa yang telah mereka temukan, keingintahuan mereka karena mampu berkomunikasi dengan Neptunus, dan kehebatan mereka menyusun perangkat lunak yang sanggup memanipulasi dan menetralisasi sistem tersebut. Ia berbicara keras rentang keserakahannya yang mendebarkan untuk menjual JAM kepada pemerintah negara-negara, berharap dapat menangguk uang lebih banyak daripada yang pernah diimpikan siapa pun. Ia tidak setengah-setengah ketika mengisahkan kembali kecerobohan Jacy Hubbard, dan kebodohan rencana mereka untuk menjajakan

produk tersebut. Tanpa ragu-ragu, ia mengakui kesalahan-kesalahannya dan bertanggung jawab penuh atas kekacauan yang disebabkannya. Lalu ia mendesak maju.

Tidak, Rusia tidak berminat dengan penawarannya. Mereka punya satelit-satelit sendiri dan .tidak mampu bernegosiasi lebih lagi.

Tidak, tidak pernah tercapai kesepakatan dengan Israel. Mereka sudah hampir berhasil, cukup dekat untuk mengetahui kesepakatan dengan Saudi nyaris tercapai. Saudi sangat ingin membeli JAM. Mereka punya beberapa satelit, tapi tak ada yang setara Neptunus.

Tak ada yang setara Neptunus, bahkan satelit-satelit generasi terakhir milik Amerika.

Saudi sudah pernah melihat keempat disk tersebut. Dalam eksperimen yang dikontrol ketat, dua agen polisi rahasia mereka menyaksikan demonstrasi perangkat lunak itu yang dilakukan oleh ketiga pemuda Pakistan. Demonstrasi tersebut dilakukan di laboratorium komputer di kampus University of Maryland, dan merupakan pameran yang menakjubkan dan amat meyakinkan. Backman menyaksikannya, demikian juga Hubbard.

Saudi menawarkan seratus juta dolar untuk JAM. Hubbard, yang menganggap dirinya berteman dekat dengan pihak Saudi, menjadi ujung tombak negosiasi tersebut. “Ongkos transaksi” sebesar satu juta

dolar dibayarkan, uangnya ditransfer ke sebuah rekening bank di Zurich. Hubbard dan Backman membalas penawaran itu dengan meminta setengah miliar dolar.

Kemudian segala kekacauan menjadi lepas kendali. FBI menyerang dengan surat-surat perintah, gugatan, investigasi, dan Saudi ketakutan. Hubbard dibunuh. Joel kabur ke penjara untuk menyelamatkan diri, meninggalkan jejak kehancuran di belakangnya dan beberapa orang yang marah serta menyimpan dendam kesumat.

Setelah 45 maut, ringkasan itu berakhir tanpa sekali pun disela. Ketika Joel mengakhirinya, ketiga orang di ujung meja tidak mencatat apa-apa. Mereka terlain sibuk mendengarkan.

“Aku yakin kita. bisa bicara dengan pihak Israel,” ujar Mayor Roland. “Kalau mereka yakin Saudi tidak akan menyentuh JAM, mereka bisa tidur lebih nyenyak Sudah bertahun-tahun kami berdiskusi dengan mereka. JAM adalah topik favorit. Aku yakin kemarahan mereka bisa dibendung.”

“Bagaimana dengan Saudi?” . “Mereka juga bertanya-tanya, pada tingkat tinggi. Kita memiliki banyak kepentingan bersama belakangan ini. Aku yakin mereka akan lega bila mengetahui perangkat lunak ini sudah ada di

tangan kita dan tak ada pihak lain yang akan memperolehnya. Aku kenal baik dengan mereka, ‘ dan kurasa mereka akan menganggap ini sebagai transaksi yang gagal. Tinggal masalah kecil soal ongkos transaksi.”

“Sejuta dolar cuma uang receh bagi mereka. Itu tak bisa dinegosiasikan.”

“Baik. Jadi menurutku, tinggal pihak Cina.”

“Ada saran?”

Clayburn belum bicara sepatah kata pun. Ia mencondongkan tubuh ke depan dan bertelekan siku, lalu berkata, “Menurut pendapatku, mereka tidak akan melupakannya. Klien-klienmu pada dasarnya telah membajak sistem yang tak ternilai harganya dan membuatnya tak berfungsi tanpa perangkat lunak buatan mereka. Cina memiliki sembilan satelit terbaik yang pernah dibuat di atas sana dan mereka tidak dapat menggunakannya. Mereka tidak akan mau memaafkan dan melupakan semuanya, dan kau tidak bisa menyalahkan mereka. Sayangnya, kita tidak punya banyak hal untuk ditawarkan pada Beijing dalam masalah-masalah intelijen yang sensitif.”

Mayor Roland mengangguk. “Aku khawatir aku harus setuju dengan pendapat Senator. Kira bisa memberitahu mereka bahwa kita memiliki perangkat lunak itu, tapi mereka tidak akan melupakannya.”

“Aku tidak menyalahkan mereka. Aku hanya ingin hidup, itu saja.”

“Kami akan melakukan yang terbaik dengan Cina, tapi mungkin tidak banyak.”

“Begini kesepakatannya, gentlemen. Kalian berjanji akan menyingkirkan CIA dari hidupku, dan kalian berusaha secepat mungkin meredakan ketegangan dengan Israel dan Saudi. Lakukan apa yang bisa dilakukan dengan Cina, dan aku mengerti bila itu tidak banyak berarti. Dan kalian memberiku dua paspor—satu Australia dan satu Kanada. Begitu keduanya siap, siang ini bukanlah waktu yang terlalu singkat, kalian membawa paspor-paspor itu padaku dan aku akan menyerahkan kedua disk yang lain.”

“Setuju,” ujar Roland. “Namun, tentu -saja, kami perlu melihat perangkat lunak itu.”

Joel merogoh sakunya dan mengambil disk pertama dan kedua. Roland memanggil kembali dua teknisi komputer tadi, dan kelompok itu berkerumun di depan monitor yang lebar.

Seorang agen Mossad dengan nama. sandi Albert merasa melihat Neal Backman memasuki lobi Marriott di 22nd Street, Ia menelepon atasannya, dan dalam iga puluh menit dua agen lain sudah berada di dalam hotel. Albert melihat Neal Backman lagi

saru jam kemudian, ketika ia keluar dari lift sambil membawa koper yang tidak dibawanya masuk sebelum itu. Ia pergi ke meja resepsionis, tampak mengisi formulir registrasi. Lalu ia mengeluarkan dompet dan memberikan kartu kreditnya.

Neal Backman kembali masuk ke lift, tapi Albert kehilangan dia hanya dalam selisih sekian detik.

Kemungkinan Joel Backman tinggal di Marriot di 22nd Street adalah informasi penting, tapi juga menyuguhkan persoalan-persoalan besar. Pertama, membunuh warga Amerika di wilayah Amerika adalah operasi yang sangat peka, sehingga perlu dikonsultasikan dengan Perdana Menreri. Kedua, pembunuhan itu sendiri terbentur masalah logistik yang luar biasa rumit. Hotel tersebut memiliki enam ratus kamar, ratusan tamu, ratusan karyawan, ratusan pengunjung, dan paling sedikit ada lima konvensi sedang berlangsung di sana. Ribuan saksi potensial.

Namun demikian, sebuah rencana terbentuk dengan segera.

34

mereka makan siang bersama Senator di bagian belakang warung makan Vietnam dekat Dupont Circle, yang mereka anggap bebas dari kunjungan para pelobi dan pemain lama yang mungkin akan melihat mereka dan memulai rumor panas yang akan menghidupkan kota ini sekaligus me-macerkannya. Selama satu jam, sementara mereka berjuang dengan mi pedas yang terlalu panas untuk dimakan, Joel dan Neal mendengarkan nelayan dari Ocracoke menghujani mereka dengan kisah-kisah ranpa henti tentang masa-masa jayanya di Wasliington. Tak cuma sekali ia mengatakan ia tidak merindukan dunia politik, tapi kenangan-kenangannya akan hari-hari itu penuh dengan rahasia, humor, dan persahabatan. Clayburn memulai hari itu dengan berpendapat

bahwa sebutir peluru di kepala Joel Backman masih terlalu baik baginya, tapi ketika mereb saW mengucapkan selamat berpisah di trotoar di depan krfe itu, ia meminta Backman mengunjung dan melihat kapalnya, sekalian mengajak Neal juga Joel tak pernah memancing lagi sejak masa kanak-kanaknya, dan ia tahu jalannya tak akan pernah berbelok ke Outer Banks, tapi untuk menyatakan terima kasih ia berjanji untuk berusaha meluangkan waktu.

Tanpa sepengetahuannya, Joel sudah amat debt dengan peluru yang dibidikkan ke kepalanya. Selagi menyusuri Connecticut Avenue sesudah makan siang, mereka diawasi dengan ketat oleh Mossad. Penembak jitu sudah siap di belakang panel truk sewaan. Namun lampu hijau final masih belum didapat dari Tel Aviv. Dan trotoar itu sangat ramai.

Dari Halaman Kuning di kamar hotelnya, Neal menemukan toko pakaian pria yang mengiklankan pakaian yang siap dalam semalam. Ia bersemangat ingin membantu-ayahnya sangat membutuhkan pakaian baru. Joel membeli setelan tiga potong berwarna biru tua, kemeja resmi putih, dwdj

dua pasang sepatu resnu h» Separu

nilai MOOdotaAn-^J^H» boling itu ditinggalkan * ^ J pujinya, pun petugas penjualan mereka s

Tepat pukul empat sore, sambil duduk di kafe Starbucks di Massachusetts Avenue, Neal mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor yang diberikan oleh Mayor Roland. Ia memberikan ponsel itu kepada ayahnya.

Roland sendiri yang menjawab. “Kami dalam perjalanan,” ujarnya.

“Kamar lima dua puluh,” kata Joel, pandangannya mengamati para pengunjung kafe yang lain. “Berapa banyak yang datang?” “Kelompok yang cukup besar,” sahut Roland. “Aku tidak peduli berapa banyak yang kaubawa, tinggalkan semua orang lain di lobi.” “Aku bisa melakukannya.” Mereka melupakan kopi mereka dan berjalan sepuluh blok kembali ke Marriott, setiap langkah mereka diawasi agen-agen Mossad bersenjata lengkap. Masih belum ada perintah dari Tel Aviv.

Ayah dan anak itu baru berada di kamar selama beberapa menit ketika terdengar ketukan di pintu.

Joel melayangkan pandangan gugup pada putranya, yang langsung membeku dan menatap ayahnya dengan panik Ini dia, batin Joel. Perjalanan panjang penuh ketegangan yang dimulai di jalan-jalan Bologna, dengan berjalan kaki, lalu taksi, lalu bus ke Modena, taksi lagi dalam perjalanan jauh ke Milan, lalu jalan kaki lagi, taksi-taksi lagi, kemudian kereta yang rencananya menuju

Stuttgart namun terpaksa berhenti tak terduga di Zug, tempat sopir taksi lain menerima uang dan mengantarnya ke Zurich, dua kali naik trem, lalu Franz dan BMW hijau yang melesat 150 kilometer menuju Munich, di mana kehangatan dan sambutan lengan Lufthansa mengantarnya kembali pulang. Ini bisa jadi akhir perjalanannya.

“Siapa?” tanya Joel sambil melangkah ke pintu.

“Wes Roland.”

Joel mengintip dari lubang pintu, tak melihat siapa pun. Ia menarik napas panjang dan membuka pintu. Mayor itu sekarang mengenakan jaket sport dan dasi, sendirian dan tidak membawa apa-apa. Setidaknya ia tampak sendirian saja. Joel melirik lorong dan tidak melihat siapa pun yang berusaha bersembunyi. Dengan cepat ia menutup pintu dan memperkenalkan Roland kepada Neal.

“Ini paspor-paspornya,” kata Roland, merogoh kantong mantelnya dan mengeluarkan dua paspor yang sudah tidak baru lagi. Yang pertama bersampul biru tua dengan tulisan AUSTRALIA dalam huruf-huruf emas. Joel membukanya dan melihat. fotonya terlebih dulu. Para teknisi telah mengambil foto kartu identitas Pentagon, membuat warna rambutnya terlihar lebih terang menghilangkan kacamata dan garis-garis keriput, dan menghasilkan foto yang lumayan bagus. Namanya Simon Wilson McAvoy. “Boleh juga,” komentar Joel.

kat me

Yang kedua bersampul biru gelap, dengan canada dalam huruf-huruf emas tertera di bagian depan. Foto yang sama, dengan nama Kanada, Ian Rex Hatterboro. Joel mengangguk setuju dan menyodorkan kedua papsor tersebut kepada Neal untuk diperiksa.

“Ada persoalan tentang sidang juri kasus jual-beli pengampunan hukuman,” kata Roland. “Kita belum sempat membicarakannya.”

“Mayor, kau dan aku sama-sama tahu aku tidak terlibat dalam skandal itu. Kuharap CIA akan meyakinkan bocah-bocah di Hoover bahwa aku bersih. Aku tidak tahu-menahu akan ada pengampunan hukuman. Itu bukan skandalku.”

“Anda mungkin akan dipanggil menghadap juri.”

“Baiklah. Aku akan mengajukan diri. Toh tidak akan lama.”

Roland tampak puas. Ia hanya pembawa pesan. Ia mulai membicarakan kepentingannya sendiri dalam tawar-menawar tersebut. “Sekarang, tentang perangkat lunaknya,” ujarnya.

“Tidak ada di sini,” sahut Joel, dengan sentuhan dramatis yang tak perlu. Ia mengangguk pada Neal, yang lalu keluar dari ruangan. “Tunggu sebentar,” katanya pada Roland, yang alisnya mengernyit sementara matanya menyipit.

‘Ada masalah?” Roland bertanya.

“Tidak. Paket itu ada di kamar lain. Maaf, masalahnya cukup lama aku bertingkah seperti mata-mata.”

“Bukan tindakan yang buruk untuk orang dalam posisi Anda.”

“Kurasa itu sudah menjadi gaya hidupku sekarang.”

“Teknisi-teknisi kami masih bermain-main dengan dua disk pertama. Benar-benar karya yang luar biasa.”

“Klienku memang anak-anak pintar, dan baik. Hanya jadi terlalu serakah, kurasa. Seperu beberapa orang lain.”

Terdengar ketukan di pintu, dan Neal kembali masuk. Ia menyerahkan amplop kepada Joel, yang mengambil kedua disk tersebut, lalu memberikannya kepada Roland. “Terima kasih,” ujar Roland. “Perlu nyali besar untuk melakukannya.”

“Kurasa beberapa orang nyalinya lebih besar daripada otaknya.”

Pertukaran itu pun berakhir. Tak ada lagi yang perlu dikatakan. Roland berjalan ke pintu. Ia meraih kenop pintu, lalu teringat sesuatu yang lain. “Asal Anda tahu,” ujarnya muram, “CIA cukup yakin bahwa Sammy Tin mendarat di New York siang tadi. Dengan penerbangan dari Milan.” “Trims, kurang-lebih,” kata Joel. Sewaktu Roland meninggalkan kamar hotel itu

dengan membawa amplop, Joel merebahkan diri di ranjang dan memejamkan matanya. Neal mengambil dua bir dari minibar dan duduk di kursi yang tak jauh dari sana. Ia menunggu beberapa menit, menyesap birnya, lalu akhirnya bertanya, “Dad, Sammy Tin itu siapa?” “Kau tidak ingin tahu.”

“Oh, yeah. Aku ingin tahu semuanya. Dan kau akan menceritakannya padaku.”

Pada pukul enam petang, mobil ibu Lisa berhenti di hiar salon tata rambut di Wisconsin Avenue di Georgetown. Joel turun dan mengucapkan selamat tinggal. Dan terima kasih. Neal melesat pergi, tak sabar ingin tiba di rumah.

Neal telah membuat janji lewat telepon beberapa jam sebelumnya, menyuap resepsionis dengan janji lima ratus dolar tunai. Seorang wanita bertubuh gempal bernama Maureen sudah menunggu, tidak terlalu senang harus bekerja lembur, tapi tetap saja ingin tahu siapa yang mau membayar semahal itu untuk pekerjaan mengecat rambut yang cepat.

Joel membayar di muka, berterima kasih pada resepsionis dan Maureen atas kesediaan mereka meluangkan waktu, lalu duduk di depan cermin. “Kau ingin menghapusnya?” tanya Maureen. “Tidak. Ayo cepat.”

Tangannya menyentuh rambut Joel dan bertanya, “Siapa yang mengerjakannya?” “Seorang wanita di Italia.” “Kau mau warna apa?” “Kelabu, seluruhnya.” “Natural?”

“Tidak, sama sekali tidak natural. Bikin hampir putih seluruhnya.”

Maureen memutar bola matanya ke arah si resepsionis. Macam-macam jenis orang yang datang kemari.

Maureen mulai bekerja. Si resepsionis pulang, mengunci pintu depan. Beberapa menit kemudian, Joel bertanya, “Kau masuk kerja besok?”

“Tidak, besok aku libur. Kenapa?”

“Karena aku perlu darang lagi besok. Aku akan menyukai warna yang lebih gelap besok, untuk menyembunyikan rambut kelabu yang kaubuat sekarang.”

Tangan-tangan Maureen berhenti bekerja. “Kau kenapa sih?”

“Temui aku di sini tengah hari besok, dan aku akan membayar seribu dolar runai.”

“Baiklah. Bagaimana lusa?”

“Aku sudah cukup senang kalau sebagian ubannya hilang.”

Dan Sandberg sedang duduk-duduk saja di mejanya di Post sore itu ketika telepon berdering. Pria di ujung sambungan telepon memperkenalkan diri sebagai Joel Backman, dan mengatakan ia ingin bicara. Caller ID telepon Sandberg memperlihatkan nomor yang tak diketahui.

“Joel Backman sungguhan?” tanya Sandberg, gera-gapan meraih laptop-nyz.

“Satu-satunya Joel Backman yang kukenal.” “Senang bertemu denganmu. Terakhir kali aku melihatmu, kau ada di pengadilan, mengaku bersalah atas segala macam kejahatan.”

“Yang semuanya sudah dihapus bersih dengan pengampunan dari Presiden.”

“Kukira kau disembunyikan di ujung dunia.” ‘Yeah, aku sudah bosan dengan Eropa. Merindukan lahan permainanku yang lama. Aku sudah kembali sekarang, siap berbisnis lagi.” “Bisnis macam apa?”

“Keahlianku, tentu saja. Itulah yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Aku akan senang sekait. Tapi aku harus bertanya tentang pengampunan hukuman itu. Banyak desas-desus liar di sini.”

“Itu hal pertama yang akan kita bicarakan, Mr. Sandberg. Bagaimana kalau besok pagi pukul sembilan?”

“Aku tidak akan ingkar janji. Di mana kita bertemu?”

“Aku akan menyewa presidential suite di Hay-Adams. Bawa fotografer kalau kau mau. Sang broker kembali ke arena.”

Sandberg memutuskan sambungan dan menghubungi Rusty Lowell, sumbernya yang terbaik di CIA, dan seperti biasa, tak ada yang tahu di mana ia berada. Ia mencoba sumber lain di CIA, tapi tidak mendapatkan apa-apa.

Whitaker duduk di kabin kelas satu penerbangan Alitalia dari Milano ke Dulles. Di bagian depan itu, minuman kerasnya gratis dan mengalir tanpa henti, dan Whitaker berusaha keras untuk mabuk. Telepon dari Julia Javier tadi sangat mengejutkan. Ia mulai dengan pertanyaan yang bernada cukup ramah, “Ada yang melihat Marco di sana, Whitaker?”

“Tidak, tapi kami terus mencari.”

“Menurutmu kalian akan menemukannya?”

“Ya, aku yakin ia akan muncul.”

“Direktur sedang sangat antusias, Whitaket. Ia ingin tahu apakah kau akan menemukan Marco.”

“Katakan, ya, kami akan menemukannya!”

“Dan di mana kau mencarinya, Whitaker?”

“Di antara Milano dan Zurich.”

“Well, kau menyia-nyiakan waktu saja, Whitaker, karena Marco sudah muncul di Washington. Menemui Pentagon tadi siang. Lepas dari geng-gamanmu, Whitaker, membuat kami semua tampak seperti orang goblok.” “Apal”

“Datanglah kemari, Whitaker, dan cepatlah.” Dua puluh lima baris ke belakang, Luigi meringkuk rendah di kursi kelas ekonomi, bergesekan lutut dengan anak perempuan dua belas tahun yang mendengarkan musik rap paling jorok yang pernah didengarnya. Ia sendiri sudah menenggak minuman yang keempat. Tidak gratis, memang, tapi ia tidak peduli harganya.

Ia tahu Whitaker ada di depan sana, membuat catatan tentang bagaimana menimpakan segala kesalahan pada Luigi. Seharusnya ia melakukan hal yang sama, tapi sekarang ini ia hanya ingin minum. Washington selama minggu depan bukanlah tempat yang menyenangkan.

Pada pukul 18.02, Eastern Standard Time, telepon dari Tel Aviv memerintahkan pembunuhan atas Backman ditangguhkan. Berhenti. Batalkan. Berkemas-kemas dan mundur, tidak akan ada mayat kali uii.

Bagi para agen, berita itu lebih disukai. Mereka

dilatih untuk bergerak diam-diam, melakukan tugas, menghilang tanpa petunjuk, tanpa bukti, tanpa jejak. Bologna tempat yang lebih ideal daripada jalan-jalan padat di Washington, D.C.

Satu jam kemudian, Joel check out dari Marriott dan menikmati udara sejuk sambil berjalan-jalan. Namun ia tetap menyusuri jalan-jalan yang sibuk, dan tidak bersantai-santai. Ini bukan Bologna. Kota ini jauh berbeda setelah jam sibuk. Begitu para pelaju pulang dan lalu lintas mereda, situasi menjadi berbahaya.

Petugas di Hay-Adams lebih menyukai kredit, pembayaran dengan plastik, sesuatu yang tidak akan menyusahkan bagian akunting. Jarang sekali klien berkeras membayar runai, tapi klien yang satu ini amat bersikukuh. Pemesanan tempat telah dikonfirmasi, dan dengan senyum sepantasnya, ia menyerahkan kunci dan menyambut kedatangan Mr. Ferro di hotel mereka. “Ada bagasi, Sir?” “Tidak ada.”

Dan itulah akhir percakapan singkar mereka. Mr. Ferro berjalan menuju lift dengan hanya membawa koper kulit hitam murahan.

17

35

Presidential suite di Hay-Adams berada di lantai delapan, dengan tiga jendela besar menghadap H Street, lalu Lafayette Park, kemudian White House. Di suite tersebut terdapat ranjang king-size, kamar mandi dengan kuningan mengilap dan marmer, dan ruang duduk berperabot antik dari periode tertentu, televisi dan telepon yang agak ketinggalan zaman, dan mesin faks yang amat jarang digunakan. Harga sewanya tiga ribu dolar semalam, tapi peduli apa sang broker dengan hal-hal semacam itu?

Kerika Sandberg mengetuk pintu pada pukul sembilan, ia hanya menunggu beberapa detik sebelum daun pintu dibuka dan sapaan hangat, “Pagi, Dan!” menyambutnya. Backman menyurukkan tangan kanan, dan sambil mengguncang-guncang-

kan tangan Sandberg penuh semangat, menve Sandberg ke wilayah kekuasaannya.

-Gembira sekali kau datang kemari» katanya “Mau kopi?”

“Yeah, tentu, hitam.”

Sandberg menjatuhkan tas sandangnya di kursi dan mengamati Backman menuangkan kopi dari teko perak. Lebih kurus, dengan rambut lebih pendek dan nyaris putih seluruhnya, wajahnya tirus. Ada sedikit kesamaan dengan Backman si terdakwa, tapi tak banyak.

“Jangan sungkan-sungkan,” kata Backman. “Aku sudah memesan sarapan. Mestinya akan tiba sebentar lagi.”

Dengan hati-hati ia meletakkan dua cangkir di atas cawan masing-masing di meja pendek depan sofa, lalu berkata, “Mari kita bekerja. Kau mau menggunakan alat perekam?” “Kalau tidak ada kebenaran.” “Aku lebih suka demikian. Menghilangkan kesalahpahaman.” Mereka mengambil posisHnasing-masing. Sandberg

di. antara mereka, lalu ^JJ^ duduk bolpoin. Backman -^L^an dengan santai, di kursinya, rungkatnya disuang ^ ^ ^ aura percaya diri orang y merDCrhati-

hadapi perranyaan apa ^g nyaris belum

kan sepatunya, sol kare

digunakan. Tak ada goresan atau setitik debu pun di atas kulit hitam. Seperti biasa, sang ahli hukum tampil lengkap—setelan jas biru gelap, kemeja putih cemerlang dengan lipatan pergelangan tangan, manset emas, jepit kerah, dasi merah-emas yang menyita perhatian.

“Well, pertanyaan pertamanya adalah, di mana kau berada selama ini?”

“Eropa, jalan-jalan, melihat-lihat Kontinental.”

“Selama dua bulan?”

“Ya, dan itu sudah cukup.”

“Ada tempat tertentu?”

“Tidak juga. Aku menghabiskan banyak waktu di atas kereta, sarana perjalanan yang bagus. Kau bisa melihat-lihat dengan leluasa.”

“Mengapa kau kembali?”

“Ini kampung halamanku. Ke mana lagi aku bisa pergi? Apa yang bisa kulakukan? Menggembel keliling Eropa kedengaran menyenangkan, dan memang tak bisa dimungkiri, tapi kau tidak bisa berkarier dengan cara itu. Aku punya pekerjaan.” “Pekerjaan apa?”

“Seperti biasa. Relasi pemerintah, konsultasi.” “Yang berarti melobi, bukan?” “Biroku memiliki cabang lobi, benar. Itu bagian penting bisnis kami, tapi bukan yang utama.” “Biro apakah itu?” “Yang baru.”

578

“Bantulah aku, Mr. Backman.” “Aku akan membuka biro baru, Backman Group, dengan kantor-kantor di sini, New York, dan San Francisco. Mula-mula kami akan memiliki enam rekanan, dan akan berkembang menjadi dua puluh rekanan dalam waktu sekitar satu tahun.” “Siapa orang-orang ini?”

“Oh, aku tidak bisa menyebut nama mereka sekarang. Kami sedang menyelesaikan urusan-urusan mendetail, menegosiasikan aspek-aspek terakhir, hal-hal yang peka. Kami merencanakan gunting pita pada tanggal satu Mei, dengan acara besar-besaran.”

“Tak ragu lagi. Ini bukan biro hukum?” “Bukan, tapi nantinya kami akan menambahkan seksi legaL”

“Kupikir kau kehilangan izin pengacara ketika…”

“Memang benar. Tapi dengan pengampunan hukuman itu, aku sekarang berhak mengikuti ujian, pengacara lagi. Kalau aku mulai senang menuntut orang lagi, aku akan baca-baca buku sedikit dan mendapatkan izin praktik. Tapi itu tidak dalam waktu dekat, karena banyak hal lain yang harus kukerjakan.”

“Pekerjaan seperti apa?” “Menggulirkan roda-roda biro ini supaya bisa jalan sendiri, mengumpulkan modal, dan, yang

paling penting, bertemu dengan klien-klien potensial.”

“Dapatkah kau menyebutkan nama beberapa klienmu?”

“Tentu saja tidak, tapi jangan jauh-jauh selama beberapa minggu ini, dan informasi itu akan tersedia.”

Telepon di meja berdering, dan Backman mengerutkan kening ke arahnya. “Tunggu sebentar. Aku sudah menunggu-nunggu telepon ini.” Ia menghampiri telepon dan mengangkatnya. Sandberg mendengar, “Backman, ya, halo, Bob. Ya, aku akan berada di New York besok. Tunggu, bisakah aku meneleponmu satu jam lagi? Aku sedang mengerjakan sesuatu.” Ia menutup telepon dan berkata, “Maaf.”

Itu tadi Neal, menelepon pada pukul 09.15 tepat seperti rencana, dan ia akan menelepon setiap sepuluh menit selama satu jam meridatang.

“Tidak apa-apa,” ujar Sandberg. “Mari kita berbicara tentang pengampunan hukuman itu. Kau sudah membaca tulisan tentang jual-beli abolisi itu?”

“Membaca? Aku bahkan sudah menyiapkan seregu pengacara, Dan. Orang-orangku sudah sangat sibuk dengan masalah ini. Nanti ketika Feds sudah berhasil mengumpulkan juri, kalau mereka sampai sejauh itu, aku sudah memberitahu mereka bahwa

aku ingin menjadi saksi pertama. Sama sekali tidak ada yang kusembunyikan, dan anggapan bahwa aku telah membeli pengampunan hukuman itu bisa ditindak secara hukum.”

“Kau berniat mengajukan tuntutan?”

“Tentu saja. Pengacara-pengacaraku sedang mempersiapkan tuntutan pencemaran nama baik kepada The New York Times dan si pembawa kapak perang, Heath Frick. Pasti akan buruk sekali. Persidangannya akan seru, dan mereka akan membayarkan banyak uang kepadaku.”

“Kau yakin aku mau mencetak kata-katamu itu?”

“Jelas! Dan mumpung kita sedang membicarakan hal itu, aku ingin memujimu dan surat kabarmu atas pengendalian diri kalian hingga sejauh ini. Agak tidak biasa, tapi tetap saja patut dipuji.”

Tulisan Sandberg ke presidential suite ini sudah cukup heboh pada mulanya. Namun sekarang, ceritanya akan ditampilkan di halaman depan, besok pagi.

“Sekadar untuk dicatat, kau menyangkal membeli pengampunan hukumanmu itu?”

“Dengan keras, dengan spesifik, aku menyangkalnya. Dan aku akan menuntut siapa saja yang mengatakan sebaliknya.”

“Jadi kenapa kau diberi pengampunan hukuman?”

Backman beringsut memindah berat tubuhnya dan baru bersiap-siap melancarkan penjelasan panjang-lebar ketika bel pintu berdengung. “Ah, sarapan,” katanya, melompat berdiri. Ia membuka pintu dan seorang pramusaji berjas putih mendorong masuk kereta berisi kaviar dan segala kelengkapannya, telur orak-arik dengan truffle, dan sebotol sampanye Krug di dalam ember es. Sementara Backman menandatangani bon, pramusaji membuka tutup botol sampanye.

“Saru gelas atau dua?” tanya pramusaji itu.

“Segelas sampanye, Dan?”

Sandberg tak sanggup menahan diri untuk tidak melirik arlojinya. Sepertinya masih terlalu pagi unruk minuman keras, tapi kenapa tidak? Seberapa sering ia duduk di presidential suite dengan pemandangan ke arah White House sambil menyesap minuman bergelembung yang harganya tiga ratus dolar sebotol? “Oke, tapi sedikit saja.”

Pramusaji mengisi dua gelas, meletakkan botol Krug kembali di dalam ember es, dan meninggalkan ruangan tepat ketika telepon berdering lagi. Kali ini Randall dari Bosron, dan ia pun harus menunggu saru jam lagi sementara Backman menyelesaikan urusannya.

Backman mengembalikan gagang telepon dan berkata, “Makanlah sedikit, Dan, aku memesan cukup banyak untuk kita berdua.”

. “Tidak, terima kasih. Aku sudah makan bagel tadi.” Ia mengambil gelas sampanye dan meneguknya.

Backman mencelupkan sepotong wafer asin ke dalam onggokan kaviar seharga lima ratus dolar dan memasukkannya ke mulut seperti remaja makan keripik jagung dan saus salsa. la mengunyah sambil mondar-mandir, gelas di tangan.

“Pengampunan hukumanku?” ia bertanya. “Aku meminta Presiden Morgan meninjau ulang kasusku. Sejujurnya, kupikir ia tidak tertarik, namun ia orang yang sangat brilian.”

“Arthur Morgan?”

“Ya, penilaian terhadap dirinya terlalu rendah, Dan. Ia tidak pantas mendapatkan kekalahan yang dialaminya. Orang akan kehilangan dia. Jadi, semakin jauh Morgan mempelajari kasus itu, semakin prihatin dirinya. Ia melihat ke balik tabir asap pemerintah. Ia mengetahui kebohongan-kebohongan mereka. Sebagai mantan pengacara pembela, ia memahami betapa besar kekuasaan federal kalau mereka ingin mengambinghitamkan orang yang tidak bersalah.’

“Kau mau mengatakan bahwa kau tidak bersalah?”

“Tentu saja. Aku tidak melakukan kesalahan apa

»

pun.

“Tapi dulu kau mengaku bersalah di pengadilan.”

“Dulu aku tidak punya pilihan. Pertama-tama, mereka menuduh aku dan Jacy Hubbard atas dakwaan-dakwaan palsu. Mereka tetap bergeming. Jadi kami bilang ‘Ayo maju ke sidang. Ajukan kami ke hadapan juri.’ Kami membuat Federal begitu ketakutan sehingga mereka melakukan apa yang selalu mereka lakukan. Mereka memburu teman-teman dan keluarga kami. Idiot-idiot gestapo itu menuntut putraku, Dan, bocah yang baru lulus sekolah hukum, yang tidak tahu apa-apa tentang urusanku. Bagaimana kalau kau menulis tentang hal itu?” “Sudah pernah.”

“Pokoknya, aku tidak punya pilihan kecuali mengambil alih seluruh beban kesalahan. Itu semacam tanda kehormatan bagiku. Aku mengaku bersalah supaya semua tuntutan atas putraku dan rekanan-rekananku dibatalkan. Presiden Morgan berhasil membongkar tabir itu. Karena itulah aku diberi pengampunan hukuman. Aku layak mendapatkannya.”

Sepotong wafer lagi, sesuap emas, dan seteguk Krug untuk menggelontornya. Backman mondar-mandir ke sana kemari, jasnya sudah dilepas sekarang, bak pria yang memiliki banyak beban untuk dilepaskan. Kemudian ia mendadak berhenti dan

berkata, “Sudah cukup kita membicarakan masa lalu, Dan. Mari kita berbicara tentang masa depan. Lihat White House yang ada di sana. Kau petnah berada di sana untuk makan malam kenegaraan, berpakaian resmi, penjaga berseragam marinir, wanita-wanita ramping bergaun indah?” “Belum.”

Backman berdiri di depan jendela, memandang White House. “Aku pernah, dua kali,” ujarnya dengan seberkas kesedihan dalam suaranya. “Dan aku akan kembali. Beri aku waktu dua atau tiga tahun, dan suatu hari nanti mereka akan memberikan sendiri undangan tebal dengan kertas yang berar dan huruf embos emas: Presiden dan Ibu Negara mengundang kehadiran Anda…”

Ia berbalik dan menatap sombong pada Sandberg. “Itulah kekuasaan, Dan. Untuk itulah aku hidup.”

Kata-kara yang bagus, tapi bukan itu yang dicari Sandberg. Ia mengejutkan sang broker kembali ke realita dengan pertanyaan tajam, “Siapa yang membunuh Jacy Hubbard?”

Bahu Backman seolah luruh dan ia berjalan menghampiri ember es untuk mengisi gelas lagi. “Bunuh diri, Dan, sederhana saja. Jacy amat dipermalukan. Federal telah menghancurkannya. Ia tidak rahan lagi.”

“Well, kau satu-satunya orang di kota ini yang percaya ia bunuh diri.”

“Dan aku satu-satunya orang yang mengetahui kebenarannya. Kau mau memuat kalimat itu?” Ta.”

“Mari kita bicara tentang hal lain.” “Jujur saja, Mr. Backman, masa lalumu jauh lebih menarik daripada masa depanmu. Aku punya sumber bagus yang memberitahuku bahwa kau diampuni karena CIA ingin kau bebas, bahwa Morgan mendapat tekanan dari Teddy Maynard, dan mereka menyembunyikanmu di suatu tempat supaya bisa menonton siapa yang akan membunuhmu lebih dulu.” “Kau butuh sumber-sumber baru.” “Jadi kau menyangkal—” “Aku ada di sini.'” Backman membentangkan lengannya supaya Sandberg melihat segalanya. “Aku masih hidup/ Kalau CIA menghendaki aku mati, aku pasti sudah mati.” Ia meneguk sampanye, lalu berkata, “Cari sumber yang lebih bagus. Kau mau makan telur? Sudah makin dingin lho.” “Tidak, teruna kasih.”

Backman mengambil piring kecil dan menyendok telur orak-arik dalam porsi cukup banyak, lalu makan sambil terus bergerak di seputar ruangan, dari satu jendela ke jendela lain, tak pernah jauh

dari pemandangan ke arah White House. “Enak juga, ada truffle-nya..”

“Tidak, terima kasih. Seberapa sering kau sarapan seperti ini?”

“Tidak cukup sering.”

“Kau kenal Bob Critz?”

“Tentu saja, semua orang kenal Bob Critz. Ia telah berkecimpung di bidang ini sama lamanya denganku.”

“Di mana kau berada ketika ia mari?”

“San Francisco, menginap di rumah teman, aku menontonnya di televisi. Benar-benar menyedihkan. Apa hubungan Critz denganku?”

“Hanya ingin tahu.”

“Apakah- itu berarti kau kehabisan pertanyaan?”

Sandberg sedang membalik-balik halaman notesnya ketika telepon kembali berdering. Kali ini dari Ollie, dan Backman berjanji akan meneleponnya nanti.

“Di bawah fotograferku sudah menunggu,” ujar Sandberg. “Editorku ingin melihat foto-foto.” “Tentu saja.”

Joel mengenakan jasnya kembali, mengecek dasi, rambut, dan giginya di cermin, lalu menyendok kaviar lagi ketika fotografer tiba dan menyiapkan peralatannya. Ia sedang menyesuaikan pencahayaan sementara Sandberg terus menyalakan alat perekam dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan lagi.

Foto terbaik, menurut si fotografer, dan yang menurut Sandberg juga punya sentuhan menarik, adalah foto besar Joel duduk di atas sofa kulit warna merah keunguan, dengan potret tergantung di dinding di belakangnya. Ia berpose beberapa kali dekat jendela, berusaha menyertakan pemandangan White House di kejauhan.

Telepon terus-menerus berdering, dan akhirnya Joel mengabaikannya, Neal memang harus menelepon sedap lima menit kalau panggilannya tidak dijawab, sepuluh menit jika Joel mengangkatnya. Setelah pemotretan selama dua puluh menit, bunyi telepon membuat mereka senewen. Sang broker sangat sibuk. Fotografer pun menyelesaikan tugasnya, mengumpulkan peralaran, dan pergi. Sandberg tetap tinggal selama beberapa menit, lalu akhirnya berjalan menuju pintu. Ketika hendak pergi, ia berkata, “Mr. Backman, ini akan menjadi berita besar besok, tak perlu diragukan lagi. Tapi asal kau tahu, aku tidak memercayai separo kebohongan yang kauceritakan padaku tadi.” “Separo yang mana?”

“Kau benar-benar bersalah. Begitu pula Hubbard. Ia tidak bunuh diri, dan kau kabur masuk penjara untuk menyelamatkan pantatmu. Maynard mengusahakan pengampunan hukuman untukmu. Arthur Morgan tidak tahu apa-apa.”

“Bagus. Separo bagian itu tidak penting.” “Apa yang penting?”

Sang broker sudah kembali. Pastikan itu dimuat di halaman depan.”

Suasana hati Maureen sudah jauh lebih baik. Hari liburnya tak pernah menghasilkan seribu dolar. Ia mengantar Mr. Backman ke ruang pribadi di belakang, jauh dari wanita-wanita yang sedang ditata rambutnya di bagian depan salon. Bersama-sama, mereka meneliti warna rambut, dan akhirnya memilih yang paling mudah perawatannya. Bagi Maureen, “perawatan” berarti harapan untuk mendapatkan seribu dolar setiap lima minggu.

Joel tidak ambil pusing sedikit pun. Ia tidak akan pernah bertemu Maureen lagi.

Maureen mengubah rambut putih itu menjadi kelabu dan menambahkan warna cokelat cukup banyak untuk membuat wajah Backman lima tahun lebih muda.

Kepuasan diri sedang tidak ckperraruhkan dalam hal ini. Tampak muda tidak penting. Ia hanya ingin bersembunyi.

36

Tamu-tamunya yang terakhir di suite hotel membuatnya menangis. Neal, putra yang nyaris tak dikenalnya, dan Lisa, menantu yang belum pernah dilihatnya, menyerahkan Carrie, cucu perempuan berumur dua tahun yang hanya pernah diimpikannya, ke dalam pelukannya. Mula-mula Carrie juga menangis, tapi kemudian tenang sewaktu kakeknya menggendongnya ke sana kemari dan memperlihatkan White House kepadanya. Bersama cucunya, Backman berjalan dari satu jendela ke jendela lain, dari satu ruangan ke ruangan lain, sambil mengayun-ayiinkannya dan berbicara kepadanya seolah ia sudah berpengalaman dengan belasan cucu. Neal memotretnya, tapi ini orang yang berbeda. Hilang sudah setelan jas menterengnya; ia mengenakan celana chino dan kemeja kotak-kotak.

Lenyap sudah sesumbar dan arogansinya; ia hanya seorang kakek yang menempel terus pada cucu perempuannya yang cantik.

Layanan kamar mengantar makan siang yang terlambat berupa sup dan salad. Mereka menikmati jamuan keluarga yang tenang, yang pertama bagi Joel setelah bertahun-tahun lamanya. Ia makan dengan satu tangan karena tangannya yang lain masih sibuk memegangi Carrie yang duduk di lututnya, yang tak pernah berhenti mengayun-ayunkannya.

Joel memperingatkan mereka tentang berita Post besok pagi, dan menjelaskan alasan di balik itu. Penting baginya untuk terlihar di Washington, dan dengan cara yang paling mencolok. Dengan begitu, ia akan mengulur waktu, membuat bingung semua orang yang mungkin masih mencarinya. Berira itu akan menciptakan riak besar, dan akan dibicarakan selama berhari-hari, lama sesudah ia pergi.

Lisa ingin jawaban tentang bahaya yang mengancam Joel, dan Joel mengakui bahwa ia tidak tahu pasti. Ia akan menghilang selama beberapa waktu, terus bergerak, selalu waspada. Ia belajar banyak selama dua bulan rerakhir.

“Aku akan kembali dalam bebempa mmggu, ^ T*..aknakan waktu. Mudah-muclahan^ setelan dc v

keadaan akan lebih aman.”

«Kau mau pergi ke mana?» tanya Neal.

“Aku akan naik kereta ke Philly, lalu naik pesawat ke Oakland. Aku ingin mengunjungi ibuku. Bagus juga kalau kau mengiriminya kartu sekali-sekali. Aku tidak akan terburu-buru, dan akhirnya akan sampai di suatu tempat di Eropa.”

“Paspor mana yang akan kaugunakan?”

“Bukan yang kudapatkan kemarin.”

“Apa?”

“Aku tidak akan membiarkan CIA memonitor gerakanku. Kecuali ada situasi darurat, aku tidak akan pernah menggunakan keduanya.” “Lalu bagaimana kau bisa bepergian?” “Aku punya paspor lain. Ada teman yang me-minjamkannya padaku.”

Neal melontarkan ratapan curiga, seolah tahu apa arti “teman” itu. Namun Lisa tidak melihatnya, dan Carrie memilih saat itu untuk pipis. Joel cepat-cepat mengangsurkannya kepada ibunya.

Sementara Lisa di kamar mandi untuk mengganti popok, Joel merendahkan suaranya dan berkata, “Tiga hal. Pertama, sewa biro keamanan untuk menyapu rumah, kantor, dan mobilmu. Kau akan terkejur. Biayanya sekitar sepuluh ribu, dan harus dilakukan secepatnya. Yang kedua, aku ingin kau mencarikan tempat di dekat-dekat sini. Ibuku, nenekmu, terperangkap di Oakland tanpa ada yang pernah menengoknya. Tempat yang baik harganya sekitar tiga sampai empat ribu sebulan.”

“Kuanggap kau punya uang.” , “Ketiga, ya, aku punya uang. Uang itu ada di rekening bank Maryland Trust di sini. Kau salah saru pemiliknya. Tarik dua puluh lima ribu untuk menutup biaya yang sudah kaukeluarkan sejauh ini, dan simpan sisanya di tempat yang tak jauh darimu.”

“Aku tidak membutuhkan sebanyak itu.”

“Well, belanjakanlah kalau begitu, oke? Santai saja dulu. Bawa anakmu ke Disney World.”

“Bagaimana kita berhubungan?”

“Semenrara ini, lewat e-mail, rutinitas Grinch seperti biasa. Aku cukup jago, kau tahu.”

“Apakah kau aman, Dad?”

“Yang paling buruk sudah berlalu.”

Lisa kembali bersama Carrie, yang ingin kembali ke lutut yang terayun-ayun. Joel menggendongnya selama mungkin.

Ayah dan anak itu memasuki Union Station bersama-sama, sementara Lisa dan Carrie menunggu di mobil. Keramaian dan kesibukan stasiun membuat Joel gelisah lagi; kebiasaan-kebiasaan lama akan sulit dihilangkan. Ia menarik tas kabin, penuh dengan semua barang miliknya.

Ia membeli tiket ke Philadelphia, dan saat mc-

reka berjalan pelan menuju peron, Neal bertanya, “Aku ingin tahu ke mana kau akan pergi.”

Joel berhenti dan menatapnya. “Aku akan kembali ke Bologna.”

“Ada teman di sana, bukan?”

“Ya.”

“Berjenis kelamin perempuan?” “Oh, jelas.”

“Kenapa aku tidak kaget?”

“Mau bagaimana lagi, Nak? Itu selalu menjadi titik lemahku.” “Orang Italia?” “Ya. Ia sangat istimewa.” “Mereka memang selalu sangat istimewa.” “Yang satu ini menyelamatkan nyawaku.” “Ia tahu kau akan kembali?” “Kurasa begitu.” “Berhati-hatilah, Dad.” “Sampai jumpa sekitar satu bulan lagi.” Mereka berpelukan dan mengucapkan selamat berpisah.

Catatan Pengarang

Latar belakangku adalah hukum, yang jelas bukan satelit dan spionase. Sekarang ini aku lebih takut pada peralatan elektronik berteknologi tinggi ketimbang setahun yang lalu. (Buku ini masih ditulis menggunakan program pengolah kata yang usianya sudah tiga belas tahun. Kalau ia mulai terbatuk-batuk, yang sepertinya semakin sering terjadi akhir-akhir ini, aku menahan napas. Pada saat ia menyerah, barangkali aku juga akan berhenti.)

Ini kisah fiksi, folks. Aku tidak tahu banyak tentang spionase, alat pengintaian elektronik, telepon satelit, smartphone, alat penyadap, alat perekam, mikrofon, dan orang-orang yang menggunakannya. Kalau ada bagian novel ini yang mendekati kebenaran, barangkali itu kesalahan.

memiliki kemewahan untuk melempar anak panah dart ke peta dunia dan memutuskan tempat untuk menyembunyikan Mr. Backman. Di mana saja sebenarnya bisa. Tapi aku memuja segala hal tentang Italia, dan harus kuakui, mataku tidak ditutup ketika aku melempar anak panah itu.

Riset (kata yang terlalu berlebihan) yang kulakukan membawaku ke Bologna, kota tua yang menyenangkan dan membuatku langsung jatuh cinta. Temanku, Luca Patuelli, membawaku berkeliling. Ia mengenal semua koki di Bologna, bukan sesuatu yang pantas diremehkan, dan selama kerja keras kami, berat badanku naik sekitar lima kilogram.

Terima kasih pada Luca, pada teman-temannya, dan kota mereka yang hangat dan menakjubkan. Terima kasih juga kepada Gene McDade, Mike Moody, dan Bert Colley.

JOHN GR1SHAM

THE

GRAMEDIA penerbit buku utama

JOHN GRISHAM

THE KING

OF TORTS

GRAMEDIA penerbit buku utama

Posted by Download Novel at 12:33 PM
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookLabels: baca buku, baca cerita, baca cerita islami romantis, baca cerita kisah, Baca novel Newer Post Older Post Home Members
Translate

Template images by luoman. Powered by Blogger.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: